Benarkah NIM Bank Menipis? Simak Analisa Para Pengamat Perbankan Berikut
JAKARTA, investortrut.id - Marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan terus menyusut. Apalagi, suku bunga acuan masih cukup tinggi setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed menyatakan belum akan menurunkan suku bunganya dalam waktu dekat. Penurunan rasio NIM sejumlah bank besar tak ayal akan berdampak pada perolehan laba bersih perbankan.
Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto mengatakan, secara industri atau agregat, NIM perbankan turun tipis dari 4,49% ke 4,38%. Namun tingkat laba bersih masih baik dan tetap tumbuh positif.
Kredit tumbuh 11% year on year (yoy) mencerminkan fungsi intermediasi yang juga baik didukung pertumbuhan DPK 7% yoy. Menurunnya NIM yang tipis karena ada kenaikan bunga simpanan di beberapa bank tanpa diikuti atau tidak beriringan dengan kenaikan bunga kredit.
“Ini suatu sikap yg baik karena mayoritas perbankan condong memprioritaskan kualitas aset atau kredit sehingga beban CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) tetap stabil. Ketimbang harus menaikkan bunga kredit yang dilakukan oleh sedikit bank dengan maksud menjaga agar NIM tidak turun meskipun ada ancaman penurunan kualitas kredit yang berdampak pada lonjakan beban CKPN,” katanya kepada investortrust.id dikutip Senin (6/5/2024).
Namun menurut Ryan, lebih penting bagi bank mendongkrak fee based income (FBI) atau pendapatan bukan bunga dari transaksi-transaksi keuangan untuk mengkompensasi turunnya pendapatan bunga bersih.
“Peningkatan porsi dana murah yang berasal dari giro dan tabungan harus digenjot untuk menjaga agar NIM tidak makin turun tetapi sebaliknya NIM naik lagi,” ucapnya.
Baca Juga
Ketum REI Prediksi dalam 3 Bulan ke Depan Tidak Ada Kenaikan Suku Bunga KPR
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, secara umum NIM perbankan hingga Februari 2024 cenderung menurun jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2023 atau posisi Februari 2023.
LNIM perbankan secara keseluruhan tercatat 4,58%, di mana NIM bank KBMI 4 masih tercatat yang tertinggi yakni 5,07% dan bank KBMI 3 tercatat yang terendah yakni 3,56%," ujarnya kepada investortrust.id, Minggu (5/5/2024).
Tren penurunan NIM tersebut dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga DPK terutama simpanan berjangka atau time deposit pasca kenaikan suku bunga acuan BI pada bulan Oktober 2023. Suku bunga simpanan berjangka 3 bulan pada Februari 2024 meningkat sekitar 53bps dibandingkan dengan posisi Oktober 2023.
"Sementara itu, di sisi yang lain suku bunga kredit misalnya suku bunga kredit modal kerja pada Februari 2024 justru tercatat turun sekitar 20bps jika dibandingkan dengan posisi Oktober 2023," ujarnya.
Sekalipun kondisi likuiditas perbankan memadai, namun penyesuaian suku bunga DPK cenderung meningkat di tengah masih solidnya pertumbuhan kredit pada kuartal I 2024 yang tercatat 12,4% secara tahunan.
Kompetisi dalam hal penyaluran kredit, sambung Josua cenderung meningkat sejalan perbankan yang mendorong terjaganya kualitas kreditnya. Sehingga perbankan akan cenderung menawarkan suku bunga kredit yang sangat kompetitif. Hal itu terindikasi dari penurunan suku bunga kredit modal kerja.
Baca Juga
Analis Prediksi Harga Bitcoin Akan Pulih Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga
Sebelumnya Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Defri Andri mengatakan, NIM menyusut lantaran disebabkan adanya peningkatan suku bunga acuan serta persentase biaya dana (cost of fund) lebih tinggi dibandingkan kredit.
"Akan tetapi, perbankan masih punya bantalan yang cukup. NIM RI masih menarik di regional," ujarnya Selasa (30/4/2024).
Senada, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae membenarkan bahwa ada potensi penurunan laba perbankan sejalan dengan tren penurunan NIM tersebut. Di mana, itu dipengaruhi suku bunga global maupun domestik yang menyebabkan biaya dana perbankan menjadi tinggi.
Meski demikian, ia menilai NIM perbankan di Indonesia masih lebih menarik dibandingkan NIM di negara-negara tetangga. Di mana, pendapatan bunga dari kredit maupun surat berharga Bank Indonesia tetap tumbuh.
Mengacu pada data OJK, NIM perbankan pada Februari 2024 mencapai 4,5% turun 31 basis poin (bps) dari 4,81% per Desember 2024. Adapun, dibandingkan bulan sebelumnya atau Januari 2024 di level 4,54%.
Lalu, NIM perbankan turun 18 basis poin (bps) secara tahunan atau dibandingkan NIM pada Februari 2023 di level 4,72%.

