Jadilah Petarung, Jangan Penonton
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Di dunia bisnis yang sangat dinamis, tak banyak pengusaha yang mampu bertahan secara lintas zaman, lintas rezim, dan lintas sektor. Pengusaha yang bisa beradaptasi dengan mazhab ekonomi Barat dan Timur juga bisa dihitung dengan jari.
Bernardino “Dino” Moningka Vega Jr adalah salah satu di antara orang-orang yang adaptif itu. Bukan hanya mampu bertahan secara lintas zaman, lintas rezim, dan lintas sektor, Dino bahkan bisa ‘berkompromi’ dengan teknologi yang sebelumnya tak terbayangkan.
Dalam usia yang tidak lagi muda, Dino sukses mendirikan, membangun, dan mengembangkan PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), perusahaan pinjaman dana antarmasyarakat berbasis teknologi alias fintech peer to peer (p2p) lending.
Bernardino Vega punya karier bak pelangi. Pria kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1962 ini pernah menjadi direktur utama, direktur, dan komisaris di berbagai perusahaan dari beragam sektor, mulai dari energi, pengolahan minyak dan gas, pelayaran, transportasi, logistik, perdagangan, jasa konsultansi, kimia, hingga perusahaan manajer investasi (MI).
Dino telah menjalani bisnis dalam berbagai era, dari era Orde Baru, era reformasi, hingga era ekonomi digital saat ini. Setiap era menuntut satu kemampuan kunci, yaitu beradaptasi. Eksekutif yang hobi main golf ini berhasil lolos dari berbagai ujian yang muncul silih berganti di setiap era.
Krisis moneter 1998 menjadi titik balik karier bisnis Bernardino Vega. Dino mampu bertahan ketika banyak pengusaha tumbang. Babak baru dimulai ketika ia memasuki dunia fintech P2P pada 2018 dengan mendirikan AdaKami.
Di usia yang sebetulnya “tak cocok” dengan industri teknologi, Dino ingin menjembatani kesenjangan akses kredit yang selama puluhan tahun tak tersentuh perbankan konvensional. “Kami hadir untuk menjawab kebutuhan akses kredit masyarakat kecil, termasuk ultramikro,” ujar pengusaha yang sudah dua dekade lebih aktif sebagai pengurus Kadin Indonesia itu.
Bernardino Vega bukanlah pengusaha bermental kerupuk. Bagi Dino, jatuh bukanlah akhir, melainkan bagian tak terpisahkan dari perjalanan seorang pengusaha. Ia mendefinisikan orang sukses atau pengusaha mapan sebagai petarung.
“Jangan takut untuk bertarung. Kadang-kadang kita kepukul, jatuh, kita harus bangun lagi. You have to be in the fight. If you're not in the fight, ya sudah, nonton-nonton aja gitu. You kritik ini, kritik itu. Cuma jadi tukang kritik,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia tersebut.
Tentu saja perjalanan karier Dino tidak mulus. Banyak aral dan rintang yang harus dilaluinya. Anggota Dewan ASEAN Business Advisory Council (ABAC) Indonesia ini banyak mengalami jatuh bangun, bahkan sempat terpuruk. Suatu waktu, misalnya, Dino terpaksa berjalan kaki karena tidak punya uang untuk naik taksi.
“Nobody knows that. I think this is one of the first time yang saya ungkapkan. Tapi kuncinya adalah you have to be able to reinvent yourself,” tegas dia.
Apa lagi kunci sukses Bernardino Vega? Bagaimana ia menerapkan gaya kepemimpinan? Apa pula pandangannya tentang keseimbangan hidup (life balance)? Mengapa ia hobi bermain golf? Berikut penuturan lengkap Bernardino Vega kepada jurnalis investortrust.id, Zsazya Senorita, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz, di Jakarta, baru-baru ini:
Bisa dijelaskan latar belakang pendidikan Anda?
Saya kuliah S1 tahun 1980 di University of Southern California (USC), Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Saya mengambil jurusan teknik sipil. Itu atas anjuran ayah saya, karena beliau juga berlatar pendidikan teknik sipil dan memang menggeluti bidang tersebut.
Namun bukan berarti saya menjalani itu dengan terpaksa. Saya sendiri memang menyukai teknik sipil. Teknik sipil mengajarkan disiplin berpikir yang sangat struktural: bagaimana melihat masalah, memecahnya menjadi komponen-komponen kecil, menghitung risiko, dan memastikan solusi yang diambil bisa berdiri secara teknis.
