NIM Perbankan Pulih Kuartal IV?
JAKARTA, investortrust.id – Perbankan nasional tengah didera penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Salah satu penyebabnya adalah tingginya suku bunga, yang membuat biaya dana (cost of fund) membengkak. Di lain sisi, suku bunga kredit tidak serta merta ikut naik karena bank tidak ingin dihantui kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).
Sebagian perbankan bahkan menurunkan suku bunga kredit, terutama kredit modal kerja. Maka perbankan pun memasang berbagai strategi agar besaran NIM membaik, sehingga mampu memupuk kembali laba bersih yang pertumbuhannya sempat terhambat pada kuartal I-2024.
Lantas, kapan NIM perbankan bakal pulih? Para bankir dan ekonom sependapatan bahwa NIM akan otomatis membaik ketika suku bunga menurun dan kondisi likuiditas memadai, sehingga biaya dana bisa ditekan. Pemulihan NIM paling lambat diprediksi terjadi pada kuartal IV-2024, seiring ekspektasi penurunan suku bunga acuan, terutama oleh Bank Sentral Amerika Serikat yang bakal diikuti oleh bank sentral lain, termasuk Bank Indonesia.
Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan memang menurun. Per Februari 2024, rata-rata NIM perbankan turun jadi 4,49%, dari 4,72% pada Februari 2023. Penyusutan NIM berdampak pada perlambatan pertumbuhan laba bersih perbankan.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Sunarso, menyatakan, salah satu kiat untuk mempertahankan kinerja termasuk NIM adalah meningkatkan kemampuan pengelolaan aset dan liabilitas yang lebih produktif. Hal ini dilakukan dengan terus melanjutkan ekspansi secara selektif pada aset dengan tingkat imbal hasil yang tinggi.
“BRI juga akan mendiversifikasi sumber pertumbuhan dengan mendorong perolehan pendapatan melalui penguatan kapabilitas segmen ritel, fokus integritas holding UMi, serta penguatan bisnis entitas anak sebagai sumber pertumbuhan konsolidasi,” kata Sunarso.
Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi menambahkan, rasio NIM BRI akan dijaga pada level optimal menyesuaikan kondisi pergerakan suku bunga pasar. Pada Maret 2024, NIM BRI tercatat berada di level 6,59%.
Strategi BRI dalam menjaga NIM, secara garis besar dapat dilakukan melalui dua cara. Pertama, fokus pada pinjaman yang memberikan hasil tinggi (high yield loan). “BRI akan fokus untuk bertumbuh pada pinjaman-pinjaman yang memiliki high yield, yaitu segmen mikro dan consumer loan,” ujarnya.
Strategi kedua adalah efisiensi di lini liabilitas melalui kenaikan porsi dana murah (efficient liability growth through CASA (Current Account Saving Account). “Dalam menghadapi kenaikan suku bunga, BRI terus berupaya meningkatkan proporsi dana murah atau CASA, di antaranya melalui penetrasi wholesale transaction, digital saving BRI, dan sebagainya,” kata Hendy.
Secara terpisah, Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini menjelaskan, NIM menurun karena terjadi kenaikan biaya dana seiring dengan kenaikan suku bunga. Karena itu, BNI akan menaikkan kembali NIM, salah satunya dengan mendorong dana murah (CASA). Saat ini, komposisi CASA BNI sebesar 69,7% dari total DPK. Upaya menaikkan CASA ditempuh lewat perluasan dan pendalaman layanan digital, dengan memanfaatkan platform digital andalan yang dimiliki.
Kuartal IV NIM Pulih
Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Darmawan Junaidi menjelaskan, pihaknya akan menggenjot pertumbuhan kinerja ke depan, termasuk NIM dan laba bersih, lewat serangkaian inovasi dan strategi digital Bank Mandiri. Bank Mandiri juga akan terus menaikkan porsi dana murah (CASA) yang per akhir Maret 2024 mencapai 79,4% guna menekan biaya dana.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, meyakini bahwa NIM akan membaik di saat suku bunga acuan mulai menurun dan membawa penurunan cost of fund. “Sesuai dengan proyeksi penurunan suku bunga acuan terakhir maka kemungkinan NIM perbankan baru akan membaik di akhir 2024,” kata dia kepada investortrust.id.
