Meredam Kecemasan Tokoh Dunia di World Economic Forum 2024
DAVOS, investortrust -- Pidato-pidato dan pandangan dari para tokoh dunia yang mengemuka di pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss pekan ini menaburkan aroma pesimisme dan kekhawatiran. Kondisi dunia terkini membuat para pemimpin cemas karena berbagai perubahan dan disrupsi yang akseleratif.
Ketidakpastian meningkat seiring dengan perekonomian global yang terus bergulat dengan hambatan kondisi keuangan yang ketat, meningkatnya tensi dan penyebaran konflik geopolitik, kesenjangan perekonomian antarnegara, kegamangan dalam transisi energi, ancaman krisis pangan, serta disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
WEF 2024 mengusung tema ‘Rebuilding Trust’, membangun kembali kepercayaan di tengah kondisi dunia yang terpolarisasi. Selain 300 public figure, sekitar 1.600 CEO dan pimpinan bisnis dari seluruh penjuru bumi hadir di forum bergengsi yang digelar pada 15-19 Januari tersebut.
Ada empat tema utama yang dibahas dalam WEF 2024. Pertama, mencapai keamanan dan kerja sama di dunia yang terpecah belah. Kedua, menciptakan pertumbuhan dan lapangan pekerjaan untuk era baru. Ketiga, tema kecerdasan buatan sebagai pendorong bagi ekonomi dan masyarakat, serta strategi jangka panjang untuk iklim, alam, dan energi.
Saat pertemuan puncak WEF digelar, tensi geopolitik masih memanas. Amerika Serikat dan Inggris menggempur kelompok Houthi di daratan Yaman karena serangan militan itu di jalur pelayaran internasional di Laut Merah. Di Jalur Gaza, perang Israel-Hamas masih berkecamuk. Di belahan Eropa, konflik Rusia-Ukraina belum berhenti.
Potensi ketegangan geopolitik juga tersebar di berbagai kawasan, antara lain di Laut China Selatan (China-Filipina), semenanjung Korea (Korse-Korut), dan Selat Tiongkok (China-Taiwan).
Ketegangan geopolitik bukan hanya mengganggu keamanan dan perdamanian, tapi juga menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya tensi geopolitik inilah, yang menurut WEF, akan membuat sebagian besar perekonomian tumbuh lebih lambat pada tahun 2024 dan 2025 dibandingkan dekade sebelumnya.
Kesenjangan Ekonomi Antarnegara
WEF dalam Global Risks Report 2024 yang dirilis 12 Januari 2024 memang menyebut ketahanan ekonomi dunia masih kuat di tengah kekhawatiran munculnya resesi akibat tren kebijakan moneter global yang sangat agresif pada 2023.
Namun, Bank Dunia dalam laporan “Prospek Ekonomi Global” yang dirilis 9 Januari 2024 memperkirakan, pertumbuhan global melambat selama tiga tahun berturut-turut. Pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi 3,1%, tahun 2023 merosot ke 2,6%, dan tahun 2024 turun menjadi 2,4%.
Pertumbuhan diperkirakan baru meningkat sedikit menjadi 2,7% pada tahun 2025. Namun, percepatan selama periode lima tahun akan tetap berada di bawah rata-rata tahun 2010-an.
Survey WEF terhadap 30 kepala ekonom ternama pada November-Desember 2023 menunjukkan, 56% responden memperkirakan perekonomian global akan melemah tahun ini. Sekitar 77% meyakini pasar tenaga kerja dan kondisi keuangan (70%) akan melemah pada tahun ini.
Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia dan Direktur Prospects Group, Ayhan Kose menyebut, sejumlah konflik dan perang telah mendongkrak signifikan harga energi sehingga menyulut inflasi.
Menurut WEF, pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa telah stagnan, sebesar 0,6% tahun lalu. Penyebabnya, suku bunga masih tinggi karena inflasi belum sesuai sasaran 2% akibat seretnya pasokan pangan. Perekonomian China juga masih akan melemah tahun ini akibat melemahnya permintaan domestik, rendahnya produktivitas manufaktur, dan tekanan pada pasar properti.