Setelah lulus S1, saya bekerja sekitar satu tahun di Oklahoma, AS. Itu pengalaman penting karena saya melihat bagaimana dunia profesional di negara maju bekerja dengan sangat sistematis. Setelah itu saya memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang S2, saya ambil Business Administration.
Saya bilang kepada orang tua saya bahwa saya ingin mengambil jurusan yang berbeda. Saya ingin belajar ekonomi dan bisnis. Bagi saya, teknik sipil dan bisnis adalah kombinasi yang ideal. Kita tak hanya memahami teknisnya, tetapi juga memahami bagaimana bisnis dibangun, bagaimana keputusan ekonomi dibuat, dan bagaimana risiko dikelola.
Anda memulai bisnis dari mana?
Setelah kembali ke Indonesia pada 1986, saya mulai kerja pada awal 1987. Saya awalnya bekerja di perusahaan orang tua saya, perusahaan properti. Dulu kami yang mengembangkan Country Woods Estate (kawasan perumahan eksklusif di Cilandak, Jakarta Selatan, mulai dikembangkan pada akhir 1980-an).
Salah satu subdivision pertama di Jakarta. Dari situ kami kembangkan juga beberapa properti di Balikpapan. Kami punmasuk di dunia oil and gas, jasa pengeboran minyak, itu sekitar tahun 1987.
Kemudian pada 1989 saya diajak bergabung di grup Pak Tommy Soeharto, namanya Humpuss. Di situlah saya sebetulnya memulai karya saya sebagai corporate professional dan pengusaha at the same time. Saya pun menjelajahi beberapa bisnis selain properti dan migas.
Saya juga terlibat di beberapa sektor lain, dan di situlah saya bisa mengenal bisnis secara keseluruhan. Saya di sana sekitar 10 tahun, sampai 1999. Saya ikut menangani beberapa macam unit usaha Humpuss. Saya di holding-nya, sebagaiu Direktur Pengembangan Usaha.
Intinya saya pernah masuk ke berbagai macam usaha. Saya itu bisa dibilang mujur pada usia segitu, diberi tanggung jawab untuk menganalisa beberapa macam usaha yang masuk ke grup kami, dari restoran seperti Mbok Berek, sampai pabrik petrokimia, itu masuk ke meja saya. So, over the years you sort of know, kuncinya di sini, di sini, di sini.
Apa yang terjadi ketika krisis moneter 1997-1998 melanda Indonesia?
Waktu terjadi krismon (krisis moneter), saya kembali lagi ke orang tua, mengelola bisnis keluarga. Kami mengembangkan properti resor dan lapangan golf di Manado. Kebetulan saya menjadi Ketua Kadin Sulut pada 1999.
Berarti sudah 26 tahun saya aktif di Kadin. Saya mengawalinya dari Ketua Kadin Daerah. Jadi, kurang lebih saya mengertilah jiwa Kadin yang seperti apa, karena hampir semua jabatan di Kadin pernah saya pegang, kecuali Ketua Umum ya, nggak lah.
Pada 2004 - 2007, saya juga ikut membantu Pak Aburizal Bakrie saat beliau menjabat sebagai Menko Perekonomian. Saya diminta menjadi Kepala Sekretariat Hubungan Ekonomi Subdivisional. Saya bertanggung jawab menangani kerja sama ekonomi perbatasan. Di situlah saya mulai bersama-sama dengan pemerintah.
Juga saat Pak Ical (Aburizal Bakrie) menjabat sebagai Menko Kesra pada 2005 – 2009. Waktu itu kan Pak Ical diganti Pak Boediono. Saat Pak Boediono masih Menko Perekonomian, saya masih sempat membantu beliau satu tahun. Setelah itu saya kembali ke swasta.
Anda menggeluti banyak sektor, bagaimana ceritanya?
Setelah kembali ke swasta, saya bantu Pak Patrick (Patrick Walujo) dan Pak Boy Thohir di Northstar untuk kembangkan beberapa proyek pembangkit listrik. Ini kembali kepada basic saya sebagai orang teknik sipil atau infrastruktur. Lalu pada 2018 kami bersama-sama mendirikan PT AdaKami atau Pembiayaan Digital Indonesia. Berarti sudah sekitar delapan tahun. Saya sebagai founder, tidak direkrut untuk menjadi Dirut, tidak.
