Pengusaha Visioner Itu Kini Berusia 80 Tahun
Oleh Primus Dorimulu
JAKARTA, investortrust.id— Hari-hari ini, bumi makin panas. Pemanasan global semakin nyata. Di sıang hari, suhu udara di Jakarta dan sekitarnya menembus 34 derajat Celsius. Gerakan dekarbonisasi untuk mengurangi global warming tidak bisa ditawar lagi. Menguat kesadaran baru penghuni bumi agar penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) perlu dipercepat dan diperluas.
Di bidang energi, EBT adalah bisnis masa depan, bisnis ramah lingkungan yang memberikan energi bersih dan menahan kenaikan suhu bumi. Sedang panas bumi atau geothermal adalah renewable energy, energi terbarukan, paling andal dibandingkan energi terbarukan lainnya seperti energi matahari, angin, dan hidro. Pelaku usaha yang sudah masuk ke sektor ini memiliki bisnis yang prospektif, berkelanjutan, dan digandrungi konsumen dan investor di seluruh dunia.
Di Indonesia, pendiri Barito Group, Prajogo Pangestu adalah pengusaha terdepan di bidang geothermal. Pria kelahiran Bengkayang, Kalimantan Barat yang hari ini berulang tahun ke-80 adalah satu-satunya taipan Indonesia yang terjun ke bisnis geothermal. Tidak tanggung-tanggung. Lewat PT Star Energy Geothermal, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kini memiliki pembangkit listrik panas bumi terbesar, yakni mencapai 886 MW. Lebih tinggi dibanding pembangkit geothermal milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, anak perusahaan PT Pertamina, sebesar 672,5 MW.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BREN, kode saham PT Barito Renewables Energy Tbk, terus melejit dan pada akhir perdagangan, Senin (13/05/2024), harga BREN berada di level Rp 9.575 dengan nilai kapitalisasi Rp 1.281 triliun, terbesar di BEI, melampai saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang selama beberapa tahun terakhir selalu berada di top rank.
Sejak mulai diperdagangkan di BEI, 9 Oktober 2023 atau tujuh bulan silam, harga BREN naik 12,4 kali, melesat darı harga perdana Rp 780 ke Rp 9.575 akhir sesi kedua, Senin (13/05/2024). Kenaikan harga BREN adalah akibat permintaan nyata darı para investor. Dengan nilai kapitalisasi terbesar dan free float 11,7%, saham BREN tak bisa dimainkan.
Salah satu faktor yang membuat harga BREN melambung adalah masuknya BlackRock, perusahaan manajemen investasi dunia yang berbasis di AS dengan asset under management (AUM) atau dana kelolaan di atas US$ 9 triliun. BlackRock diketahui telah mengubah komposisi kepemilikan dua produk exchange traded fund (ETF), yakni iShares Global Clean Energy ETF (ICLN) dan iShares Global Clean Energy UCITS ETF (INRG). Dua ETF yang mengacu pada indeks S&P Global Clean Energy Index dan fokus pada energi bersih ini memasukkan BREN ke dalam portofolio investasinya.
Total dana dua ETF ini sebesar US$ 2,2 miliar dan US$ 2,9 miliar. Data RTI menunjukkan, sejak 21 April hingga 2 Mei 2024, alıran dana asing ke BREN mencapai Rp 318 miliar. Total dana asing yang masuk ke BREN sejak awal tahun menembus Rp 1,1 triliun. Saham BREN juga segera masuk Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Selain BREN, kekayaan Prajogo bisa dilihat juga pada tiga perusahaan lainnya yang sudah tercatat di BEI, yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN). BRPT adalah perusahaan Prajogo pertama yang masuk pasar modal, mulai diperdagangkan di BEI, 1 Oktober 1993 dan kini memiliki nilai kapitalisasi pasar Rp 91,9 triliun.
TPIA tercatat sebagai salah satu saham yang paling diburu investor. Harga saham emiten hasil merger PT Tri Polyta Indonesia Tbk dan PT Chandra Asri Tbk, 1 Januari 2011, ini mencapai Rp 8.000 pada akhir perdagangan sesi kedua di BEI, Senin (13/05/2024) dan meraih nilai kapitalisasi Rp 692,1 triliun.
Saham CUAN juga menunjukkan kinerja yang cukup bagus di BEI. Pada akhir perdagangan sesi kedua di BEI, Senin (13/05/2024), saham CUAN bertengger di level Rp 7.575 dengan market cap Rp 84,9 triliun. Saham sektor pertambangan ini cukup diminati pemodal. Mulai diperdagangkan di BEI 8 Maret 2023 pada harga Rp 220, pada akhir perdagangan sesi kedua di BEI, Senin (13/05/2024), saham CUAN berada di level Rp 7.575, naik 34 kali darı harga perdana.
Kekayaan US$ 62,2 Miliar
Total nilai kapitalisasi empat saham Barito Group —BREN, BRPT, TPIA, dan CUAN— mencapai Rp 2.149,9 triliun atau 18% darı total market cap di BEI pada akhir perdagangan sesi pertama di BEI, Senin (13/05/2024). Selain BREN yang menempati peringkat pertama, TPIA berada di peringkat keempat berdasarkan kapitalisasi pasar.
Sumber kekayaan dari Prajogo Pangestu berasal dari PT Barito Pacific Timber (BRPT), PT Chandra Asri Petrochemical (TPIA), PT Pertindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Keempat saham inilah yang menjadi sumber utama kekayaan Prajogo Pangestu.
