Peluang Hanya Bisa Dilihat oleh Orang yang Optimistis
JAKARTA, investortrust.id - Peluang atau opportunity bisa datang kapan saja. Peluang bisa hadir di mana pun. Ia tak kenal ruang dan waktu. Bahkan, peluang bisa muncul di tengah krisis. Namun, tak semua orang bisa melihat, mendeteksi, dan menangkap peluang.
“Peluang hanya bisa dilihat oleh orang yang optimistis, bukan pesimistis,” kata Chief Executive Officer (CEO) PT Indo Menara Digital, Anthony Leong.
Toh, bagi Anthony, mampu melihat peluang saja belum cukup. Peluang hanyalah satu dari sekian langkah menuju kesuksesan. Pada akhirnya, peluang harus “dikonversi” menjadi keberhasilan atau kesuksesan.
Bagaimana mengonversi peluang menjadi kesuksesan? “Kuncinya ada tiga, yaitu banyak belajar, banyak berteman, dan konsisten terhadap bidang yang digeluti,” tutur pengusaha yang juga dikenal sebagai pakar komunikasi digital tersebut.
Dalam urusan belajar, Wakil Sekjen Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) ini tak pilih-pilih. Ia bisa belajar berbagai hal kepada siapa pun. Tak ada istilah sia-sia dalam belajar, karena belajar selalu menghasilkan ilmu, pemahaman, dan informasi baru.
“Guru itu kan bukan hanya di kelas. Teman, sahabat kita juga bisa menjadi guru. Ketika kita belajar atau berdiskusi dengan orang yang tepat, pasti kita menemukan solusi. Yang penting jangan pesimistis dalam setiap hal,” ujar dia.
Dari proses belajar, entrepreneur kelahiran Jakarta, 14 Maret 1992 itu bisa mendapatkan peluang-peluang baru. “Contohnya kita ketemu hari ini. Bisa jadi dalam tiga minggu atau tiga bulan ke depan kita bisa saling share informasi yang berguna bagi kita. Jadi, siapa pun bisa menjadi sumber opportunity,” papar dia.
Anthony Leong juga yakin bahwa kesuksesan turut ditentukan oleh pertemanan. Semakin banyak memiliki teman atau semakin intens berinteraksi dengan orang lain, semakin besar pula kesempatan untuk meraih kesuksesan.
“Kalau kita bergaul dengan pengusaha, kita bisa ketularan menjadi pengusaha. Kalau kita berteman dengan orang pinter, lalu kita nggak ikut pinter, berarti kita yang salah,” tandas peraih gelar doktor ilmu komunikasi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung tersebut.
Itu sebabnya, pria yang aktif di berbagai organisasi ini percaya bahwa membangun jejaring (networking) sangat penting bagi setiap orang yang ingin meraih kesuksesan.
“Kalau kita kurang bergaul, kurang sosialisasi, mimpinya pasti kecil, terhambat, dan stagnan,” tegas Anthony, yang juga menjabat sebagai CEO PT Menara Karya Indonesia, CEO PT Indo Digital Network, Co-Founder PT Menara Properti Indonesia, dan Deputy Director PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk.
Berikut petikan lengkap wawancara wartawan investortrust.id, Taufiq Al Hakim, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz dengan Anthony Leong di kantornya, kawasan Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini:
Kapan Anda mulai berbisnis?
Sejak kuliah S1 di Universitas Indonesia (UI), tahun 2010-2013, saya udah berbisnis. Dulu saya bisnis makanan, bisnis kuliner, dan sebagainya. Lalu saya coba menekuni website developer. Dulu website itu kan sarana untuk berbisnis.
Dulu sangat ngetrend karena belum kayak sekarang, era medsos (media sosial). Sekarang mungkin orang nggak perlu membuat web lagi untuk berbisnis.Cukup bergabung dengan Instagram, orang udah bisa mengklaim punya bisnis, punya toko.