Apa kunci sukses Anda sehingga bisa eksis sebagai pengusaha di multisektor?
Bisnis itu ada dua fitur. Pada fitur pertama ada kaidah-kaidah bisnis yang non-transferable (tidak bisa dipindahtangankan atau didelegasikan). Memang sektor jasa penerbangan berbeda dengan jasa keuangan. Sektor perminyakan berbeda dengan sektor properti karena bisnis manualnya berbeda-beda.
Fitur kedua adalah bisnis yang transferable. Ada beberapa hal yang sama dalam menjalankan setiap jenis usaha. Saya belajar 10 tahun di Humpuss Group dan beberapa tahun di luar, sehingga saya tahu macam-macam bisnis, apa persamaan dan perbedaannya. So you have to know the difference.
Prinsip yang Anda pegang dalam berbisnis?
Tergantung kapan Anda bertanya, jawabannya bisa berbeda-beda. Tapi ada tiga prinsip umum yang selalu timbul secara konsisten. Satu, kita harus betul-betul mengenal business model. Business model itu penting untuk mengetahui apakah bisnis ini bisa berhasil atau tidak.
Kedua, Anda harus memilih orang-orang terbaik. You have to pick the best people. that’s true, best people will make sure you succeed. So surround yourself with the best.
Ketiga, harus ada kejujuran, intellectual honesty. Jadi, jangan sampai yang memimpin keputusan-keputusan kita adalah emosi kita. Kita harus jujur, bisnis ini mau dibawa ke mana? Jadi, tiga hal itu, business model harus ditekuni, find the right people, dan we have to be intellectually honest.
Bagaimana Anda melihat gaya kepemimpinan dulu dan sekarang?
So I think management, leadership features beda-beda dari zaman ke zaman. Kalau dulu waktu saya lulus kuliah tahun 1986-1987, it was very much a problem solving issue. Masalahnya di mana, alternatifnya apa, solusinya bagaimana. Dan, kaidah seperti itu, the decision is top down. Bisa dilihat dari struktur organisasi, yaitu Dirut satu kotak, dua direktur dua kotak, bawahnya manajer, sehingga keputusan-keputusannya top down semua. Masukan yang bottom up belum tentu bisa difilter ke atas. Itu gaya kepemimpinan 1980-an sampai 1990-an.
Hari ini, kalau kita lihat, you have to manage from the middle, istilah saya. Artinya kita harus bisa dapat input dari seluruh partisan di ruangan. And your decision making is more collective. Kalau dulu pimpinan yang bagus itu yang komando, kalau sekarang lebih kepada can you motivate people? How do you motivate people around you?
Sejauh mana latar belakang budaya turut memengaruhi gaya kepemimpinan dan manajemen perusahaan?
Nah, kebetulan saya punya evaluasi diri saya sendiri. Saya kan lahir di Indonesia, orang Indonesia. Tapi orang tua saya, ayah saya, adalah orang Filipina. Saya dulu sekolahnya di JIS (Jakarta Intercultural School). Di JIS itu teman-teman pagi adalah orang asing, orang Amerika, Belanda, dan lain-lain. Begitu pulang ke rumah, teman-teman saya orang tetangga, orang Indonesia.
So I grew up with that, right? Jadi, dua budaya berbeda dan bisa ganti-ganti. Saya tahu joke orang Indonesia yang bikin mereka ketawa apa, tapi orang Amerika tidak ketawa. So there’s cultural understanding of both.
Nah, kalau memiliki cultural understanding berarti you can adjust. Saya lihat orang, saya agak mengerti oh ini dari mana latar belakangnya. Itu fitur yang membawa saya ke posisi sekarang.
Nilai-nilai apa yang dibawa AdaKami?
Well first we have to ask the question: Do we bring value? Apakah perusahaan ini ada nilainya untuk masyarakat atau cuma mau cari untung, terus pulang? Salah satu isu paling pelik pascakrismon adalah dunia perbankan menjadi sangat-sangat konservatif dalam menyalurkan kredit. Saking konservatifnya, mungkin karena persyaratan IMF (Dana Moneter Internasional) waktu itu sangat ketat, sehingga credit development was very slow. Perbankan lebih memilih stability over growth.
Maka timbullah credit gap. Pengusaha kecil menengah butuh dana tapi no access to funding. Sebelum ada teknologi, ya pakai tengkulak, mafia, rentenir yang tidak ada analisanya. Nah, pada 2015-2016, timbullah algorithm-based credit scoring.
