Wall Street Ambruk Terseret Saham Teknologi, Dow Jones Anjlok Lebih 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat turun tajam pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (16/5/2026) WIB. Indeks utama Wall Street jatuh terseret aksi jual saham teknologi dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa terobosan signifikan.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 537,29 poin atau 1,07% ke level 49.526,17. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,24% menjadi 7.408,50 dan Nasdaq Composite turun lebih dalam sebesar 1,54% ke 26.225,14.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi setelah investor mulai merealisasikan keuntungan menyusul reli panjang yang dipicu euforia kecerdasan buatan (AI).
Saham Intel anjlok lebih dari 6%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) turun 5,7% dan Micron Technology merosot 6,6%. Nvidia ikut melemah 4,4%, sedangkan Cerebras Systems — yang sehari sebelumnya melonjak 68% usai debut di Nasdaq — terkoreksi 10%.
Analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menyebutkan kenaikan saham teknologi dalam beberapa pekan terakhir sudah terlalu ekstrem sehingga rentan terhadap aksi ambil untung.
Baca Juga
Wall Street Cetak Rekor Baru Ditopang Saham Teknologi, Dow Jones Tembus 50.000
“Pergerakan sektor ini sangat tidak berkelanjutan dalam beberapa minggu terakhir dan tetap rentan terhadap aksi profit taking terlepas dari perkembangan berita,” tulisnya, seperti dikutip CNBC.
Di tengah pelemahan sektor teknologi, Microsoft justru menjadi pengecualian dengan kenaikan sekitar 3% setelah investor Bill Ackman mengungkapkan bahwa Pershing Square telah membangun posisi investasi di saham tersebut.
Lonjakan yield obligasi AS turut memperburuk tekanan pasar. Yield obligasi Treasury tenor 30 tahun menembus level 5,1%, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi.
Sejumlah data ekonomi pekan ini menunjukkan tekanan harga kembali meningkat seiring tingginya harga minyak akibat konflik Timur Tengah. Suku bunga tinggi dinilai paling berisiko bagi saham-saham pertumbuhan tinggi seperti teknologi.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Harga minyak juga melesat pada perdagangan Jumat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4,2% ke US$105,42 per barel, sedangkan Brent menguat 3,35% ke US$109,26 per barel.
Kenaikan itu terjadi setelah Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya “tidak akan terlalu sabar lagi” terhadap Iran dan menegaskan bahwa Teheran “harus mencapai kesepakatan.”
Investor juga kecewa dengan hasil pertemuan Trump dan Xi Jinping. Meski kedua negara sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka, pasar menilai tidak ada kebijakan besar yang benar-benar dihasilkan dari pertemuan tersebut.
Saham Boeing kembali tertekan dan turun 3,8%, melanjutkan penurunan hampir 5% sehari sebelumnya. Investor menilai pengumuman Trump bahwa China akan membeli 200 pesawat Boeing tidak terlalu impresif karena hanya sedikit di atas ekspektasi sebelumnya.
Meski Wall Street sempat mencetak rekor baru sehari sebelumnya, sebagian analis mulai melihat reli pasar menjadi semakin rapuh karena kenaikan hanya ditopang segelintir saham teknologi besar.
Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, menilai ketergantungan pasar pada saham teknologi menciptakan risiko besar bagi reli pasar saat ini.
“Tidak masuk akal jika teknologi akan terus memimpin selamanya. Reli yang hanya ditopang satu sektor secara inheren lebih berisiko dibanding pasar yang naik secara merata,” ujarnya.

