Jujurlah pada Kegagalan
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Mengakui kegagalan bukanlah perkara mudah. Butuh kejujuran, ketulusan, keikhlasan, dan jiwa besar untuk sungguh-sungguh mengakui sebuah kegagalan atau kesalahan. Maklum, kegagalan bertali-temali langsung dengan reputasi, bahkan harga diri.
Banyak orang tidak mau mengakui kegagalan karena takut dianggap tidak kompeten, tidak memenuhi kualifikasi (qualified), atau turun gengsi. Orang yang gagal kerap menyalahkan sesuatu di luar dirinya, alih-alih mengakui kesalahannya.
Padahal, jujur terhadap kegagalan atau kesalahan sangat penting. Dengan berlaku jujur terhadap kegagalan, seseorang akan melihat persoalan secara jernih, objektif, komprehensif. Ia akan mencari jawaban mengapa ia gagal, apa yang salah, di mana letak kesalahannya.
Dengan mencari jawaban tentang kagagalan, seseorang bisa berbenah, belajar, dan berintrospeksi agar ke depan tidak mengulang kesalahan yang sama. Dari kejujuran itulah sesungguhnya kesuksesan sejati berasal.
“Kalau kita mau membuka diri, jujur terhadap kegagalan atau kesalahan, itu justru menjadi basis kepercayaan berikutnya. Dari sanalah kesuksesan bisa kita raih,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Blue Bird Tbk (BIRD), Adrianto Andre Djokosoetono kepada jurnalis investortrust.id, Sivana Zahla Putri Ritonga, Elsid Arendra, dan Abdul Aziz di ruang kerjanya, kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Ternyata Andre pernah gagal mendirikan anak perusahaan Bluebird di bidang logistik. Pemegang tongkat estafet generasi ketiga keluarga pendiri Bluebird ini sempat terpuruk (down) saat perusahaan logistik yang dibangunnya tidak berkembang, bahkan tutup. Namun, Andre akhirnya sadar bahwa ia harus jujur terhadap kegagalannya.
“Mungkin kalau saya dulu nutup-nutupin kegalalan atau kesalahan, saya tidak akan diberi kesempatan kedua untuk membangun perusahaan lainnya. Malah saya nggak punya peluang untuk sukses. Tapi saya open, saya mengakui ini, saya kurang itu, ada kesalahan saya,” ujar dia.
Ayah dua anak ini pun percaya bahwa kesuksesan dan kegagalan sejatinya adalah masa lalu. Dari kesuksesan dan kegagalan, setiap orang bisa belajar untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar di kemudian hari.
“Ini yang selalu saya tekankan kepada tim saya sekarang. Kita harus belajar dari keduanya, dari kesuksesan dan kegagalan. Keduanya harus di-combine untuk membuat masa depan lebih baik,” tutur dia.
Intinya, dengan belajar dari kesuksesan dan kegagalan, seseorang tidak boleh terlena oleh kesuksesan. Tetapi, di sisi lain, ia juga tidak boleh terpuruk oleh kegagalan. “Kalau gagal atau berhasil, jangan terlalu yakin bahwa hal itu akan berlangsung selamanya. Semua bisa berubah, kok. Maka adaptasi itu penting,” tegas dia.
Dalam pandangan Andre, keberhasilan instan atau tanpa kerja keras adalah keberhasilan semu. Itu sebabnya, ia sangat menekankan proses, sesuatu yang diperbaiki secara terus-menerus, bertahap, dan berkelanjutan (incremental improvements).
“Saya percaya bahwa kerja keras dan disiplin akan menghasilkan fundamental yang lebih kuat,” tandas Andre. Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa cerita latar belakang pendidikan dan perjalanan karier Anda?
Saya kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung), ambil Teknik Industri. Kebetulan pada era 1980-1990-an jurusan Teknik Industri sedang ngetren. Itu kan cukup baru tuh jurusannya. Saya memang ingin menjadi insinyur. Mungkin karena dari kecil saya hidupnya di kantor, ngeliatin ayah saya. Keluarga besar kami memang keluarga bisnis. Hampir semua ambil kuliah jurusan engineering.
