Dua Juta Pekerja Kehilangan Pekerjaan, Ekonomi Iran Terpukul Perang & Blokade
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Dampak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini semakin terasa di sektor riil. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran melanda berbagai sektor ekonomi, memperdalam krisis yang sudah diperparah inflasi tinggi dan gangguan aktivitas bisnis.
Laporan BBC yang ditulis koresponden ekonomi Behrang Tajdin dan dipublikasikan Selasa (21/04/2026) menyebutkan bahwa sekitar dua juta warga Iran kehilangan pekerjaan akibat perang. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Iran, Gholamhossein Mohammadi, dua hari sebelum laporan tersebut dirilis.
PHK tidak hanya terjadi di sektor industri yang langsung terdampak serangan udara, tetapi juga menjalar ke sektor manufaktur, perdagangan, ekspor-impor, hingga ekonomi digital. Pemerintah dan pelaku usaha bahkan menyebut fenomena ini sebagai “penyeimbangan tenaga kerja”, sebuah istilah yang dinilai menutupi skala krisis yang sebenarnya.
Dampak perang juga tercermin dalam perubahan perilaku masyarakat. Konsumsi rumah tangga menurun tajam, dengan warga Iran kini hanya berfokus pada kebutuhan pokok. Sektor pariwisata, restoran, dan ritel non-pangan mengalami penurunan drastis. Aktivitas ekonomi di kota-kota besar seperti Teheran pun terlihat lesu, ditandai dengan transportasi publik yang sepi hingga lalu lintas yang jauh lebih lengang dari biasanya.
Tekanan ekonomi semakin berat setelah pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet sejak konflik pecah. Kebijakan yang disebut untuk alasan keamanan ini justru menghantam sektor digital yang sebelumnya berkembang pesat. Menteri Teknologi Informasi Iran sebelumnya memperkirakan bahwa setiap hari pemadaman internet menyebabkan kerugian ekonomi sekitar US$35 juta. Dengan total 52 hari gangguan, kerugian diperkirakan telah melampaui US$1,8 miliar.
Media internasional seperti Reuters dan Al Jazeera juga melaporkan kondisi serupa, menyoroti bahwa tekanan ekonomi Iran berasal dari kombinasi serangan militer, sanksi internasional, serta blokade jalur perdagangan. Gangguan di Selat Hormuz turut memperburuk situasi, karena menghambat arus bahan baku dan ekspor.
Serangan terhadap infrastruktur industri strategis mempercepat gelombang PHK. Pada akhir Maret hingga awal April 2026, fasilitas petrokimia besar di Asaluyeh dan Mahshahr, serta produsen baja utama seperti Mobarakeh Steel dan Khuzestan Steel, dilaporkan menjadi target serangan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh puluhan ribu pekerja langsung, tetapi juga ratusan ribu tenaga kerja di rantai pasok industri tersebut.
Baca Juga
Meski Ekonomi Resesi, Iran Bersumpah Perangi AS Hingga Titik Darah Terakhir
Sektor otomotif Iran, yang menyerap sekitar satu juta tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung, juga mulai terdampak. Sejumlah laporan menunjukkan adanya PHK di berbagai perusahaan pendukung akibat gangguan pasokan bahan baku dan distribusi.
Kondisi ini diperparah oleh hambatan logistik internasional. Sejumlah perusahaan terpaksa menghentikan produksi karena tidak dapat mengimpor bahan baku, seiring kekhawatiran pemasok asing terhadap keamanan pengiriman ke Iran. Bahkan, beberapa perusahaan tekstil dilaporkan memberhentikan hampir seluruh pekerjanya karena pasokan bahan baku terhenti.
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah Iran meluncurkan skema pinjaman bagi usaha kecil. Namun, nilai bantuan yang relatif kecil dan bunga tinggi dinilai belum cukup untuk menahan gelombang PHK.
Krisis tenaga kerja ini terjadi bersamaan dengan lonjakan inflasi yang telah melampaui 50% pada Maret 2026. Menurut berbagai analis yang dikutip BBC dan Reuters, tekanan ekonomi diperkirakan masih akan meningkat, terutama jika konflik berlanjut dan sanksi internasional tetap diberlakukan.
Dengan kombinasi perang, blokade, inflasi tinggi, dan pengangguran massal, ekonomi Iran kini menghadapi tekanan multidimensi. Jika situasi tidak segera mereda, puluhan juta warga Iran berpotensi menghadapi kondisi ekonomi yang jauh lebih berat dalam waktu dekat.

