Pasar Modal, Senjata Ampuh Milenial dan Gen Z Meraih Kemerdekaan Finansial
Poin Penting
|
Oleh Abdul Aziz
INVESTORTRUST.ID – Tak salah lagi, pasar modal adalah senjata ampuh bagi para milenial dan gen Z untuk meraih kemerdekaan finansial. Dengan berinvestasi di pasar modal, anak-anak muda akan memiliki tabungan yang cukup untuk menghadapi masa depan yang rentan dan penuh ketidakpastian.
Memangnya sesuram apa masa depan anak-anak muda sekarang? Berdasarkan hasil kajian terbaru Oxford Economics yang dirilis awal pekan ini (19 November 2025), pengangguran di kalangan gen Z naik. Sebaliknya, pertumbuhan upah para pekerja muda justru menurun.
Masih menurut Oxford Economics, biaya perumahan yang tinggi mendorong lebih banyak gen Z memilih tinggal di rumah orang tua. Akibatnya, konsumsi menjadi lebih rendah. Hal itu bisa menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Lembaga riset dan konsultan ekonomi global yang berbasis di London, Inggris itu juga menyebutkan, para pekerja muda sangat rentan terhadap perlambatan ekonomi. Dalam resesi, mereka bisa lebih mudah kehilangan pekerjaan.
Penelitian bertajuk The kids aren’t alright – Economic health of Gen Z in the US ini memang dilakukan di Amerika Serikat (AS). Namun, anak-anak muda di banyak negara menunjukkan pola serupa. Dengan kata lain, penelitian ini tetap relevan, termasuk untuk anak-anak muda Indonesia.
Kampanye OJK
Pentingnya berinvestasi di pasar modal untuk melawan ketidakpastian sudah lama dikampanyekan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan berinvestasi di pasar modal, anak-anak muda bisa melindungi masa depan mereka.
Berdasarkan riset OJK dalam Buku 3 Pasar Modal Seri Literasi Keuangan, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada periode 2004–2018 melesat 795,29%. Di pihak lain, Infovesta mencatat rata-rata return tahunan IHSG untuk jangka waktu 3–15 tahun (periode 1984–2017) berkisar 17,8-11,1% per tahun.
Source: DataTrust, BEI
Bersama self regulatory organization (SRO) yang meliputi Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSE), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), OJK gencar melakukan literasi dan edukasi kepada kawula muda, khususnya kalangan milenial (usia 29-44 tahun) dan dan gen Z (usia 13-28 tahun).
Hasilnya tidak sia-sia. Jumlah investor pasar modal dari kalangan Gen Z dan milenial terus meningkat. Bahkan, mereka kini mendominasi investor di pasar modal domestik.
Dalam catatan KSEI, jumlah investor pasar modal hingga awal November 2025 mencapai 19,32 juta single investor identification (SID), termasuk sekitar 8 juta investor saham. Angka itu tumbuh 30% selama tahun berjalan (year to date/ytd). Dari total aset pasar modal, 62,77% di antaranya dimiliki investor domestik, sisanya 37,23% dikuasai investor asing.
Investor pasar modal domestik yang berusia di bawah 30 tahun kini memiliki porsi 55,07%, diikuti investor usia 31-40 tahun (24,27%), usia 41-50 tahun (11,96%), usia 51-60 tahun (5,72%), dan usia di atas 60 tahun (2,98%).
Source: DataTrust, BEI
OJK sadar betul bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda bukan hanya ketidakpastian dan kerentanan masa depan akibat gejolak ekonomi. “Kami juga terus mewaspadai meningkatnya risiko penipuan,” tutur Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi.
Kekhawatiran OJK bisa dipahami. Dari waktu ke waktu, penipuan keuangan terus meningkat sejalan dengan kian canggihnya teknologi digital. Modusnya bermacam-macam, termasuk menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan membuat tiruan suara (voice cloning) dan tiruan wajah (deepfake).
OJK sendiri telah membentuk Indonesia Anti-Scam Center (IASC), sebuah inisiatif kolaboratif yang melibatkan regulator, lembaga keuangan, fintech, e-commerce, operator telekomunikasi, dan penyedia layanan pembayaran untuk mendeteksi serta memblokir aktivitas penipuan secara real time.
Sebanyak 343.402 laporan penipuan diterima IASC sejak awal beroperasi pada 22 November 2024 sampai 11 November 2025. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan kepada IASC berjumlah 563.558 rekening. Dari jumlah itu, 106.222 rekening telah diblokir.
Adapun total kerugian dana yang dilaporkan mencapai Rp 7,8 triliun, sedangkan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar. “Ada ribuan keluarga yang terselamatkan dari kerugian finansial akibat penipuan,” ujar Friderica.
Source:
Di luar itu, OJK terus memperkuat literasi keuangan melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan). Hingga Agustus 2025, program ini menjangkau lebih dari 45 juta peserta di 20 ribu kegiatan di seluruh Indonesia. Ada pula Program Peduli OJK, serta platform pembelajaran digital berbasis learning management system (LMS).
“Tujuan kami sederhana tapi bermakna, memastikan setiap investor Indonesia tidak hanya berpartisipasi di pasar, tapi berpartisipasi dengan bijak, percaya diri, dan tentu saja dengan aman,” tegas Friderica.
Source: Datatrust, OJK
Segera Tembus 20 Juta
OJK yakin jumlah investor di pasar modal terus bertambah seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi bahkan optimistis jumlah investor pasar modal Indonesia segera tembus 20 juta SID pada kuartal I-2026.
“Mungkin pertengahan atau kuartal I-2026 itu sudah mencapai 20 juta SID. Proyeksi ini sejalan dengan Roadmap Pasar Modal Indonesia 2022–2027,” ujar Inarno.
Source:
Dalam ancar-ancar OJK, pertumbuhan jumlah investor di pasar modal domestik masih akan didorong oleh investor ritel. “Tapi kami berharap kehadiran investor institusional domestik semakin kuat untuk menyeimbangkan struktur pasar,” tandas Inarno.
Untuk mencapai target tersebut, OJK akan memperluas basis investor melalui optimalisasi Systematic Investment Plan (SIP) dan meningkatkan partisipasi investor domestik maupun global.
OJK juga membidik kapitalisasi pasar modal Indonesia mencapai 70% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2025 dibanding 69,18% saat ini.
Setali tiga uang, BEI getol mendorong kinerja bursa, dengan menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp 14,5 triliun pada 2026. BEI juga menargetkan penambahan 2 juta investor baru.
“Target ini sudah kami masukkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026,” kata Direktur Utama BEI, Iman Rachman.
Dalam RKAT itu, BEI pun mematok target pencatatan mencapai 555 efek, meliputi saham, obligasi, dan berbagai produk lainnya, seperti Exchange-Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), Efek Beragun Aset (EBA), dan waran terstruktur.
Rupanya, RKAT 2026 menjadi bagian dari fase pertama Masterplan BEI 2026–2030 yang berfokus pada peningkatan kesesuaian produk dengan pasar dan demokratisasi akses pasar modal.
“Melalui rencana ini, BEI akan memprioritaskan program pengembangan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan, pelindungan investor, layanan data sesuai kebutuhan pelanggan, serta penyempurnaan teknologi kebursaan,” papar Iman Rachman. ***