Di Amerika Serikat, prospeknya masih menunjukkan ketidakpastian, meskipun pertumbuhan ekonomi negara itu diperkirakan mampu mencapai 2,4% pada 2024. The Fed diprediksi memangkas suku bunga pada paruh pertama tahun ini dan kebijakan fiskal masih longgar dengan defisit US$ 1,7 triliun. Pemilihan presiden di AS pada November akan menciptakan ketidakpastian tambahan.
Secara regional, pelemahan pertumbuhan tahun ini diperkirakan terjadi di Amerika Utara, Eropa, Asia Tengah, serta Asia-Pasifik. Sedikit perbaikan diperkirakan terjadi di Amerika Latin dan Karibia. Peningkatan yang lebih besar diperkirakan terjadi di Timur Tengah dan Afrika Sub-Sahara.
Melemahnya perdagangan global memukul negara-negara berkembang. Banyak negara termiskin terjebak dalam perangkap utang yang sangat besar dan lemahnya akses terhadap pangan.
Negara-negara berkembang diprediksi hanya tumbuh 3,9% pada 2024. Pada akhir tahun ini, masyarakat di 25% negara berkembang dan sekitar 40% negara berpenghasilan rendah akan menjadi lebih miskin dibandingkan saat menjelang pandemi Covid-19.
Banyak bagian dunia masih menghadapi perlambatan ekonomi akibat efek lanjutan dari pandemi. Kondisi itulah yang menyebabkan beberapa bisnis mengurangi kapasitas dan pemerintah harus mengalihkan dananya sebagai stimulus dan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi.
Pemburukan ekonomi itulah yang membuat Bank Dunia menyebut bahwa dunia gagal dalam mencapai tujuannya menjadikan tahun 2020-an sebagai “dekade transformatif” dalam menanggulangi kemiskinan ekstrem, penyakit menular utama, dan perubahan iklim.
Survey WEF terhadap kepala ekonom juga memperlihatkan bahwa memanasnya geopolitik akan memicu volatilitas perekonomian global dan pasar saham, meningkatkan proteksi domestik, memperkuat geoekonomi blok, serta memperlebar kesenjangan Utara-Selatan dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, mereka berpendapat bahwa eksperimen perangkat kebijakan industri yang ditempuh sejumlah pemerintah membuktikan tidak adanya koordinasi antarnegara.
Disrupsi AI
Salah satu isu terhangat selain geopolitik adalah menyangkut kecerdasan buatan (AI) generatif. Teknologi yang menjadi trending global ini ibarat pisau bermata dua. Banyak memberikan manfaat positif, tapi juga terbuka sisi mudharatnya karena dampaknya yang bisa sangat buruk dan luas.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen bahkan menyebut bahwa keprihatinan utama dalam dua tahun mendatang bukanlah konflik antarnegara atau perubahan iklim, tetapi disinformasi dan misinformasi, yang diikuti dengan polarisasi dalam masyarakat. Risiko ini membatasi kemampuan dunia untuk mengatasi tantangan-tantangan global yang lebih besar.
Survey WEF menunjukkan keyakinan responden bahwa disrupsi AI meningkat pada 2024. Prediksi ini sudah muncul sejak Mei 2023, ketika para ekonom menyoroti AI yang diprediksi bakal menyebabkan perubahan signifikan. Termasuk menghadirkan tantangan baru bagi dunia usaha dan pembuat kebijakan.
Manfaat paling utama dari pemanfaatan AI adalah perannya dalam mendongkrak efisiensi produksi dan mendorong inovasi. Sayangnya, manfaat positif itu lebih banyak menguntungkan negara-negara maju, karena mereka lah yang unggul dalam pengembangan AI, karena talenta-talenta digital yang dimiliki. Fenomena inilah yang bakal kian memperlebar kesenjangan ekonomi dan teknologi antara negara maju vs negara berkembang-miskin.
