Bursa Eropa Melemah, Investor Pantau Konflik Iran-Israel dan Keputusan ECB
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Bursa saham Eropa melemah pada perdagangan Senin (8/6), meskipun berhasil memangkas sebagian kerugian pada akhir sesi setelah harga minyak dunia turun dari level tertingginya seiring munculnya sinyal meredanya ketegangan antara Iran dan Israel.
Indeks pan-Eropa Stoxx 600 turun 0,2% menjadi 621,73, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Lebih 2%, Timur Tengah Memanas Setelah Iran Serang Israel
Sentimen pasar sempat tertekan akibat lonjakan harga minyak yang mencapai sekitar 5% pada awal perdagangan. Kenaikan tersebut dipicu serangan terbaru Israel ke Iran serta meningkatnya ketegangan di Lebanon yang mengurangi harapan tercapainya penyelesaian cepat konflik di Timur Tengah.
Namun, reli minyak mereda setelah Presiden AS Donald Trump mendesak kedua pihak untuk menghentikan serangan dan Iran mengumumkan penghentian sementara operasi militernya terhadap Israel. Langkah tersebut membantu menenangkan pasar dan membatasi tekanan lebih lanjut terhadap aset berisiko.
Akuisisi Jumbo Warnai Sektor Perbankan Italia
Perhatian investor juga tertuju pada sektor perbankan Italia setelah Intesa Sanpaolo mengajukan tawaran akuisisi senilai 30,6 miliar euro terhadap Monte dei Paschi di Siena (MPS).
Saham MPS melonjak 13% setelah pengumuman tersebut, sementara saham Intesa turun 1,4% karena investor menilai masih terdapat tantangan besar dalam proses integrasi dan pelaksanaan transaksi.
Analis senior sektor perbankan dari ING Bank, Suvi Platerink Kosonen, menilai kesepakatan tersebut berpotensi memberikan manfaat jangka panjang bagi Intesa, meskipun ketidakpastian eksekusi masih cukup tinggi.
Persaingan semakin menarik karena sebelumnya Banco BPM telah mengusulkan merger dengan MPS untuk membentuk bank domestik terbesar kedua di Italia. Menurut Kosonen, merger Banco BPM-MPS akan menghasilkan tiga bank domestik besar yang sesuai dengan preferensi pembuat kebijakan Italia, sementara opsi Intesa dapat menciptakan struktur industri yang lebih beragam.
Saham Teknologi
Di luar sektor keuangan, saham teknologi menjadi penopang utama pasar Eropa. Indeks sektor teknologi naik 1,3%, menjadi sektor dengan kinerja terbaik pada perdagangan hari itu.
Penguatan tersebut mengikuti rebound saham-saham teknologi AS setelah aksi jual besar-besaran pekan lalu, terutama pada sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga
‘Sell Off’ Saham Teknologi Global Tekan Bursa Eropa, Stoxx 600 Technology Ambles 2,8%
Meski demikian, perhatian utama investor kini beralih ke pertemuan kebijakan moneter European Central Bank yang dijadwalkan Kamis mendatang.
Pasar saat ini memperkirakan ECB akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Konflik Timur Tengah yang berpotensi mengerek harga energi dinilai dapat memicu tekanan inflasi baru di kawasan Eropa.
Namun situasinya tidak sederhana. Berbeda dengan krisis energi tahun 2022, ekonomi zona euro saat ini berada dalam kondisi yang lebih lemah sehingga ECB menghadapi dilema antara mengendalikan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi.
Direktur riset XTB, Kathleen Brooks, mengatakan pasar menghadapi risiko stagflasi, yakni kombinasi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi.
“Ketika pertumbuhan dan inflasi meningkat bersamaan, pasar saham biasanya diuntungkan. Namun kondisi stagflasi yang kini dihadapi zona euro umumnya menghasilkan dampak yang lebih buruk bagi pasar,” ujarnya, seperti dikutip businesstimes.com
Sektor Kimia Tertekan
Di sisi lain, sektor kimia menjadi sektor dengan kinerja terburuk di Eropa setelah turun 1,5%.
Tekanan muncul setelah Goldman Sachs memperingatkan adanya risiko penurunan permintaan yang lebih cepat dari perkiraan serta meningkatnya tekanan dari ekspor produk kimia asal China.
Sementara itu, saham Zealand Pharma merosot 22,7% setelah data uji klinis obat obesitas suntiknya, survodutide, menunjukkan tingkat penghentian pengobatan yang tinggi akibat efek samping.
Secara keseluruhan, pasar Eropa masih bergerak hati-hati di tengah kombinasi ketidakpastian geopolitik, ancaman inflasi energi, serta ekspektasi pengetatan kebijakan moneter ECB. Keputusan bank sentral pada Kamis mendatang diperkirakan menjadi penentu arah pasar berikutnya, terutama ketika kawasan euro mulai menghadapi risiko perlambatan ekonomi yang semakin nyata.

