Prospek BRIS Berkilau dalam Jangka Panjang
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memiliki prospek positif dalam jangka panjang, seiring upaya pemerintah untuk menggenjot penetrasi perbankan syariah di Indonesia. Apalagi, sejak tahun 2019, bank syariah secara konsisten mengungguli bank konvensional dalam hal pertumbuhan pembiayaan dengan CAGR lima tahun sebesar 15,3%. Tujuh sekuritas pun merekomendasikan beli saham BRIS.
Rendahnya penetrasi pasar perbankan syariah saat ini juga menjadi prospek besar bagi perseroan untuk memperbesar basisnya dalam jangka panjang. Hal ini diharapkan menjadikan pertumbuhan kinerja keuangan dan pembiayaan perbankan syariah akan terus mengungguli bank konvensional ke depan.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi mengatakan, Bank Syariah Indonesia (BRIS) merupakan bank syariah terbesar di Indonesia dengan angka pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 222 triliun hingga Juni 2023 atau bertumbuh sebanyak 16% dari periode sama tahun lalu. Perseroan berkontribusi hingga 22% terhadap total industri perbankan syariah Indonesia.
“Kami meyakini BRIS memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Hal itu mengingat masih rendahnya penetrasi perbankan syariah di Indonesia atau baru mencapai 3,9% dari total kredit perbankan di Indonesia. Apalagi Indonesia memiliki populasi muslim terbesar di dunia,” terang analis tersebut dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, pekan lalu.
Prospek pertumbuhan pembiayaan perseroan, tulis Samuel Sekuritas, kian moncer dalam jangka panjang sejalan dengan upaya perseroan untuk memperkuat penetrasi pasar segmen konsumer, khususnya pinjaman payroll. Apalagi BRIS masih mempunyai ruang untuk berekspansi di sektor tersebut didukung sebanyak 19 juta nasabah hingga Juni 2023. Belum lagi cost of fund (CoF) perseroan paling rendah, dibandingkan bank-bank Indonesia setelah Bank BCA.
“Kami memperkirakan total pembiayaan yang disalurkan BRIS akan bertumbuh menjadi Rp 315 triliun tahun 2025 atau dengan perkiraan CAGR sekitar 15% dalam tiga tahun mendatang. Sementara labanya diperkirakan mencapai Rp 7,6 triliun pada 2025 atau dengan perkiraan CAGR tiga tahun mencapai 21,2%,” terangnya.
Terkait total aset syariah, menurut Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi, Indonesia tercatat sebagai negara dengan aset perbankan syariahnya paling rendah di antara mayoritas negara muslim di dunia. Bank syariah Indonesia baru menyumbang 7,2% dari total aset perbankan, dibandingkan dengan Kuwait yang mencapai 49%, Arab Saudi 63%, Qatar 27%, UEA 24%, dan Malaysia 30%.
“Melihat data tersebut, kami yakin bank syariah masih memiliki banyak ruang untuk tumbuh. Selain itu, statistik perbankan OJK menunjukkan bahwa sejak tahun 2019, bank syariah secara konsisten mengungguli bank konvensional dalam hal pertumbuhan pembiayaan dengan CAGR lima tahun sebesar 15,3%, dibandingkan perkiraaan bank konvensional sebanyak 6,0%,” demikian analisis Samuel Sekuritas.
Samuel Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap ambisi pemerintah untuk menjadikan BRIS sebagai satu dari sepuluh bank syariah terbesar di dunia dalam hal kapitalisasi pasar pada tahun 2025. Tahun lalu, kapitalisasi pasar BRIS baru mencapai US$ 4,1 miliar atau peringkat ke-14 di jajaran bank syariah dunia.
Terkait keputusan BRIS untuk fokus menjaga pertumbuhan pembiayaan yang solid serta mengembangkan segmen konsumer, khususnya pinjaman payroll dalam beberapa tahun mendatang, Samuel Sekuritas juga memberikan pandangan positif. Aksi tersebut diharapkan dapat memperdalam pembiayaan syariah ke depan.
Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham BRIS dengan target harga Rp 2.200 per saham. Target tersebut mempertimbangkan perkiraan ROE sebesar 17% dan risk-free rate 6,75%, pertumbuhan jangka panjang sekitar 3%, dan beta sebesar 1,1 kali.
“Kami meyakini BRIS masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar di Indonesia, mengingat masih rendahnya penetrasi perbankan syariah di Indonesia. Padahal, Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia,” jelasnya.
Sesuai Ekspektasi
Perseroan mencatatkan peningkatan pendapatan pengelolaan dana sebagai mudharabib melesat dari Rp 9,78 triliun menjadi Rp 11,31 triliun pada semester I-2023. Sedangkan laba bersih melesat sebanyak 32% dari Rp 2,13 triliun menjadi Rp 2,82 triliun.
Analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dan Boby Kristanto Chandra mengatakan, pertumbuhan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp 2,8 triliun sepanjang semester I-2023 ditopang pertumbuhan impresif pembiayaan dan penurunan biaya penyaluran pembiayaan.
“Realisasi laba bersih tersebut sudah merefleksikan 51% dari target yang ditetapkan Mandiri Sekuritas dan setara dengan 52% dari target konsensus analis,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Terkait penurunan margin bunga bersih (NIM) menjadi 5,6% dari 5,9% (yoy), menurut Mandiri Sekuritas, dipengaruhi oleh peningkatan biaya dana mencapai 47 bps. Namun angka tersebut masih terkendali dengan baik.