Setelah lulus kuliah di ITB, Bluebird kebetulan buka program management trainee (MT). Saya ditanya, mau ikut MT program? Apa tuh program MT? Pada zaman itu memang sedang tren tuh MT. Sekarang kan namanya management development program (MDP).
Saya bilang oke saya ikut. Saya pun ikut tes dan akhirnya masuk. Apply pertamanya sempat ditolak karena salah. Format surat lamaran salah. Saya juga nggak ada yang ngajarin di zaman itu.
Walaupun udah zaman internet, ada website, tapi kan contoh-contoh waktu itu nggak seperti sekarang. Kalau sekarang kan masukin aja CV ke AI, nanti AI yang mengerjakan. Jadi, memang zaman dulu dengan sekarang sangat berbeda.
Setelah ikut MT program dan dinyatakan lulus, saya mulai ditempatkan. Berpindah-pindah, dari supervisor, assistant manager, terus naik ke manager.
Karier Anda tidak sesuai dengan background pendidikan?
Walau kuliah di Teknik Industri, saya lebih ke manajemen dan coding-nya. Makanya saya sempat menjadi manajer IT (information technology) juga waktu itu. Tahun 2000, Bluebird sudah punya tim IT sendiri karena kami punya ERP (electronic road pricing) system, ada legacy system yang kami handle sendiri.
Nggak lama kemudian, saya sekolah lagi di Amerika. Saya ambil Master of Business Administration di Bentley University, dan Owner/President Management Program di Harvard Business School. Saya ngambil MBA, tapi Master-nya ambil management information system. Zaman itu bukan AI (artificial intelligence).
Saya kemudian dipanggil pulang ayah saya (Chandra Suharto Djokosoetono, generasi kedua anak pendiri Bluebird, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono). Saya dipanggil pulang karena ada proyek migrasi sistem. Padahal saya tadinya ingin mengambil kuliah satu lagi.
Akhirnya saya pulang karena memang project-nya besar dan experience saya ada di situ juga. Kan luar biasa, ini kesempatan besar. Jadi, ini mix antara opportunity dan family-owned business.
Setelah pulang ke Jakarta, saya kembali ke SAP (systems, applications, and products), melanjutkan posisi sebelumnya sebagai manajer. Sebagai manajer data waktu itu, tugasnya lumayan ruwet karena akan ada migrasi sistem.
Berarti saya harus menyiapkan database semuanya. Menyinkronkan data-data yang ada, lalu membuat mapping dengan yang baru, lalu screening, dan lain-lain. Alhamdulillah IRP-nya sukses diimplementasikan.
Selanjutnya saya ikut tes untuk posisi lain. Waktu itu kebetulan ada lowongan di level GM (general manager). Saya pun lulus dan menjadi Kepala Pool Halim. Masih kecil waktu itu. Saya di sana sekitar 2,5 tahun. Setelah itu, saya naik lagi menjadi Kepala Pool Warung Buncit.
Anda diperlakukan sama dengan karyawan-karyawan lain meski Anda adalah keluarga pemilik Bluebird?
Ya. Untuk menempati posisi tertentu, saya harus lulus tes juga seperti yang lain. Saya dapat tantangan yang sama denganyang lain. Saya diperlakukan sama. Kalau tidak hadir atau terlambat sekian kali ya kena potong juga.
Seperti yang lain, saya masuk kerja mulai jam 07.00, hari Senin sampai Sabtu. Di zaman itu kan masih enam hari kerja, walau Sabtu-nya setengah hari. Selain di pool, siang atau sorenya ke head office karena ada tugas-tugas yang lain, dari family.
Punishment juga sama. Lebih sering malah. Apalagi kami bertemu founder setiap siang. Bahkan, sore atau malam, kami sering dipanggil mendadak.
Teguran-teguran itu lebih sering kami terima. Koreksi-koreksi. Bagi saya, itu justru berkah karena dapat mentorship langsung. Itu semua bekal kami untuk melangkah sampai sekarang. Kami bisa belajar banyak.
