Lomba Supper App, Senjata Ampuh Menjaring Dana Murah dan Mendongkrak FBI
JAKARTA, investortrust.id – Transformasi digital masif yang dilakukan oleh perbankan nasional telah mengubah lanskap sektor keuangan. Bank-bank papan atas maupun bank digital murni berlomba mendesain aplikasi super (super app) sebagai upaya untuk menggaet nasabah luas, baik deposan maupun debitur.
Perbankan berupaya menyematkan fitur sebanyak dan secanggih mungkin di setiap super app andalannya. Sebab, supper app bukan hanya memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi nasabah, tapi juga menjadi senjata paling efektif dalam menjaring dana super murah sekaligus menjadi basis fee based income (FBI) yang andal.
Sejumlah bank besar tergiur mengakuisisi bank kecil untuk dijadikan bank digital. Paralel dengan itu, bank-bank digital murni terus membangun ekosistem dengan platform lain, baik platform pembayaran, platform ride hailing, platform akomodasi pariwisata, dan sebagainya. Tujuannya jelas, untuk menjangkau nasabah dan konsumen ritel, sehinga bakal mendongkrak potensi bisnis dan menaikkan valuasi.
Besarnya potensi digital banking tercermin pada nilai transaksinya yang terus melesat. Menurut Bank Indonesia, pada kuartal I-2024, nominal transaksi digital banking mencapai Rp 15.881,5 triliun atau tumbuh 16,15% (yoy) dan nominal transaksi Uang Elektronik (UE) meningkat 41,70% (yoy) sehingga mencapai Rp 253,39 triliun.
Adapun transaksi BI-RTGS meningkat 6,62% (yoy) menjadi Rp 42.005,48 triliun, transaksi BI-FAST melonjak 55,40% (yoy) ke level Rp 1.760,59 triliun, serta nominal transaksi QRIS meroket 175,44% (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 48,12 juta dan jumlah merchant 31,61 juta.
Perang Fitur
Perang super app antarbank identik dengan perang fitur. Seberapa beragam dan canggih, serta seberapa nyaman dan fungsional fitur-fitur yang disematkan, hal itu menjadi kunci bagi kemenangan dalam perang layanan supper app.
Berdasarkan data yang dihimpun R&D Investortrust, dari 20 bank ternama yang memiliki super app, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk lewat BRIMo dan Bank Danamon dengan Dbank memiliki fitur terbanyak, yakni 52 fitur. Peringkat kedua dalam hal jumlah fitur adalah BNI Mobile Banking sebagai 47 fitur, Livin by Mandiri milik Bank Mandiri 46 fitur, dan Maybank U2 sebanyak 45 fitur.
Kemudian Bank Jago dan Octo Mobile CIMB menyematkan 42 fitur, serta Permata Mobile X 42 fitur, serta MyBCA, KBStar (KB Bukopin), dan TMRW (Bank UOB) sebanyak 40 fitur. Sisanya, kurang dari 40 fitur.
Fitur-fitur yang paling lazim dan banyak digunakan nasabah adalah pembukaan deposito rupiah, transfer ke rekening lokal, pengecekan saldo, pembayaran kartu kredit, pembayaran listrik, pembayaran internet, pembelian pulsa handphone, transaksi QRIS, dan transaksi e-commerce.
Dongkrak FBI
Pengembangan platform super app bakal mendorong brachless banking. Sebagai bank dengan laju transformasi digital tercepat, BRI mengklaim bahwa sebanyak 99% dari total transaksi BRI sepanjang 2023 dilakukan melalui kanal digital. Artinya hanya, 1% transaksi yang dilakukan di kantor cabang.
Menurut Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI, Arga M Nugraha, transformasi digital yang dilakukan BRI lewat BRIVolution berfokus pada tiga pedoman, yakni konsep open banking, memperkuat pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan machine learning. “Ini merupakan strategi untuk mendorong transaksi dan layanan secara lebih mudah, cepat, terintegrasi, dan praktis,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Pada kuartal I-2024, jumlah pengguna BRIMo mencapai 33,5 juta, meningkat 30,3% (yoy).Adapun jumlah transaksi keuangan di superapps ini sebanyak 969 juta transaksi keuangan, melonjak 55,2% yoy, dengan total nilai transaksi sebanyak Rp 1.251,1 triliun atau meningkat sebesar 41,8%.
Tentu saja kenaikan penggunaan BRIMo berbuah pada kenaikan fee based income (FBI). Pada I-2024, BRI merain FBI sebesar Rp 5,18 triliun atau naik 6,9% yoy.
Sementara itu, jumlah transaksi digital di super app Livin’ by Mandiri melonjak 41,7% pada kuartal pertama 2024 ini, yakni mencapai 846 juta transaksi. “Jumlah pengguna mencapai 24,4 juta, melesat 40% secara year on year,” kata Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi saat pemaparan kinerja kuartal I-2024 lalu.
Dari sisi nilai transaksi, super apps Livin mencapai Rp 921 triliun atau tumbuh signifikan 27,4% dibandingkan periode sama 2023. “Kehadiran Livin’ by Mandiri telah berkontribusi pada pertumbuan pendapatan nonbunga, tercermin pada tambahan fee based income (FBI) sebesar Rp 557 miliar atau naik 25,5% (yoy),” ujar Darmawan
Sedangkan untuk layanan wholesale digital, Super Platform Kopra by Mandiri secara konsisten telah menjadi market leader dengan nilai transaksi Rp 4.773 triliun hingga kuartal I-2024. “Transformasi digital yang dilakukan Bank Mandiri telah berhasil berkontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan dengan tren yang terus membaik,” ucap Darmawan.