Dikutip darı The Realtime Billionaires List, Forbes, Senin (13/05/2024), kekayaan bersih Prajogo mencapai US$ 62,2 miliar. Bisnis geothermal dan energi bersih, petrokimia, dan pertambangan adalah bisnis inti yang sudah membawa ayah tiga anak yang hari ini genap berusia 80 tahun itu ke level orang terkaya di Asia Tenggara.
Dengan kekayaan bersih US$ 62,2 miliar atau Rp 995 triliun pada kurs Rp 16.000, Prajogo menempati peringkat ke-25 orang terkaya dunia. Tidak ada satu pun taipan darı Asia Tenggara yang melampaui kekayaannya saat ini. Legenda bisnis darı Hongkong, Li Ka-shing, berada di urutan ke-38 dengan kekayaan bersih US$ 37,9 miliar.
Merespons berbagai pemberitaan tentang dirinya, Prajogo hanya memohon agar dirinya tidak dibanding-bandingkan dengan pengusaha lain. Dunia dan juga bisnis terus berubah. Yang saat ini di bawah bisa jadi akan berada di atas. Setiap pengusaha punya kehebatan yang harus dihargai. “Jangan membandingkan saya dengan pengusah lain,” kata pengusaha yang ramah dan rendah hati itu kepada Investortrust.id pada suatu kesempatan.
Prajogo adalah pengusaha yang memiliki visi bisnis yang tajam. Pada tahun 1969, saat berusia 25, ia bekerja di Djajanti Group milik taipan Burhan Uray dengan posisi terakhir GM PT Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur tahun 1976. Setahun berikut, ia membeli CV Pacific Lumber Coy, perusahaan kayu yang kemudian, 1979, berubah nama menjadi PT Barito Pacific Timber. Sejak saat itu, ia meluaskan bisnis di bidang kehutanan dan perkayuan dengan wilayah hak pengelolaan hutan (HPH) di sejumlah pulau.
Salah satu tonggak penting perjalaan bisnis Barito adalah saat perusahaan dengan lını bisnis kehutanan dan perkayuan itu IPO dan listing di BEI, 1 Oktober 1993. Nama Barito Pacific Timber diubah menjadi Barito Pacific. Tonggak penting lainnya adalah terealisasinya Hutan Tanaman Industri (HTI) sebagai salah satu solusi pengelolaan hutan berkelanjutan. Barıto tercatat sebagai pionir.
Selain HTI, Barito Group memasuki bisnis EBT dengan mulai mengelola geothermal sejak 1994. Saat itu, isu energi bersih dan EBT belum bergaung seperti saat ini. Meski tidak ada kepastian, Prajogo tetap komit mergembangkan energi panas bumi. Saat ini geothermal yang dikelola PT Barito Geothernal Energy Tbk sudah berproduksi dan menjadi perhatian investor dunia.
Tonggak penting lainnya adalah pembangunan petrokimia, yakni Chandra Asri dan Tri Polyta. Bisnis petrokimia ini sudah dirintis sejak awal 1980-an. Pada usia relatif muda, di bawah 40, Prajogo sudah memikirkan pentingnya bisnis petrokomia. Saat ini, ketika para pengusaha mengincar petrokimia, Prajogo sudah di sana.
Ketika International Monetary Fund (IMF) membantu Indonesia mencegah resesi ekonomi tahun 1998 agar tidak semakin parah, Tri Polyta dan Chandra Asri termasuk megaproyek yang wajib dijadwal-ulangkan. Lewat letter of intent (LoI), semua megaproyek dicantumkan di LoI untuk dijadwalkan ulang.
Prajogo menuturkan dirinya harus berusaha mencari jalan yang tidak memberatkan pemerintah agar bisnis petrokimia yang baru mulai dibangunnya tetap berjalan sesuai rencana. Apalagi letter of credit (L/C) untuk mendatangkan mesin sudah diterbitkan. Sejarah pun mencatat, kedua perusahaan petrokimia itu selamat.
Ini adalah contoh nyata pengusaha visioner yang mampu melihat peluang bisnis di masa akan datang ketika pengusaha lain belum melihat. BREN dan TPIA adalah contoh perusahaan yang kini menjadi magnet di pasar modal Indonesia.
Sebagai pengusaha yang komit pada implementasi ESG (environmental, social, and governance), Prajogo tidak saja mempercayakan pengelolaan perusahaannya pada para profesional, tapi juga mendirikan Yayasan Bakti Barito yang dipantau langsung oleh sang istri, Herlina Tjandinegara sebagai ketua Dewan Pembina. Didirikan tahun 2011, yayasan ini bergerak di bidang kelestariaan lingkungan, kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak, pendidikan, dan berbagai bantuan sosial.
Di usia ke-80, Prajogo sudah punya generasi penerus yang tangguh. Agus Salim Pangestu, sulung, adalah presdir PT Barito Pacific Tbk dan Preskom PT Barito Geothermal Energy Tbk. Nancy Pangestu, anak keduanya lebih banyak menangani bisnis keluarga di Singapura selain menjadi pemegang saham di sejumlah perusahaan Barito Group. Bungsu, Baritono Pangestu menjadi Wakil Presidir PT Chandra Asri Pacific Tbk.
Usia 80 bukan lagi usia muda. Tapi, Prajogo masih tampak sehat dan bugar dengan senyum yang selalu merekah. Ia masih berjalan dengan tegak dan berbicara terstruktur dengan ingatan yang kuat.
Selamat ulang tahun ke-80, Pak Prajogo!