Intinya, seluruh anggota keluarga melalui proses yang kira-kira sama sesuai dengan zamannya. Saudara-saudara saya yang lain, yang lebih muda, juga melalui proses yang sama. Semua masuk program MT, MDP, dan lain-lain.
Kami kebetulan waktu itu mengembangkan usaha lain. Saya juga dipercaya pegang logistik. Jadi, saya kerjain deh dua-duanya. Alhamdulillah saya dipercaya untuk double job.
Karier saya terus berkembang. Karena saya fokus di GM Operasional, akhirnya waktu ada lowongan untuk Vice President (VP) Operasional, saya salah satu yang qualified, sehingga saya lolos. Posisi saya kemudian naik bertahap, sampai akhirnya menjadi Direktur. Waktu itu, kami restructuring untuk IPO (initial public offering – penawaran umum perdana).
Artinya Anda benar-benar menjalani karier dari bawah?
Ya, walaupun ini family-owned business. Saya ikuti tahapannya seperti karyawan-karyawan lain. Sebenarnya generasi yang memimpin sebelum saya pun nggak langsung menjadi Direktur. Maksimal, masuk sebagai Manajer. Sebelum saya kan belum ada program MT.
Yang bikin program MT itu kakak saya, Bu Noni (Noni Sri Ayati Purnomo). Beliau mengadopsi dari perusahaan lain, di mana beliau pernah bekerja. Tujuannya untuk ngembangin talenta-talenta di dalam. Makanya beliau yang buat. Kalau program MT dibuatnya lebih awal, pasti yang lain juga harus ikut.
Lebih kompleks mana Bluebird sekarang dibanding generasi sebelumnya?
Setiap generasi pasti punya tantangan dan kompleksitas masing-masing sesuai zamannya. Saya beruntung bisa melihat perjalanannya. Kami sejak kecil sebenarnya sudah dididik untuk menghadapi tantangan-tantangan ini oleh orang tua kami, oleh founder utama, almarhumah Bu Mutiara.
Kami dididik untuk bekerja keras dan lebih baik daripada yang lain. Makanya jika pekerjaan pokoknya sudah selesai, biasanya kami dikasih pekerjaan tambahan, tuh. Dikasih lagi, dikasih lagi. Bukan cuma saya. kakak saya, saudara-saudara saya, diberi pekerjaan tambahan.
Waktu Anda masuk Bluebird, ada semacam beban psikologis karena Anda adalah cucu pendiri perusahaan?
Awalnya sih memang sulit ya. Waktu masih menempati level Asisten Manajer atau Manajer, saya justru merasa sulit berhubungan dengan teman-teman sejawat. Jadi, untuk menormalkan hubungan di level yang sama itu lebih sulit. Bahkan ke atas bawah pun lebih sulit bagi saya.
Lebih sulit, maksudnya?
Lebih sulit dalam arti nggak semua mau bilang apa adanya. Jadi, apa yang disampaikan, apa yang saya lihat, itu belum tentu real terjadi. Maka saya belajar untuk lebih independen, blusukan sana sini, nongkrong dengan dirver, makan siang bareng, dan lain-lain supaya bisa mendengar dan melihat langsung kondisi di lapangan. Saya perlu membuka barrier itu sih.
Tentunya saya juga belajar bagaimana agar bisa profesional.Value-value yang diajarkan orang tua, baik di perusahaan maupun di rumah, saya combine menjadi satu bahwa saya harus lebih banyak berkontribusi kepada perusahaan, harus bisa menghasilkan. Saya harus ikut menanamkan dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan.
Tantangan saya adalah bahwa saya dinilai karena kinerjanya. Makanya sebelum naik level, saya harus menjalani penilaian berlapis, untuk melihat apa yang kurang dari saya, apa yang sudah cukup, dan lain-lain, supaya kami punya evaluasi.
Karena kan dari generasi sebelumnya, keluarga kami juga ingin punya view yang objektif dan terukur. Intinya, saya harus menjalani apa yang sudah ditanamkan oleh founder. Siapa pun itu, kapan pun itu, harus qualified.
