Simak, 4 Sekuritas Pasang Target Harga BBRI Rp 6.250-6.700
JAKARTA, investortrust.id – Seiring keberhasilan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencetak pertumbuhan laba bersih dan kredit yang signifikan, empat sekuritas ternama mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI. Pertumbuhan laba perseroan diprediksi berlanjut sampai akhir tahun.
Keempat perusahaan sekuritas tersebut adalah Mandiri Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas, Ciptadana Asia Sekuritas, dan Samuel Sekuritas Indonesia.
Hingga kuartal III-2023, BRI membukukan lonjakan laba sebesar 12,47% menjadi Rp 44,21 triliun. Pencapaian itu seiring pertumbuhan aset perseroan secara konsolidasian sebesar 9,93% (yoy) menjadi Rp 1.851,97 triliun.
Pertumbuhan laba didukung kenaikan pendapatan bunga BRI hingga September 2023 sebesar 13,91% (yoy) menjadi Rp 138,63 triliun. Penyaluran kredit yang tumbuh double digit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan dana murah yang tumbuh double digit, kualitas kredit yang terjaga, serta proporsi fee-based income yang porsinya terus meningkat, berdampak positif terhadap keseluruhan pendapatan BRI.
“Dari sisi fungsi intermediasi, hingga akhir September 2023 BRI berhasil mendorong kenaikan penyaluran kredit hingga 12,53% (yoy) menjadi Rp 1.250,72 triliun. Pencapaian ini masih selaras dengan proyeksi BRI, di mana hingga akhir tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan kredit berada di level 10-12% yoy,” ujar Direktur Utama BRI, Sunarso.
Analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dan Boby Kristanto Chandra mengatakan, realisasi laba bersih perseroan sebanyak Rp 44,21 triliun sampai September 2023 sudah sesuai dengan estimasi Mandiri Sekuritas. “Angka tersebut setara dengan 74% dari target Mandiri Sekuritas dan konsensus analis sepanjang tahun ini,” jelasnya dalam riset terbarunya.
Mandiri Sekuritas juga memberikan menilai positif terhadap keberhasilan perseroan membukukan pertumbuhan kredit sebanyak 12,53% hingga September 2023. Begitu juga dengan pertumbuhan simpanan sebanyak 13% dan LDR masih tergolong sehat mencapai 88,3% sampai September 2023.
Terkait penurunan net interest margin (NIM) dari 8,24% menjadi 8,08% hingga September 2023, Mandiri Sekuritas menilai hal itu dipengaruhi oleh peningkatan biaya dana dari 1,93% menjadi 2,83%. “Namun dengan upaya perseroan mempercepat pertumbuhan kredit ke sektor dengan imbal hasil tinggi, BRI diharapkan dapat menjaga NIM tetap kuat di tengah kenaikan biaya dana,” terangnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.700. Target tersebut juga telah mempertimbangkan revisi potensi kenaikan NPL tahun ini dari semula 2,6-2,8% menjadi 2,8-3%.
Penilaian positif terhadap saham BBRI juga datang dari analis Ciptadana Sekuritas, Erni Marsella Siahaan. Menurut dia, realisasi laba bersih perseroan hingga kuartal III-2023 sudah sesuai dengan estimasi Ciptadana Sekuritas dan konsensus analis. Bahkan, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provisioning operating profit/PPOP) sebanyak 11% hingga September atau telah melampaui estimasi.
Ciptadana Sekuritas juga memberikan pandangan positif keberhasilan perseroan mencatatkan pertumbuhan kredit mencapai 12% hingga September 2023. Angka tersebut berarti lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan kredit sektor perbankan. Hal ini mendorong Ciptadana Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.250.
Ciptadana memperkirakan laba bersih BBRI bakal bertumbuh ke level Rp 60,18 triliun tahun ini, dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 51,17 triliun. Sedangkan pendapatan bunga bersih diharapkan melesat dari Rp 124,59 triliun menjadi Rp 133,73 triliun.