Ini teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menggunakan alternate data, seperti data Telkom, data bayar listrik tepat waktu atau tidak, berapa pulsa di HP sebelum top up, dan lain-lain. Itu semua dikumpulkan robot dan dikeluarkanlah credit scoring. Pertama kali dalam sejarah Indonesia, dana available kepada masyarakat kecil menengah dengan alternative credit scoring.
Berarti AdaKami hadir bukan semata alasan bisnis?
Kami hadir untuk mendorong access to credit masyarakat kecil, termasuk ultramikro. Saya tahu kata-kata itu disebut dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2023. Ultramikro butuh Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta rupiah untuk kelangsungan usahanya. Kehadiran fintech seperti kami menjawab itu.
Bagaimana Anda melihat keberlangsungan industri fintech ke depan?
Waktu saya masuk tahun 2018, asumsi saya tech model itu seperti HP, tiap enam bulan berubah, 2-3 tahun akan ada bisnis model yang mengganti ini. Tapi sampai sekarang, saya tidak melihat model alternatif selain P2P lending yang betul-betul bisa memenetrasi masyarakat secara keseluruhan di ekonomi seperti Indonesia.
Di Amerika mungkin sudah telat karena 80% masyarakatnya punya culture credit. Tapi di middle-income economies seperti Indonesia, Filipina, Pakistan, Arab Saudi, bisnis seperti ini sangat dibutuhkan.
Dulu di China muncul fenomena shadow banking yang diikuti kebangkrutan perusahaan-perusahaan fintech. Fenomena itu tak akan terjadi di Indonesia?
Awal-awal di China dulu, fintech dianggap pesaing perbankan dan bertindak sebagai shadow banking (penyaluran kredit di luar sistem perbankan resmi oleh lembaga keuangan nonbank yang bertindak layaknya bank). Di China, regulasinya telat keluar, sehingga ribuan pinjol (pinjaman online) ilegal kabur bawa uang pensiunan.
Di Indonesia agak berbeda. Dulu, pada 2014-2015 memang belum diregulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lalu pada 2017, perusahaan-perusahaan fintech dipanggil OJK, ditanya mau legal atau tidak? Kalau mau ikut, harus ada pendaftaran, perizinan, teknologi, dan underwriting-nya harus jelas. Akhirnya terbentuk dua ekosistem: legal dan ilegal.
Unfortunately, media massa sering kali tidak tahu bedanya, dihantam semua sebagai "pinjol". Kita di AdaKami tahu bahwa compliance itu kunci. Because business itu, we love risk. Risiko itu bisa dihitung, you can quantify risk. Tapi yang susah adalah uncertainty, ketidakpastian. Jadi, selama aturannya jelas, kami senang.
Tantangan terbesar industri fintech ke depan?
Sekarang pun sudah ada kelompok-kelompok yang disebut 'Galbay' (gagal bayar). Di Facebook, Instagram, mereka berkumpul untuk mengakali bagaimana supaya tidak bayar. Ini tidak pernah diangkat media secara fair. Maka ke depan, tanggung jawab saya bukan hanya melayani, we have to educate juga. Edukasi harus jadi part of your business.
Kedua, ekosistem harus ditingkatkan lewat payment gateway untuk memerangi illegal lending. Pinjol ilegal itu kalau dibekukan, besoknya dia bikin lagi karena tidak punya kantor fisik. Mereka tidak peduli orang tidak bayar karena bunganya bisa 4% per hari. Bayar setengah saja sudah nutup pokok. Jadi, kita harus memerangi yang ilegal-ilegal itu.
Benarkah pinjaman fintech, baik pinjaman produktif maupun konsumtif, pada akhirnya lebih banyak digunakan untuk kegiatan konsumtif?
Tergantung bagaimana menilainya. Bagi kita, Rp 1 juta mungkin konsumtif, tapi bagi tukang martabak malah produktif karena bisa digunakan untuk beli tepung dan keju. Ada pergeseran tatanan dunia usaha yang harus disadari regulator.
Bagaimana kinerja AdaKami saat ini?
TKB-90 (Tingkat Keberhasilan Bayar 90 hari) kami less than 2%. Kami melakukan mitigasi risiko lewat asuransi dan kaidah teknis lainnya. Ticket size kami mayoritas Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta dengan tenor 1-3 bulan. Secara teknis bisa sampai Rp 80 juta, tapi jarang sekali.