Waktu itu ada kesempatan untuk berkarier di perusahaan lain?
Waktu itu ya sih. Tapi saya tetap pilih Bluebird karena lebih natural aja. Karena dari kecil udah ikut bapak kan? Keliling-keliling kantor. Saya pulang sekolah SD pun pulangnya ke kantor. Nungguin kakak-kakak saya bekerja, baru pulang ke rumah. Dari kecil, saya sudah familiar dengan lingkungan dan orang-orang di kantor Bluebird. Jadi, saya pilih Bluebird bukan karena terpaksa.
Apa yang pertama kali Anda lakukan setelah diangkat menjadi CEO?
Saya menerapkan manajemen terbuka. Saya mencoba membuka, mendengarkan, dan berdiskusi dua arah, berdebat di dalam forum, istilahnya. Tetapi begitu keluar dari forum, kami satu arah.
Pernah gagal dan terpuruk?
Pernah, saya pernah terpuruk. Saya pernah dipercaya membangun satu anak perusahaan, tapi perusahaan itu akhirnya tutup. Saya gagal membesarkan dan mengembangkannya. Perusahaan yang saya tangani saat itu di bidang logistik, freight forwarding (jasa pengiriman barang).
Apa yang Anda pelajari dari kegagalan?
Saya belajar dari kegagalan itu. Saya belajar dari situ. Maka ketika diberi kesempatan berikutnya untuk mengembangkan usaha lain, alhamdulillah saya berhasil. Itu pula yang akhirnya meyakinkan saya bahwa kita harus open aja. Bahwa nggak perlu ngotot kalau memang kita tidak bisa melanjutkan sebuah bisnis.
Kalau memang tidak bisa dilanjutkan, ya jangan dilanjutkan, kita bisa cari jalan yang lain atau kesempatan yang lain. Yang penting, kita belajar dari kesalahan itu untuk mencapai keberhasilan. Jangan sampai di kemudian hari kegagalan itu terulang. Itu menjadi learning period bagi saya.
Awalnya saya nggak menyangka akan gagal. Karena kan sama-sama berhubungan dengan transportasi, tapi ternyata berbeda. Nah, pada kesempatan berikutnya, ada kesempatan lagi untuk membangun lagi perusahaan freight forwarding. Oke, kita bikin lagi. Kami start lagi dengan learning yang di-combine. Akhirnya berhasil, sampai sekarang perusahaannya masih ada.
Kesimpulannya?
Itu salah satu pola pikirnya juga. Bahwa sukses yang sudah kita capai itu artinya masa lalu. Ini yang selalu saya tekankan kepada tim saya sekarang. Sukses adalah masa lalu, tapi kegagalan juga masa lalu. Dua-duanya bisa kita pelajarin agar besok kita menjadi lebih baik.
Kita harus belajar dari keduanya, dari kesuksesan dan kegagalan. Dua-duanya harus di-combine untuk membuat masa depan lebih baik. Lebih siaplah. Apalagi dalam menghadapai kondisi uncertainty seperti sekarang.
Semua mudah berubah, customer gampang berubah, regulasi gampang berubah. Sekarang ini, industri sebelah berubah, kita kena. Negara kita nggak apa-apa, negara tetangga melakukan sesuatu, kita bisa kena. Jadi, semuanya berada dalam satu ekosistem yang tidak mungkin berdiri sendiri.
Yang Anda pelajari dari kesuksesan?
Dalam melangkah, kita nggak boleh terlena dengan kesuksesan. Tetapi kita juga nggak boleh terpuruk oleh kegagalan atau kesalahan. Jangan diulang dua kali.
Kalau gagal, kalau berhasil, jangan terlalu yakin bahwa itu nggak bisa berubah. Maka adaptasi itu penting. Terlebih saat ini berbagai industri mengalami disrupsi. Kompetitor juga banyak, lebih beragam, di industri yang sama.
Tantangan di setiap periode itu berbeda-beda. Apa yang diadaptasikan pun berbeda-beda. Disrupsi bisa datang dari luar, misalnya dari customer-nya, atau bisa pula dari dalam, dari governance atau business model kita. Misalnya muncul pertanyaan apa value proposition Bluebird dibandingkan kompetitor? Apakah value proposition kompetitor sama dengan kami atau market-nya lebih baik?
