Yang Dilihat Investor Itu Integritas!
JAKARTA, investortrust.id - PT Samuel Aset Manajemen (SAM) dikenal sebagai perusahaan manajer investasi(MI) yang piawai meracik berbagai produk investasi untuk menghasilkancuan tebal dengan risiko terukur. Salah satu produk andalan SAMadalah reksa dana campuranyang telah berusia 26 tahun. Produk ini membukukan hasil investasi (return) rata-rata 11% per tahun.
SAM, yang kini menangani dana kelolaan (asset under management/AUM) senilai total Rp 14,4 triliun, juga punya sejumlah produk reksa dana saham unggulan, di antaranyareksa dana saham yang dirilis pada 2011. Reksa dana ini mencetak return sekitar 9% per tahun. Bahkan, selama tahun berjalan (year to date/ytd) perSeptember lalu, return-nya tembus 17%.
Produk-produk investasi SAM mengalahkan inflasi tahunan (3-5%). Juga lebih tinggi dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tumbuh 0,35% (ytd), bahkan lebih baik dari kinerja surat utang negara (SUN) seri benchmarkperiode 10 tahun yang mencetak yield 7%.
Kendatimengelola banyak aset berisiko,perusahaanyang didirikan pada 1997 denganlogo amat khas –orang sedang memanah— initak pernah tersandung masalah. Ternyata kuncinya hanya satu, yakni integritas.
“Imbal hasil naik dan turun itu biasa. Yang paling esensial itu integritas. Inilah sebetulnya yang dilihat investor sebelum merekamenempatkan dananya di sebuah MI,” kata Presiden Direktur SAM,Agus B Yanuardalam wawancara khusus dengan wartawan investortrust.id, Abdul Aziz di kantornya kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (05/10/2023). Berikut kutipan lengkapnya:
SAM punya logo yang sangat khas dan atraktif, yaitu seorang pria sedang memanah. Apa filosofi yang terkandung di dalamnya?
Moto kami di SAM adalah menjadi your life long investment partner. Kami ingin menjadi mitra investasi sepanjang masa bagi nasabah. Tentunya untuk menjadi mitra yang tepercaya, kami harus memiliki keahlian, kemudian akurasi, dan percaya diri dalam membantu mitra kami mencapai target-target investasi.
Jadi, sebenarnya logo pemanah ini adalah seorang yang sangat profesional, punya keahlian, punya kepercayaan diri. Kemudian bisa membidik target secara terukur sehingga tepat sasaran sesuai tujuan masing-masing investornya. Sekaligus juga untuk membedakan dengan logo-logo lainnya.
Produk investasi yang ditawarkan SAM?
Kalau reksa dana, kami punya hampir semua aset kelas, dari mulai reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap (berbasis obligasi), reksa dana campuran, dan reksa dana saham, baik yang syariah maupun yang konvensional.
Selanjutnyakami juga punya produk-produk terstruktur, seperti reksa dana penyertaan terbatas (RDPT), di mana kami juga berinvestasi di sektor riil. Kami pun punyakontrak pengelolaan dana (KPD) atau discretionary fund sebagai produk yang kami kelola secara bilateral dengan investor. Hampir 70%-nya dalam bentuk produk yang ada underlying sahamnya, sepertireksa dana saham, reksa dana campuran saham, maupun KPD saham.
Secara fee itu lebih besar dibandingkan produk-produk yang konservatif. Ini sebetulnyalebih ke pilihan bisnis sekaligus memang keahlian kami untuk mengelola aset-aset yang lebih berisiko.
Bisa dirinci AUM SAM saat ini?
Kami punya total AUM Rp 14,40 triliun, terdiri atas AUM reksa dana Rp 9,20 triliun dan KPD atau kontrak pengelolaan aset investasi (KPAI) senilai Rp 5,20 triliun. AUM reksa dana kami meliputi reksa dana pasar uang dan obligasi senilai Rp 2,30 triliun, reksa dana campuran Rp 860 miliar, reksa dana saham Rp 3,53 triliun, dan RDPT Rp 2,51 triliun. Di industri reksa dana nasional, kami menempati ranking ke-20. AUM reksa dana kami per Agustus 2023 tumbuh 1,3% secara tahunan (year on year/yoy).
