8 Emiten Bersaing Merebut Predikat “Best Investortrust Companies 2023”
JAKARTA, investortrust.id – Perekonomian global sedang tidak baik-baik saja. Ketidakpastian arah ekonomi telah menghantui ekonomi dunia lebih setahun terakhir, di mulai sejak berkobarnya perang Rusia – Ukraina pada Februari 2022. Ketika itu pula dunia dilanda kelangkaan energi dan pangan, berdampak pada melambungnya inflasi.
Penaikan suku bunga menjadi senjata bank sentral dunia untuk meredam inflasi. Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) tercacat sudah 11 kali melakukan penaikan suku bunga sejak Maret 2022.
Namun, kebijakan hawkish ini belum kunjung manarik turun inflasi ke bawah target The Fed, sebesar 2% per tahun. Saat ini Federal Funds Rate (FFR) bertengger di level 5,25% - 5,50% dan berpotensi terus dikerek naik hingga tahun 2024.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meramal, The Fed akan bertahan dengan kebijakan hawkish karena masih tingginya inflasi, akibat ketatnya pasar tenaga kerja serta meningkatnya harga minyak dunia. Kondisi ini menurutnya memicu makin meningkatnya ketidakpastian global, sehingga asumsi pertumbuhan ekonomi global diperkirakan tetap rendah sebesar 2,7% tahun ini.
‘’Inflasi dan suku bunga tinggi membuat aliran modal keluar dan pelemahan nilai tukar di negara berkembang semakin tinggi, sehingga memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global tersebut, termasuk di Indonesia,’’ urai Perry saat konfrensi pers usai Rapat Dewan Gubernur BI, belum lama ini.
Saat ini, Bank Indonesia sendiri masih memasang BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%. Sejumlah ekonom memperkirakan, saat The Fed menaikan lagi suku bunga FFR, maka BI akan mengekor melakukan penaikan BI7DRR, demi menjaga spread dan meredam capital outflow.
Bagi korporasi ketidakpastian global terkait suku bunga, inflasi dan nilai tukar ini merupakan tantangan paling berat yang sedang dihadapi. Terlebih kebijakan proteksi perdagangan tengah menjadi tren banyak negara dunia, demi melindungi produk dalam negeri mereka dari serbuan produk impor.
Kondisi ini tentu menghambat penetrasi pasar korporasi, terutama mereka yang punya ketergantungan pada pasar ekspor. Begitu pula bagi perusahaan-perusahaan yang mengandalkan produksinya dari bahan baku impor. Apalagi di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi beberapa bulan terakhir.
Sedangkan suku bunga tinggi kita tahu implikasinya pada terhambatnya ekspansi perusahaan, sebab biaya dana tentu meningkat. Begitu pula dengan penerbitan instrumen pendanaan lainnya, seperti obligasi, dianggap tidak ramah lantaran kupon yang harus dipasang amat mahal di tengah tingginya risiko global.
Karena itu, tidak banyak perusahaan yang bisa meraih pertumbuhan mengesenkan di masa ini. Hanya perusahaan-perusahaan yang punya strategi kuat dan agile yang mampu melihat dan mengeksekusi peluang bisnis di tengah kondisi ketidakpastian ini, sehingga berujung pada pertumbuhan kinerja keuangan yang baik.
Untuk itu, sangat wajar bila korporasi yang mampu menorehkan pertumbuhan kinerja terbaik diberikan apresiasi. Selain bertujuan memotivasi perusahaan untuk terus memompa kinerjanya dalam kondisi berat sekalipun, apresiasi yang diberikan kepada perusahaan terbaik, diharapkan dapat menjadi menjadi katalis bagi perusahaan-perusahaan lain yang belum optimal meningkatkan kinerjanya.
Sebagai media yang sangat concern terhadap pertumbuhan kinerja perusahaan, terutama emiten atau perusahaan publik yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), Investortrust.id terpanggil untuk menggelar ‘’Best Investortrust Companies 2023.’’
Melalui ajang ini, Investortrust menetapkan 5 emiten berkinerja terbaik dan memberikan predikat ‘’Best Investortrust Companies 2023.’’ Selain itu terpilih 11 emiten peraih penghargaan sektor karena memiliki performa kinerja terbaik di sektor masing-masing.
Penghargaan khusus juga diberikan kepada emiten yang sukses menggelar Initial Public Offering (IPO) dalam periode setahun terakhir. Penilaian The Best IPO dilakukan dengan mengukur return, nilai emisi dan kinerja fundamental emiten pendatang baru tersebut.
Proses Penjurian
Kondisi ekonomi global yang sedang tidak baik-baik saja, membuat penilaian emiten terbaik tidak mudah dilakukan. Butuh sekitar satu bulan bagi Tim Juri melakukan penilaian. Diskusi panjang dan alot terjadi saat rapat-rapat penjurian. Namun dengan latar belakang dan kepakaran tim juri, membuat semua persoalan penilaian dapat diselesaikan dengan baik.
Tim juri ‘’Best Investortrust Companies 2023’’ merupakan para profesional, akademisi dan praktisi pasar modal senior dan sudah dikenal kompetensi dan reputasinya di industri. Mereka terdiri dari: Prof. Roy Sembel, PhD (Guru Besar IPMI International Business School) sebagai ketua, kemudian Pemimpin Redaksi Investortrust.id Primus Dorimulu sebagai sekretaris juri.