Survey WEF menunjukkan bahwa AI generatif akan meningkatkan efisiensi produksi (79% responden) dan inovasi (74%) di negara-negara berpendapatan tinggi pada tahun ini. Dalam lima tahun ke depan, 94% responden memperkirakan manfaat produktivitas ini akan menjadi signifikan secara ekonomi di negara-negara berpendapatan tinggi, dibandingkan dengan hanya 53% di negara-negara berpendapatan rendah.
Sekitar 73% responden tidak memperkirakan adanya dampak positif terhadap lapangan kerja di negara-negara berpendapatan rendah dan 47% berpendapat hal yang sama akan terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi.
Disrupsi AI justru menjadi malapetaka bagi pasar tenaga kerja. Ada pemisahanan antara produktivitas dan pengupahan yang bisa saja merugikan pekerja. AI juga bisa mengakibatkan relokasi aktivitas ekonomi.
“Aksesibilitas dan keserbagunaan AI tidak hanya menunjukkan dampak yang luas di seluruh sektor perekonomian. Tetapi mungkin juga penerapannya lebih cepat dibandingkan kemajuan teknologi di masa lalu," kata Kepala Riset Ekonomi di Barclays, Christian Keller, Senin (15/1/2024).
5 Top Isu Krusial
Dalam forum tahunan ini, WEF telah menyebar kuisioner kepada 1.490 tokoh dunia, baik di pemerintahan maupun perusahaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan ada lima isu utama yang menjadi kekhawatiran mereka.
Kelima risiko tersebut meliputi cuaca ekstrem, disiinformasi yang dipicu AI, polarisasi sosial dan politik, krisis biaya hidup, dan serangan siber.
Cuaca ekstrem menjadi ketakutan utama yang dipilih oleh 66% responden, diinformasi AI merupakan risiko peringkat kedua yang dipilih oleh 53% responden, polarisasi sosial-politik 46% responden, krisis biaya hidup 42% responden, serta serangan siber menempati peringkat kelima yang dipilih 39% responden.
Risiko pelemahan ekonomi hanya menempati peringkat ke-6 yang dipilih 33% responden, disrupsi rantai pasok sumber daya dan barang krusial (25%), eskalasi wabah penyakit dan konflik bersenjata (25%), serangan terhadap infrastruktur vital (19%), serta disrupsi rantai pasok pangan sebanyak 18% responden.
Sedangkan menyangkut ancaman iklim, WEF melaporkan bahwa krisis iklim bisa menyebabkan kerugian ekonomi hingga US$ 12,5 triliun di seluruh dunia pada 2050. Tidak hanya itu, krisis iklim juga bisa menyebabkan 14,5 juta kematian manusia. Artinya, dampak paling serius dari kerusakan iklim adalah ancaman terhadap kesehatan manusia dan sistem perawatan kesehatan global.
Banjir disebut mempunyai risiko tertinggi terhadap kematian akibat perubahan iklim, yang menyebabkan 8,5 juta kematian pada tahun 2050. Lalu kekeringan, yang berkaitan dengan panas ekstrem, merupakan penyebab kematian tertinggi kedua dengan perkiraan 3,2 juta kematian.
Gelombang panas menimbulkan dampak ekonomi terbesar, yaitu sekitar US$ 7,1 triliun pada tahun 2050 karena hilangnya produktivitas. Polusi udara dari partikulat halus dan polusi ozon bakal menjadi penyumbang terbesar kematian dini dengan hampir 9 juta kematian setiap tahunnya.
Di tema isu energi, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol menyebut bahwa efisiensi energi menjadi keniscayaan yang tak bisa ditawar. Langkah ini sangat dibutuhkan demi
melindungi konsumen dari harga energi yang tinggi, mewujudkan ketahanan energi, menaikkan daya saing industri, dan mengurangi kerusakan lingkungan. Dia menagih komitmen lama para pemimpin 120 negara di perhelatan COP28 untuk memperbaiki efisiensi energi di negara masing-masing.
