Inflasi AS April Melonjak 3,8% YoY, Harga Energi Jadi Biang Kerok
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Inflasi Amerika Serikat kembali meningkat pada April 2026 dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga akibat lonjakan energi dan konflik geopolitik mulai membebani ekonomi domestik.
Baca Juga
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, yang dirilis Selasa (12/5/2026), menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) naik 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan. Angka tahunan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023 dan sedikit lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, juga meningkat 0,4% secara bulanan dan 2,8% secara tahunan, jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Kenaikan harga energi menjadi pendorong utama inflasi. Komponen energi melonjak 3,8% secara bulanan dan 17,9% dibanding tahun sebelumnya. Harga bensin bahkan naik 28,4% secara tahunan. Harga pangan juga meningkat 0,5%, dengan harga bahan makanan rumah tangga mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Agustus 2022.
Selain energi, tekanan inflasi meluas ke berbagai sektor lain. Biaya tempat tinggal atau shelter naik 0,6% setelah sempat melandai beberapa bulan sebelumnya.
Kategori pakaian yang sensitif terhadap tarif impor meningkat 0,6%, sementara tarif penerbangan melonjak 2,8% sehingga kenaikan tahunannya mencapai 20,7%.
Harga furnitur rumah tangga dan operasional rumah juga naik 0,7%, menunjukkan dampak tarif impor mulai merambat ke sektor konsumsi lainnya.
Sebaliknya, harga kendaraan baru turun 0,2%, sementara biaya layanan kesehatan dan asuransi kesehatan mengalami sedikit penurunan.
Laporan tersebut juga menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Upah rata-rata riil pekerja turun 0,5% secara bulanan dan melemah 0,3% dibanding tahun sebelumnya.
“Inflasi kini menjadi hambatan utama ekonomi AS. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, inflasi menghapus seluruh kenaikan upah,” kata Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, seperti dikutip CNBC.
Pasar keuangan langsung bereaksi negatif. Kontrak berjangka saham AS melemah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah naik.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve sebelum akhir tahun meningkat menjadi sekitar 30%, berdasarkan data CME Group.
Situasi tersebut semakin memperumit posisi Federal Reserve yang sepanjang tahun mempertahankan suku bunga acuannya.
Pada akhir April lalu, The Fed kembali menahan suku bunga, tetapi keputusan itu diwarnai empat dissent atau penolakan internal terbanyak sejak 1992.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perpecahan Internal dan Tekanan Inflasi Akibat Perang Iran
Gubernur The Fed Stephen Miran mendukung pemangkasan suku bunga seperempat poin, sementara tiga presiden bank regional menolak bahasa pernyataan yang dianggap pasar membuka peluang pemangkasan suku bunga berikutnya.
Di sisi lain, calon Ketua The Fed Kevin Warsh juga mendukung suku bunga lebih rendah. Namun lonjakan inflasi akibat perang Iran membuat langkah tersebut semakin sulit dilakukan.
Harga minyak dunia kini bertahan di atas US$100 per barel, sedangkan harga bensin rata-rata nasional mencapai US$4,50 per galon.
“Dengan inflasi bergerak ke arah yang salah dan pasar tenaga kerja masih cukup kuat, sangat kecil kemungkinan The Fed dapat menurunkan suku bunga dalam waktu dekat,” ujar Chief Investment Officer Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.
Meski begitu, sejumlah ekonom menilai ekonomi AS sejauh ini masih cukup tangguh menghadapi guncangan harga energi.
Ekonom senior Edward Jones, James McCann, mengatakan pengembalian pajak, peningkatan perekrutan tenaga kerja, dan pertumbuhan laba perusahaan masih menjadi bantalan bagi ekonomi.
Namun, ia mengingatkan bahwa daya tahan tersebut memiliki batas apabila tekanan inflasi terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