Kami juga bisa membuat e-commerce. Sebelum eranya Tokopedia dan Shopee, kami bisa bikin. Saya bisa menjual layanan tersebut dengan strategi SEO (search engine optimization). Sekarang algoritmanya sedikit berbeda.Bisnisnya seputar itulah.
Puji syukur, bisnisnya terus berjalan, sampai akhirnya saya mendirikan Indo Menara Digital pada 2014. Kami terus bertransformasi karena sekarang ada social media. Puji syukur juga kami bisa bergabung dengan Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia).
Setelah bergabung dengan Hipmi, tentunya banyak channeling, networking, dan banyak mentor juga. Saya bersyukur berada di lingkungan yang positif.
Sebelum mendirikan Indo Menara Digital, saya pernah berkarier sebagai karyawan di JIExpo,Mulia Creative House, dan Bisnispost.com.
Core business Indo Menara Digital?
Kami fokus ke komunikasi digital, seperti advertising, digital marketing, digital campaign, digital strategy, creative campaign, branding, branding design, graphic design, logo design, creative design, dan creative marketing.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu, saya kan bertemu banyak orang, sehingga kami banyak investasi di luar sektor komunikasi. Misalnya karena sering berinteraksi dan membantu klien di bidang operator perkantoran, saya juga punya bisnis di bidang virtual office. Asal muasalnya dari pertemanan, ngopi-ngopi, diskusi.
Jadi, ada pengembangan, misalnya jaringan telekomunikasi fiber optik. Itu juga kami kerjain, hanya saja lebih kepada konstruksinya. Tapi core business kami masih seputar komunikasi digital.
Kenapa pilih komunikasi digital?
Karena passion saya memang di situ. Saya juga suka networking. Kebetulan pendidikan saya, dari S1 di UI, S2 di Universitas Moestopo, sampai S3 di Unpad, semuanya jurusan ilmu komunikasi. Industri komunikasi sekarang berkembang ke komunikasi digital. Jadi, kami fokus di sana.
Siapa saja klien Indo Menara Digital?
Perusahaan kami banyak menangani media monitoring, periklanan, terkait campaign, dan sebagainya, termasuk virtual office di beberapa daerah. Misalnya jika klien mau berbisnis tidak perlu sewa ruko yang mahal karena kami bisa sewakan virtual office. Kami juga bisa bantu empowering entrepreneurs.
Masuk political campaign juga?
Betul. Kami pun bantu kegiatan-kegiatan political campaign, seperti di pilkada karena memang selaras dengan bisnis yang kami geluti.
Kami pernah membantu Pak Anies Baswedan dan Pak Sandiaga Uno di pilgub DKI 2017. Juga membantu tim kampanye di pilpres Pak Prabowo tahun 2019 dan 2024.
Seberapa besar peran networking bagi kesuksesan bisnis Anda?
Prinsip saya, kalau kita bergaul dengan pengusaha, kita bisa menjadi pengusaha. Kalau kita bergaul dengan orang kaya, kita bisa ikut kaya. Dalam arti, kita memanfaatkan secara positif. Kalau kita berteman dengan orang pinter, lalu kita nggak ikut pinter, berarti kita yang salah.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya mengadopsi gaya kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif. Artinya, saya harus selalu memiliki tujuan jangka panjang yang jelas. Tetapi dalam prosesnya, saya sangat terbuka terhadap ide-ide tim.
Saya juga percaya pada kepemimpinan yang memberdayakan, memberikan kepercayaan kepada tim, mendorong mereka untuk mengambil inisiatif, dan memastikan bahwa mereka berkembang. Bukan hanya bekerja untuk perusahaan, tetapi juga membangun karier dan kapasitas mereka sendiri.
Anda melihat karyawan sebagai apa?
Bagi kami, karyawan bukan sekadar aset atau sekadar mitra. Mereka adalah bagian dari keluarga besar perusahaan. Mereka adalah elemen paling penting yang membuat perusahaan tumbuh.
