Trump Tolak Proposal Iran, Ketegangan Selat Hormuz Bayangi Stabilitas Energi Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak mentah-mentah proposal balasan Iran untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Hal ini mempertegas kebuntuan diplomatik di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Baca Juga
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu (10/5/2026), Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap respons Iran yang disampaikan melalui mediator Pakistan.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut ‘perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya—sepenuhnya tidak dapat diterima!” tulis Trump, seperti dikutip CNBC.
Penolakan tersebut datang ketika Iran mengajukan sejumlah tuntutan besar sebagai syarat penghentian perang, termasuk pencabutan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran selama 30 hari, penghentian blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pengakuan atas pengelolaan Iran terhadap Selat Hormuz dengan syarat adanya komitmen tertentu dari Washington.
Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, proposal tersebut juga menekankan pentingnya penghentian seluruh operasi militer di berbagai front.
Namun, menurut laporan The Wall Street Journal, Iran menolak tuntutan utama Washington terkait penghentian program nuklirnya. Teheran justru meminta negosiasi nuklir dipisahkan dari pembicaraan perang, serta mengusulkan sebagian uranium yang telah diperkaya diencerkan sementara sisanya dikirim ke negara ketiga—dengan opsi dikembalikan jika AS keluar dari kesepakatan.
Netanyahu: Perang Belum Berakhir
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang masih jauh dari selesai. Dalam wawancara dengan program CBS 60 Minutes, Netanyahu mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama terkait ambisi nuklir Iran.
“Masih ada material nuklir dan uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada fasilitas pengayaan yang harus dibongkar. Masih ada kelompok-kelompok proksi yang didukung Iran dan rudal balistik yang ingin mereka produksi,” ujarnya.
Ketika ditanya bagaimana AS dan Israel akan mengambil material nuklir tersebut, Netanyahu menjawab singkat: “Anda masuk, lalu mengambilnya.” Pernyataan itu memperlihatkan bahwa meski jalur diplomasi terus diupayakan, opsi militer tetap menjadi instrumen utama tekanan terhadap Teheran.
Selat Hormuz
Perkembangan signifikan terjadi di Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelum perang mengangkut hampir 20% pasokan minyak dunia. Sebuah kapal tanker LNG milik QatarEnergy, Al Kharaitiyat, berhasil melintasi selat menuju Pakistan pada Minggu, menjadi kapal gas alam cair pertama dari Qatar yang berhasil melewati jalur tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Menurut data firma pelacakan pelayaran Kpler, perjalanan kapal ini memberi secercah harapan bagi Pakistan yang mengalami pemadaman listrik akibat terganggunya impor gas.
Sumber diplomatik menyebut Iran menyetujui pelayaran tersebut sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan dengan Qatar dan Pakistan, dua negara yang aktif menjadi mediator konflik.
Selain itu, kapal kargo berbendera Panama yang menuju Brasil juga berhasil melewati Selat Hormuz melalui rute khusus yang ditetapkan angkatan bersenjata Iran.
Namun secara umum, Teheran masih membatasi lalu lintas kapal non-Iran melalui selat tersebut, menjadikannya alat tekanan strategis terhadap Barat.
Ancaman Drone dan Kekhawatiran Negara Teluk
Ketegangan di kawasan tetap tinggi. Uni Emirat Arab mengumumkan berhasil mencegat dua drone yang datang dari arah Iran. Qatar mengecam serangan drone terhadap kapal kargo yang berlayar dari Abu Dhabi, sementara Kuwait melaporkan sistem pertahanannya menanggapi sejumlah drone bermusuhan yang memasuki wilayah udaranya.
Baca Juga
Kapal Terbakar di Lepas Pantai Qatar, Ketegangan Iran-Israel Kembali Memanas
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa penggunaan Selat Hormuz sebagai “alat tekanan” hanya akan memperburuk krisis.
Menurut Reuters, parlemen Iran juga sedang menyusun rancangan undang-undang untuk meresmikan “pengelolaan Iran atas Selat Hormuz”, termasuk klausul yang memungkinkan pelarangan kapal dari negara-negara yang dianggap bermusuhan.
Tekanan Politik
Trump kini menghadapi tekanan besar untuk segera mengakhiri perang menjelang kunjungannya ke China pekan ini. Konflik yang berkepanjangan telah mendorong lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran resesi.
Baca Juga
Laporan Reuters menyebut Washington belum berhasil mendapatkan dukungan internasional yang cukup untuk misi pembukaan kembali Selat Hormuz. Negara-negara NATO menolak mengirim kapal tanpa adanya kesepakatan damai penuh atau mandat internasional.
Inggris, bersama Prancis, sedang menyiapkan proposal keamanan maritim pascakonflik, dan telah mengirim kapal perang ke Timur Tengah sebagai persiapan misi multinasional.
Menurut BBC, ketegangan di Selat Hormuz kini menjadi fokus utama pasar global karena setiap gangguan kecil dapat memicu lonjakan tajam harga energi dan inflasi global.
Sementara Al Jazeera menyoroti bahwa Iran semakin memanfaatkan kontrol geografisnya sebagai alat negosiasi, terutama setelah tekanan ekonomi dari sanksi AS gagal memaksa perubahan cepat dalam kebijakan Teheran.
Dengan Trump menolak proposal Iran, Netanyahu bersikeras melanjutkan tekanan militer, dan Teheran memegang kendali atas salah satu jalur energi paling vital di dunia, peluang perdamaian tampak masih jauh.
Pasar global kini menunggu apakah diplomasi melalui Qatar, Pakistan, dan Turki dapat memecah kebuntuan—atau justru dunia harus bersiap menghadapi babak baru krisis energi dan geopolitik yang lebih dalam.

