Iran Hentikan Serangan ke Israel, Gejolak Harga Minyak Mereda
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia memangkas sebagian besar kenaikannya pada perdagangan Senin (8/6/2026) setelah Iran menyatakan telah menghentikan operasi militernya terhadap Israel. Namun, pasar tetap mencermati risiko eskalasi baru yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Lebih 2%, Timur Tengah Memanas Setelah Iran Serang Israel
Dikutip dari CNBC, kontrak minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 1,25% menjadi US$94,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 0,84% ke level US$91,30 per barel.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 5% setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel sebagai balasan atas operasi militer Israel di Lebanon. Serangan tersebut merupakan yang pertama sejak kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada April lalu.
Militer Israel kemudian merespons dengan menyerang sejumlah target militer di wilayah barat dan tengah Iran. Namun, beberapa jam kemudian, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa operasi militernya terhadap Israel telah dihentikan.
Meski demikian, Teheran memperingatkan bahwa serangan dapat kembali dilakukan apabila Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa penghentian serangan saat ini hanya bersifat sementara dan perang melawan Iran serta Hizbullah belum berakhir.
Presiden AS Donald Trump berupaya meredam ketegangan. Trump menyatakan bahwa Iran dan Israel tengah menjajaki kemungkinan gencatan senjata baru, sementara negosiasi antara Washington dan Teheran mengenai kesepakatan damai yang lebih permanen masih berlangsung.
Baca Juga
Namun sinyal tersebut belum sepenuhnya meyakinkan pasar. Seorang pejabat Iran yang terlibat dalam pembicaraan dengan AS mengatakan bahwa "kesepakatan dengan Presiden Trump tidak lagi realistis pada tahap ini."
Ketidakpastian juga meningkat setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh blokade angkatan laut AS dan serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata April lalu. Ia bahkan menyebut aset-aset AS dan Israel di kawasan kini menjadi "target yang sah."
Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, kelompok produsen minyak OPEC+ memutuskan kembali meningkatkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juli. Keputusan itu menjadi kenaikan kuota produksi keempat sejak penutupan Selat Hormuz yang sempat mengguncang pasar energi global.
Kenaikan produksi tersebut sejalan dengan tambahan kuota bulan Juni, meski lebih rendah dibanding peningkatan pada April dan Mei yang mencapai 206.000 barel per hari. Langkah OPEC+ dipandang sebagai upaya menstabilkan pasokan dunia dan mencegah lonjakan harga yang lebih tajam apabila konflik Timur Tengah kembali memburuk.
Bagi investor energi, fokus kini tertuju pada dua faktor utama: keberlanjutan proses diplomasi AS-Iran serta keamanan jalur distribusi minyak di Timur Tengah, terutama setelah gangguan yang sempat terjadi di Selat Hormuz. Selama kedua faktor tersebut belum memperoleh kepastian, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.

