Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB) Peringatkan Tekanan Inflasi Energi di Eropa Masih Akan Memburuk
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), Philip Lane, memperingatkan bahwa tekanan inflasi yang menghimpit rumah tangga akibat lonjakan harga energi kemungkinan besar akan semakin memburuk dalam beberapa bulan mendatang.
Ia memprediksi tingkat inflasi di seluruh kawasan zona euro akan melonjak hingga menyentuh setidaknya 3,6% pada akhir tahun ini. Lane menggambarkan langkah kenaikan suku bunga terbaru dari ECB sebagai bentuk penyesuaian terukur dalam menghadapi masalah inflasi yang signifikan.
Pernyataan tersebut dinilai membuka peluang bagi ECB untuk kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Saat ini, pasar keuangan telah memperhitungkan potensi satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini, yang kemungkinan akan diikuti oleh satu atau dua langkah serupa pada tahun depan.
Saat berbicara dalam acara Workshop Ekonomi Dublin di Wexford seperti dikutip irishtimes, Minggu (13/9/2026), Lane menjelaskan bahwa keputusan kenaikan suku bunga terbaru ECB merupakan langkah yang tepat mengingat tingginya tekanan inflasi serta ketahanan ekonomi Eropa secara luas.
ECB resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat basis poin (0,25%), menyusul langkah serupa pada bulan Juni lalu. Keputusan ini diambil setelah guncangan energi akibat perang Iran mendorong pertumbuhan harga di seluruh blok Eropa ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, yakni sebesar 3,3%.
Ketika ditanya mengenai lonjakan harga minyak terkini, Lane menegaskan bahwa pihak bank sentral telah menyikapi kondisi pasar energi sebagaimana mestinya.
Ia menyoroti dinamika gelombang perubahan harga sejak sebelum perang dimulai, di mana telah terjadi kenaikan harga minyak dan gas yang cukup tinggi dalam beberapa bulan di awal tahun.
Sempat timbul optimisme saat kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran disepakati, namun serangkaian serangan dan intervensi militer di Teluk kembali memicu tekanan kenaikan harga belakangan ini.
Lane menekankan bahwa ECB tidak hanya berpatokan pada data terbaru dalam menetapkan kebijakan suku bunga. Pihaknya berupaya melihat ke depan untuk menilai arah pasar energi dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga
Inflasi Energi Bayangi Ekonomi Eropa, ECB Kerek Suku Bunga ke 2,5%
Energi menjadi pusat dari penetapan keputusan tersebut, dengan fokus utama pada tingginya harga dibanding periode Februari tahun lalu sebelum perang meluas, bukan sekadar fluktuasi harga mingguan.
Terkait intervensi pemerintah dalam memberikan bantuan biaya hidup, Lane menyetujui bahwa bantuan bagi masyarakat yang kesulitan memang sangat diperlukan. Namun, ia menegaskan bahwa langkah tersebut harus dirancang secara terukur, bersifat sementara, dan tepat sasaran.
Dukungan umum yang diberikan kepada sebagian besar populasi justru dinilai akan menambah permintaan dalam perekonomian dan tidak membantu menyelesaikan masalah inflasi, menyindir kritik yang mengarah pada Pemerintah Irlandia atas kebijakan pemberian kredit energi ke seluruh lapisan masyarakat.
Meskipun Presiden ECB Christine Lagarde berulang kali menegaskan bahwa bank sentral tidak berada pada jalur suku bunga yang ditentukan sebelumnya, para pejabat ECB meyakini kenaikan berikutnya pada bulan depan sangat mungkin terjadi seiring gelombang baru tekanan harga energi.
Para pembuat kebijakan kini harus bertarung melawan lonjakan inflasi harga konsumen yang menembus angka di atas 3 persen bulan lalu dan diperkirakan sulit mereda dalam waktu dekat. Lagarde bahkan menyebut keputusan kenaikan suku bunga terakhir sebagai langkah mudah yang disepakati secara mufakat.