Diferensiasi produk SAM dibanding MI lain?
Untuk saham, kami lebih pilih saham-saham yang lebih alpha. Jadi, yang mencari imbal hasil lebih tinggi, tentunya dengan risiko lebih tinggi pula dibandingkan produk-produk yang konservatif. Pengalaman kami selama ini memang bisa menghasilkan kinerja produk yang lebih tinggi dibandingkan benchmark maupun rata-rata pasar dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, ada produk reksa dana campuran yang sejak SAM didirikan pada1997 sampai sekarang masih kami kelola.Jadi, itu termasuk produk reksa dana campuran yang paling lama berada di pasar. Kemudian, kami pun punya KPD atau discreyang secara spesifik bertemakan environmental, social and governance (ESG). Produk inikami kelola untuk lembaga pemerintahan asing yang memerlukan investasi dengan tema seperti itu.
Produk reksa dana unggulan SAM?
Reksa dana campuran yang sejak 1997 itu rata-rata return per tahunnya sekitar 11%. Ada tahun-tahun yang jauh lebihtinggi, ada juga tahun-tahun koreksi, tapi rata-ratanyasegitu.Kalaurata-rata inflasi sepanjang 26 tahun sekitar 6%, berarti return reksa dana SAM bisa mengalahkan inflasi.
Kemudian kalau reksa dana saham, ini salah satu flagship kami,dirilispada 2011, imbal hasilnya sekitar 9%. Tapi selama tahun berjalan (year to date/ytd), sampai September kemarin, imbal hasil atau return-nya sekitar 17%.
Value yang ditawarkan SAM kepada nasabah?
Ada tiga hal yang sebetulnya kami tawarkan kepada nasabah. Pertama adalahperformance, yaitu kinerja atau imbal hasil produk-produk yang kami kelola. Kedua yaitu governance, tata kelola usaha kami dalam mengelola perusahaan dan mengelola produk-produk investasi. Kamimengelola dana investasi berbasis riset. Selain itu, kami memanfaatkan informasi-informasi yang kami nilai paling akurat untuk menjadi pilihan.
Ketiga,kami menawarkanservice excellent kepada nasabah. Kami memberikan pelayanan maksimal, baik sebelum maupun setelah mereka menjadi investor, salah satunya kami membentuk SAM Learning Center. Kami bisa berbagi pengetahuan dan informasi, termasuk melatih mereka, memberikan literasi tentang perencanaan keuangan, tentang investasi, dan tentang kondisi pasar terkini. Dengan begitu,nasabah kamipunyapengetahuan dan pemahaman yang lebih tentang apa yang terjadi di pasar.
Kepercayaan masyarakat terhadap industri reksa dana belum pulih akibat kasus-kasus wanprestasi, seperti kasus Jiwasraya, Asabri, Bumiputera, Kresna, dan Wanaartha yang kemudian merembet ke MI karena dananya diinvestasikan di reksa dana dan discretionary fund. Ini tentang good corporate governance (GCG) yang buruk. Pandangan Anda?
Sekarang kan ada 95 MI. Sebagian besar tentu berniat baik, mempunyai itikad baik untuk berkembang secara baik dengan tata kelola yang juga baik. Godaan dalam industri ini adalah bagaimana sebuah perusahaan ingin cepat naik AUM-nya.
Kadang-kadang mungkin ada teman-teman yang kurang berhati-hati, gitu. Secara sadar atau tidak sadar, ada aturan yang dilanggar. Tapi kami meyakini sebagian besar teman-teman itu ingin tumbuh secara natural dan beritikad baik.
Paling utama,kami ingin tumbuh secara alami. Makanya semua aset yang kami kelola bersumber pada filosofi yang kami yakini bahwa imbal hasil yang kami dapatkan, atau dana yang kami kelola harus berdasarkan research base. Riset adalah satu-satunya alat untuk pengambilan keputusan investasi yang menurut kami paling baik.
