Harga Minyak Turun, Menteri Energi AS Sebut Lalu Lintas Kapal Lewat Hormuz Meningkat
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz menunjukkan pemulihan yang berarti.
Kontrak minyak mentah WTI AS turun 3,4% menjadi US$88,20 per barel. Sementara itu, Brent yang menjadi acuan global kehilangan 2,97% dan ditutup di US$91,45 per barel.
Baca Juga
Iran Hentikan Serangan ke Israel, Gejolak Harga Minyak Mereda
Dalam wawancara CNBC di Atlantic Council Global Energy Forum, Wright mengatakan ekspor minyak melalui Selat Hormuz terus meningkat dan tren tersebut diperkirakan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Pernyataan tersebut memicu optimisme bahwa salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Serangan Terbaru Tak Goyahkan Pasar
Penurunan harga terjadi meskipun Presiden Donald Trump menuduh Iran menembak jatuh sebuah helikopter Apache milik AS yang sedang berpatroli di Selat Hormuz.
Menurut Trump, kedua pilot selamat tanpa cedera, namun Washington harus memberikan respons atas insiden tersebut.
Biasanya peristiwa semacam ini akan memicu lonjakan harga minyak. Namun kali ini pasar tampak lebih fokus pada peningkatan arus pengiriman minyak dibanding risiko eskalasi jangka pendek.
Arus Minyak Lebih Besar dari Data
Analis JPMorgan mengungkapkan bahwa volume minyak yang keluar dari Teluk Persia kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan yang terlihat dari data publik.
Bank investasi tersebut memperkirakan sekitar 2 juta barel per hari masih berhasil melewati Selat Hormuz menggunakan kapal tanker yang mematikan sistem pelacak atau transponder mereka.
Menurut JPMorgan, meskipun blokade laut dan penurunan lalu lintas komersial masih berlangsung, volume minyak mentah dan produk petroleum yang berhasil melintasi selat tersebut tetap mengejutkan.
Selain itu, Angkatan Laut AS disebut secara diam-diam membantu koordinasi beberapa kapal yang berusaha keluar dari Teluk Persia.
Pasar Menanti Kesepakatan AS-Iran
Trump kembali menyatakan bahwa kesepakatan dengan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dapat tercapai dalam "dua atau tiga hari".
Namun hingga kini kesepakatan tersebut belum terwujud. Gencatan senjata yang rapuh antara Iran dan Israel juga sempat terancam runtuh setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan pekan ini.
Baca Juga
Serangan Israel ke Lebanon Persulit Kesepakatan Damai AS-Iran
Meski demikian, kedua pihak kini menyatakan telah menghentikan aksi militer untuk sementara waktu, sehingga kekhawatiran pasar terhadap perang yang lebih luas mulai mereda.
Walaupun harga minyak turun dalam jangka pendek, banyak pelaku industri energi menilai risiko kenaikan harga masih besar pada paruh kedua tahun ini.
Sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, harga minyak telah melonjak sekitar 30%. Konflik tersebut memicu serangan terhadap kapal tanker dan pemasangan ranjau laut oleh Iran di Selat Hormuz, menyebabkan arus pengiriman minyak anjlok tajam.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa harga minyak sejauh ini masih relatif terkendali karena pasar ditopang oleh cadangan minyak global yang cukup besar. Namun ketika stok mulai menipis dan permintaan musim panas mencapai puncaknya, harga berpotensi kembali melonjak tajam apabila gangguan pasokan belum sepenuhnya teratasi.