Nah, ini yang terus kami evaluasi. Kalau value proposition-nya berbeda, business model-nya berbeda, market-nya berbeda, berarti ancaman disrupsi bukan datang dari kompetitor walaupun bentuknya sama. Pokoknya, kami selalu lihat kanan-kiri.
Trigger yang membuat Anda bangkit?
Sejarahnya, saya dari kecil sudah didorong untuk berbisnis.Waktu SMP, saya sudah berbisnis kecil-kecilan, sewa-sewain laser disc (cakram optik komersial pertama untuk menyimpan video dan audio berkualitas tinggi dengan format analog). Saya menyewakannya dari rumah ke rumah. Setelah itu berubah ke CD (compact disc) kan?
Jadi, unconscious self-awareness (kesadaran diri yang terjadi tanpa disadari) saya mengatakan bahwa semua bisnis belum tentu bisa bertahan atau bisa berhasil hanya karena kita melakukan yang terbaik.
Ada faktor lain yang dapat memengaruhi. Karena itu, we keep listening. Our customers need to stay attuned to the industry, yang terkait maupun yang memengaruhi. Itu sih kesan-kesan saya. Kuncinya di ‘mendengarkan’ dan ‘belajar’. Apa yang salah, apa yang kurang, terus dievaluasi.
Begitu dikasih kesempatan yang kedua, saya bisa handle. Saya pikir itu jadi lesson source juga bahwa kalau kita mau membuka diri, jujur terhadap kegagalan atau kesalahan, itu justru menjadi basis kepercayaan berikutnya.
Kuncinya jujur terhadap kegagalan dan membuka diri terhadap masukan orang lain?
Ya. Mungkin kalau saya dulu nutup-nutupin kenapa saya salah atau gagal, nggak memaksa membuka kenapa perusahaan yang pertama itu gagal, saya tidak akan diberi kesempatan untuk membangun perusahaan yang kedua. Malah saya nggak punya peluang untuk sukses. Saya open, saya mengakui ini, saya kurang itu, ada kesalahan saya. Mungkin karena itu saya dikasih kesempatan yang kedua.
Benang merah perjalanan karier Anda dari awal sampai posisi sekarang?
Kesimpulannya, saya hanya bagian dari tim yang selalu berusaha bersama-sama memberikan pelayanan terbaik supaya stakeholders bisa bahagia, baik karyawan maupun pelanggan kami.
Setiap kali terjadi krisis ekonomi, kami selalu mencari cara untuk bertahan agar 40 ribu orang yang bekerja di Bluebird bisa tetap punya masa depan. Program-program yang kami jalankan jangan sampai terhenti agar para driver dan karyawan tidak terputus mata pencariannya. Supaya anak-anak mereka bisa melanjutkan studinya melalui beasiswa yang diberikan Bluebird. Itu yang ada dalam benak kami.
Saya percaya bahwa keberhasilan itu bukan milik saya atau siapa pun secara personal di perusahaan ini. Keberhasilan perusahaan ini adalah keberhasilan semua. Yang membersihkan kendaraan itu punya peran sama pentingnya dengan yang lain.
Kalau kendaraannya nggak bersih, pengemudinya pun nggak bisa melayani dengan bersih, dengan baik. Mulainya kan dari situ. Kalau pagi hari driver bawa mobil kotor, berarti dia mulainya saja sudah salah. Mulainya bukan lagi dari nol, tapi dari minus tuh.
Tugas beratnya itu justru bagaimana melanjutkan legacy yang sudah dibangun selama 50 tahun, walaupun saya menjadi bagian selama 20 tahun terakhir. Saya harus melanjutkan, menumbuhkembangkan value yang sudah ada, menambahkan hal-hal yang perlu ditambahkan, berinovasi, dan beradaptasi dengan berbagai perubahan, baik dari sisi layanan, teknologi, maupun dari sisi-sisi yang lain. Itu tugas kami sekarang yang mungkin berbeda dengan generasi sebelumnya.
