Harga Emas Anjlok di Bawah US$ 4.700 Setelah Trump Tolak Proposal Perdamaian Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia kembali melemah pada awal perdagangan Asia, Senin (11/5/2026) setelah Presiden Amerika (AS) Serikat Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru Iran untuk mengakhiri konflik 10 pekan di kawasan Selat Hormuz. Penolakan tersebut memperpanjang ketidakpastian geopolitik dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global, yang pada akhirnya menekan daya tarik logam mulia.
Harga emas spot turun ke sekitar US$ 4.690 per ons pada awal sesi perdagangan Asia. Penurunan ini terjadi ketika pelaku pasar mulai mengurangi posisi beli di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa ketegangan geopolitik justru dapat mempertahankan tekanan inflasi lebih lama.
Baca Juga
Harga Emas Cetak Kenaikan 3 Hari Beruntun, Pasar Tunggu Sinyal The Fed
Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemerintah Iran saling menolak proposal perdamaian yang diajukan untuk mengakhiri perang berkepanjangan di kawasan tersebut. Trump menilai respons Iran atas proposal penghentian konflik sebagai "sama sekali tidak dapat diterima."
Di sisi lain, pejabat Iran menegaskan Amerika Serikat harus membayar kompensasi atas kerusakan perang yang terjadi. Teheran juga menyatakan akan menolak skema perdamaian apa pun yang dianggap memaksa negara itu tunduk pada tuntutan berlebihan dari Washington.
Ketegangan ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik utama perdagangan minyak dunia.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen lindung nilai saat ketidakpastian meningkat, kondisi pasar kali ini menunjukkan dinamika berbeda.
Analis menilai konflik yang berkepanjangan justru berpotensi menjaga tekanan inflasi global tetap tinggi. Hal itu dapat mendorong bank sentral, terutama Federal Reserve, mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil.
Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen berbunga, seperti obligasi Pemerintah Amerika Serikat yang menawarkan return lebih menarik. Situasi ini membuat fungsi lindung nilai emas terhadap gejolak geopolitik menjadi kurang dominan dibanding tekanan dari prospek kebijakan moneter ketat.
Data Tenaga Kerja AS
Tekanan terhadap harga emas juga datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan performa lebih baik dari perkiraan pasar. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat pada Jumat (8/5/2026) melaporkan ekonomi Negeri Paman Sam menambah 115.000 lapangan kerja baru pada April.
Angka tersebut memang lebih rendah dibanding tambahan 185.000 pekerjaan pada Maret, yang sebelumnya direvisi naik dari 178.000, tetapi tetap jauh di atas ekspektasi analis sebesar 62.000. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat stabil di level 4,3%, sejalan dengan konsensus pasar.
Baca Juga
Emas Antam (ANTM) Terkoreksi ke Rp 2,839 Juta di Tengah Optimisme Geopolitik Global
Data ini memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup solid meski terdapat tanda-tanda perlambatan ekonomi. Bagi investor, kondisi tersebut membuka ruang bagi Federal Reserve untuk menunda pemangkasan suku bunga acuan.
Ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama inilah yang kemudian menambah tekanan terhadap harga emas. Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran, sekaligus menunggu sinyal lanjutan dari pejabat The Fed terkait arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.

