BRI: ROE Tinggi, Laba Menjulang, dan Efisien
JAKARTA, investortrust.id – Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk (BRI) sangat inovatif dalam meramu berbagai strategi sehingga mampu menorehkan performa yang gemilang dan menaikkan value bagi pemegang saham. Dengan tingkat permodalan yang solid, BRI mampu memberikan return on equity (ROE) yang tinggi.
Meski 84,5% kreditnya dikucurkan ke sektor UMKM yang biaya operasionalnya tinggi dengan risiko yang cukup besar, rasio kredit bermasalahnya (NPL) tetap terjaga. Dalam atmosfer suku bunga tinggi yang membuat likuiditas di pasar ketat sehingga memicu kenaikan biaya dana (cost of fund), BRI pun mampu menerapkan efisiensi luar biasa sehingga laba tetap tinggi. Selain itu, LDR bank dengan aset terbesar ini tetap dalam posisi ideal.
Demikian benang merah dari presentasi Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso pada acara Gathering BRI-Media di BRILink Stadion, Selasa (12/09/2023).
Dalam presentasi bertajuk “Kolaborasi Memberi Makna Indonesia”, Sunarso menjelaskan bahwa tren suku bunga tinggi yang digerakkan oleh bank-bank sentral dunia sebagai upaya untuk meredam ancaman inflasi tinggi mengakibatkan kekeringan likuiditas di pasar. Banyak lembaga keuangan, terutama perbankan yang akhirnya terimbas kondisi paceklik likuiditas tersebut, sehingga terkendala dalam ekspansi kredit.
Namun, hal itu tidak terjadi pada PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk, yang di tengah situasi sulit seperti saat ini, masih memiliki tingkat likuiditas yang memadai. Itulah yang membuat Bank Wong Cilik ini terus berekspansi. Sehatnya likuiditas BRI tecermin pada rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang terjaga di level 87,26%.
“Artinya kalau ditanya likuiditasmu aman gak? Saya jawab sangat aman. Yang penting rasio likuiditas kita (LDR) terjaga di level 87,26%,” tutur Sunarso, peraih penghargaan CEO Terbaik dari berbagai lembaga dalam dan luar negeri ini.
Hingga Juni 2023, sebesar 84,5% kredit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (konsolidasi) dikucurkan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM. Dengan 36,1 juta nasabah mikro —termasuk ultramikro—, lebih dari 55% pelaku usaha mikro di Indonesia dilayani oleh BRI bersama dua anak usahanya, yakni PT Pegadaian dan PT Penanaman Modal Madani (PNM). Tak pelak, BRI adalah sokoguru UMKM Indonesia yang saat ini sekitar 65,5 juta sekaligus mengukuhkan diri sebagai bank “wong cilik”.
Para pelaku usaha mikro BRI tersebut dilayani oleh 666.000 agen BRILink maupun lewat 15.000 layanan BRIMo yang menjangkau 27,8 juta pengguna. Strategi hybrid —layanan high-tech lewat piranti digital dan layanan high-touch lewat jasa para agen BRILink— merupakan kunci sukses BRI dalam mendorong UMKM BRI naik kelas.
“Nasabah lama UMKM yang kami layani naik kelas secara sistematis,” kata Sunarso.
Dalam paparannya, Sunarso menyampaikan bahwa pangsa kredit UMKM di BRI secara konsolidasi per Juni 2023 mencapai 84,5%, terdiri atas kredit mikro sebesar Rp 577,9 triliun dengan porsi 48,10%, disusul Usaha Kecil dan Menengah senilai Rp 259,4 triliun dengan porsi 21,60%, dan kredit konsumer senilai Rp 178,2 triliun dengan porsi 14,80%.
Adapun kredit korporasi yang telah dikucurkan pada paruh pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 186,6 triliun dengan porsi 15,50%. “Posisi kredit BRI secara konsolidasi per Juni 2023 sebesar Rp 1.202 triliun. Kredit mikro dan ultra mikro BRI, Pegadaian, dan PMN pada semester I 2023 naik 11,4% year on year, mencapai Rp 578 triliun. Sementara total debitur yang dilayani BRI, Pegadaian, dan PMN mencapai 36,1 juta,” ujar Sunarso.
Return Tertinggi
Besarnya porsi kredit pada pasar UMKM tak lantas membuat bank dengan kode saham BBRI ini tak mampu menciptakan value yang baik bagi para pemegang sahamnya. Emiten berkode bursa BBRI ini ternyata mampu memberikan economic value yang baik, sesuai yang diamanahkan oleh pemegang saham. Bahkan pencapaiannya berada di angka yang sejatinya sulit dilakukan oleh bank dengan tingkat permodalan dan aset yang besar seperti BRI.
“Tugas CEO adalah meng-create value. Dan value yang utama adalah economic value yang diamanahkan pemegang saham. Pemegang saham kan taruh modal untuk mendapakan return. Kita lihat bahwa rasio Return on Equity (RoE) BRI di level 20,01%,” kata Sunarso.