Nilai pendanaan yang disalurkan AdaKami sejak melakukan kegiatan usaha sudah mencapai Rp 64,35 triliun, sedangkan nilai pendanaan yang tersalurkan selama tahun berjalan (year to date/ytd) mencapai Rp 346,98 miliar. Kami punya 10pemberi dana (lender).
Penerima dana sejak kami melakukan kegiatan usaha berjumlah 6,21 juta users, sedangkan selama tahun berjalan ada 147.680 users. Jumlah jumlah penerima dana di bulan terakhir ada 403.560 users, dengan jumlah outstanding pinjaman total yang sedang berjalan mencapai Rp 3,75 triliun.
Penagihan kami sudah pakai robot, sampai 10 hari pertama. Kami pakai deep tech untuk mengurangi pelanggaran pedoman perilaku. Next step adalah mechanize di penagihan karena tidak ada kolektor lapangan, kami cuma lewat telepon.
Ekonomi sedang tidak menentu dan daya beli masyarakat sedang tidak baik-baik saja, apakah itu berpengaruh ke bisnis AdaKami?
Sudah kelihatan. Tapi saya punya cerita menarik saat Covid-19 tahun 2020. Waktu lockdown, kantor saya yang isinya anak-anak muda bilang, "Pak, kita harus pulang hari ini."
Saya kaget, lalu tanya, "Kenapa?" Ternyata robotnya sudah tidak kasih pinjaman. The robot stop lending. Mesin ini ternyata 'mikir', dia tahu ekonomi melambat.
Lalu bulan Agustus, robotnya mulai lending lagi. Saya ditelepon partner saya, "Din, lu gila ya? Keluarin pinjaman pas lockdown?"
Saya jawab, "Bapak lihat data statistik, people are still working." Mereka harus cari makan karena tidak ada subsidi besar seperti di Amerika.
Jadi, menurut saya, masyarakat mikro dan kecil itu yang paling resilient (tangguh). Growth kita masih mencapai double digit, meski low double digit.
Apa yang membuat Anda tertarik masuk dunia fintech di usia yang tidak lagi muda?
Ya, di bisnis ini, jarang ada eksekutif di kelompok umur saya yang rambutnya sudah putih ini, ha, ha, ha. This is a young man's game. Tapi you have to fight the vision. Meskipun pemegang saham kami mungkin dari China, our DNA is Indonesia. Kita harus mengerti market kita. Sampai 2045, trajectory untuk fintech masih aman dan dibutuhkan.
Dari semua sektor yang pernah Anda jalani, mana yang paling berkesan?
Fintech ini mungkin yang paling bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. You can see cerita customer yang terbantu. Dari satu yang viral negatif di Instagram, sebenarnya ada 1.000 yang terbantu, walaupun tidak terungkap. Itu memberikan kepuasan bagi saya.
Filosofi hidup Anda?
Saya punya satu filosofi. Karier kita itu biasanya terbagi. Pada umur 20-an, we are curriculum vitae (CV)-driven. Diterima kerja karena CV. Di mid-career, lewat CV dan kenalan.
Ketika sudah senior, nobody looks at your CV anymore. Orang lihat: lu jujur atau tidak? Baik atau tidak? You have to be merit-based. Sekenal-kenalnya saya, saya harus bisa pilih orang terbaik, bukan pilih orang terdekat. So merit-based, right? Saat mendekati pensiun, itu soal legacy.
Jadi, ada tiga hal yang selalu saya ingatkan. Pertama, you have to be merit-based. Pilih orang terbaik, bukan terdekat. Kedua, we have to be practical. What works and what doesn't. Terakhir, harus jujur, integrity.
Apa rahasia kesuksesan Anda?
Karier saya tidak selalu mulus, ada turun naiknya. Pernah saya mau pergi ke Ratu Plaza, tapi saja bingung ada uangnya atau tidak, sampai harus jalan kaki karena tidak bisa naik taksi. Nobody knows that. Tapi kuncinya adalah you have to be able to reinvent yourself.
Karier saya tidak selalu mulus, ada turun naiknya. Bahkan saya pernah sampai di satu titik, di mana saya tidak punya uang. Pernah mau pergi ke Ratu Plaza di Sudirman, saya nggak punya duit. Sampai harus jalan kaki karena uang untuk naik taksi nggak cukup. Nobody knows that. Itu saya alami. I think this is one of the first time yang saya ungkapkan. Tapi kuncinya adalah you have to be able to reinvent yourself.