Kedua, harus long term. Pendekatan waktu kita membeli aset investasi itu bukan untuk day trade, melainkan jangka panjang, baik pilihan asetnya maupun investornya. Ketiga, kamimenggabungkan antara mengelola risiko dengan mengharapkan imbal hasil yang tinggi, sehingga ada gabungan antara risk management dan ekspektasi.
Terakhir adalah tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Kami harus menerapkan GCG agarbisa tumbuh berkelanjutan.
Jadi, saya rasa, salah satu yang sayapelajaridari pengalaman bekerja di pasar modal sejak 1990-an, yang paling berharga adalah integritas. Imbal hasil naik dan turun secara bergantian, itu biasa. Tapi yang paling esensial itu integritas, itu yang paling utama. Inilahsebetulnya yang dilihat investorsebelum merekamenempatkan dananya di sebuah MI.
Yang Anda tanamkan kepada para karyawan agar mereka tetap teguh memegang integritas?
Kami biasanya menggelar pertemuan rutin. Kami bicara, berdiskusi untuk mendekatkan diri.Saya tekankan bahwakalau bekerja harus memperhatikanempathal. Pertama harus benar, bahwa yang kami kerjakan itu benar, produknya benar. Kedua harus bisa dipercaya, bisa mengemban amanah.
Ketiga harus bisa mengartikulasikan apa yang kami lakukan, misalnya membuat tesis investasi, melakukan presentasi tentang outlook, dan lain-lain. Terakhir adalah harus cerdas dalam mengelola dana investasi, kemudian memilih dan memilah informasi yang sesungguhnya, yang paling relevan dengan apa yang kami kelola.
Dengan memegang keempat hal tersebut, kami bisa menghasilkan produk yang baik sekaligus memiliki budaya perusahaan yang juga baik, sehingga akhirnya bisa dipercaya para investor.
Masih soal GCG,apa yang harus dilakukan para stakeholders, termasuk regulator, agar industri reksa dana tidak lagi dipandang sebagai industri yang rawan moral hazard?
Menurut saya ada dua hal utama. Yang pertama adalah dari regulasi sendiri. Regulasi harus bisa mengatur dan menutup celah-celah bagi pelaku industri untuk melanggar GCG. Saya rasa, dari sisi peraturan sekarang sudah banyak, dan cukup ketat dalam mengatur tata kelola MI, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas industri, agar setara dengan dengan praktik terbaik di dunia internasional (best international practices).
Yang kedua, masing-masing MI bersama asosiasi MI harus membina dan memberdayakan diri untuk meningkatkan kualitas industri. Tentunya setiap MI juga harusmenjadikan GCG sebagaibagian dari pilar kegiatan usaha mereka, karena pada akhirnya memang yang dipilih oleh investor adalah yang memiliki GCG.
Belajar dari pengalaman, kesalahan dan kekurangan, kami senantiasa memperbaiki dan menyempurnakanGCG, bahkan juga berupayamenerapkan praktik-praktik terbaik investasi di dunia. Misalnya kami sudah menandatanganiUnited Nation Principal of Responsible Investing.
Kami meyakini investasi yang bertanggung jawab itu juga akan menjadi salah satu daya jual sebuah MI untuk dipercaya investor, baik dalam maupun luar negeri, baik perorangan maupun lembaga.
Ada anggapan industri rekasa dana kita sudah tidak sehat karena pemainnya terlalu banyak. Di Indonesia, AUM Rp 800 triliun dikelola 95 MI, padahal di negara lain hanya 5-10 MI saja. Perang fee, saling berebut nasabah, dan persaingan tidak sehat lainnya pasti akan selalu muncul. Menurut Anda?
Saya rasa mungkin di negara lain awal-awalnya seperti ini, kemudian ada seleksi alam. Yang tidak bisa mengembangkan AUM-nya tersisih. Kelangsungan sebuah perusahaan investasi kan ditentukan oleh penghasilan yang diperoleh dari besaran AUM.
