Produk Mobil Listrik Banjiri Indonesia, Gerak Astra International (ASII) Kian Berat
JAKARTA, investotrust.id – Peluang pertumbuhan pasar otomotif PT Astra International Tbk (ASII) kian berat di tengah gencarnya perang harga penjualan kendaraan listrik di Indonesia. Apalagi setelah pemerintah menerbitkan peraturan BKPM no 6 tahun 20223.
Analis Trimegah Sekuritas Willinoy Sitorus mengatakan, regulasi baru tersebut membebaskan impor mobil listrik CBU hingga nol persen diberikan kepada produsen yang berniat membangun pabrik di Indonesia. Aturan tersebut juga membebaskan tarif PPnBM untuk mobil listrik CKD dengan kandungan bahan baku local 20-40%.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik Bertambah, Tantangan Astra International (ASII) Bertambah
Insentif tersebut akan berlaku dalam kurun waktu dua tahun atau sepanjang 29 Desember 2023 hingga 31 Desember 2025.
Dampak kebijakan regulasi tersebut, terang Willinoy dan Richardson, terlihat dari penurunan harga jual mobil listrik CBU. Misalanya, harga jual mobil MG4 turun dari Rp 699 juta menjadi Rp 433 juta. Begitu juga dengan BYD mulai merilis produk mobil listrik terbarunya pekan lalu setelah mendapatkan insentif terkait rencana pembangunan pabrik di Indonesia.
“Regulasi ini bertujuan untuk menyambut investasi mobil listrik di Indonesi, seperti BYD sebagai produsen mobil listrik terbesar di dunia,” terangngnya.
Trimegah Sekuritas menyebutkan kini BYD menjadi pusat perhatian mobil listrik di Indonesia setelah memreka berhasil mencatatkan penjualan mengesankan di Thailand. Di negara tersebut, BYD berhasil menjual BYD Atto 3 dan BYD Dolphin mencapai 1,1 ribu dan 2,8 ribu pada November 2023.
Baca Juga
Valuasi Dinilai Murah, Saham ASII Bakal 'Rally' Menuju Rp 7.100
Sambutan pasar Indonesia diperkirakan kuat seperti yang terjadi di Thailand, asalkan harga jual mobil tersebut bersaing denagn mobil lainnya. Bahkan, BYD diprediksi bisa mengurangi dominasi Hyundai dan Wuling di pasar mobil listrik nasional.
Berbagai kondisi tersubut berpotensi membuat pasar otomotif Astra International menghadapi tantangan berat ke depan. Meski demikian Trimegah Sekuritas tetap mempertahankan rekomendsi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.000 pers aham. Target tersebut mempertimbangkan harga saham ASII saat ini sudah berada di bawah rata-rata dalam beberapa tahun terakhri.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan pergerakan harga saham ASII dalam beberapa pekan terakhir dan aksi jual asing terhadap saham ini. Target tersebut juga mempertimbangkan proyeksi kenaikan laba bersih perseroan dari estimasi 2023 Rp 32,89 triliun menjadi Rp 32,91 triliun pada 2024.
Estimasi Kinerja Keuangan ASII

