United Tractors (UNTR): Valuasi Atraktif, Dividend Yield Tinggi
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dinilai masih menggiurkan dengan potensi penguatan lebih lanjut, meskipun kinerja keuangan tengah menghadapi tren penurunan. Valuasi saham UNTR masih atraktif, dengan tingkat dividend yield yang tinggi.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia Arief Budiman mengungkapkan, UNTR masih memiliki valuasi yang atraktif yang menjadikan sahamnya layak untuk dipertahankan dengan rekomendasi beli.
“Kami memang memangkas turun target kinerja keuangan perseroan tahun 2024, seiring dengan estimasi penurunan harga komoditas yang berimbas terhadap penurunan penjualan alat berat bersamaan dengan peningkatan beban keuangan,” terangnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Ciptadana Sekuritas merevisi turun target laba bersih tahun 2023 dari Rp 22,59 triliun menjadi Rp 20,26 triliun. Begitu juga dengan perkiraan laba bersih perseroan tahun depan direvisi turun dari Rp 21,53 triliun menjadi Rp 18,82 triliun.
Meski menghadapi tantangan tahun 2024 hingga prospek kinerja keuangan direvisi turun, Ciptadana Sekuritas menyebutkan, saham UNTR tetap menjadi pilihan didukung valuasi yang masih atraktif, dividend yield tinggi, dan kuatnya neraca keuangan dengan posisi kas bersih mencapai Rp 28 triliun hingga September 2023.
Perseroan juga didukung sejumlah ekspansi ke segmen bisnis non batu bara atau bisnis berkelanjutan. Hal ini terlihat dari keberhasilan perseroan mengakusisi kepemilikan saham PT Supreme Energy Rantau Dedap yang mengoperasikan pembangkit listrik geothermal.
Perseroan juga sebelumnya telah mengakuisisi kepemilikan saham Nickle Industries Limited senilai AU$ 942,7 juta. Nickle Industries merupakan perusahaan terintegrasi pertambangan dan pemrosesan nikel yang sebagian besar asetnya di Indonesia.
Berbagai faktor tersebut mendorong Ciptadana Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga direvisi turun dari Rp 37.000 menjadi Rp 30.250.
Rekomendasi beli saham UNTR juga diberikan tim riset RHB Sekuritas. Menurut riset tersebut, valuasi saham UNTR saat ini tergolong murah bersamaan dukungan katalis positif investasi ke segmen nikel dengan mengakuisisi Nickle Industries senilai Rp 9 triliun.
Hal tersebut mendorong RHB Sekuritas untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR dengan target harga Rp 31.000. “Meski kinerja keuangan diprediksi turun tahun 2024, segmen bisnis perseroan masih tetap menjanjikan ke depan, seperti kontraktor penambangan batu bara,” terangnya.
Hadapi Kontraksi
Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan mengatakan, United Tractors akan menghadapi tantangan berat tahun 2024 dipicu penurunan volume penjualan alat berat. Tren penurunan tersebut diindikasikan dari target manajemen terhadap penjualan alat berat yang mencapai 3.800-4.000 unit. Angka tersebut menunjukkan penurunan sekitar 25%.
“Penurunan target penjualan alat berat bersamaan dengan penurunan harga komiditas dan ketidakpastian selama masa pemilu berpotensi menekan tingkat pertumbuhan kinerja keuangan tahun depan,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Terkait segmen kontraktor penambangan batu bara, menurut Erindra, memang terbuka peluang peningkatan volume produksi dan penjualan batu bara hingga emas tahun 2024. Namun yang menjadi masalah adalah peluang penurunan pendapatan jasa penambangan batu bara akibat penurunan harga tersebut.
Berbagai parameter tersebut diharapkan membuat tingkat pertumbuhan kinerja keuangan perseroan tahun 2023 kemungkinan bakal mencapai yang tertinggi sepanjang masa dengan target laba bersih Rp 21,40 triliun, dibandingkan realisasi tahun 2022 senilai Rp 20,99 triliun.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun perkiraan laba bersih UNTR menjadi Rp 17,16 triliun tahun 2024 dan diperkirakan kembali melemah menjadi Rp 15,17 triliun pada 2025.
Ekspektasi tren penurunan laba bersih tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target saham UNTR dari Rp 34.300 menjadi Rp 27.900.
Pada perdagangan 15 November 2023, saham UNTR ditutup pada level Rp 23.400, atau masih terkoreksi 10,3% sepanjang tahun ini (ytd), dengan market cap sebesar Rp 86,54 triliun.
Prospek Saham UNTR
Ciptadana Sekuritas Asia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 30.250
RHB Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 31.000
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : Hold
Target harga : Rp 24.900
Agresif di EBT
Dalam laporan keuangan kuartal III-2023, masing-masing segmen usaha UNTR, yaitu: kontraktor penambangan, mesin konstruksi, pertambangan batu bara, pertambangan emas, industri konstruksi, dan energi secara berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 40%, 29%, 25%, 4%, 2%, dan kurang dari 1% terhadap total pendapatan bersih konsolidasian.