Kami selalu menekankan bahwa perusahaan ini tidak dibangun oleh satu orang saja, tetapi oleh semua orang yang ada di dalamnya. Kami ingin mereka merasa memiliki perusahaan ini, bukan hanya bekerja di dalamnya. Itu sebabnya, kami selalu berusaha menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan berkembang.
Saya sering mengajak karyawan travelling ke luar negeri sejak 2017. Itu merupakan salah satu bentuk apresiasi kami kepada tim. Kami ingin mereka mengalami hal-hal baru, mendapatkan perspektif global, dan merasa bahwa kerja keras mereka benar-benar dihargai.
Bukan hanya soal uang atau jabatan, tetapi pengalaman yang bisa menginspirasi mereka untuk terus berkembang. Itu yang diharapkan.
Cara Anda memotivasi dan memperkuat teamwork?
Kami percaya bahwa motivasi tidak bisa hanya datang dari kata-kata atau bonus saja. Motivasi terbesar datang dari rasa memiliki dan kebanggaan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Ini tidak mudah.
Kami selalu mendorong tim untuk mengambil tanggung jawab lebih besar. Sebab ketika seseorang merasa dipercaya, mereka akan berusaha lebih keras untuk memberikan yang terbaik.
Saya juga harus berupaya menjadi role model dalam kerja keras dan inovasi. Saya tidak ingin hanya menyuruh orang lain bekerja keras. Kami pun harus menunjukkan bahwa kami siap bekerja lebih keras dari siapa pun di perusahaan ini.
Selain itu, kami berupaya menciptakan budaya kerja yang terbuka dan dinamis serta melakukan investasi dalam pengembangan SDM. Kami selalu mendorong tim untuk terus belajar, entah itu dengan mengikuti pelatihan, seminar, atau bahkan mengambil sertifikasi profesional.
Kami percaya, jika mereka berkembang, perusahaan juga akan berkembang. Intinya kami bergerak dan berkarya bersama.
Anda pernah gagal?
Pasti pernah, apalagi kami bisnis jasa. Namanya bisnis jasa kan awal-awalnya nggak pakai modal.Tapi seiring berjalannya waktu, karena kami sudah punya modal, pastinya ada rugi, ada crash, ada salah penempatan, dan sebagainya. Bagi saya, bisnis harus melewati semua proses. Dari situ kita bisa paham.
Sekarang tugas kami adalah memperluas networking yang lebih baik dan membangun trust. Sebab, bisnis ini kan soal trust. Kalau bisa terus menjaga networking dan trust dengan baik, harusnya bisnis kami berjalan sesuai rencana.
Apa yang Anda lakukan saat jatuh atau gagal?
Saya percaya bahwa saat menguji kita, Tuhan melihat kemampuan setiap orang, disesuaikan berdasarkan kapasitasnya. Saat jatuh, saya berdiskusi dengan guru-guru saya. Guru itu kan bukan hanya di kelas. Teman, sahabat kita juga bisa menjadi guru.
Ketika kita belajar atau berdiskusi dengan orang yang tepat, pasti kita menemukan solusi. Ketika kita mendapatkan advice dan insight yang tepat, pastinya ada solusi yang komprehensif. Yang penting jangan pesimistis dalam setiap hal.
Apa yang bisa Anda simpulkan dari perjalanan hidup ini?
Kesimpulan saya, untuk mencapai kesuksesan, kita harus terus mencoba, terus belajar, dan selalu optimistis untuk mencari peluang atau opportunity. Peluang hanya bisa dilihat oleh orang yang optimistis, bukan pesimistis.
Contohnya kita ketemu hari ini. Bisa jadi dalam tiga minggu atau tiga bulan ke depan kita bisa saling share informasi yang berguna bagi kita. Jadi, siapa pun bisa menjadi sumber opportunity. Paluang bisa hadir kapan saja.
Bahkan setiap ada gejolak, ada krisis, pasti ada opportunity. Dalam setiap krisis pasti ada momentum. Nah, ini yang harus kita lihat.
