Saham Berjangka AS Anjlok Setelah Trump Tolak Proposal Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Minggu 10/5/2026) malam waktu setempat, setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang yang berlangsung di Timur Tengah.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran, Ketegangan Selat Hormuz Bayangi Stabilitas Energi Dunia
Penurunan terjadi di tengah lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik terhadap inflasi global dan pertumbuhan ekonomi.
Dikutip dari CNBC, futures yang terkait dengan indeks Dow Jones Industrial Average turun 143 poin atau sekitar 0,3%. Futures terkait S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing juga melemah 0,3%.
Tekanan pasar muncul setelah Trump menyebut proposal balasan Iran sebagai sesuatu yang “sepenuhnya tidak dapat diterima.”
“Saya tidak menyukainya — sama sekali tidak dapat diterima!” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
Pernyataan itu memicu kenaikan harga minyak pada perdagangan awal Asia karena investor khawatir konflik berkepanjangan dapat mengganggu distribusi energi global, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Pasar Saham Wall Street
Meski futures bergerak turun, pasar saham AS sebenarnya baru saja menutup pekan yang sangat kuat.
Baca Juga
Saham Teknologi Pimpin Reli di Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Baru
Sepanjang pekan lalu, indeks S&P 500 melonjak lebih dari 2%, sedangkan Nasdaq Composite naik lebih dari 4%. Keduanya mencatat penguatan mingguan keenam berturut-turut—yang pertama sejak 2024.
Indeks Dow Jones naik 0,2% dalam sepekan, mencatat lima pekan penguatan dalam enam minggu terakhir.
Reli pasar didorong oleh data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan. Laporan nonfarm payrolls menunjukkan ekonomi AS menambah 115.000 pekerjaan pada April, melampaui ekspektasi ekonom yang memperkirakan hanya 55.000 pekerjaan baru.
Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa ekonomi AS masih cukup solid meski menghadapi tekanan geopolitik dan suku bunga tinggi.
Pada perdagangan Jumat lalu, S&P 500 dan Nasdaq bahkan ditutup di level tertinggi sepanjang masa.