Ada ungkapan klasik bahwa generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan. Ternyata itu tidak berlaku di Bluebird?
Salah satu program yang kami desain adalah menentukan apakah kami merupakan bisnis keluarga (family business) atau keluarga bisnis (business family). Jika kami adalah bisnis keluarga, maka perusahaan dijalankan sebagai bisnis keluarga, dengan keluarga berperan sebagai pemilik perusahaan.
Namun karena kami memilih sebagai business family, kami berpandangan bahwa bisnis ini tidak harus dijalankan oleh anggota keluarga. Seluruh aktivitas harus didasarkan pada kualifikasi profesional.
Nah, tentang kesinambungan suatu perusahaan dari generasi pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, saya pikir itu relatif sih. Yang nyampe generasi ketiga memang sedikit, situasinya kan berbeda-beda. Bisa karena industrinya, bisa karena fondasi bisnisnya nggak kuat, bisa karena generasi ketiganya memang ‘macem-macem’.
Kalau kita sudah membuat meritokrasi yang benar, profesional yang benar, governance-nya benar, keputusan-keputusan bisnisnya dibuat secara benar, at least risiko-risiko itu bisa dikurangi.
Kami juga punya mekanisme kolektif. Walaupun dikelola generasi ketiga, masih ada generasi kedua juga. Kami semua tetap sama-sama berpikir secara kolektif. Supaya arahnya ditentukan bersama.
Kami pelajari juga perusahaan-perusahaan yang sudah bertahan selama 200, 300, 400 tahun. Itu kan berarti tujuh, delapan, atau sembilan generasi. Kami pelajari yang gagal maupun yang sukses.
Gaya leadership Anda?
Saya lebih cenderung mendengar. Karena moto saya kan harus jujur. Bagaimana bersama tim bisa menghasilkan nilai tambah. Bagi saya, satu tambah satu bukan sama dengan dua. Harus lebih dari dua. Maka kami harus saling melengkapi.
Saya suka beri challenge saat berdiskusi. Itu bukan instruksi, tetapi untuk memastikan kita semua mengerti yang sedang didiskusikan. Dalam berdiskusi, saya inginnya dua arah, tiga arah, empat arah. Kadang-kadang saya bilang, yang udah ngomong boleh mengambil kue, yang belum ngomong nggak boleh mengambil kue. Supaya semua ngomong, menyampaikan pendapat.
Filosofi Anda?
Kesuksesan dan kegagalan itu untuk dipelajari, bukan untuk membuat kita terpuruk atau membuat kita terlena. Saya percaya bahwa kerja keras dan disiplin akan menghasilkan fundamental yang lebih kuat, bukan instan. Instan itu kalau kita tidak pernah mempersiapkan fondasinya.
Saya lebih percaya proses. Proses yang kontinu, terus diperbaiki, hari ini harus lebih baik dibandingkan kemarin. Supaya kita punya incremental improvements (perbaikan bertahap dan berkelanjutan). Itu akan membuat bisnis lebih sustainable. Berharap kepada hasil instan boleh saja. Tapi kalau nggak ada fondasinya, kesempatan untuk itu nggak akan ada.
Pandangan Anda tentang work-life balance?
Saya ingin bekerja secara natural aja. Bekerja selama 12 jam atau14 jam sehari bisa saja. Itu tidak harus membuat program work-life balance-nya berantakan. Tapi kalau memang ada waktu, saya tetap bisa meluangkan waktu untuk keluarga. Minimal, satu kali seminggu saya upayakan makan malam di rumah, misalnya. Intinya fleksibel aja. Yang penting saling pengertian dengan keluarga.
Saya sering mengecek juga, apakah saya sudah menghabiskan waktu di kantor terlalu banyak? Sebab, apa yang saya anggap cukup, belum tentu cukup bagi keluarga. Begitu pula saat saya menilai diri saya sendiri, apakah saya sudah cukup berolahraga, apakah pola makan saya sudah teratur atau belum. Alhamdulillah keluarga saya cukup pengertian, kok.