Itu sebenarnya tidak hanya terjadi di perusahaan lokal saja. Kita mungkin pernah menyaksikan ada perusahaan asing masuk ke Indonesia tetapi tidak bisa mengembangkan AUM akhirnya tutup. Memang dia tidak bisa bersaing, seleksi alam, sih.
Kemudian di perusahaan MI itu kan ada ketentuan permodalan yang awalnya sangat rendah. Dulu dengan modal Rp 5 miliar sudah bisa bikin MI, sekarang minimal Rp 25 miliar MKBD (modal kerja bersih disesuaikan). Fungsi-fungsi di dalam perusahaan MI pun sekarang lebih banyak, sehingga untuk memenuhi 10 fungsi, misalnya, diperlukan modal yang memadai dan kinerja keuangan yang baik.
Tekanan sebetulnya juga datang dari investor sendiri. Investor menuntut fee yang lebih rendah. Kemudian ceruk pasarnya sama tapi pemainnya banyak, sehingga praktik seperti itu kadang terjadi.
Belum lagi kondisi pasar yang fluktuatif membuat para investor reksa dana, terutama yang membeli lewat jaringan distribusi pihak ketiga, lebih aktif dalam melakukan pembelian atau penjualan dan switching antar-reksa dana, kadang dalam jangka waktu yang relatif pendek, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi MI.
Artinya, dengan pemain sebanyak itu, pasar industri reksa dana masih menjanjikan?
Total AUM sekarangsekitar Rp 800 triliun, sedangkandana pihak ketiga (DPK) di perbankan sekitar Rp 8.000 triliun, masih kecil sekali rasionya.Dengan pemahaman masyarakat yang lebih baik ke depan tentang perlunya berinvestasi agar punya masa depan yang lebih baik, harusnya AUM meningkat.
Itu kan biasanya sesuai dengan kenaikan produk domestik bruto (PDB) per kapita. Saat krisis moneter 1998, PDB per kapita kita baru sekitar US$ 700, sekarang sudah hampir US$ 5.000. Pemahamanmasyarakat tentang investasisekarang lebih baik. Itu tercermin padajumlah pemegang unit penyertaan reksa dana yang dulu hanya sekitar 300.000 investor, sekarang sudah hampir 5 juta.
Jadi, saya rasa, untuk sementara ini mungkin MI yang 95 perusahaan itu tetap ada, tapi ya lama-lama akan ada seleksi alam. Sebab, merekatidak bisa memenuhi kebutuhan rutin apabila tidak ada tambahan AUM.
Yang harus dilakukan regulator agar AUM MI bisa tumbuh lebih akseleratif?
Mungkin semua stakeholders harus lebih intens melakukan edukasi dan sosialisasi untuk meningkatkan literasi keuangan di masyarakat. Otoritas Jasa Kuangan (OJK) sudahsangat aktif melakukan literasi kepada masyarakat.
Namun, OJK perlu dibantu juga oleh pelaku industri dan media massa, seperti investortrust. Intinya semua harus terlibat dan berupaya meningkatkan literasi keuangan. Literasi ini kan nanti bermuara pada kesejahteraan, bagaimana kita meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai instrumen atau produk investasi. Ujung-ujungnya ke pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Literasi juga akan menyelamatkan masyarakat dari penipuan berkedok investasi atau investasi bodong.
Perlukah dibuat kurikulum investasi hingga jenjang pendidikan terendah?
Menurut kamisangat perlu memasukkan kurikulum investasi di level pendidikan lebih rendah, misalnya mulaiSD atau SMP. Jadi, pasar modal harusnya mulai diperkenalkan lebih dini, gitu. Bahkan di luar negeri, anak-anak sekolah lanjutan sudah diajarkan untuk membuat simulasi tentang portofolio investasi. Maka saat memiliki uang, mereka sudah bisa berinvestasi. Apalagi sekarang kan reksa dana ada yang harganya Rp 10.000. Dengan uang Rp 50.000 udah bisa mulai berinvestasi.
