Analis Berlomba Revisi Naik Target Laba Mayora (MYOR), Bagaimana Harga Sahamnya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mencatatakan lompatan kinerja keuangan mengesankan hingga September 2023. Bahkan, pencapaian tersebut telah melampaui proyeksi sejumlah analis dan konsensus analis. Hal ini mendorong tiga sekuritas – BRI Danareksa, Trimegah, dan Ciptadana -- berlomba-lomba merevisi naik target kinerja keuangan dan harga saham Mayora. Tak hanya itu, saham MYOR menjadi pilihan teratas dari sektor konsumer tahun ini.
Hingga September 2023, Mayora membukukan lompatan laba bersih sebanyak 87% dari Rp 1,08 triliun menjadi Rp 2,02 triliun (year on year/yoy). Peningkatan tersebut jauh lebih pesat dari pertumbuhan pendapatan dari Rp 22,30 triliun menjadi Rp 22,89 triliun. Kenaikan dipicu penguatan margin keuntungan bersih dari 4,9% menjadi Rp 8,9%.
Analis Trimegah Sekuritas Ignatius Samon dan Haribertus Ariando mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan Mayora (MYOR) sudah kembali ke level sebelum pandemi.
Lompatan performa Mayora juga didukung sejumlah faktor, seperti penurunan harga komoditas khususnya terigu dan susu yang berimbas besar terhadap raihan margin keuntungan perseroan. Tren penurunan harga terigu nampaknya terus berlanjut sampai akhir tahun yang diharapkan berimbas positif terhadap performa perseroan.
“Dengan lompatan margin keuntungan sampai September dan potensi berlanjut sampai akhir tahun, kami memilih merevisi naik target laba bersih perseroan tahun ini. Peningkatan juga didukung kenaikan harga jual produk perseroan sejak kuartal III tahun ini,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (9/11/2023).
Trimegah Sekuritas merevisi naik target laba bersih Mayora tahun ini dari Rp 2,41 triliun menjadi Rp 2,87 triliun. Sebaliknya target penjualan bersih dipangkas dari Rp 32,23 triliun menjadi Rp 31,58 triliun.
Revisi naik laba bersih tersebut sejalan dengan dinaikkannya target margin keuntungan bersih perseroan dari semula 7,5% menjadi 9,1%. Sedangkan proyeksi gross margin direvisi naik dari 24,8% menjadi 27%.
Didukung revisi naik target laba bersih tahun ini, Trimegah Sekuritas juga merevisi naik target harga saham MYOR dari semula Rp 3.200 menjadi Rp 3.500 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target tersebut merefleksikan perkiraan PE ratio tahun 2024 sekitar 25 kali atau sama dengan rata-rata lima tahun terakhir.
Pada perdagangan Kamis (9/11/2023), saham MYOR ditutup pada Rp 2.670 atau menorehkan gain 6,8% sejak awal tahun (year to date), dengan market cap sebesar Rp 59,25 triliun.
Pandangan hampir senada datang dari analis Ciptadana Sekuritas, Putu Chantika Putri. Menurut dia, realisasi laba bersih perseroan sampai kuartal III-2023 telah melampaui estimasi Ciptadana Sekuritas. Lompata laba tersebut dipengaruhi tiga faktor, yaitu efisiensi belanja operasional, peningkatan margin bersih setelah penurunan harga bahan baku, dan keuntungan kurs.
“Kami menilai bahwa tren pertumbuhan laba akan berlanjut pada kuartal terakhir tahun ini, seiring dengan ekspektasi pertumbuhan yang lebih pesat. Apalagi dengan perkiraan terjadi kenaikan impor produk perseroan dari Tiongkok,” terangnya dalam riset yang dipublikasikan, baru-baru ini.
Didukung lompatan pencapaian laba sampai September 2023, tren kenaikan penjualan kuartal terakhir 2023, dan perluasan margin keuntungan, maka Ciptadana Sekuritas merevisi naik proyeksi laba bersih Mayora tahun ini.
Ciptadana Sekuritas mereivisi naik target laba bersih perseroan dari semula Rp 2,57 triliun menjadi Rp 2,65 triliun. Sedangkan margin keuntungan bersih direvisi naik dari 7,4% menjadi 8%. Sebaliknya perkiraan pendapatan direvisi turun dari Rp 34,64 triliun menjadi Rp 33 triliun.
Meski target laba bersih direvisi naik, Ciptadana Sekuritas mempertahankan target harga saham MYOR di level Rp 3.400 dengan rekomendasi beli. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE ratio tahun 2024 sekitar 24,6 kali atau setara dengan rata-rata lima tahun terakhir.
