Ekspansi Kapasitas dan Kenaikan Harga Jual Listrik, Jaminan Prospek Pertamina Geothermal (PGEO)
JAKARTA, investortrust.id – Ekspansi kapasitas pembangkit geothermal PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dari 672 MW menjadi 1.272 MW pada 2027 akan menjadi faktor pendongkrak pertumbuhan kinerja keuangan perseroan. Harga saham PGEO saat ini tergolong murah (undervalued) dibanding prospek positif jangka panjangnya.
Perseroan juga didukung oleh tren penguatan pendapatan dan margin keuntungan, seiring dengan adanya peningkatan harga pembelian listrik perseroan secara berkala oleh PT Pembangkit Listrik Negara (PLN).
Analis Sucor Invest Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan menyebutkan, PGEO merupakan perusahaan pembangkit geothermal terbesar kedua di Indonesia dengan kapasitas pembangkit sebanyak 672 MW dan ditargetkan melesat menjadi 1.272 MW pada 2027. Penambahan kapasitas tersebut akan menghabiskan belanja modal sekitar US$ 2,3 miliar.
Dengan demikian, pertumbuhan rata-rata kapasitas pembangkit perseroan mencapai 14% per tahun untuk periode 2022-2027. Dengan kapasitas tersebut, PGEO diprediksi mampu untuk menghasilkan 11 miliar KWh per tahun. Angka tersebut setara dengan 9% dari total kapasitas pembangkit geothermal dunia.
Selain faktor tersebut, kata Andreas, Pertamina Geothermal juga diuntungkan oleh stabilnya harga penjualan listrik kepada PLN dengan adanya peningkatan harga pembelian secara berkala setiap tahun. Hal ini akan mendorong pertumbuhan pendapatan perseroan terus berlanjut, meskipun tidak ada peningkatan kapasitas.
“Dengan penambahan kapasitas pembangkit dan kenaikan harga jual listrik, pendapatan Pertamina Geothermal diharapkan mencapai US$ 806 juta pada 2027 atau terjadi lompatan sebanyak 109% dari realisasi tahun 2022 senilai US$ 386 juta,” tegas Andreas.
Begitu juga dengan laba bersih PGEO diproyeksikan mencapai level US$ 205 juta pada 2027 atau menunjukkan peningkatan sebanyak 61% dari realisasi tahun 2022 senilai US$ 127 juta.
Berbagai faktor tersebut mendorong Sucor Invest merekomendasikan hold saham PGEO dengan target harga diperkirakan menuju Rp 1.650. Target tersebut mengasumsikan perkiran ROE mencapai 12% dan mengimplikasikan perkiraan EV/EBITDA mencapai 12,4 kali dan PE sekitar 29 kali pada 2024.
Sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas, Inav Haria Chandra mengatakan, Pertamina Geothermal (PGEO) didukung induk usaha yang kuat yang dapat menopang tren pertumbuhan kinerja keuangan ke depan. “PGEO sebagai anak usaha Pertamina merupakan nilai tambah tersendiri yang menjadi keunggulan perseroan. Hal ini membuat perseroan bisa lebih unggul dibanding dengan perusahaan geothermal lainnya,” tulisnya dalam riset terakhirnya.
Pertamina geothermal, kata Inav, juga didukung besarnya sumber daya panas bumi di Indonesia yang siap dikembangkan. Apalagi pemerintah tengah gencar mengembangkan sumber energi ramah lingkungan panas bumi ini, dari sebelumnya yang sangat menggantungkan pada energi batu bara.
Kondisi tersebut merupakan potensi besar bagi perseroan untuk berkontribusi lebih besar lagi dalam pengembangan energi terbarukan dari pembangkit listrik batu bara menjadi pembangkit listrik panas bumi. Apalagi Pertamina Geothermal memiliki hubungan yang baik dengan pemerintah dan PLN.
“Dengan sejumlah faktor tersebut, Pertamina Geothermal diharapkan memperoleh manfaat yang signifikan dengan perkiraan tambahan kapasitas terpasang sebanyak 3,4 GW atau rata-rata pertumbuhan tahunan sebanyak 10% untuk satu dekade ke depan,” kata Inav.
Selain faktor tersebut, Inav melihat bahwa Pertamina Geothermal didukung ekspansi luar negeri. Perseroan baru-baru ini telah membentuk kerja sama dengan AGIL untuk menjajaki pengembangan pembangkit listrik panas bumi di Africa.