Sedangkan NPL menunjukkan perbaikan dari 2,4% pada kuartal I-2023 menjadi 2,3% pada kuartal II-2023. Sedangkan CIR membaik menjadi 46% pada semester I-2023, dibandingkan semester I-2022 sebesar 49,6%. Perbaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan dan kenaikan belanja operasional yang terkendali dengan baik.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BRIS dengan target harga Rp 2.000. Target harga tersebut mempertimbangkan keberhasilan perseroan mencatatkan lompatan laba bersih pada semester I-2023 yang lebih tinggi dibandingkan emiten bank syariah lainnya.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan pertumbuhan total pendapatan menjadi Rp 24,85 triliun dan laba bersih senilai Rp 5,58 triliun sepanjang tahun 2023.
Sementara itu, data Bloomberg menyebutkan bahwa tujuh dari delapan sekuritas memberikan rekomendasi beli saham BRIS. Ketujuh tersebut terdiri atas BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Verdhana Sekurtias, Trimegah Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, Astronacci International, dan MNC Sekuritas. Target harga saham BRIS bervariasi mulai dari level Rp 1.760 hingga tertinggi Rp 2.250 per saham.
Sedangkan pada penutupan perdagangan terakhir saham BRIS di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di level Rp 1.615.
Prospek saham BRIS
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi: buy
Target harga: Rp 2.000
Samuel Sekuritas Indonesia
Rekomendasi: buy
Target harga: Rp 2.200
Strategi GRC
Sebelumnya, Direktur Utama BSI Hery Gunardi menyatakan, penerapan governance, risk, and compliance (GRC) yang kuat merupakan salah satu kunci BSI dapat menjaga kinerja positif sepanjang tahun berjalan 2023. BSI optimistis bahwa dengan penguatan GRC, BSI dapat terus merealisasikan pertumbuhan berkelanjutan.
“Sebab, penerapan GRC yang terintegrasi dapat mensinergikan aspek governance structure, risk management dan compliance, serta environment dan social perseroan. BSI juga terus melakukan akselerasi, mix and match bisnis sesuai prinsip syariah dan berkelanjutan dalam pengembangan ekosistem halal di Indonesia,” kata Hery Gunardi saat mengumumkan kinerja semester I-2023, Selasa (19/09/2023).
BSI berhasil menorehkan pertumbuhan laba yang signifikan, sebesar 32,41% menjadi Rp 2,82 triliun pada semester I-2023.
Salah satu pendorong pencapaian tersebut adalah pertumbuhan pembiayaan yang berkualitas dan dana pihak ketiga (DPK) yang bergerak positif. Hingga Juni 2023, BSI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 221,90 triliun atau tumbuh 16,00% (yoy) yang didominasi oleh segmen ritel sebesar Rp 158,38 triliun.
Adapun DPK sebesar Rp252,52 Triliun, yang didominasi oleh produk tabungan yang memberikan kontribusi sebanyak Rp 110,93 triliun. Dengan demikian, porsi CASA BSI terus membaik yang didominasi dana murah sebesar 59,93%.
Hery Gunardi mengungkapkan pula, kinerja solid BSI juga didorong dari kemampuan perseroan mengelola dengan baik rasio effisiensi dan rasio biaya yang berpengaruh terhadap proses bisnis dan operasional bank. Tercatat hingga Juni 2023, rasio BOPO perseroan mengalami perbaikan dari 74,50% menjadi 70,87%.
Efisiensi yang baik juga didukung oleh layanan berbasis digital melalui BSI Mobile, yang mencapai 5,39 juta user registered dengan total transaksi mencapai 170,70 juta transaksi per Juni 2023. Adapun jumlah merchant QRIS saat ini mencapai 188 ribu di seluruh Indonesia. Efisiensi bisnis juga berdampak positif pada return of asset (ROA) perseroan yang tercatat menjadi 2,36% dan return of equity (ROE) menjadi 17,27%.
“Dengan komposisi rasio keuangan yang balance, posisi dana yang kuat, serta kualitas pembiayaan yang baik, BSI optimis hingga akhir tahun pertumbuhan bisnis akan tumbuh double digit. Begitu juga dari sisi pertumbuhan nasabah, kami meyakini hingga akhir tahun bisa mencapai 20 juta nasabah,” ujar Hery.
Sebagai institusi keuangan syariah, BSI juga konsisten dalam mengimplementasikan environment, social, and governance (ESG). Portfolio pembiayaan keuangan berkelanjutan BSI mencapai Rp 52,6 triliun atau 23,77% dari total pembiayaan BSI tumbuh 4,99% (yoy).
Baca Juga
Saham Bank Syariah Indonesia (BRIS) Bisa Gapai Rp 2.200, Cek Pendorongnya
Untuk mendorong implementasi keuangan berkelanjutan, BSI juga mendorong upaya sustainable operation melalui program pengurangan emisi dan pelestarian lingkungan. Di antaranya green building office Gedung Landmark BSI di Aceh dan penggunaan solar panel di BSI Mayestik dan Mataram. Selain itu, percepatan implementasi penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik berbasis Baterai (KBLBB) dengan penyediaan 35 unit motor listrik untuk kendaraan operasional di masjid BSI rest area Cipali KM 166A, serta paperless dokumen melalui e-doc BSI.
Hingga Juni 2023, BSI telah menyalurkan dana zakat, infak dan dana kebajikan sebesar sebesar Rp122,2 miliar yang mencakup berbagai program sosial ekonomi. (Hari Gunarto).
Baca Juga