Menurut Sunarso, tingkat rasio return on equity yang bisa dicetak oleh BRI jarang bisa dilakukan oleh industri perbankan yang ada. Namun justru BRI mampu menjaga tingkat permodalan yang besar namun di sisi lain mampu memberikan tingkat return bagi investor maupun pemegang saham di level yang juga tinggi.
“Saya katakan jarang, dalam waktu yang bersamaan punya total CAR di 26,7%. Artinya permodalannya sangat kuat. Dan biasanya kompensasinya ROE-nya rendah, karena terlalu besar modalnya. Tapi kita ROE 20,01%,” kata Sunarso.
Bagi sejumlah pengamat, tingkat kecukupan modal atau CAR yang tinggi biasanya akan menuai pujian. Namun bagi BRI, besarnya kecukupan modal justru melahirkan tantangan, yakni bagaimana kecukupan modal yang besar ini bisa mendukung pertumbuhan return yang baik.
“Ngapain modal gede-gede kalau tak menghasilkan return yang memadai. BRI modalnya sangat kuat, artinya sangat sehat dari sisi permodalan, dan ini bisa di-leverage menjadi revenue dan return. Jadi, ini bank yang sangat jarang di dunia. Punya CAR yang kuat tapi sangat produktif karena mampu menghasilkan return di atas 20%,” kata Sunarso.
NPL Terjaga
Sunarso juga mengungkapkan besarnya tantangan berada segmen UMKM, karena biasanya harus menerima konsekuensi tingginya tingkat biaya operasional. Biaya operasional tinggi biasanya akan menjelma jadi tingkat credit risk yang tinggi pula, dan bisa berujung pada rendahnya kualiltas kredit. Kualitas kredit bakal berdampak pada tingginya rasio kredit bermasalah atau non performing loans (NPL).
Lagi-lagi, hal ini tidak terjadi pada BRI yang mampu menjaga tingkat kualitas kredit (NPL) di bawah 3%, yakni di level 2,95% secara konsolidasi. “Bisnis kita di segmen mikro, lalu tingkat NPL nya bisa di bawah 3%, seperti BRI yang sebesar 2,95%. Ini berarti kualitas aset kita bisa terjaga dengan baik,” tuturnya.
Dengan kualitas aset yang terkelola dengan baik serta balance sheet yang sehat, tidak mengherankan jika BRI pun mampu menghasilkan profitabilitas yang baik. “Selama selama enam bulan pertama 2023, net profit BRI mencapai Rp 29,6 triliun. Atau tumbuh sebesar 18,8%,” ujarnya.
Selain itu, emiten ini mampu meningkatkan asetnya sebesar 9,2% (yoy) pada paruh pertama 2023 menjadi Rp 1.805 triliun.
Mayoritas aset ini ditempatkan dalam bentuk kredit atau pembiayaan, dengan total kredit sebesar Rp 1.202 triliun, atau bertumbuh 8,8%. “Lebih tinggi dari pertumbuhan market. Karena industri perbankan Tanah Air hanya tumbuh 7,6%. BRI outperformed di market,” tandasnya.
Laba Tinggi dan Efisien
Dengan laba paruh pertama 2023 menjulang hingga Rp 29,6 triliun, kata Sunarso, manajemen BRI masih mendapat pertanyaan dari pemegang saham, mengenai kemampuannya untuk menjaga tingkat profitabilitas yang sama seperti tahun 2022.
Sebagai informasi, pada tahun 2022, BRI mampu membukukan laba bersih sebesar 51,4 triliun. “Itu adalah pertama kali dalam sejarah perbankan Indonesia, ada bank yang labanya di atas Rp 50 triliun,” kata Sunarso.
“Pertanyaan berikutnya, apakah kamu bisa mempertahakan pertumbuhan laba yang besar. Saya jawab saya tetap optimis kita tetap bisa menghasilkan laba yang baik dan tetap tumbuh. Tapi jangan minta pertumbuhannya seperti tahun lalu. Dalam situasi seperti sekarang kita bisa membuat laba kita bertumbuh 18,8 % saya kira laba kita masih sangat atraktif,” ujarnya.
Semester II Lebih Menjanjikan
Sunarso memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi BRI untuk mempertahankan tingkat laba yang tinggi. Ketika sejumlah bank sentral negara-negara maju menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, likuiditas di pasar pasti ketat sehingga memicu kenaikan biaya dana (cost of fund).
Sunarso mencontohkan tingkat cost of fund BRI pada tahun lalu yang berada di kisaran yang rendah, di level 1,8%-1,9%. Namun, pada tahun ini BRI mengalami kenaikan biaya dana di angka 2,7%. Tapi besarnya biaya dana tak lantas BRI berhenti bertumbuh, dan harus mengorbankan komponen lain agar tetap bisa menikmati pertumbuhan.
“Yang kita korbankan adalah margin. Kita harus tekan efisiensi di sana-sini,” tutur Sunarso.
Efisiensi yang dilakukan BRI terbukti berhasil. Salah satu indikatornya adalah rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik 0,2% jadi 41,79%. Pada periode sebelumnya berada di level 41,94%.
