Meski La Nina Mengancam Akhir 2024, United Tractors (UNTR) Tetap Pede Penjualan Batu Bara 12,9 Juta Ton
JAKARTA, investortrust.id – PT United Tractors Tbk (UNTR) membidik peningkatan volume penjualan batu bara menjadi 12,9 juta ton tahun ini, dibandingkan tahun lalu sebanyak 11,8 juta ton. Target ini telah memperhitungkan dampak La Nina pada akhir tahun.
Sekretaris Perusahaan United Tractors Sara Loebis menjelaskan, performa tambang batu bara perseroan ditunjukan dari volume batu bara yang terjual. Sampai akhir Juli 2024, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) tersebut telah menjual 8,5 juta ton batu bara, yang naik 17% (yoy).
“Menghadapi (La Nina), operasional grup UT (United Tractors) terkait siklus iklim adalah aktivitas di tambang, kontraktor penambangan yakni Pama Persada dan tambang batu bara. Dalam planning kami sudah perhitungkan musim hujan biasanya di kuartal akhir dan kuartal pertama tahun berikutnya,” papar Sara dalam Astra Media Day 2024, baru-baru ini.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Naikkan Target Penjualan Komatsu Jadi 4.500 Unit
Kendala licinnya jalur pengangkutan batu bara di tambang yang bisa mengurangi volume produksi selama musim hujan akan ditekan dengan memaksimalkan produksi pada musim kering.
Teknisi tambang, sebut Sara, sudah membuat all weather road atau jalur yang bisa dilewati dalam cuaca hujan maupun kering di tiap pertambangan perseroan.
“Secara rutin harus ada pelapisan, loader bulldozer yang menjaga kondisi jalan tetap aman. Kondisi licin atau lumpur diminimalisir, desain tambang tidak dibuat curam, cukup landai sehingga kondisi mesin dalam hujan masih terjaga keamanannya,” sambung dia.
Namun manajemen United Tractors turut menegaskan bahwa hujan tak selalu membawa dampak buruk di industri pertambangan. Pasalnya, pengangkutan batu bara UT dari kawasan Kalimantan Tengah harus diantar melalui sungai ke selatan, menggunakan kapal tongkang.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Update Pergerakan Harga Komoditas dan Target Produksi 2024
Bila terjadi kemarau berkepanjangan, air sungai cenderung berkurang dan terlalu cetek untuk dilalui kapal tongkang. “Kalau hujan, sungainya lancar untuk dilewati tongkang,” ujar Sara.
Sedangkan untuk komoditas emas, perseroan menargetkan penjualan 235.000 ons tahun ini atau naik sekitar 34% (yoy). Peningkatan ini dinilai cukup drastis karena perusahaan mendapat tambahan pasokan emas dari PT Sumbawa Jutaraya mulai semester II-2024.
“Terakhir dari tambang nikel kami saat ini masih menambah, dari metric ton limonit dan saprolite itu sampai akhir tahun ditargetkan 1,9 juta metric ton,” tegas Sara.
Pada semester I-2024, segmen usaha pertambangan batu bara UT oleh PT Tuah Turangga Agung (TTA) telah menjual batu bara 7,5 juta ton yang meningkat 17% (yoy). Namun pendapatan bersih segmen usaha pertambangan batu bara turun 23% (yoy) menjadi Rp 15,5 triliun karena turunnya rata-rata harga jual komoditas ini.
Baca Juga
Anak Usaha United Tractors (UNTR) Garap PLTS Atap ADM Berkapasitas 8,1 MWp
Sementara, segmen usaha pertambangan emas dan mineral lainnya mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 37% menjadi Rp 4,4 triliun. Sebagian besar disebabkan peningkatan harga jual rata-rata emas sebesar 17%, dari US$ 1.935 per ons menjadi US$ 2.260 per ons.
Dalam enam bulan pertama tahun ini, pertambangan emas UT yakni PT Agincourt Resources telah menjual 110 ribu ons emas. Sedangkan PT Stargate Pasific Resources (SPR) yang juga dimiliki UT mencatatkan penjualan bijih nikel sebesar 967.000 wet metric ton (wmt) pada semester I-2024.
Volume tersebut terdiri atas 421.000 wmt saprolit dan 546.000 wmt limonit. Sementara, Nickel Industries Limited (NIC) yang juga sudah diakuisisi UT, melaporkan penjualan 34.427 ton logam nikel pada kuartal terakhir 2023 dan 32.759 ton logam nikel pada kuartal I-2024.
Grafik Saham UNTR

