Menkeu: Indonesia Memasuki Fase Ekspansi Hingga 2033
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Indonesia kini sudah keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi 5%. Hingga tahun 2033, Indonesia memasuki fase ekspansi baru dan pada tahun ini laju pertumbuhan ekonomi diyakini bisa menembus 6%. Berbagai indikator menunjukkan perbaikan signifikan, sementara pemerintah akan mempercepat pencairan belanja APBN sejak awal kuartal pertama 2026 untuk menjaga momentum.
“Dalam APBN, target pertumbuhan sekitar 5,4%. Namun saya akan mendorong agar laju pertumbuhan ekonomi mencapai 6%,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa pada acara Indonesia Economic Outlook (IEO) di Auditorium Wisma Danantara, Jumat (13/02/2026).
Selain mendengarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, acara yang diinisiasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto itu juga menghadirkan CEO Danantara/Menteri Investasi Rosan Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, serta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.
Banyak pihak, menurut Purbaya, hanya melihat prospek jangka pendek. Padahal jika mencermati siklus bisnis ekonomi Indonesia, fase ekspansi biasanya berlangsung 7–10 tahun sebelum terjadi kontraksi. Sebelum pandemi Covid-19, Indonesia menikmati fase ekspansi panjang. “Sekarang kita memasuki fase ekspansi baru,” ujarnya.
Jika kebijakan dijaga dengan tepat, fase ekspansi tersebut bisa berlangsung hingga 2033. Leading indicators yang dipantau pemerintah, termasuk indeks ekspektasi ekonomi 12 bulan ke depan, mulai naik kembali. Indeks kondisi ekonomi saat ini juga membaik. Keyakinan konsumen meningkat tajam.
Baca Juga
Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6%, Purbaya Sebut Belanja Negara Digeber hingga Rp809 T di Kuartal I-2026
“Artinya, jika stabilitas dijaga, kebijakan konsisten, dan koordinasi tetap kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk membawa ekonomi menuju fase pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan dan mendukung visi Indonesia Emas,” papar Purbaya.
Target 5,5–6% dan Akselerasi Belanja
Untuk 2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,5–6%. Menurut Purbaya, ini bukan angka biasa. Jika tercapai, Indonesia benar-benar keluar dari jebakan pertumbuhan stagnan di level 5%.
Pada kuartal pertama 2026, belanja negara diperkirakan mencapai sekitar Rp809 triliun. Belanja ini diarahkan untuk mendorong investasi dan konsumsi, termasuk percepatan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai sekitar Rp82 triliun serta berbagai belanja strategis lainnya.
“Kami mengakselerasi belanja yang sebelumnya tertahan agar momentum ekonomi tetap terjaga,” tegasnya.
Dari sisi penerimaan, Kementerian Keuangan memastikan kinerja pajak dan bea cukai tetap optimal. Pendapatan negara dijaga agar tetap kuat dengan disiplin pembayaran dan pengelolaan yang prudent. Fokus fiskal diarahkan untuk memastikan momentum pertumbuhan yang sudah terbentuk benar-benar berkelanjutan.
Strategi Ekonomi dan Fiskal
Menkeu menegaskan bahwa APBN tetap menjadi instrumen utama penggerak ekonomi. Untuk 2026, pertimbangan kebijakan fiskal dilakukan dengan sangat hati-hati, pengendalian risiko makro tetap dijaga, dan berbagai instrumen fiskal ditingkatkan secara terukur agar arah kebijakan ekonomi nasional dipahami secara utuh oleh para pemangku kepentingan.
Ia memaparkan bahwa kinerja ekonomi 2025 menjadi fondasi kuat bagi fase ekspansi ini. Pada 2025, ekonomi tumbuh sekitar 5%, dengan tren kuartalan yang membaik dari 4,87% pada kuartal pertama menjadi sekitar 5,3% pada kuartal terakhir. Momentum pertumbuhan menguat menjelang akhir tahun.
Pertumbuhan tersebut berdampak pada penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas, penurunan kemiskinan dan pengangguran, inflasi yang tetap terkendali, serta daya beli masyarakat yang relatif stabil.
Surplus perdagangan berlanjut selama 68 bulan berturut-turut. Pada 2025, surplus perdagangan mencapai sekitar US$81 miliar, tumbuh 31% dibandingkan 2024. Di tengah ketidakpastian global, capaian ini menunjukkan daya saing Indonesia tetap kuat.
Dari sisi stabilitas makro, nilai tukar dijaga melalui kolaborasi erat dengan Bank Indonesia. Cadangan devisa tetap memadai dan investor asing di pasar portofolio masih menjadi penopang pasar modal. Meski terdapat dinamika global dan isu seperti MSCI, pemerintah tetap fokus memperbaiki fondasi ekonomi secara konsisten.
Sektor riil juga menunjukkan perbaikan signifikan sejak paruh kedua 2025. Aktivitas manufaktur konsisten membaik sejak Juli 2025. Indeks PMI kembali berada di atas 50 pada Januari, menandakan ekspansi. Penjualan mobil dan motor meningkat, penjualan ritel menguat. Pelemahan yang sempat terjadi ketika PMI turun di bawah 50 kini telah berbalik arah.
Kepercayaan Konsumen Rekor Tertinggi
Salah satu indikator penting yang disoroti Menkeu adalah Indeks Kepercayaan Konsumen. Berdasarkan survei 25 tahun terakhir, pada periode Juli hingga September sempat terjadi penurunan tajam. Namun setelah berbagai langkah kebijakan ditempuh pada September, arah ekonomi berbalik.
Baca Juga
Konsumsi meningkat, penjualan membaik, dan masyarakat mulai merasakan perbaikan ekonomi. Kepercayaan konsumen melonjak pada Oktober, November, hingga Januari. Bahkan pada Januari, indeks tersebut mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
“Ini menunjukkan stabilitas sosial-politik terjaga dan perbaikan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat, bukan hanya angka statistik,” ujarnya.
Menurut Purbaya, stabilitas sosial-politik menjadi modal penting bagi ekspansi jangka menengah. Pemerintah bersama Bank Indonesia juga terus memperkuat likuiditas agar pemulihan ekonomi tidak terhenti. Ketika likuiditas cukup di sistem, daya beli membaik, penjualan meningkat, dan aktivitas ekonomi bergerak lebih cepat.
Paradigma baru pengelolaan ekonomi pun diusung: pertumbuhan tinggi yang pro-rakyat dengan pemerataan kesejahteraan dan stabilitas nasional. APBN diposisikan sebagai katalis dan instrumen counter-cyclical melalui program unggulan, perlindungan sosial tepat sasaran, dukungan dunia usaha, optimalisasi penerimaan, serta disiplin fiskal.
Defisit tetap dijaga di bawah batas 3% PDB. Meski ada penyesuaian dari sekitar 2,5% ke level yang sedikit lebih tinggi untuk mendorong ekonomi, kredibilitas fiskal tetap dipertahankan dan utang dikelola secara terkendali.
Moderator acara menegaskan bahwa kuartal pertama menjadi kunci. Optimisme pertumbuhan pada awal tahun berada di kisaran 5,6–6%. Momentum awal 2026 akan sangat menentukan arah pertumbuhan sepanjang tahun.
Dengan kombinasi stabilitas, akselerasi belanja, penguatan penerimaan, dan koordinasi kebijakan yang solid, pemerintah meyakini fase ekspansi hingga 2033 dapat menjadi landasan kuat menuju Indonesia Emas 2045.
