Bursa Eropa Menghijau, tapi Universal Music Anjlok Setelah Bill Ackman Lepas Saham
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Bursa saham Eropa menguat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Investor masih mencermati meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta perkembangan gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Lebanon.
Baca Juga
Bursa Eropa di Zona Merah, Saham Akzo Nobel Anjlok 17% Setelah Negosiasi Akuisisi Gagal
Dikutip dari CNBC, indeks Stoxx 600 pan-Eropa berakhir naik 0,4%, membalikkan pelemahan yang terjadi pada sesi pagi. Bursa utama di London, Paris, Frankfurt, dan Milan seluruhnya ditutup di wilayah positif.
Namun, sorotan utama pasar datang dari sektor korporasi setelah saham Universal Music Group (UMG), perusahaan rekaman terbesar di dunia, merosot 5,8%.
Tekanan muncul setelah perusahaan investasi Pershing Square milik investor kawakan Bill Ackman memutuskan melepas kepemilikannya di UMG menyusul kegagalan dua upaya akuisisi yang sempat diusulkan.
UMG mengumumkan telah membeli kembali lebih dari 14 juta saham biasa yang sebelumnya dimiliki sejumlah dana Pershing Square. Transaksi tersebut bernilai sekitar 250 juta euro dan merupakan bagian dari program pembelian kembali saham senilai 500 juta euro yang telah berjalan.
Menurut laporan Wall Street Journal, Pershing Square menjual seluruh kepemilikannya di UMG yang bernilai lebih dari US$1,5 miliar dan diperkirakan mengantongi keuntungan sekitar US$600 juta.
Drama akuisisi ini juga menyeret saham konglomerat Prancis Bollore yang turun 2,4%. Keluarga Bollore, yang merupakan salah satu pemegang saham penting UMG, sebelumnya mendesak manajemen untuk menolak proposal Pershing karena dinilai meremehkan nilai perusahaan.
Sementara itu, saham Nokia turun lebih dari 6% seiring aksi ambil untung di sektor teknologi global setelah beberapa hari mencatat reli kuat. Sentimen pasar teknologi juga dipengaruhi koreksi yang terjadi di Wall Street, terutama pada saham-saham kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menjadi motor penggerak kenaikan pasar.
Geopolitik dan Harga Minyak
Di sisi geopolitik, investor terus memantau ketegangan antara Washington dan Teheran. Ketegangan meningkat setelah Bandara Internasional Kuwait dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran sehari setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim berhasil menggagalkan sejumlah rudal balistik dan drone Iran serta melancarkan serangan balasan ke Pulau Qeshm.
Baca Juga
Ancaman Serangan Baru ke Iran Dongkrak Harga Minyak, Brent Kembali Dekati US$ 100
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada CNBC bahwa Israel dan Amerika Serikat siap kembali menyerang Iran jika diperlukan. "Israel siap dan pasukan Amerika Serikat juga siap. Iran harus mempertimbangkan hal itu," kata Netanyahu.
Namun sentimen pasar sedikit membaik setelah Amerika Serikat mengumumkan tercapainya kesepakatan implementasi gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Kesepakatan tersebut mensyaratkan penghentian penuh serangan oleh kelompok Hizbullah serta penarikan seluruh personelnya dari wilayah Selatan Litani.
Harapan meredanya konflik di Lebanon mendorong aksi jual di pasar energi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3% menjadi US$93,16 per barel, sementara Brent melemah 2,5% menjadi US$95,23 per barel.