Tips Anda untuk calon investor reksa dana?
Paling utama ya waktu kita memilih reksa dana. Jenis reksa dana kanbermacam-macam, ada yang sangat konservatif, moderat, dan agresif dari sisi risikonya. Pertama, kitaharus mengenal apa itu reksa dana. Ini bisa juga dibantu MI karena MIbisa mengidentifikasi, apakah ia seorang risk taker atau bukan.
Jadi, bagi orang yang konservatif, yang tidak suka risiko, produknya pun harus yang konservatif. Makapilihan pertama atau pertimbangan pertama waktu memilih produk adalah mengenal diri kita, karakteristiknya, apakah kita termasuk orangyang konservatif,moderat, atau agresif.
Kedua, jangka waktu atau horizonnya. Misalnya saya seorang yang agresif tapi uang yang saya miliki hari ini akan dipakai tiga bulan mendatang. Maka meskipun saya agresif, produknya harus konservatif.
Ketiga yaitu tujuan investasinya. Mungkin profesional muda masa pensiunnya relatif agak panjang. Dia dalam proses mengakumulasi aset. Jadi,bisa ambil produk-produk seperti reksa dana campuran, reksa dana saham, atau beli saham langsung.
Tetapikalau yang dalam tahap mengamankan aset yang sudah dimiliki, wealth preservation, diabisaambil produk yang lebih konservatif. Yang sudah mendekati masa pensiun bisa ambil produk-produk yang risikonya lebih rendah. Sekali lagi,kriterianya adalah karakteristik pribadi, tujuan investasi, dan jangka waktu berinvestasi.
Dalam 5-7 tahun terakhir IHSG jalan di tempat. Ada apa dengan pasar saham kita?
Secara indeks memangindeks saham kalah dari return obligasi ataupasar uang. Tapi sebetulnya ada saham di sejumlah sektor yang tetap berkinerja baik, salah satunya sektor perbankan. Dalam 5-7 tahun terakhir positif terus.
Tapi kinerja saham perbankan yang bagus tereduksi oleh penurunan saham-saham lain yang dulu pernah menjadi besar. Misalnya saham di sektor konsumsi yang dulu sempat menjadi darling tapi kemudian terkoreksi sampai setengahnya. Itu yang membebani IHSG.
Investor, baik yang membeli saham langsung, maupun para portfolio manager seperti kami harus membuat semacam tesis yang bisa mengidentifikasi. Biasanya, yang kami lakukan dari kondisi makro terlebih dahulu, kira-kira sektor apa yang akan perform tahun ini. Dari sektor yang paling perform itu dipilih emiten-emiten mana yang terbaik dan nanti timing-nya seperti tadi.
Kalau saya ceritakan dari awal 2023 sampai September kemarin kan IHSG hanya naik 2%, tapi ada beberapa sahamyang tumbuhnya 15%. Ini karena ketepatan memilih sektor. Nah, bagi bagi investor perorangan atau institusi yang memiliki waktu atau punya keahlian dan pengalaman berinvestasi langsung di saham, obligasi, dan produk investasi lainnya, mereka bisa membeli langsung. Bagi yang punya uang tapi nggak punya waktu karena dia berkarier atau sibuk dengan kegiatan sehari-hari, mereka bisa menyerahkan kepada ahlinya, yaitu MI.
Di luar faktor global, gejolakdi pasar saham saat inilebih karena investor menunggu Pilpres 2024?
Saya rasa, kalau untuk Indonesia, di tangan tim ekonomi yang mumpuni, ekonomi kita bisa konsisten tumbuh 4,8% sampai 5%. Secara domestik sih kita harusnya masih berpotensi tumbuh di level tersebut.
Risiko terbesar justru berasal dari luar negeri. Kondisi global masih diliputi ketidakpastian. AS sepertinya masih cenderung hawkish (kebijakan suku bunga tinggi) untuk meredam inflasinya. Eropa juga masih bergejolak dan berisiko stagflasi akibat masalah geopolitik perang Rusia-Ukraina. Ekonomi China pun sedang melambat.
