Bagikan

Wall Street Melesat Setelah Gejolak Minyak dan Obligasi AS Mereda, Dow Melonjak Lebih 600 Poin

Poin Penting

Dow Jones naik 645 poin setelah harga minyak dan yield obligasi AS turun.
Pasar optimistis konflik Timur Tengah bisa segera mereda.
Risalah The Fed menunjukkan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka.
Investor menanti laporan keuangan Nvidia sebagai indikator utama sektor AI global.

NEW YORK, investortrust.id - Wall Street naik tajam pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (21/5/2026) WIB, didorong meredanya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak dan yield obligasi AS. Ada sinyal optimisme bahwa konflik Timur Tengah dapat segera menemukan jalan damai.

Baca Juga

Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Usai Trump Sebut Negosiasi Iran Masuki ‘Tahap Akhir’

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 645,47 poin atau 1,31% ke level 50.009,35. Indeks S&P 500 naik 1,08% menjadi 7.432,97 dan Nasdaq Composite menguat 1,54% ke posisi 26.270,36.

Sentimen positif dipicu anjloknya harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya berada pada “tahap akhir” negosiasi dengan Iran.

Minyak mentah WTI turun 5,66% menjadi US$98,26 per barel, sedangkan Brent crude melemah 5,63% ke level US$105,02 per barel.

Pasar obligasi juga mulai tenang. Yield Treasury AS tenor 10 tahun turun lebih dari 9 basis poin, sedangkan yield tenor 30 tahun melemah lebih dari 6 basis poin.

Dalam beberapa hari terakhir, lonjakan yield obligasi sempat mengguncang pasar setelah yield Treasury 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007. Investor khawatir lonjakan harga minyak akan kembali memicu inflasi dan memaksa Federal Reserve mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah risalah rapat terbaru The Fed menunjukkan mayoritas pejabat bank sentral mulai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila konflik Timur Tengah terus memperburuk inflasi.

Baca Juga

Trump Ingin Suku Bunga Turun, The Fed Justru Bahas Potensi Kenaikan

“Mayoritas peserta menyoroti bahwa pengetatan kebijakan kemungkinan akan tepat apabila inflasi terus bertahan di atas 2%,” tulis risalah tersebut.

Di tengah situasi itu, perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan kuartal pertama Nvidia yang dirilis setelah penutupan pasar.

Saham perusahaan chip AI tersebut naik lebih dari 1% menjelang laporan laba. Nvidia dianggap sebagai barometer utama tren kecerdasan buatan (AI) yang selama dua tahun terakhir menjadi motor utama reli pasar saham AS.

Chief Investment Officer Main Street Research, James Demmert, mengatakan laporan Nvidia menjadi sangat penting karena sebagian besar kenaikan pasar saham dalam beberapa tahun terakhir digerakkan oleh optimisme terhadap AI.

“Nvidia adalah saham AI terpenting, dan karena sebagian besar keuntungan pasar saham selama beberapa tahun terakhir didorong oleh kemampuan AI yang luar biasa, hasil laporan pendapatan hari Rabu sangat berarti bagi pasar ini,” kata James Demmert, seperti dikutip CNBC.

Menurutnya, investor kini fokus pada potensi tekanan margin akibat kenaikan harga memori chip dan strategi Nvidia menghadapi pembatasan bisnis di China.

Sepanjang tahun ini, saham Nvidia telah melonjak hampir 20%, setelah sebelumnya melesat lebih dari 1.400% dalam lima tahun terakhir.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024