Ekonomi China Juga Terpukul Perang Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ekonomi China mulai merasakan tekanan nyata dari perang Iran. Data perdagangan Maret 2026 menunjukkan laju ekspor negeri itu melambat tajam, sementara lonjakan biaya energi dan bahan baku akibat gejolak Timur Tengah mulai menekan margin industri manufaktur. Berdasarkan laporan CNBC yang ditayangkan Senin (13/04/2026) dan diperbarui Selasa (14/04/2026), data resmi bea cukai China menunjukkan perlambatan signifikan pada kinerja ekspor di tengah lonjakan impor.
Ekspor China pada Maret hanya tumbuh 2,5% secara tahunan (year-on-year), jauh di bawah ekspektasi pasar sekitar 8,6% dan melambat drastis dari lonjakan 21,8% pada dua bulan pertama tahun ini. Data ini juga dikonfirmasi oleh Reuters dalam laporan 14 April 2026, yang menyebut pertumbuhan ekspor tersebut sebagai yang terlemah dalam beberapa bulan terakhir.
Sebaliknya, impor melonjak 27,8% secara tahunan—tertinggi sejak November 2021—jauh melampaui proyeksi pasar sebesar 11,2%. Lonjakan impor ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan bahan baku dan energi yang harganya melonjak akibat gangguan pasokan global, terutama sejak konflik Iran memicu ketidakpastian di Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Baca Juga
Iran Tegaskan Kendali atas Selat Hormuz, Kapal dari China dan Hongkong Pun Diusir
Tekanan eksternal tersebut mulai menjalar ke struktur biaya industri. Laporan CNBC mencatat harga produsen (factory-gate prices) di China naik 0,5% pada Maret —kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun— menandakan tekanan inflasi di sisi produksi. Pada saat yang sama, permintaan domestik masih lemah dengan inflasi konsumen hanya naik 1%, menunjukkan ketidakseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat.
Dampak perang juga terlihat pada struktur perdagangan energi. Menurut perhitungan CNBC terhadap data resmi, impor minyak mentah China turun sekitar 2,8% secara volume dan 4,4% dalam nilai dolar AS, sementara impor gas alam cair (LNG) turun lebih dalam. Ini mencerminkan terganggunya rantai pasok energi global sekaligus meningkatnya volatilitas harga akibat konflik geopolitik.
Dalam pernyataan resmi pada 14 April 2026, Wakil Menteri Administrasi Umum Kepabeanan China, Wang Jun, mengatakan harga minyak dunia mengalami “fluktuasi tajam” yang menciptakan lingkungan perdagangan yang “kompleks dan berat.” Pernyataan ini menguatkan analisis Associated Press yang menyebut perang Iran telah memperburuk prospek perdagangan global dan mulai menekan ekspor China.
Laporan Bloomberg yang dikutip The Straits Times pada 14 April 2026 juga menegaskan bahwa lonjakan biaya energi akibat gangguan di Selat Hormuz telah meningkatkan harga bahan baku industri, dari plastik hingga serat, sehingga menekan profitabilitas pabrik-pabrik China.
Baca Juga
Meski sektor teknologi —terutama semikonduktor dan produk berbasis kecerdasan buatan— masih memberikan bantalan pertumbuhan, tekanan dari lonjakan harga energi, gangguan logistik, dan melemahnya permintaan global mulai mendominasi. Penurunan ekspor ke Amerika Serikat hingga 26,5% secara tahunan semakin mempertegas rapuhnya kinerja perdagangan eksternal China di tengah konflik global.
Dengan kontribusi ekspor bersih yang mencapai sekitar sepertiga ekonomi China tahun lalu, pelemahan ini menjadi sinyal serius bagi prospek pertumbuhan. Jika konflik Iran berlarut dan gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, risiko perlambatan ekonomi global— yang pada akhirnya akan kembali menekan China— kian tak terhindarkan.
Perang ini sekali lagi menegaskan satu hal: dalam ekonomi global yang saling terhubung, peluru yang ditembakkan di satu kawasan dapat mengguncang pabrik, pelabuhan, dan pasar di seluruh dunia.

