NIM Perbankan Turun Jadi 4,85%, Asing Masih Incar Bank di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat net interest margin (NIM) perbankan per September 2023 sebesar 4,85 persen. Margin bunga bersih ini turun dibandingkan posisi Agustus 2023 yang berada di level 4,87 persen. Meski demikian, antusiasme investor asing untuk mengakuisisi bank di Indonesia tetap tinggi.
"Perbankan ini masih diharapkan dapat mengendalikan NIM-nya dengan cara mendorong digitalisasi. Hal itu bertujuan untuk memperluas jangkauan layanannya kepada masyarakat, agar suku bunga kredit menjadi lebih kompetitif melalui mekanisme pasar. Di sisi lain, pemanfaatan data, yang antara lain dapat bersumber dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dan Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (LPIP), bisa menjadi salah satu upaya untuk mengurangi asimetris informasi antara bank kepada debitur," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam keterangan di Jakarta, Minggu (05/11/2023).
Aturan Transparansi Bunga
Dian menjelaskan, OJK saat ini tengah menyusun aturan mengenai transparansi suku bunga perbankan. Rencana aturan yang dalam proses penyempurnaan tersebut bertujuan memperkuat transparansi suku bunga perbankan kepada masyarakat.
"Aturan itu masih di dalam proses rules making rules. Tidak lama lagi, OJK akan meminta pendapat dari pihak-pihak terkait dan meminta tanggapan tertulis. Nantinya OJK akan mengonsultasikan hal tersebut kepada DPR," paparnya.
Baca Juga
Kredit Perbankan Tumbuh, Uang Beredar Tembus Rp 8.363,2 Triliun per Agustus
Sesuai dengan amanat UU P2SK, lanjut dia, prinsip-prinsip yang akan diatur antara lain komponen dasar pembentuk suku bunga dan aspek transparansi ke publik terkait suku bunga dasar kredit. Kebijakan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengendalikan NIM perbankan saat ini.
Diminati Asing
Dian menuturkan pula, NIM perbankan di Indonesia terbilang bagus, sehingga masih diminati investor asing. Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar, termasuk dalam hal digitalisasi.
"Mengacu pada rilis Kemenko Perekonomian (triwulan I-2023), 40 persen nilai transaksi digital di ASEAN berasal dari Indonesia. Di sisi lain, pada prinsipnya, perbankan Indonesia terbuka bagi masuknya investor dalam rangka memperkuat permodalan, untuk mendukung dan menjaga pertumbuhan bank yang berkelanjutan. Dalam hal ini, termasuk masuknya investor ke bank dengan fokus bisnis layanan perbankan digital," katanya.
Baca Juga
Bank Syariah (BRIS) Terlihat Menjanjikan, Berikut Prospek dan Target Harganya
Ia mengatakan lebih lanjut, beberapa bank di Indonesia beroperasional dengan fokus pada layanan perbankan digital, yang didukung dengan ekosistem yang menopang bisnis. OJK terus mencermati perkembangan bank-bank dengan fokus layanan perbankan digital, dan mendorong kinerja bank dengan mengedepankan aspek tata kelola yang baik.