Atas dasar berbagai faktor tersebut, Sinarmas Sekuitas merekomendasikan beli saham PGEO dengan target harga Rp 1.900. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan EV/EBITDA tahun 2023 sekitar 13,4 kali. Harga saham PGEO saat ini dinilai masih undervalued, dibandingkan dengan prospek pertumbuhan dalam jangka panjang. Pada Senin (9/10/2023), saham PGEO ditutup pada harga Rp 1.520.
Sinarmas Sekuritas menargetkan laba bersih perseroan melesat menjadi US$ 170 juta pada 2023, dibandingkan realisasi tahun 2022 sekitar US$ 127 juta.
Prospek saham PGEO
Sinarmas Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.900
Sucor Invest Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 1.650
Keuangan Solid
Sementara itu, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) pada semester I-2023 menorehkan kenaikan laba bersih sebesar 30,1% (year on year/yoy) menjadi US$ 92,7 juta, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar US$ 71,3 juta. PGEO juga berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 11,9% menjadi US$ 206,7 juta dari tahun sebelumnya sebesar US$ 184,7 juta. Selain itu, EBITDA juga naik sebesar 13,3% menjadi US$ 175,5 juta hingga periode yang berakhir Juni 2023.
“Perseroan konsisten mencatatkan pertumbuhan laba dan pendapatan seiring dengan ekspansi dan menurunnya beban hutang Perseroan. Komitmen PGE sebagai world class green energy company dibuktikan dengan peningkatan kinerja PGE dalam memperoleh pendapatan pada pengembangan energi panas bumi,” kata Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Nelwin Aldriansyah dalam keterangannya akhir Juli 2023 lalu.
Nelwin menyatakan, PGEO juga berhasil mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan seiring dengan penguatan operasional dan program efisiensi yang dijalankan. “Posisi keuangan yang solid ini memacu kami untuk terus tumbuh secara berkelanjutan guna menyediakan energi hijau yang andal dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia,” ujar Nelwin.
Dari sisi produksi, PGEO juga mencetak angka yang positif, yaitu 2.397,2 GWh naik 7,7% (yoy). Adapun hutang perseroan berkurang dari US$ 935 juta menjadi US$ 731 juta dengan utang bersih menurun drastis menjadi hanya US$ 66,95 juta. “Dengan demikian, debt to equity ratio (DER) juga menurun menjadi 39% dari akhir tahun 2022 sebesar 75%,” kata dia.
Nelwin mengklaim bahwa pencapaian yang baik ini menunjukkan bahwa Pertamina Geothermal mampu mengelola keuangan dengan baik, “Sebagai world class green energy company, PGE akan terus memperkuat posisinya di sektor energi baru dan terbarukan (EBT) khususnya geothermal serta memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan energi hijau dan masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Nelwin menyatakan, PGE mampu melanjutkan ekspansi seiring selesainya masalah pinjaman jangka pendek usai penerbitan green bond pada kuartal II-2023.
Nelwin Aldriansyah menegaskan, penurunan utang bersih merefleksikan posisi keuangan yang solid. “Pada periode ini perseroan kembali melanjutkan tren penurunan utang. Performa yang sudah baik ini menjadi jawaban atas keraguan yang sebelumnya menyebut kinerja perseroan terganggu akibat utang jatuh tempo. Ke depan, kami berkomitmen untuk terus menjaga performa yang sudah baik ini,” kata Nelwin.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencatatkan (listing) perdana sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (24/2/2023). PGEO melepas 10,35 miliar saham baru atau 25% pada harga Rp 875 per saham, sehingga dalam IPO ini mampu meraih dana segar Rp 9,05 triliun.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) merupakan bagian dari Subholding Power & New Renewable Energy (PNRE) PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, dan produksi panas bumi. Saat ini PGE mengelola 13 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan 1 Wilayah Kerja Penugasan dengan kapasitas terpasang sebesar 1.877 MW. Rinciannya, sebanyak 672 MW dikelola langsung dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama.
Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 80% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 9,7 juta ton CO2 per tahun.
Sebagai perusahaan energi hijau kelas dunia, PGE ingin menciptakan nilai dengan memaksimalkan pengelolaan end-to-end potensi panas bumi beserta produk turunannya serta berpartisipasi dalam agenda dekarbonasi nasional dan global untuk menunjang Indonesia net zero emission 2060.
Selain itu, PGE memiliki kredensial ESG (environmental, social, and governance) yang sangat baik dengan 13 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 sampai tahun 2022, yaknipenghargaan kepatuhan lingkungan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Peringkat & Keterlibatan ESG. (Hari Gunarto)