Demikian juga dengan BOPO (rasio biara operasional terhadap pendapatan operasional), yang pada periode tahun lalu berada di angka 69,6%, pada periode semester I-2023 turun menjadi 66,2%. Cost of credit BRI pada Juni pun dipangkas menjadi 2,24%.
“Ini artinya efisiensi yang luar biasa,” tandas Sunarso.
Lantas, apakah semseter II-2023 ini akan lebih prospektif dan menjanjikan. Simak berbagai sentimen positif yang bisa memengaruhi kinerja BRI di paruh kedua tahun ini. Yang jelas, pertama, belanja masyarakat diperkirakan meningkat seiring dengan persiapan pemilu presiden dan pemilu legislatif, Februari 2024.
Kedua, kata Sunarso, pertumbuhan kredit lebih baik. Jika kredit pada semester I bertumbuh 8,8%, pada semester II 2023, laju ekspansi kredit akan mencapai dua digit.
Faktor positif lain yang mendukung kinerja BRI di semester II adalah biaya kredit yang menurun, efisiensi yang semakin baik, pangsa CASA yang meningkat, dan implementasi hybrid bank —BRIMo dan BRILink.
Itulah yang menjadi alasan manajemen BRI lebih optimistis sehingga laba bersih semester II diyakini akan lebih tinggi dibanding semester I. “Kalau tidak meleset laba bersih tahun ini Rp 58 triliun. Namun, kalau melesat, laba bersih BRI akan di atas target,’’ tandasnya.
Mengacu pada data historis kinerja tahun 2022, perolehan laba bersih BRI di semester II tercatat lebih tinggi 1,5 triliun dibanding semester I. Pada semester I-2022 laba bersih konsolidasi BRI tercatat Rp 24,87 triliun, sedangkan di akhir semester II-2022 (full year) tercatat Rp 51,4 triliun.
Sunarso membeberkan, sumber pertumbuhan laba di semester II akan didorong oleh sejumlah faktor. Pertama, pertumbuhan kredit. Tahun ini BRI optimistis laju ekspansi kredit akan mencapai dua digit, yakni 10%-12%. Pertumbuhan kredit di semester II didukung oleh tingginya konsumsi domestik, konsumsi rumah tangga, dan daya beli masyarakat.
Menurut Sunarso, riset menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi masyarakat satu tahun jelang pemilu mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,25%, begitu pula pada tahun pemilunya. ‘’Itu akan mendorong pertumbuhan kredit dan BRI akan mengikuti rule itu, sehingga saya optimistis, BRI bisa menumbuhkan kredit sesuai guidance kita antara 10% hingga 12%,’’ ujarnya.
Faktor pendorong kedua adalah pertumbuhan fee based income BRI yang sudah mencapai dua digit, saat ini bahkan berada di angka 11%. Kinerja pendapatan non-bunga ini didorong oleh makin meningkatnya transaksi perbankan BRI, seiring kesuksesan menjalankan transformasi digital, baik pada level wholesale lewat aplikasi QLALA maupun segmen ritel lewat BRImo.
Sementara faktor ketiga, didorong oleh kemampuan BRI memperbaiki efisiensi, terlihat dari rasio BOPO yang naik menjadi 69,55% semester I-2003, dari sebelumnya ke 66,62%. Begitu pula dengan cost of credit yang turun dari 44,30% ke 41,79%. Adapun proporsi dana murah atau CASA tetap terjaga di level 65,49%.
Bukan Bankir Ugal-ugalan
Pada bagian lain, Sunarso menyebut bahwa laba bersih BRI tahun ini bisa saja jauh lebih tinggi dari target Rp 58 triliun. Namun demi menjaga industri perbankan tetap sehat, Sunarso rela meningkatkan pencadangan bank, dengan konsekuensi mengorbankan tingkat laba yang seharusnya bisa dibukukan.
Saat ini BRI menyiapkan pencadangan hingga Rp 90 triliun, setara dengan tiga kali lipat NPL sebesar Rp 30 triliun. “Sebenarnya bisa saja kami hanya mencadangkan Rp 60 triliun atau dua kali NPL, dan membuat laba kami lebih tinggi. Tapi saya bukan bankir ugal-ugalan, kami profesional demi menjaga industri ini,” ucapnya.
Bila BRI hanya menyediakan pencadangan Rp 60 triliun, maka laba bersih BRI pada akhir tahun ini bisa tembus Rp 88 triliun. ‘’Hitungnya mudah, tinggal ditambah saja, target laba Rp 58 triliun dengan pencadangan Rp 30 triliun yang dikurangi,’’ paparnya.
Pilihan memangkas pencadangan demi memperbesar laba tidak dilakukan. Sebab sebagai bankir profesional, kehati-hatian mengelola risiko merupakan faktor penting. ‘’Bankir profesional selalu cari untung, tetapi bukan cari selamat. Jadi jangan cadangan diambil untuk laba. Tapi cadangan harus terus kita pupuk,’’ pungkas Sunarso. (Mashud Toarik/Fajar Widhianto)