Sedangkan anggota juri yaitu: Prof. Sidharta Utama, PhD (Guru Besar FEB Universitas Indonesia), Amir Abadi Jusuf (Chairman RSM Indonesia), Budi Hikmat (Chief Economist Bahana TCW Investment Management, Lily Widjaja (Direktur Eksekutif APEI) dan Suheri (Investor Individu).
Para juri memulai proses penjuarian dengan menyaring 825 emiten yang sahamnya tercatat di BEI per akhir 2022 dengan menggunakan 8 persyaratan seleksi awal. Emiten yang tidak memenuhi 8 syarat langsung didrop atau tidak diikutkan dalam pemeringkatan.
8 kriteria awal tersebut yaitu: pertama tentang kepatuhan emiten dalam mempublikasikan laporan keuangan tahun buku 2022. Publikasi laporan keuangan tahunan selambatnya tanggal 31 Mei 2022. Kedua, emiten yang dilibatkan dalam pemeringkatan harus sudah tercatat di BEI sebelum tahun 2022. Ketiga, tidak mendapat opini disclaimer dan adverse dari akuntan publik. Keempat, tidak membukukan rugi bersih dan rugi operasional tahun 2021. Kelima, memiliki ekuitas tidak kurang dari Rp 100 miliar.
Persyaratan keenam, saham emiten bersangkutan tergolong aktif (selama periode 1 September 2022 – 31 Agustus 2023 tidak boleh tidak ditransaksikan selama 10 pekan atau lebih). Ketujuh, laporan keuangan emiten yang diperingkat harus bertahun buku Desember, dan kedelapan, memiliki ekuitas positif selama dua tahun terakhir.
Setelah melalui tahapan seleksi awal terhadap 825 emiten, ternyata hanya 419 emiten atau 50,79% yang lolos seleksi awal untuk diperingkat, sementara dan 406 emiten atau 49,21% lainnya tidak lolos seleksi.
Emiten yang tidak lolos tersebut emiten terganjal seleksi awal karena terlambat menyampaikan laporan keuangan sebanyak 143 emiten. Selain itu ada 116 emiten yang terganjal karena ekuitas kurang dari Rp 100 miliar, dan 217 emiten tidak lolos karena menderita rugi usaha dan rugi bersih selama tahun 2022. Lalu ada 44 emiten yang akuitasnya negatif 2 tahun terakhir, 3 emiten mendapat opini disclaimer, sisanya tidak memenuhi kriteria seleksi awal lainnya.
Selanjutnya, 419 emiten yang lolos seleksi awal diseleksi dengan menggunakan 8 delapan alat akur kinerja fundamental dan teknikal. Terpilih 100 emiten masuk pada tahap seleksi kedua untuk kemudian dipilih 8 emiten sebagai nomintor pemenang ‘’Best Investortrust Companies 2023’’ maupun 11 juara sektor.
Roy Sembel mengatakan, emiten yang masuk dalam list nominasi pemenang berhasil menerapkan strategi kekinian dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Strategi dimaksud adalah menciptakan ekosistem bisnis sehingga terbentuk kolaborasi yang saling menguntungkan. Kolaborasi dalam sebuah ekosistem bisnis bukan hanya dilakukan dengan perusahaan establish tetapi juga dengan company-company baru yang menawarkan inovasi kekinian. ‘’Dengan begitu perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berkembang dan makin kompleks, sehingga dengan sendirinya perusahaan berhasil sustain,’’ papar Roy Sembel.
Nominasi Emiten Terbaik
Delapan nominasi terpilih ternyata merupakan perusahaan-perusahaan handal di industrinya, terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Mitra Adipekasa Tbk (MAPI), PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA).
Selanjutnya tahapan terakhir penjuarian dilakukan wawancara 8 nominator emiten terbaik dengan juri, sampai ditetapkannya 5 emiten peraih prediksi Best Investortrust Companies 2023. Sebagai catatan, penetapan pemenang dilakukan dengan memadukan hasil penilaian atas kinerja fundamental dan teknikal dengan hasil wawancara Dewan Juri dengan manajemen emiten.
Menanggapi beragamnya sektor bisnis yang masuk dalam daftar nominasi emiten terbaik tersebut, Roy Sembel melihatnya sebagai kondisi wajar, mengingat tantangan kekinian yang dihadapi emiten pada masing-masing sektor bisnis berbeda.
Kendati begitu menurut Roy, emiten-emiten tersebut berhasil agile dan melalui tantangan utama yang sama dengan baik, mulai dari tantangan pandemi Covid-19, dampak perang Rusia – Ukraina, kasus Silicon Valley Bank hingga pelambatan ekonomi global. ‘’Keberhasilan mereka menghadapi tantangan bukan hanya tercermin dari kinerja keuangan yang tetap tumbuh di masa sulit tetapi juga secara operasioal emiten yang masuk dalam nominasi pemenang Best Investortrust Companies 2023 tampak agile atau bergerak lincah menagkap peluang yang ada,’’ pungkasnya.

