Harga Minyak Turun Meski Trump Tolak Proposal Iran dan Siap Lanjutkan Perang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Harapan pasar atas meredanya konflik Iran–Amerika Serikat kembali muncul setelah Teheran mengirim proposal damai terbaru melalui mediator Pakistan. Namun, optimisme tersebut segera tertahan oleh sikap keras Presiden AS Donald Trump yang menolak tawaran tersebut dan menegaskan perang belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Laporan CNBC yang dipublikasikan Kamis (30/04/2026) dan diperbarui Jumat (01/05/2026) menyebut proposal Iran telah diterima mediator di Pakistan dan diteruskan ke Washington. Sentimen ini sempat menenangkan pasar, mendorong harga minyak turun. Minyak mentah AS melemah sekitar 3% ke US$101,94 per barel, sementara Brent turun hampir 2% ke US$108,17 per barel.
Penurunan harga mencerminkan ekspektasi pasar bahwa konflik dapat mereda dan gangguan pasokan global —terutama melalui Selat Hormuz— bisa berkurang. Jalur ini krusial karena dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Namun, secara politik dan militer, situasi masih jauh dari stabil. Trump secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal Iran. “Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan itu,” ujarnya. Dalam perkembangan terbaru yang dilaporkan Al Jazeera, Sabtu (02/05/2026), Trump bahkan mempertegas bahwa ia tidak akan menerima “akhir perang yang terlalu dini” jika hanya akan memicu konflik baru dalam beberapa tahun ke depan.
Trump juga menyebut Iran “meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui”, memperlihatkan jurang perbedaan yang masih lebar dalam negosiasi. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa gencatan senjata saat ini lebih bersifat sementara daripada menuju perdamaian permanen.
Di sisi lain, Washington meningkatkan tekanan ekonomi dan militer. Pemerintah AS memperingatkan bahwa kapal yang membayar biaya atau tol kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz berisiko dikenai sanksi. Langkah ini menambah ketegangan di jalur energi global tersebut, yang sejak awal konflik menjadi titik krusial.
Baca Juga
Donald Trump Tolak Proposal Damai Baru Iran, Negosiasi Mandek Meski Harga Minyak Turun
Tekanan domestik terhadap Trump juga meningkat. Berdasarkan laporan CNBC, ia menghadapi tenggat 60 hari sesuai War Powers Resolution sejak operasi militer terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Namun, pemerintah berargumen bahwa gencatan senjata sejak 7 April 2026 telah “mengakhiri permusuhan”, sehingga tidak lagi memerlukan persetujuan Kongres.
Sementara itu, opini publik AS mulai berbalik. Survei Washington Post–ABC–Ipsos yang dikutip Al Jazeera menunjukkan 61% responden menilai penggunaan kekuatan militer terhadap Iran sebagai keputusan yang keliru.
Di tingkat global, kekhawatiran juga datang dari China. Duta Besar China untuk PBB Fu Cong menegaskan pentingnya menjaga gencatan senjata tetap berlaku. Ia juga menyebut isu Selat Hormuz akan menjadi agenda utama jika masih tertutup saat kunjungan Trump ke Beijing dalam waktu dekat.
Di lapangan, eskalasi kekerasan terus berlangsung, terutama di Lebanon selatan. Serangan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang pada 1 Mei 2026, setelah sehari sebelumnya lebih dari 30 orang tewas, menurut kantor berita nasional Lebanon. Pimpinan parlemen Lebanon, Nabih Berri, bahkan menilai gencatan senjata justru memberi ruang bagi Israel untuk meningkatkan agresi.
Laporan Reuters juga mengindikasikan bahwa pihak Iran tetap menyiapkan respons militer jika serangan kembali dilancarkan, termasuk ancaman serangan “panjang dan menyakitkan” terhadap posisi AS.
Dengan dinamika tersebut, pasar energi global kini bergerak di antara dua kutub: harapan diplomasi dan ancaman eskalasi. Penurunan harga minyak mencerminkan optimisme sesaat, tetapi sikap keras Trump, kebuntuan negosiasi, serta meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih sangat tinggi.
Dalam kondisi ini, gencatan senjata yang ada semakin terlihat sebagai jeda taktis, bukan akhir dari konflik, sementara dunia tetap menunggu apakah jalur diplomasi mampu menahan laju eskalasi yang terus membayangi.