Dulu saya di Humpuss gaya Orde Baru, lalu masuk era Reformasi di mana orang bisa bertanya "Why?". Kita harus readjust. Reinventing yourself bukan berarti jadi bunglon, tapi adaptif. Saya kerja 10 tahun untuk Tommy Soeharto, dan sampai sekarang saya tetap bisa bertemu beliau dengan baik. You maintain your integrity.
Karier saya terbagi di beberapa tahapan. Dari Orba, sampai reformasi, sampai 2-3 kali ganti rezim. Tapi di seluruh perjalanan itu, integritas harus saya terapkan.
Rekan-rekan dan teman-teman yang saya temui di era pra-reformasi dengan zaman sekarang berbeda-beda kan? Tapi nggak ada satu pun yang mengatakan saya mengkhianati mereka.
Cara Anda bangkit?
Yang penting, istilahnya, saya bilang, you have to be in the fight. Jangan takut untuk bertarung. You'll get beat up. You dipukul, kan jatuh. Tapi kamu harus bangkit lagi, harus berjuang. But you have to be in the fight.
Jangan takut untuk bertarung. Kadang-kadang kita kepukul, jatuh, kita harus bangun lagi. You have to be in the fight. If you're not in the fight, ya sudah, nonton-nonton aja gitu. Habis you kritik ini, kritik itu. Cuma jadi tukang kritik.
Hampir semua pengusaha itu kan dulu masuk BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Saya harus cari cara, terus-menerus, agar perusahaan yang saya kelola atau perusahaan keluarga saya bisa tetap survive. Cari terus caranya, jangan sampai mati. Kalau orang Jakarta bilang, nggak ada matinye. Jatuh, bangkit lagi. Jatuh, bangkit lagi.
Hobi Anda di waktu senggang?
Saya suka main golf. Golf is actually a mental game,tentunya harus ada skill-nya juga. Kegiatan lain yaitu scuba diving. Kebetulan saya juga pernah menjadi instruktur scuba diving. Saya mencintai kegiatan ini karena saya cinta biota laut Indonesia.
Kita punya coral triangle, segitiga karang. Memiliki biota terkaya di dunia.Indonesia memiliki duapertiga dari segitiga terumbu karang dunia. Indonesia juga memiliki dua dari empat hutan tropis terbesar di dunia.
Jadi, Indonesia itu super power di hutan tropis dan terumbu karang. Nggak ada di dunia ini di mana hutan tropis dan karang berdekatan. Amazon ada hutan, nggak ada karang. Kongo ada hutan, nggak ada karang. Cuma Indonesia yang punya hutan tropis dan terumbu karang.
Pandangan Anda tentang keseimbangan hidup?
Sebagai ayah atau kepala keluarga, yang penting saya harus hadir. You have to be present. Present doesn't mean that selalu ada setiap saat. Present means that you engage with your son or daughter. So they know that the father figure is there. Mungkin setiap keluarga beda-beda, tapi umumnya keluarga timur seperti itu.
Pesan Anda untuk generasi muda?
Yang penting, you have to be in the fight. Jangan takut untuk bertarung. You will get beat up, dipukul, jatuh, tapi bangun lagi. If you're not in the fight, ya sudah, cuma jadi penonton saja. ***
BIODATA
Nama lengkap: Bernardino Moningka Vega Jr.
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 15 Agustus 1962.
Pendidikan:
* Teknik Sipil - University of Southern California, AS (1984).
* Master of Business Administration (MBA) - Providence College, AS (1986).
Karier:
* Direktur PT ASA Engineering Pertama.
* Direktur Pengembangan Bisnis PT Humpuss (holding).
* Direktur PT Humpuss Karbometil Selulosa.
* Direktur PT Korpindo Konsultansi.
* Komisaris PT Bahana TCW Investment Management.
* Komisaris PT Era Graha Realty Tbk (IPAC).
* Direktur Utama PT Pembangkit Energi Mandiri.
* CEO AdaKami (Oktober 2018 – seksrang).
Lain-lain:
* Ketua National Secretariat for Sub-Regional Cooperation Kemenko Perekonomian era Menko Perekonomian Aburizal Bakrie.
* Menjabat berbagai posisi di kepengurusan Kadin Indonesia, sekarang sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia
* Anggota Dewan ASEAN Business Advisory Council (ABAC) Indonesia.