Cara Anda “mengonversi” peluang menjadi kesuksesan?
Kuncinya ada tiga, yaitu banyak belajar, banyak berteman, dan konsisten terhadap bidang yang digeluti. Banyak berteman itu penting. Kalau kita kurang bergaul, kurang sosialisasi, mimpinya pasti kecil, mimpinya terhambat, mimpinya stagnan. Semakin banyak berinteraksi dengan orang, semakin tinggi mimpi kita.
Belajar tak kalah penting. Orang bilang, ngapain kuliah lagi? Lo kan udah enak. Kalau saya sih belajar aja. Karena inspirasi tuh bisa datang dari mana aja. Bisa jadi selama wawancara kita ini, saya justru sedang belajar, bisa dapat insight sesuatu.
Insight bisa didapat dari siapa pun. Tidak pandang usia, jabatan, status sosial. Dari orang yang usianya jauh lebih muda, mau dia preman, saya bisa dapat insight. Kembali lagi, kita harus terjemahkan segala sesuatu secara positif.
Kita juga perlu konsisten. Kalau kita konsisten dengan bidang yang kita digeluti, kita bisa sukses. Saya juga akan konsisten di dunia digital. Kalau bisnis-bisnis lain, seperti saya masuk ke properti atau bidang-bidang lain, itu sampingan aja.
Kita harus konsisten di dunia kita. Jangan sampai meninggalkan core kita. Jangan sampai ada duit dikit, lalu ninggalin roh bisnis kita.
Anda sudah merasa sukses?
Belum lah, saya masih belajar terus.
Definisi sukses menurut Anda?
Bagi saya, sukses itu mencakup pencapaian-pencapaian secara kuantitatif dan kualitatif. Dari sisi pencapaian yang sifatnya materi oke, tapi harus ada pencapaian kualitatif. Justru value itu yang harus dikejar, misalnya bagaimana kita bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang.
Filosofi hidup Anda?
Mencoba terus belajar. Dengan belajar, kita bisa mendapatkan informasi dan peluang dari mana aja. Bisa mendapat insight, bisa mendapatkan pengalaman dari siapa pun. Bisa jadi opportunity pula. Artinya, saya terbuka dengan kolaborasi untuk bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik.
Siapa orang yang paling menginspirasi Anda?
Kalau di Hipmi, saya banyak belajar kepada para senior. Misalnya Pak Sandiaga Uno, Pak Bahlil Lahadalia, Pak Mardani Maming, Pak Erwin Aksa. Termasuk yang aktif sekarang, yaitu Pak Akbar Himawan Buchari dan Pak Anggawira. Mereka adalah mentor-mentor hebat.
Peran keluarga bagi karier Anda?
Keluarga, khususnya orang tua, pasti sangat mendukung dan berperan sangat besar bagi perjalanan karier saya. Kebahagiaan saya adalah kebahagiaan orang tua, istri, dan anak-anak juga. Begitu pula sebaliknya.
Cara Anda menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi?
Kalau untuk hobi, karena weekdays-nya sudah sibuk, maka saat weekend saya pengen malas-malasan aja. Terlihat bodoh sih, ha, ha, ha…
Sejak awal berkarier, saya memang nggak terlalu banyak waste ke hal-hal yang nggak efektif. Sayasempat cycling, bukan karena ikut trend, buat olahraga aja.Sekarang saya lebih banyak berolahraga di rumah, treadmill di rumah, nge-gym juga di rumah.
Saya memang nggak ikut-ikutan trend. Nggak sedih juga, nggak menyesal karena saya memang tidak terlalu tertarik. Nah, untuk menjaga keseimbangan, setiap minggu kami sekeluarga makan-makan di luar.
Benarkah generasi muda sekarang memiliki fighting spirit yang rendah?
Mungkin tergantung orangnya. Sebagai anakperantauan, waktu kuliah di UI, saya harus survive. Saya lahir di Jakarta, tapi menyelesaikan SMA di Medan.
