Serangan Hamas ke Sderot Bukti Kegagalan Intelijen Israel
JAKARTA, Investortrust.id - Serangan tak terduga dan belum pernah terjadi di selatan Israel pada hari Sabtu pagi (7/10/2023) oleh kelompok militan Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza disebut sebagai "kegagalan besar" dari intelijen Israel.
Milisi Hamas melepaskan lebih dari 2.000 roket dari Jalur Gaza ke Israel, sementara sejumlah pejuang Hamas memasuki bagian selatan Israel melalui darat, laut, dan udara, menggunakan paraglider dan bahkan menangkap beberapa tentara Israel di dekat perbatasan.
Setidaknya 70 orang telah tewas dan lebih dari 600 terluka di Israel. Di sisi Jalur Gaza, terdapat 198 korban tewas dan sekitar 1.500 terluka dalam serangan balasan Israel, demikian dilaporkan The Telegraph India, Minggu (8/10/2023).
Baca Juga
Hamas Lakukan Serangan Fatal, Netanyahu Bersumpah Belas Lebih Keras
Selama ini Israel selalu bangga dengan badan intelijennya, seperti Shin Bet untuk unit dalam negerinya, dan terutama Mossad agen mata-mata eksternalnya.
Namun, serangan lebih dari 2.000 roket dan puluhan pejuang yang menyusup melalui perbatasan di hari libur membuat negara ini tergagap.
Semua ini terjadi di tengah klaim Israel sebagai sebuah kekuatan militer terkuat di Timur Tengah,dengan kamera keamanan di setiap perbatasan, ribuan personel dari Shin Bet dan Mossad di lapangan, teknologi pemetaan termal mutakhir, sensor gerak, dan pagar perbatasan yang canggih.
Beberapa ahli berpendapat bahwa Israel begitu fokus menghadapi Iran untuk menggagalkan program nuklir Republik Islam tersebut sehingga mereka mengabaikan keamanan di wilayah mereka sendiri.
Baca Juga
Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza Jadi Sasaran Serangan Israel
Sebuah laporan yang dilansir Jerusalem Post, salah satu surat kabar terkemuka, menyebutkan "Gaza yang berada di halaman belakang Israel menjadi ancaman keamanan karena mereka merupakan proksi yang didukung Iran. Kelompok Hamas di Jalur Gaza telah meningkatkan ancaman di sejumlah lokasi". Surat kabar ini juga memberikan rincian tentang peristiwa yang terjadi dalam tiga hingga empat tahun terakhir di wilayah tersebut, yang disebutkan mengakibatkan "Hamas di Gaza tampak terisolasi, bahkan tidak mampu mendapatkan lebih banyak dana dari sumber-sumber biasa, seperti Qatar."
"Dengan kesepakatan normalisasi Israel yang tumbuh di wilayah ini, tampaknya membuat orang terlena dalam rasa aman palsu," demikian dijelaskan dalam laporan tersebut.
Jerusalem Post juga memaparkan, setiap kali terjadi eskalasi dan diikuti gencatan senjata hanya akan membantu Hamas dan organisasi Islam lainnya untuk membangun kembali kekuatan mereka untuk putaran berikutnya. Israel baru-baru ini setuju untuk gencatan senjata dengan Hamas, yang dikatakan oleh beberapa ahli bahwa peringatan tersebut diabaikan karena kendala politik di dalam negeri.
"Sejumlah media berbahasa Ibrani mulai mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya, yang mencela hierarki politik dan militer atas kenyataan bahwa Israel terlibat dalam pertengkaran internal," demikian laporan di Times of Israel.
"Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam beberapa tahun terakhir mengkhawatirkan Hamas akan melakukan serangan besar di Israel, sehingga berhati-hati untuk tidak mendorong Gaza ke dalam kehancuran yang lebih besar lagi," kata laporan tersebut.
Eli Maron, mantan Kepala Angkatan Laut Israel mengatakan dalam sebuah siaran, "Seluruh Israel bertanya-tanya, di mana IDF, di mana polisi, di mana keamanan? Ini adalah kegagalan besar, hierarki gagal, dengan konsekuensi besar."
Times of Israel juga mengutip Amos Yadlin, mantan kepala intelijen IDF, yang mengatakan, "serangan ini membangkitkan kenangan buruk Perang Yom Kippur, sebuah serangan lain yang ditandai oleh 'kegagalan intelijen’.”
Bagi banyak warga Israel, infiltrasi mematikan pada hari Sabtu segera mengingatkan kenangan menyakitkan dari perang Oktober 1973, hampir 50 tahun yang lalu, saat Mesir, dibantu Suriah melancarkan serangan mengejutkan pada hari Yom Kippur, hari paling suci dalam agama Yahudi.
"Semua perkiraan intelijen militer hingga pagi dini hari, kelompok teroris Hamas tidak berminat dalam perang yang menyebar ke Gaza. Oleh karena itu, IDF mengurangi penempatan pasukan di selatan, memindahkan pasukan ke Tepi Barat di mana gelombang teror sedang berlangsung," tambahnya.
BBC, dalam analisisnya menyayangkan gabungan Shin Bet sebagai intelijen dalam negeri Israel, Mossad dengan agen mata-mata eksternalnya, dan semua aset Israel Defence Forces, tidak mampu mendeteksi adanya serangan yang datang."
"Untuk mempersiapkan dan melaksanakan serangan yang terkoordinasi dan kompleks seperti ini, yang melibatkan pengumpulan dan penembakan ribuan roket, tepat di bawah hidung orang-orang Israel, sangat memerlukan tingkat keamanan operasional yang luar biasa oleh Hamas."
Beberapa ahli juga menyalahkan perpecahan di dalam Israel dalam rangka rencana reformasi yudisial yang telah mengakibatkan seruan massal untuk boikot, sehingga melemahkan posisi pemerintah.