Ekonomi Indonesia masih bagus. Dengan potensi pertumbuhan ekonomi, kemudian demografi yang relatif muda, rata-rata 29 tahun yang mulai konsumtif,saya optimistis ekonomi kita akan baik-baik saja. Konsumsi itu sebetulnya bagus untukekonomi, orang belanja itu bagus. Intinyaekonomi domestik cukup baik.
Secara sektoral, saham sektor mana saja yang masih prospektif?
Beberapa sektor saham yang di perdagangan di bursa adalah sektor-sektor terbaik di dunia. Perbankan termasuk di antaranya. Perbankan kita itu kan paling prudent di dunia. Setelah mengalami krisis moneter 1998, regulasi perbankan kita sudah lebih ketat. Sektor resources energy juga bagus, kemudian sektor agribisnis kita pun termasuk yang terbaik di dunia. Prospek emiten itu berhubungan juga dengan demografi.
Seninya adalah bagaimana investor, baik yang berinvestasi langsung maupun yang berinvestasi melalui produk investasi yang dikelola MI, bisa merotasi sektor satu yang perform ke sektor lain yang kurang perform. Dalam membidik target-target investasi itu memang perlu keahlian, pengalaman, percaya diri, dan akurasi.
Tahun depan, kegiatan politik (pilpres) banyak berlangsung di berbagai negara. Di Indonesia kan Februari, AS pada November, terus di Eropa ada beberapa negara yang melangsungkan pemilu. Sebetulnya sekarang kepemimpinan ekonomi dunia sedang beralih dari Barat ke Timur. Timur berarti China, India, Indonesia, atau emerging markets lainnya, termasuk Brazil yang merupakan negara berbasis komoditas.
Kalau kita lihat krisis yang dialaminegara-negara Barat,mereka menggunakanobat dewa dosis tinggi, seperti Quantitative Easing dan lain-lainnya, yang bisa menyembuhkan secara cepat, tapi berpotensi menimbulkan masalah yang lain. Sementara China menggunakan obat herbal. Reaksinya pelan, tapi tepat. Sepanjang nanti ekonomi China membaik, ekonomi Indonesia pasti lebih baik karenaekspor kita ke sana akan membaik. Ekspor kita ke China masih dominan.
Selain itu, selama pesta demokrasi nanti, saya yakinakan ada perbaikan ekonomi. Aktivitas politik kanbiasanya menghasilkan banyak belanja. Itu akan meningkatkandaya beli masyarakat. Belum lagi bantuan sosial (bansos).
Kami sih melihat kalau dari sisi politik, siapa pun nanti pemerintahan yang terpilih, sepanjang dia pro growth (pertumbuhan ekonomi), pro job (menciptakan lapangan kerja), pro market, dan market friendly, pasti kondisi ekonomi kita akan lebih bagus. Kemudian pro poor (mengentaskan kemiskinan). Kalau anggaran jaring pengaman sosial atau bansos meningkat, ekonomi akanlebih baik. Anggaran bansos bisa menjadi katalis positif bagi pasar saham.
Faktor lain yang bisa membuat ekonomi kita lebih tahan banting?
Jangan lupa, kita punya kekuatan domestik berupa perusahaan-perusahaan dan tenaga-tenaga muda yang inovatif. Sejumlah perusahaan multinasional yang dulunya menjadi pemimpin pasar barang-barang konsumen, sekarang mulai dikalahkan perusahaan domestik yang lebih inovatif dan lebih memahami suasana batin konsumen Indonesia.
Kita pun patut bersyukur, kita punya faktor milenial. Generasi milenial atau angkatan kerja muda kita sangat potensial. Mungkin daya serap pemerintah kurang, tapi generasimilenial dan generasiZ kita di sektor informal sangat kreatif dan inovatif. Itu salah satu kekuatan kita. Kita punya banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai sumber kekuatan ekonomi. Itu tidak boleh kita abaikan. (CR-6)