Bagaimana dengan Indonesia?
Banyak sekali jenis survey yang dilakukan WEF menjelang pertemuan tahunan ini. Untuk memetakan persepsi terhadap risiko global dan negara masing-masing (lokal), WEF mensurvei sebanyak 11.000 pemimpin bisnis di 113 negara. Dalam Global Risks Perception Survey (GRPS) tersebut, WEF membawa risiko global ke dalam konteks lokal ke masing-masing negara.
Menurut survei WEF tersebut, ada lima ancaman yang akan dihadapi Indonesia pada 2024. Berdasar urutan tertinggi, lima ancaman tersebut meliputi pelemahan ekonomi, bencana akibat cuaca ekstrem, ancaman penyakit, kurangnya pasokan energi, dan angka pengangguran.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, sepanjang 2023, Indonesia menghadapi kegentingan ekonomi global akibat suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan kondisi geopolitik yang tak menentu. Itulah salah satu faktor yang membuat lima dari tujuh asumsi makro APBN 2023 meleset dan hanya dua asumsi yang mencapai target. Tahun ini, efek pelemahan ekonomi global serta tingginya suku bunga masih perlu diwaspadai.
Dalam konteks cuaca ekstrem, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menebar peringatan bagi sejumlah wilayah yang terancam bencana hidrometeorologis. Selama 2023, BNPB mencatat terjadi 4.940 bencana alam, yang terdiri atas 31 gempa bumi, empat erupsi gunung api, 1.802 kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 1.170 banjir, 1.155 cuaca ekstrem, 579 tanah longsor, 168 kekeringan, serta 31 gelombang pasang dan abrasi.
Tentang ancaman krisis energi yang menempati peringkat keempat survei WEF, Institute for Essential Services Reform (IESR) menekankan perlunya target ambisius tapi fleksibel untuk menyediakan energi yang terjangkau dan aman dengan penggunaan energi terbarukan untuk penyediaan listrik, transportasi, dan industri. Gagasan ini berkaca pada persoalan mahalnya energi yang menimpa negara-negara di Eropa.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengingatkan pentingnya aturan penanggulangan krisis energi, mengacu pada realita bahwa Indonesia masih mengalami ketergantungan BBM dan LPG impor.
Sedangkan terkait ancaman kenaikan pengangguran, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) membeberkan data bahwa selama sembilan tahun terakhir, penciptaan lapangan kerja mengalami penurunan signifikan. Penyusutan daya serap tenaga kerja merosot hingga seperempat. Di tengah tren meningkatnya investasi padat modal yang memerlukan tenaga kerja berketerampilan tinggi, kondisi pasar tenaga kerja Indonesia masih didominasi pencari kerja dengan keterampilan rendah.
What Next?
Selepas hadir di WEF 2024, semestinya para tokoh yang hadir bisa kembali ke nagaranya dengan berfokus pada upaya mensinergikan kebijakan pemerintah dan rencana-rencana pelaku bisnis untuk menciptaan strategi yang lebih berorientasi pada masyarakat, terutama dalam menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi kemiskinan dan kesenjangan, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Strategi itu pula yang harus diadopsi Indonesia.
Para pemimpin bisnis di WF berkeyakinan bahwa ada peluang untuk membalikkan keadaan jika pemerintah setiap negara bertindak cepat untuk meningkatkan investasi dan memperkuat kerangka kebijakan fiskal. Hal itu menjadi solusi untuk mengatasi berbagai isu krusial sekaligus mewujudkan berbagai agenda penting pembangunan.
Pada akhirnya, kembali pada komitmen para pemimpin dunia untuk saling bergandeng tangan menciptakan solusi dan rencana aksi (action plan) yang konkret, realistis, dan implementatif. Sebab, seperti diingatkan Ursula, untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia tidak berada pada satu titik perubahan atau disrupsi tunggal. Dunia berada pada beberapa titik perubahan yang simultan, dengan risiko-risiko yang tumpang tindih dan saling memperparah.***