Analisis positif lainnya datang dari Samuel Sekuritas Indonesia. Kedua analisnya, Brondon Boedhiman dan Prasetya Gunadi, menyebut bahwa realisasi laba bersih telah merefleksikan 74,7% dari target Samuel Sekuritas terhadap laba bersih BRI sepanjang tahun ini. Perseroan juga berhasil mempertahankan NIM tetap kuat menjadi 8,7% hingga September 2023, meskipun biaya dana terus meningkat.
“Dengan fokus BBRI yang mendorong pertumbuhan Kupedes dan pinjaman ultra mikro yang menawarkan imbal hasil tinggi, perseroan diharapkan mampu menjagai NIM tetap tinggi ke depan, meskipun terjadi kenaikan tingkat bunga perbankan,” terangnya.
Fakta tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.400. Target tersebut mempertimbangkan pertumbuhan solid perseroan tahun ini dan ekspektasi pertumbuhan lebih kuat tahun 2024.
Samuel Sekuritas memperkirakan laba bersih perseroan melesat menjadi Rp 58,76 triliun tahun 2023, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 51,17 triliun. Sedangkan PPOP diharapkan melesat dari Rp 91,69 triliun menjadi Rp 102,84 triliun.
Time to Buy
Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo mengatakan, sinergi BRI dengan Pegadaian dan PNM dalam bentuk holding ultra mikro telah mulai membuahkan hasil. Hal ini terlihat pada peforma keuangan perseroan hingga September 2023.
Sinergi tersebut berimbas terhadap peningkatan aset, sumber pendapatan, dan juga laba. “Kami meyakini bahwa perseroan masih memiliki ruang yang besar untuk penguatan sinergi ultra mikro ini. Sebab, kompleksitas bisnis segmen ini tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyederhanakan proses bisnis ketiga entitas bisnis tersebut,” terangnya dalam riset Kamis (26/10/2023).
Mirae Asset Sekuritas optimistis kinerja keuangan BBRI kuartal IV-2023 melanjutkan pertumbuhan, meskipun kondisi tetap menantang karena kenaikan tingkat suku bunga. “Kami meyakini BRI akan dapat mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor yang memiliki imbal hasil tinggi, sehingga dampak kenaikan suku bunga terhadap biaya dana bisa ditekan,” terangnya.
Hal ini mendorong Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga direvisi naik dari Rp 6.300 menjadi Rp 6.600. Target tersebut mempertimbangkan PBV sekitar 2,5 kali.
Terkait penurunan harga saham BBRI sebanyak 4,93% menjadi Rp 4.920 pada penutupan perdagangan saham pada Kamis (26/10/2023), Handiman mengatakan, faktor pemicunya berasal dari rendahnya pertumbuhan laba bersih perseroan pada kuartal III-2023 bersamaan dengan peningkatan biaya dana.
“Namun demikian penurunan harga saham tersebut menjadi peluang bagi investor untuk membeli saham BBRI dengan harga diskon, mengingat prospek pertumbuhan laba tetap kuat. Belum lagi potensi dividen yang perseroan tahun depan,” terang Handiman.
Prospek Saham BBRI
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 6.700
Mirae Asset Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 6.600
Ciptadana Sekuritas Asia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 6.250
Samuel Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 6.400
Value Lebih Baik
Keunggulan BRI, beberapa di antaranya adalah efisiensi yang tinggi di tengah tren kenaikan suku bunga, NPL terjaga rendah, LDR dalam level ideal, dan permodalan solid. Faktor tersebut membuat profitabilitas tinggi sehingga tingginya return on equity (ROE) pun tinggi.
Direktur Utama BRI Sunarso sebelumnya menyatakan, BRI mampu menciptakan value yang baik bagi para pemegang saham. Bahkan pencapaiannya berada di angka yang sejatinya sulit dilakukan oleh bank dengan tingkat permodalan dan aset yang besar seperti BRI.
“Tugas CEO adalah meng-create value. Dan value yang utama adalah economic value yang diamanahkan pemegang saham,” kata Sunarso.
