Astra International (ASII), Raja Mobil Hibrida yang Difavoritkan Analis
JAKARTA, investortrust.id – Penjualan otomotif PT Astra International Tbk (ASII) diprediksi tetap tangguh hingga akhir tahun, meskipun persaingan kian tajam dan adanya gempuran mobil listrik. Begitu juga dengan pangsa pasar (market share) penjualan otomotif perseroan diprediksi tetap kuat di atas 50% hingga akhir tahun. Astra juga menjadi raja mobil hibrida. Berbagai keunggulan itulah yang membuat ASII menjadi pilihan rekomendasi teratas sejumlah sekuritas.
Analis Indo Premier Sekuritas Michelle Nugroho dan Giovanni Dustin mengatakan, volume penjualan mobil dan sepeda motor Astra International (ASII) diprediksi tetap bertumbuh dan kokoh sampai penghujung tahun ini.
“Kami menilai bahwa Astra International tetap dapat menjaga dengan baik performanya, di tengah persaingan sengit industri otomotif Indonesia, dengan menghadirkan beberapa produk baru tahun ini,” ujar kedua analis Indo Premier Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Potensi pertumbuhan volume penjualan otomotif ASII, kata Michelle dan Giovanni, juga sudah terlihat pada peningkatan volume penjualan otomotif nasional, termasuk Astra, sepanjang Agustus 2023, dibandingkan posisi Mei-Juli 2023 yang cenderung turun.
Terkait persaingan otomotif setelah mobil listrik masuk Tanah Air, Indo Premier Sekuritas menilai bahwa kondisi tersebut diprediksi belum menggoyahkan pangsa pasar penjualan mobil perseroan. Market share penjualan mobil Astra International diprediksi tetap bertahan di atas 50% sampai penghujung tahun ini.
Apalagi, menurut Michelle dan Giovanni, Astra agresif menawarkan hybrid electric vehicle (HEV) sebagai solusi sebelum memasuki kendaraan listrik murni. Hingga kini, Astra International menguasi pangsa pasar penjualan HEV sebesar 72% di pasar domestik. Angka tersebut diprediksi tetap berlanjut didukung penerimaan masyarakat yang baik terhadap HEV.
Sejalan dengan itu, Astra International pun telah berkomitmen untuk merambah kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV) dengan target peluncuran 10 varian baru dalam tiga tahun mendatang. Bahkan, Toyota-Daihatsu tengah mempelajari pendirian pabrik produksi BEV atau setidaknya supply-chain kendaraan listrik guna mempertahankan posisi pasar otomotif perseroan ke depan.
Terkait penjualan sepeda motor, Indo Premier Sekuritas menyebutkan, masih tetap kuat, meski sempat dilanda sentiment negatif terkait isu rangka eSAF yang berkarat. Isu tersebut sempat memengaruhi volume penjualan sepeda motor Honda di kota-kota utama pada September.
“Namun volume penjualan sepeda motor perseroan diprediksi kembali normal mulai Oktober tahun ini. Bahkan, penjualan diprediksi terus meningkat mulai bulan ini, seiring dengan kemungkinan adanya peluncuran produk baru,” kata Michelle dan Giovanni dalam riset tersebut.
Tak hanya itu, Astra International melalui produk Honda mulai menawarkan sepeda motor listrik. Penjualan motor listrik tersebut merupakan bagian dari upaya perseroan untuk ikut menggairahkan bisnis kendaraan listrik di Tanah Air. Penjualan motor tersebut diprediksi melaju lebih cepat, apabila jika terus mendapat insentif terkait peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).
Berbagai faktor tersebut mendorong Indo Premier Sekuritas untuk merekomendasikan hold saham ASII dengan target harga Rp 6.800. Target harga tersebut telah mempertimbangkan potensi peningkatan persaingan penjualan otomotif menjelang akhir tahun.
Target tersebut juga merefleksikan perkiraan laba bersih perseroan yang bakal mencapai Rp 33,70 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 34,55 triliun. Sedangkan pendapatan diharapkan melesat menjadi Rp 314,14 triliun tahun ini, dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 307,66 triliun.
Pilihan Teratas
Sementara itu, RHB Sekuritas Indonesia menetapkan saham ASII sebagai pilihan teratas untuk emiten sektor otomotif nasional. Hal ini didukung keberhasilan penjualan otomotif Astra International yang pulih lebih cepat meninggalkan kompetitornya hingga Agustus 2023.
“Penjualan mobil dan sepeda motor nasional mulai rebound pada Agustus sesuai ekspektasi. Bahkan, Astra International menunjukkan performa outperform dibandingkan industri lain sektornya,” tulis RHB Sekuritas dalam riset yang diterbitkan, belum lama ini.
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil Astra melesat dari 49,900 unit pada Agustus 2022 menjadi 50.800 unit pada Agustus tahun ini atau meningkat sekitar 4,5%. Hal ini menjadikan penjualan mobil perseroan bertumbuh dari 357.400 unit menjadi 377.400 unit pada periode Januari-Agustus 2023 atau meningkat 5,6%.