Baca Juga
Saham Mayora (MYOR) Pilihan Teratas, Begini Pertimbangan Sejumlah Analis
Outlook Kuat
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto mengatakan, target harga saham MYOR layak direvisi naik setelah melihat performa keuangan yang kuat sampai September 2023 dan potensi berlanjutnya pertumbuhan serupa tahun 2024.
“Kami memilih merevisi naik target harga saham MYOR dari Rp 3.300 menjadi Rp 3.500. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE ratio tahun 2024 sekitar 25,3 kali atau di bawah rata-rata dalam lima tahun terkahir 28,6 kali,” terangnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (9/11/2023).
BRI Danareksa Sekuritas juga menyebutkan bahwa MYOR merupakan saham menarik didukung outlook laba yang kuat ke depan. Mayora akan menjadi perusahaan yang paling diuntungkan atas peningkatan daya beli masyarakat ke depan dan mendapatkan sentimen positif dari pemilihan presiden tahun depan yang diprediksi berjalan dua putaran.
Terkait lompatan laba bersih perseroan hingga September 2023, Natalia mengatakan, raihan laba bersih tersebut sudah merefleksikan 78% dari target BRI Danareksa dan setara dengan 86% dari perkiraan konsensus analis.
Lompatan laba tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target laba inti MYOR tahun ini dari Rp 2,66 triliun menjadi Rp 2,81 triliun. Begitu juga dengan perkiraan laba tahun depan direvisi naik dari Rp 2,91 triliun menjadi Rp 3,17 triliun.
Prospek Saham MYOR
Trimegah Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga: Rp 3.500
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomedasi: buy
Target harga: Rp 3.500
Ciptadana Sekurtias
Rekomendasi : buy
Target harga: Rp 3.400
Ekspor Kian Solid
PT Mayora Indah Tbk didirikan pada tahun 1977 dengan pabrik pertama berlokasi di Tangerang dengan target pasar wilayah Jakarta dan sekitarnya. Setelah mampu memenuhi pasar Indonesia, Mayora melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham dan menjadi perusahaan publik pada tahun 1990 dengan target pasar diperluas ke Asean. Mayora terus berekspansi ke pasar luar negeri, dan kini produksinya telah menjangkau 100 negara di 5 benua.
Saat ini pemegang saham Mayora adalah PT Unita Branindo 32,93%, PT Mayora Dhana Utama 26,14%, Jogi Hendra Atmadja 25,22%, dan publik 15,71%.
Salah satu misi perusahaan adalah dapat memperoleh laba bersih operasi diatas rata-rata industri dan memberikan nilai tambah yang baik bagi seluruh stakeholders.
Sebelumnya, Direktur Mayora Ricky Afrianto menyatakan optimisme bakal dapat meraih target penjualan sebesar Rp 33,74 triliun tahun ini, naik 10% dari penjualan 2022. Perseroan juga menargetkan laba bersih sebesar Rp 2,60 triliun di 2023 ini.
Ricky menyebut bahwa pada kuartal IV biasanya penjualan lebih kencang, terlebih lagi periode ini mendekati Pemilu Februari 2024. Periode ini merupakan demand yang tinggi bagi produk Fast Moving Consumer Good (FMCG).
Selain itu, Mayora juga memiliki kekuatan pasar ekspor yang kuat, dengan beberapa produk yang menguasai di sebuah negara. Pada semester I-2023 lalu, penjualan ekspor bahkan melampaui penjualan domestik atau melebihi 50% dari perolehan penjualan sebesar Rp 14,1 triliun.
Sebagai salah satu Fast Moving Consumer Goods (FMCG) Companies, Mayora Indah telah membuktikan dirinya sebagai salah satu produsen makanan berkualitas tinggi dan telah mendapatkan banyak penghargaan. Diantaranya adalah “Top Five Best Managed Companies in Indonesia” dari Asia Money, “Top 100 public listed companies” dari majalah Investor Indonesia, dan “Best Manufacturer of Halal Products” dari Majelis Ulama Indonesia.
Ada cerita unik dari salah satu produk terkenal Mayora, yakni Kopiko. Saat berkunjung ke Amerika Serikat dan bertemua dengan pendiri Tesla dan pemilik Space X, Elon Musk, Menko Marinves Luhut Pandjaitan memperlihatkan permen Kopiko tersebut. Ternyata, Kopiko pernah dibawa ke luar angkasa oleh Astronot ISS (International Space Station) pada 2017. Saat itu, Elon Musk pun langsung mencoba Kopiko dan memberikan dua jempol. (Hari Gunarto)
Baca Juga
Tumbuh 86%, Mayora (MYOR) Genggam Laba Rp 2,06 Triliun di Kuartal III-2023