Sunarso mengungkapkan pula besarnya tantangan bank yang fokus pada segmen UMKM, karena harus menerima konsekuensi tingginya tingkat biaya operasional. Biaya operasional tinggi biasanya akan menjelma jadi risiko kredit yang tinggi pula, dan bisa berujung pada rendahnya kualiltas kredit. Tapi hebatnya, BRI mampu menjaga tingkat kualitas kredit (NPL) tetap rendah.
Sunarso memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi BRI untuk mempertahankan tingkat laba yang tinggi. Ketika sejumlah bank sentral negara-negara maju menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, likuiditas di pasar pasti ketat sehingga memicu kenaikan biaya dana (cost of fund).
Sunarso mencontohkan tingkat cost of fund BRI pada tahun lalu yang berada di kisaran yang rendah, di level 1,8%-1,9%. Namun, pada tahun ini BRI mengalami kenaikan biaya dana di angka 2,7%. “Yang kita korbankan adalah margin. Kita harus tekan efisiensi di sana-sini,” tutur Sunarso.
Efisiensi yang dilakukan BRI terbukti berhasil. Salah satu indikatornya adalah rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik. Demikian juga dengan BOPO (rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional), yang menurun. Cost of credit BRI juga dipangkas. “Ini artinya efisiensi yang luar biasa,” tandas Sunarso.
Sunarso optimistis semester II-2023 akan lebih prospektif dan menjanjikan. Ada berbagai sentimen positif yang bisa memengaruhi kinerja BRI di semester II. Pertama, belanja masyarakat diperkirakan meningkat seiring dengan persiapan pemilu presiden dan pemilu legislatif, Februari 2024.
Kedua, kata Sunarso, pertumbuhan kredit lebih baik. Kredit pada semester semester II-2023 bakal mencapai dua digit.
Faktor positif lain yang mendukung kinerja BRI di semester II adalah biaya kredit yang menurun, efisiensi yang semakin baik, pangsa CASA yang meningkat, dan implementasi hybrid bank —BRIMo dan BRILink.
Itulah yang menjadi alasan manajemen BRI lebih optimistis sehingga laba bersih semester II diyakini akan lebih tinggi dibanding semester I. “Kalau tidak meleset laba bersih tahun ini Rp 58 triliun. Namun, kalau melesat, laba bersih BRI akan di atas target,’’ tandasnya.
Sunarso membeberkan, sumber pertumbuhan laba di semester II akan didorong oleh sejumlah faktor. Pertama, pertumbuhan kredit. Tahun ini BRI optimistis laju ekspansi kredit akan mencapai dua digit, yakni 10%-12%. Pertumbuhan kredit di semester II didukung oleh tingginya konsumsi domestik, konsumsi rumah tangga, dan daya beli masyarakat.
Menurut Sunarso, riset menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi masyarakat satu tahun jelang pemilu mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,25%, begitu pula pada tahun pemilunya.
Faktor pendorong kedua adalah pertumbuhan fee based income BRI yang sudah mencapai dua digit, saat ini bahkan berada di angka 11%. Kinerja pendapatan non-bunga ini didorong oleh makin meningkatnya transaksi perbankan BRI, seiring kesuksesan menjalankan transformasi digital.
Lebih lanjut Sunarso menyebut bahwa BRI menyiapkan pencadangan setara hampir tiga kali lipat NPL. Sebenarnya bisa saja BRI hanya mencadangkan dua kali NPL sehingga labanya bisa menggelembung. Namun, opsi memangkas pencadangan demi memperbesar laba tidak dilakukan oleh Sunarso.
Sebab sebagai bankir profesional, kehati-hatian mengelola risiko merupakan faktor penting. ‘’Bankir profesional selalu cari untung, tetapi bukan cari selamat. Jadi jangan cadangan diambil untuk memperbesar laba. Cadangan harus terus kita pupuk,’’ tegas Sunarso. (Hari Gunarto)