Bagaimana Anda melihat kompetisi bisnis jasa transportasi, terutama taksi?
Pesaingnya banyak terus, kok. Dari dulu banyak. Dari dulu kami nggak pernah sendirian. Banyak operator taksi. Rental lebih banyak lagi. Kami sejak awal tidak pernah punya mindset bahwa Bluebird itu sendirian. Kami melihatnya justru positif. Kalau ada kompetitor baru, berarti ada tambahan informasi baru bagi kami, kenapa dia bisa exist? Apakah mereka dari market segment yang sama? Apakah value proposition-nya sama dengan kami? Apa perbedaan dia dengan kami?
Itu yang kami tanamkan supaya kami bisa terus berkembang. Jadi, kami bukan hanya menekankan kejujuran, kerja keras, dan disiplin, tapi juga pola pikir harus berkembang dan adaptif. Kadang-kadang, kami belajar juga dari kompetitor, misalnya dalam urusan teknologi.
Bluebird masih terus ekspansi?
Kami mencanangkan ekspansi tahun ini. Ada beberapa pilihan yang masih sama.
Ada rencana shifting ke kendaraan listrik?
Kami sudah punya juga taksi yang electric vehicle (EV). Kami akan lihat terus karena industrinya kan masih berkembang. Harga EV turun terus, kan? Kita tunggu aja, sampai dia turun terus.
Anda tidak melihat taksi berbais EV sebagai ancaman?
Dunia mereka, ekosistem mereka, berbeda dengan kami. Dalam bisnis ini, ujung-ujungnya adalah bagaimana kami bisa memberikan layanan terbaik. Walau kami ganti taksi kami dengan EV semua, tapi pelayanan kami tidak lebih baik, ya tidak akan berhasil. Saya pikir, EV bukan solusinya.
Kegiatan Anda di waktu weekend?
Saat weekend, saya biasanya sibuk di kantor. Tapi saya tetap berupaya meluangkan waktu untuk keluarga. Saya sebetulnya sedang hobi olahraga, yaitu triatlon (gabungan cabang olahraga renang, sepeda, lari). Kalau libur panjang, baru travelling. Kalau travelling kan waktunya terbatas.
Awalnya saya goes sepeda aja. Waktu muda kan berbagai cabang olahraga dicobain, dari berenang, basket, tenis, squash, pingpong, basket, segala macamlah. Tapi setelah bekerja, saya berhenti karena waktunya habis untuk pekerjaan.
Akhirnya, istri saya ngajakin sepedaan. Apalagi setelah muncul Covid-19. Satu-satunya hiburan waktu itu ya sepedaan, karena jalanan sepi, stres di kantor, takut tertular Covid, dan lain-lain. Setelah Covid-19 selesai, saya mulai lari dan berenang lagi. Ya udah, akhirnya sekalian triatlon. Triatlon itu melatih disiplin, mindset-nya juga dapat, terutama untuk incremental improvement. ***
Biodata
Nama lengkap: Adrianto Djokosoetono.
Pendidikan:
* Teknik Industri – Institut Teknologi Bandung (ITB).
* Master of Business Administration - Bentley University.
* Owner/President Management Program - Harvard Business School.
Karier:
* Direktur Utama PT Blue Bird Tbk (2023 - sekarang).
* Wakil Direktur Utama PT Blue Bird Tbk (2021-2023).
* Management Trainee dan sejumlah jabatan lainnya di berbagai level, termasuk anggota Dewan Direksi dan Dewan Komisaris anak perusahaan/perusahaan afiliasi PT Blue Bird Tbk (2003 - 2020).
Lain-lain:
* Ketua Dewan Pusat Organisasi Transportasi Darat (Organda):2015 – sekarang.
* Ketua Komite Tetap Transportasi Darat Kadin Indonesia (2015 - sekarang).
* Ketua Komite Angkutan Darat dan Kereta Api Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo): 2018.
* Wakil Ketua Departemen Angkutan Darat Asosiasi Logistik dan Forwarding Nasional Indonesia (ALFI/ILFA): 2019.