Sedangkan penjualan mobil non-Astra masih turun dari bulan ke bulan, dari 47.000 menjadi 38.100 pada Agustus 2023. Hal ini menjadikan volume penjualan mobil non-Astra turun 1% dari 300.800 unit pada periode Januari-Agustus 2022 menjadi 297.900 pada periode Januari-Agustus 2023.
“Peningkatan penjualan tersebut menjadikan pangsa pasar Astra International (ASII) melesat menjadi 55,9% hingga Agustus 2023, dibandingkan hingga Agustus 2022 sekitar 54,3%,” terangnya.
Ekspektasi membaiknya volume penjualan mobil, demikian RHB Sekuritas, terungkap dari pelaksanaan pameran otomotif terbesar, GIIAS 2023, yang berjalan dengan baik yang ditunjukkan dengan penjualan yang bagus. Penjualan terbanyak selama pameran itu diraih oleh Toyota, Daihatsu, Hyundai, Mitsubishi, Honda, dan Wuling.
Pertumbuhan penjualan mobil ASII tersebut mendorong RHB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.750. Saham ASII tetap menjadi pilihan teratas untuk emiten sektor otomotif.
RHB Sekuritas juga merekomendasikan beli saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dengan target harga Rp 3.510.
Prospek saham ASII
Indo Premier Sekuritas
Rekomendasi : hold
Target harga : Rp 6.800
RHB Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 7.750
Seluruh Divisi Bangkit
Selama semester I-2023, Astra International menorehkan kinerja cemerlang. Laba bersih per saham meningkat 20% menjadi Rp 428 (tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi). Selain itu, kontribusi lebih tinggi terjadi di hampir seluruh divisi bisnis. Penjualan mobil dan sepeda motor masing-masing meningkat sebesar 7% dan 56% (yoy).
“Kinerja Grup Astra terbukti lebih baik di hampir seluruh divisi bisnis. Meskipun situasi perekonomian global masih menimbulkan sejumlah tantangan, kami percaya kinerja Grup Astra untuk sisa tahun ini akan tetap baik,” kata Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro dalam penjelasannya, akhir Juli lalu.
Pendapatan bersih konsolidasian Grup mencapai Rp 162,4 triliun, meningkat 13% (yoy). Laba bersih Grup, tidak termasuk penyesuaian nilai wajar atas investasi, mencapai Rp 17,3 triliun, 20% lebih tinggi dibandingkan semester I-2022.
Djony menegaskan, pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan peningkatan kinerja dari hampir seluruh divisi bisnis Grup, terutama divisi otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan pertambangan. “Jika memperhitungkan penyesuaian nilai wajar, maka laba bersih Grup jika dibandingkan semester pertama tahun 2022 menurun 4% menjadi Rp 17,4 triliun, termasuk keuntungan nilai wajar sebesar Rp 3,7 triliun atas investasi di GoTo dan Hermina,” kata dia.
Bila dirinci per divisi, laba bersih divisi otomotif Grup meningkat 33% menjadi Rp 5,7 triliun, yang mencerminkan peningkatan volume penjualan. Penjualan mobil Astra meningkat 7% menjadi 278.000 unit, dengan pangsa pasar sedikit meningkat menjadi 55% dari total nasional sebanyak 506.000 unit. Selama semester I-2023, Astra meluncurkan 11 model baru dan enam model revamped, termasuk model kendaraan battery electric (BEV) dan model hybrid electric (HEV).
Penjualan Astra atas sepeda motor Honda meningkat 56% menjadi 2,6 juta unit. Adapun penjualan sepeda motor secara nasional tumbuh signifikan sebesar 43% menjadi 3,2 juta unit. Pangsa pasar Astra pada semester ini meningkat dari 73% menjadi 80%.
Bisnis komponen otomotif Grup dengan kepemilikan 80%, PT Astra Otoparts Tbk, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 85% menjadi Rp 802 miliar, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dari segmen pabrikan.
Di divisi jasa keuangan, laba bersih grup ini meningkat 32% menjadi Rp 3,8 triliun. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dan alat berat.
Nilai pembiayaan baru pada bisnis pembiayaan konsumen Grup meningkat sebesar 27% menjadi Rp 59,8 triliun. Kontribusi laba bersih dari perusahaan Grup yang fokus pada pembiayaan mobil meningkat 36% menjadi Rp 1,1 triliun.
Adapun kontribusi laba bersih dari Grup yang fokus pada pembiayaan sepeda motor, PT Federal International Finance, meningkat 30% menjadi Rp 2,0 triliun. Ini disebabkan jumlah pembiayaan yang lebih besar dan provisi kerugian pinjaman yang lebih rendah.
Total pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan Grup yang berfokus pada pembiayaan alat berat relatif stabil, sebesar Rp 5,7 triliun. Kontribusi laba bersih dari bisnis ini meningkat 112% menjadi Rp 91 miliar, terutama karena pertumbuhan jumlah pembiayaan.