Tapi kita memang perlu mendorong supaya anak-anak sekarang punya daya juang yang tinggi karena mustahil kesuksesan bisa diraih jika fighting spirit-nya rendah.
Mimpi Anda yang belum tercapai?
Mimpi saya adalah ingin agar suatu hari nanti punya industri yang bisa membiayai atau menghidupi lebih banyak orang, sehingga saya bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang.
Saya ingin masuk dan membesarkan sektor-sektor bisnis lain agar saya bisa lebih banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Syukur-syukur kalau Indo Menara Digital bisa go public.
Agar dunia usaha bergerak, tentu ekosistemnya harus bagus. Karena itu, kami berharap pemerintahan ke depan bisa mengegolkan program-programnya dan melibatkan lebih banyak peran swasta. Misalnya Danantara, itu harus bermanfaat bagi masyarakat, pemerintah, dan seluruh pelaku ekonomi.
Artinya pemerintah harus membuka peluang bagiswasta juga, jangan pula swasta yang besar-besar aja. Swasta yang menengah dan kecil pun harus bisa menikmati.***
Biodata
Nama: Anthony Leong.
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 14 Maret 1992.
Pendidian:
* S1 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI).
* S2 Magister Ilmu Komunikasi Universitas Moestopo.
* S3 Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung.
Karier:
* 2012: Content Writer PT JIExpo.
* 2012 – 2013: Public Relation Mulia Creative Housem.
* 2013 – 2014: Manager Redaksi Bisnispost.com.
* 2014 – sekarang: CEO Menara Digital Enterprise/PT Indo Menara Digital.
* 2016 – sekarang: Direktur Mulia Bestari Media.
* 2017 – sekarang: CEO Menara Karya Indonesia.
* 2017 – sekarang: CEO Indo Digital Network.
* 2020 – sekarang: Co-Founder PT Menara Properti Indonesia.
* 2024 – sekarang: Komisaris PT Menara Karya Konstruksi.
* 2024 – sekarang: Deputy Director PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk.
Organisasi:
* 2010 – 2013: Anggota Keluarga Mahasiswa Buddhist Universitas Indonesia (KMBUI).
* 2010 – 2013: Anggota Student Entrepreneur Center Universitas Indonesia (SECUI).
* 2012 – 2013: Pimpinan Redaksi Majalah Paramita KMBUI.
* 2015 – 2017: Executive Vice President Junior Chamber International (JCI) Jakarta.
* 2016 – sekarang: Sekretaris Badan Otonom Forum Dialog Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Himpi).
* 2016 – sekarang: Ketua Umum Perhimpunan Indo Digital Volunteer.
* 2017 – sekarang: Ketua Harian Perhimpunan Jasa Kantor Bersama Indonesia (Perjakbi).
* 2017 – sekarang: Ketua Departemen Bidang Teknologi Informasi Hipmi Jakarta Raya (Hipmi Jaya).
* 2017 – 2020: Ketua Departemen Bidang Perindustrian DPP Tunas Indonesia Raya (Tidar).
* 2017 – sekarang: Sekretaris Umum Jakarta Research & Public Policy (JRPP).
* 2019-2022: Ketua Bidang Hubungan Media BPP Hipmi.
* 2022 – sekarang: Wakil Sekjen BPP Hipmi.
* 2022 – sekarang: Wakil Sekretaris Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).
* 2022 – sekarang: Wakil Bendahara Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo).
* 2023 – sekarang: Wakil Sekjen Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI).
* 2017 – 2022: Tim Ahli Bidang Media Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi DKI Jakarta.
Penghargaan:
Winner of UI Young & Smart Entrepreneur Program (2011)
Pengalaman Bidang Politik:
* 2017: Juru Bicara Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
* 2017: Koordinator Anies-Sandi Digital Volunteer (Insider).
* 2019: Direktorat Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga.
* 2023: Koordinator Nasional Relawan Prabowo Digital Team (Pride).
* 2024: Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran Bidang Media dan Komunikasi.