Segmen mesin konstruksi mencatat penurunan penjualan alat berat Komatsu sebesar 4% menjadi 4.365 unit dibandingkan tahun lalu sebesar 4.534 unit yang disebabkan oleh penurunan permintaan dari sektor konstruksi dan perkebunan. Berdasarkan riset pasar internal, Komatsu memimpin pangsa pasar alat berat sebesar 31%. Pendapatan perseroan dari penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat mengalami peningkatan sebesar 18% menjadi Rp8,9 triliun.
Penjualan Scania mengalami peningkatan dari dari 152 unit menjadi 605 unit, sedangkan penjualan produk UD Trucks turun dari 331 unit menjadi 249 unit. Penurunan penjualan UD Trucks disebabkan oleh adanya kendala pasokan produk dari prinsipal. Secara total, pendapatan bersih dari segmen usaha mesin konstruksi meningkat sebesar 5% menjadi Rp 28,7 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2022.
Segmen usaha kontraktor penambangan yang dioperasikan oleh PT Pamapersada Nusantara (PAMA), membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 39,1 triliun, naik 18% (yoy). PAMA mencatat peningkatan volume produksi batu bara sebesar 16% dari 83 juta ton menjadi 96 juta ton, dan volume pekerjaan pemindahan tanah (overburden removal) sebesar 23% dari 692 juta bcm menjadi 853 juta bcm, dengan rata-rata stripping ratio sebesar 8,9x, meningkat dari 8,3x.
Di segmen usaha pertambangan batu bara yang dijalankan PT Tuah Turangga Agung (TTA), total penjualan batu bara hingga September 2023 mencapai 8,5 juta ton, meningkat 10% yoy.
Untuk linis bisnis pertambangan emas (PT Agincourt Resources), total penjualan setara emas dari Martabe mencapai 147 ribu ons, turun 32% yoy. Pendapatan bersih segmen pertambangan emas turun 26% menjadi Rp 4,3 triliun.
Di segmen usaha konstruksi yang dijalankan PT Acset Indonusa Tbk (ACSET), pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 1,5 triliun. ACSET membukukan rugi bersih sebesar Rp 151 miliar.
Kemudian, sejalan dengan strategi pengembangan usaha di sektor energi yang ramah lingkungan, Perseroan telah menetapkan bisnis energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai salah satu strategi transisi perseroan. Bisnis energi dijalankan oleh PT Energia Prima Nusantara (EPN).
EPN saat ini dalam proses membangun satu Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), yaitu PLTM Besai Kemu di Lampung, Sumatra berkapasitas 7 MW. Selain itu, EPN menargetkan beberapa proyek pembangkit listrik tenaga minihidro di area Sumatra dengan total potensial kapasitas lebih dari 20 MW.
Pada Agustus 2022, Perseroan juga melakukan investasi pada PT Arkora Hydro Tbk (Arkora) dengan kepemilikan saham sebesar 31,49%. Arkora saat ini mengoperasikan dua PLTM, yaitu PLTM Cikopo 2 di Jawa Barat dengan kapasitas 7,4 MW dan PLTM Tomasa dengan kapasitas 10 MW di Sulawesi Tengah. Arkora juga sedang membangun dua PLTM lainnya, yaitu PLTM Koro Yaentu berkapasitas 10 MW dan PLTM Kukusan 2 berkapasitas 5,4 MW yang masing-masing diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2024 dan 2025. Setelah kedua PLTM ini beroperasi nanti, Arkora akan memiliki pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang sebesar 33 MW.
Perseroan berencana melakukan pengembangan proyek energi terbarukan lainnya seperti geothermal dan waste-to-energy. Proyek-proyek ini konsisten dengan strategi Perseroan untuk meningkatkan kompetensi di berbagai potensi energi terbarukan dalam rangka mencapai portofolio bisnis yang berkelanjutan.
Pada 7 Agustus 2023, EPN menandatangani perjanjian untuk mengambil bagian 40,476% saham baru yang dikeluarkan oleh PT Supreme Energy Sriwijaya (SES) dengan total nilai transaksi sebesar US$ 42,3 juta. SES memiliki 25,2% saham PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) yang merupakan pemegang izin pengusahaan panas bumi dengan kapasitas 2 x 49 MW di Sumatera Selatan.
Pada 21 September 2023, Perseroan melalui anak perusahaan PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) mengumumkan penyelesaian transaksi pengambilan 19,99% kepemilikan saham di Nickel Industries Limited (NIC) dengan total nilai transaksi sebesar AUD 942,7 juta. NIC, perusahaan yang tercatat pada Australian Securities Exchange, merupakan perusahaan di bidang pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi dengan aset utama yang berlokasi di Indonesia.
United Tractors merupakan anak usaha dari PT Astra International Tbk, salah satu grup usaha terbesar dan terkemuka di Indonesia dengan jaringan layanan menjangkau berbagai industri dan sektor. Sejak 19 September 1989, United Tractors telah menjadi perusahaan publik dengan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Hingga kini Astra memiliki 59,5% saham United Tractors, dengan sisa saham dimiliki oleh publik. (Hari Gunarto)