Penurunan suku bunga acuan The Fed besar kemungkinan diikuti oleh penurunan suku bunga BI rate yang diperkirakan masing-masing dengan besaran 25 bps.
Andry Asmoro menegaskan bahwa pemulihan kinerja bank, terutama dalam perbaikan NIM, dilakukan lewat re-pricing terhadap aset namun dengan sangat hati-hati agar tidak menyebabkan gelombang kenaikan NPL. Dari sisi liabilitas, bank juga harus menjaga biaya agar tidak naik signifikan. “Jadi, secara umum, perbankan akan sangat prudent dengan melihat potensi bisnis dan memitigasi risiko dari berbagai gejolak perekonomian global,” kata Andry.
Bank Mandiri termasuk bank yang mengalami penurunan rasio NIM. Pada kuartal I-2024, NIM Bank Mandiri turun 22 basis poin (yoy) menjadi 4,89%.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae membenarkan bahwa ada potensi penurunan laba perbankan sejalan dengan tren penurunan NIM. Hal itu dipengaruhi tingginya suku bunga global maupun domestik yang menyebabkan biaya dana perbankan menjadi tinggi.
Meski demikian, ia menilai NIM perbankan di Indonesia masih lebih menarik dibandingkan NIM di negara-negara tetangga. “Pendapatan bunga dari kredit maupun surat berharga Bank Indonesia tetap tumbuh,” kata Dian.
Senada, Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah OJK, Defri Andri mengatakan, NIM perbankan menyusut lantaran adanya peningkatan suku bunga acuan serta persentase kenaikan biaya dana (cost of fund) lebih tinggi dibandingkan kredit.
Persaingan Kredit
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, tren penurunan NIM dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga DPK terutama simpanan berjangka pascakenaikan suku bunga acuan BI pada bulan Oktober 2023. Suku bunga simpanan berjangka 3 bulan pada Februari 2024 meningkat 53 bps dibandingkan dengan posisi Oktober 2023.
Sekalipun kondisi likuiditas perbankan memadai, penyesuaian suku bunga DPK cenderung meningkat di tengah masih solidnya pertumbuhan kredit pada kuartal I 2024 yang tercatat 12,4% secara tahunan.
Josua melihat kompetisi penyaluran kredit kian ketat, sejalan upaya perbankan dalam mendorong terjaganya kualitas kredit.. Sehingga perbankan cenderung menawarkan suku bunga kredit yang sangat kompetitif. Hal itu terindikasi dari penurunan suku bunga kredit modal kerja.
"Suku bunga kredit, khususnya kredit modal kerja pada Februari 2024 justru tercatat turun sekitar 20 bps jika dibandingkan posisi Oktober 2023," ujarnya.
Josua melihat NIM bank KBMI 4 berada di level tertinggi, yakni 5,07% dan bank KBMI 3 terendah, sebesar 3,56%.
Adapun Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Ryan Kiryanto, berpendapat, NIM akan kembali meningkat Ketika likuiditas perbankan sudah sangat memadai. Tapi ke depan ketergantungan pendapatan bank pada NIM harus dikurangi, secara perlahan digantikan oleh fee based income (FBI).
Dia menilai, NIM menciut karena ada kenaikan bunga simpanan di beberapa bank tanpa diikuti atau tidak beriringan dengan kenaikan bunga kredit. “Ini suatu sikap yg baik karena mayoritas perbankan memprioritaskan kualitas aset atau kredit sehingga beban CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) tetap stabil. Ketimbang harus menaikkan bunga kredit yang dilakukan oleh sedikit bank dengan maksud menjaga agar NIM tidak turun, meskipun ada ancaman penurunan kualitas kredit yang berdampak pada lonjakan beban CKPN,” kata Ryan kepada investortrust.id.
Selain menaikkan porsi FBI, Ryan menyebut perbankan harus menaikkan kompoisisi dana murah yang berasal dari giro dan tabungan, untuk menjaga agar NIM tidak makin turun.
Harga Saham Bank Turun
Penurunan NIM perbankan dan laba bersih membuat harga saham bank-bank jatuh pekan lalu. Termasuk bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mencatatkan penurunan cukup dalam dalam setelah rilis laporan kinerja keuangan kuartal I-2024 dengan hasil di bawah ekspektasi pasar.
Berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), untuk periode 3 April hingga 3 Mei 2024, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 14,80% menjadi Rp 4.750, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terkoreksi 13,65% menjadi Rp 1.265, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) susut 11,78% menjadi Rp 4.830, dan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun sebanyak 10,22% menjadi Rp 6.150.
Penurunan saham bank Himbara tersebut berbanding terbalik dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang justru mencatatkan penguatan 1,981% menjadi Rp 9.850 dalam periode yang sama.
Lalu, apa pemicu penurunan dalam saham bank Himbara dalam sebulan terakhir? Sejumlah analis menyebutkan kinerja keuangan bank Himbara kuartal I-2024 di bawah ekspektasi yang memicu sejumlah analis memangkas turun target kinerja keuangan dan saham bank Himbara. Hal ini mengerek turun harga saham bank-bank ini dalam sebulan terakhir.
Mandiri Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa tekanan jual terhadap saham perbankan hingga menekan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI dipengaruhi atas peningkatan risiko pertumbuhan kinerja keuangan emiten sektor bank yang berotensi menurunkan laba per saham emiten ini.
Mandiri Sekuritas melanjutkan koreksi besar-besaran saham bank, karena aksi jual pemodal asing terhadap emiten saham bank, setelah ada tanda-tanda risiko lebih tinggi terhadap pertumbuhan kinerja keuangan sektor bank dalam negeri, termasuk bank-bank Himbara.
“Kami memperkirakan risiko pasar saham bank akan tetap tinggi sampai ada tanda-tanda lebih jelas terkait penurunan risiko terhadap makro ekonomi,” tulisnya dalam riset tersebut.
Saham perbankan menjadi penyumbang terbesar net sell saham di BEI dalam periode 3 April-3 Mei 2024. Net sell terbanyak melanda saham BBRI senilai Rp 8,47 triliun, saham BBCA Rp 1,41 triliun, BMRI senilai Rp 872,62 miliar, BBNI Rp 549,37 miliar, dan BBTN Rp 48,58 miliar.
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano memilih untuk memangkas turun target kinerja keuangan dan saham BMRI. Hal ini dipicu atas rendahnya pertumbuhan laba bersih Bank Mandiri hanya 1% yang diikuti dengan penurunan NIM.
Realisasi tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas memangkas turun target laba bersih BMRI dari 57,87 triliun menjadi Rp 56,87 triliun tahun ini. Sedangkan NIM perseroan direvisi turun dari perkiraan semula 5% menjadi 4,9%. Kecenderungan penurunan NIM terjadi setelah terjadi kenaikan biaya dana di tengah pengetatan likuiditas perbankan nasional.
Pemangkasan target kinerja tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target harga saham BMRI dari Rp 7.600 menjadi Rp 7.400 dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Pemangkasan target kinerja keuangan dan saham juga diberikan CGS CIMB Sekuritas terhadap saham BBRI. Pemangkasan tersebut mempertimbangkan pengetatan likuiditas dan kecenderungan penurunan kualitas aset kredit BBRI setelah melihat realisasi kinerja keuangan kuartal I-2024.
CGS CIMB Sekuritas merevisi turun target saham BBRI dari Rp 7.100 menjadi Rp 6.500, meski demikian saham BBRI tetap dipertahankan dengan rekomendasi add. Pemangkasan tersebut juga mempertimbangkan revisi turun target kinerja keuangan BRI tahun ini dengan perkiraan laba bersih direvisi turun dari Rp 67,21 triliun menjadi Rp 63,04 triliun.
Target NIM perseroan juga direvisi turun dari 8% menjadi 7,8% tahun ini. Begitu juga dengan target pertumbuhan kredit direvisi turun dari 12,1% menjadi 10,5%.
Bisnis perbankan memang sangat tergantung pada tren suku bunga. Kabar terbaru bahwa The Fed berpotensi mempercepat penurunan suku bunga, antara lain karena angka pengangguran naik, berpotensi menormalisasi kebijakan moneter secara global. Tren itu akan merambat ke dalam negeri, sehingga kondisi likuiditas perbankan bakal kembali berlimpah.
Penurunan suku bunga diharapkan mendorong penyusutan beban biaya dana, yang kemudian bakal menggiring NIM perbankan nasional di jalur yang lebih positif. Alhasil, performa keuangan bank lebih solid dan harga saham bank berpotensi kembali berkilau.