PT Asuransi Astra Buana, perusahaan asuransi umum Grup, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp 688 miliar. Sedangkan perusahaan asuransi jiwa Grup, PT Asuransi Jiwa Astra (Astra Life) mencatatkan peningkatan premi bruto (gross written premium) sebesar 9% menjadi Rp3,1 triliun.
Untuk divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, terjadi peningkatan laba bersih 11% menjadi Rp 6,9 triliun, terutama kontribusi peningkatan kontribusi dari bisnis penjualan alat berat dan kontraktor penambangan.
Di lini agribisnis, perolehan laba bersih menurun sebesar 55% menjadi Rp 293 miliar, terutama disebabkan harga minyak kelapa sawit yang lebih rendah. PT Astra Agro Lestari Tbk, yang 79,7% sahamnya dimiliki Astra, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 55% menjadi Rp 368 miliar.
Sementara, divisi infrastruktur dan logistik mencatat peningkatan laba bersih sebesar 42% menjadi Rp 502 miliar, terutama disebabkan oleh kinerja bisnis jalan tol yang lebih baik. Grup mempunyai kepemilikan saham di 396 km ruas jalan tol yang telah beroperasi sepanjang jaringan tol Trans-Jawa dan tol lingkar luar Jakarta.
Di divisi teknologi informasi, PT Astra Graphia Tbk, yang 76,9% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatatkan peningkatan laba bersih sebesar 113% menjadi Rp 51 miliar, terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan dan margin usaha.
Penurunan laba dialami divisi properti, yakni susut sebesar 7% menjadi Rp 68 miliar, terutama karena laba bersih yang lebih rendah dari serah terima unit di Asya Residences dan Anandamaya Residences.
Baca Juga
Astra (ASII) Catat Penjualan Mobil 421.409 Unit, Ini Data Lengkap per Merek
Aksi Korporasi Baru
Di lain sisi, Astra juga menempuh berbagai aksi korporasi. Pada Juni 2023 misalnya, Grup melalui PT United Tractors Tbk, mengumumkan penandatanganan subscription agreement untuk mengakuisisi 19,99% saham di Nickel Industries Limited (“NIC”) dengan total nilai transaksi sebesar A$943 juta. Penyelesaian transaksi ini akan tunduk pada dipenuhinya beberapa persyaratan pendahuluan, termasuk persetujuan pemegang saham NIC berdasarkan Peraturan Pencatatan Australian Securities Exchange.
Pada bulan yang sama, PT Astra Land Indonesia mengakuisisi 96,92% saham di PT Jaya Mandarin Agung, pemilik Hotel Mandarin Oriental Jakarta dan pemilik lahan premium seluas satu hektare di kawasan hotel tersebut berada. Total nilai transaksi sebesar US$ 85 juta.
Pada Juli 2023, PT Astra Digital Internasional menambah investasi senilai US$ 100 juta di Halodoc, platform ekosistem kesehatan digital terkemuka di Indonesia. Dengan demikian, total investasi Grup di Halodoc menjadi US$ 135 juta dengan kepemilikan sebesar 21,04%.
Pada bulan yang sama, PT Astra Digital Mobil menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi 99,98% saham PT Tokobagus, perusahaan yang mengoperasikan platform iklan baris terkemuka di Indonesia dengan merek OLX. Sedangkan sisanya, 0,02% saham akan dibeli oleh PT Astra Digital Internasional.
PT Astra International Tbk merupakan salah satu perusahaan publik terbesar di Indonesia, yang terdiri atas 270 anak perusahaan, ventura bersama serta entitas asosiasi, didukung oleh lebih dari 190.000 karyawan. Model bisnis perusahaan yang terdiversifikasi menciptakan sinergi dan peluang di seluruh sektor industri termasuk Otomotif, Jasa Keuangan, Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi, Agribisnis, Infrastruktur dan Logistik, Teknologi Informasi, dan Properti.
Astra mempunyai kerangka sustainability baru yang di dalamnya terdapat Astra 2030 Sustainability Aspirations untuk memandu perjalanan transisi Grup Astra dalam menjadi perusahaan yang lebih sustainable pada tahun 2030 dan seterusnya. Astra berkeinginan untuk berkontribusi dalam memperkuat ketahanan perekonomian Indonesia yang mendukung masyarakat yang inklusif dan sejahtera.
Baca Juga
Usai UNTR, Giliran Astra International (ASII) Bagikan Dividen, Cek Jadwalnya
Untuk aspek sosial, Astra memiliki rekam jejak kontribusi publik dan sosial yang baik melalui empat pilar, yang terdiri atas kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan serta sembilan yayasan yang turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus mendukung masyarakat yang inklusif dan sejahtera.
Dilaksanakan pertama kali pada tahun 2010, program Astra Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards, telah mengapresiasi 565 pemuda Indonesia dari masing-masing bidang, terdiri atas 87 penerima tingkat nasional dan 487 penerima tingkat provinsi. Program SATU Indonesia Awards dikolaborasikan dengan berbagai kegiatan komunitas Astra melalui 170 Kampung Berseri Astra dan 1.060 Desa Sejahtera Astra di 34 provinsi di seluruh Indonesia. (Hari Gunarto)