Senjata Penjaring CASA
Dampak positif transformasi digital juga direguk oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Menurut Direktur Finansial BNI, Novita Widya Anggraini, dua platform digital andalannya, yakni BNI Mobile Banking untuk nasabah retail maupun BNI Direct untuk nasabah korporasi mampu menjaring dana murah atau Curretn Account Saving Account (CASA). "Dalam menjaga likuiditas, kami konsisten memprioritaskan peningkatan CASA dengan mengoptimalkan layanan digital," kata Novita.
Dana murah kini mendominasi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh BNI, mencapai Rp 543,5 triliun atau 69,7% dari total DPK.
Novita menyebut bahwa jumlah pengguna BNI Mobile Banking pada kuartal I-2024 mencapai 16,9 juta nasabah atau tumbuh 18,5% (yoy), dengan jumlah transaksi meningkat 54,9% (YoY) menjadi 318 juta transaksi. "Pencapaian ini merupakan refleksi bahwa kami berada di jalur yang tepat dalam transformasi digital. Transformasi berjalan mulus, mengikuti kebutuhan nasabah," tegasnya.
BNI Mobile Banking telah menjadi super app ekosistem, yang menghadirkan solusi finansial untuk nasabah BNI, mulai dari kebutuhan harian, wealth management, digital lifestyle, digital loan dan kartu kredit, personal financial management, hingga sejumlah layanan bernilai tambah.
Platform Baru
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) merupakan pionir dalam digitalisasi di kelompok bank swasta. Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja mengibaratkan layanan digital sebagai jalan darah yang bisa mengakselerasi proses bisnis.
BCA saat ini menghadirkan layanan digital melalui myBCA, blu By BCA Digital, BCA Mobile, dan Merchant BCA. BCA bahkan berniat meluncurkan platform digital baru yang memungkinkan para pengusaha bisa berinteraksi dalam satu ekosistem. “BCA ingin agar nasabah tak hanya bisa menikmati layanan digital banking dari BCA, tapi juga bisa berinteraksi di dalam satu ekosistem usaha,” tutur Direktur BCA, Santoso Liem.
Begitu seriusnya BCA untuk secara konsisten memperbaiki layanan digital, sehingga menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) di bidang teknologi informasi (TI) lebih dari Rp 8 triliun pada tahun ini. Dana tersebut antara lain dialokasikan untuk pengembangan platform-platform baru.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn menambahkan, myBCA terus dikembangkan sesuai dengan gaya hidup serta tren digital masa kini. “Sejak diluncurkan pada tahun 2021, aplikasi myBCA dipersiapkan untuk menjadi aplikasi pelayanan terintegrasi masa depan,” kata Hera.
Dengan aplikasi myBCA, kata Hera, nasabah hanya memerlukan single user ID (BCA ID) untuk dapat mengakses seluruh informasi rekening yang dimilikinya di BCA, mulai dari tabungan, deposito, investasi, kartu kredit, kredit konsumer, hingga reward BCA.
Terkait inovasi di myBCA, sepanjang 2023 lalu, BCA telah menambahkan sejumlah fitur untuk meningkatkan kenyamanan bertransaksi nasabah. Menurut Hera, inovasi tersebut mencakup kontrol kartu debit dan kredit, login biometrik, kemudahan berinvestasi melalui fitur Welma, catatan finansial dan notifkasi transaksi, QRIS Customer Presented Mode, pembayaran pajak kendaraan dan listrik, hingga Paylater BCA.
Terbaru, aplikasi myBCA telah dilengkapi oleh fitur transaksi QRIS Transfer, QRIS cross border, instant access pembayaran QRIS, mengubah transaksi kartu kredit menjadi cicilan BCA, pembayaran tagihan dan pembelian token PLN, hingga aktivasi dan pengaturan akun OneKlik
Saat ini, jumlah pengguna myBCA telah mencapai sekitar 3,6 juta. “Meskipun belum sebanyak pengguna BCA mobile yang mencapai hampir 31 juta, kami mencatat pengguna myBCA terus bertumbuh secara konsisten,” tuturnya.
Konsekuensi Pahit
Peneliti Senior Core Indonesia, Etikah Karyani Suwondo menilai, persaingan bank dalam mengembangkan super app masih tergolong sehat alias belum pada tahap membahayakan. Sebab, nasabah masih diuntungkan dengan fasilitas yang super lengkap tersebut. “Kepercayaan nasabah juga masih terjaga dengan baik,” katanya kepada investortrust.id, Senin (13/5/2024).
Etika menambahkan, persaingan tidak sehat terkait super app terjadi jika berpotensi mengarah pada kegiatan yang tidak etis dan berisiko bagi nasabah. Misalnya kualitas teknologi yang rendah atau tidak aman sehingga mengabaikan ancaman siber yang dapat menurunkan kepercayaan konsumen terhadap sistem keuangan digital.
Ke depan, adu balap dan perang layanan digital, baik yang dilakukan oleh bank digital murni maupun oleh bank umum lewat digital banking bakal semakin seru dan mewarnai lanskap perbankan di masa depan. Segala transaksi dan layanan perbankan akan berada dalam satu genggaman, lewat perangkat smartphone. Kenyamanan dan kemudahan yang dirasakan nasabah akan semakin sempurna jika sektor keuangan dalam satu grup terintegrasi dalam satu layanan digitalisasi.
Namun, di balik kemudahan dan kenyamanan, digitalisasi layanan perbankan bakal membawa konsekuensi pahit. Bank mau tidak mau secara bertahap harus memangkas kantor cabang, yang berimplikasi pada pengurangan karyawan, padahal negeri ini butuh jutaan penciptaan lapangan kerja baru. Itulah wajah lain transformasi digital. ***

