Iran Desak Blokade Diakhiri, Israel Dituding Penjahat Perang
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan di Timur Tengah terus memanas dengan eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, di tengah kebuntuan negosiasi pembukaan Selat Hormuz. Iran mendesak penghentian blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat, sementara serangan Israel di Lebanon memicu kecaman keras karena menewaskan tenaga medis.
Laporan Al Jazeera yang diterbitkan Selasa (29/04/2026), menyebutkan Presiden Donald Trump mengklaim Iran berada dalam kondisi “state of collapse” dan telah meminta Washington segera mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Namun, di saat yang sama, negara-negara Teluk yang bertemu di Arab Saudi justru menekan Teheran agar mengambil inisiatif membangun kembali kepercayaan setelah serangkaian serangan yang disebut “pengkhianatan” terhadap kawasan.
Baca Juga
Deadlock Iran-AS: Gencatan Senjata Bertahan, Risiko Stagflasi Global Meningkat
Situasi di lapangan juga kian memburuk. Serangan militer Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan tiga petugas darurat. Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras insiden tersebut dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang”. Serangan ini menambah panjang daftar korban sejak gencatan senjata parsial yang diumumkan pada 17 April 2026, namun terus dilanggar oleh kedua belah pihak.
Informasi senada dilaporkan CBS News pada 29 April 2026, yang menyebut konflik Iran-AS masih berada dalam kondisi limbo dengan Selat Hormuz sebagai titik krusial. Ketidakpastian ini juga berdampak pada pasar energi global, di mana gangguan distribusi minyak melalui jalur tersebut terus mendorong volatilitas harga.
Baca Juga
Di tengah dinamika tersebut, perkembangan mengejutkan datang dari Uni Emirat Arab yang mengumumkan akan keluar dari OPEC pada Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya. Langkah ini dinilai berpotensi mengubah peta geopolitik energi global, terutama ketika kawasan masih dibayangi konflik berkepanjangan.
Dengan situasi yang semakin kompleks—mulai dari tekanan militer, diplomasi yang tersendat, hingga pergeseran aliansi energi—Selat Hormuz kembali menjadi episentrum krisis global. Tanpa terobosan nyata, konflik ini berisiko meluas dan memperdalam ketidakstabilan ekonomi dunia.

