Lima Alasan yang Bikin Prospek Saham Indofood (INDF) Kian Gurih
JAKARTA, investortrust.id – Setidaknya ada lima alasan yang membuat prospek saham PT Indofood Suskes Makmur Tbk (INDF) kian gurih. Performa Indofood (INDF) akan bertumbuh pesat didukung proyeksi pesatnya penjualan mie instan, penurunan biaya bahan baku, dan tren penguatan harga minyak sawit (CPO) tahun ini.
Faktor lain tentang ekspektasi kuatnya pertumbuhan kinerja keuangan Indofood juga didukung mulai menggeliatnya kampanye politik yang akan berimbas langsung terhadap peningkatan penjualan produk. Hal itu ditopang lagi oleh daya beli maysarakat yang kian meningkat.
Analis Samuel Sekuritas Ashalia Fitri dan Pebe Peresia mengatakan, penurunan harga beberapa komoditas, terutama gandum, akan menjadi katalis positif terhadap segmen utama bisnis perseroan, yaitu produksi mie instan melalui anak usahannya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Sebagaimana diketahui, mayoritas pendapatan perseroan selama ini dikontribusikan penjualan mie instan. Untuk tahun ini, penjualan mie instan diperkirakan mengontribusi 61,9% terhadap total pendapatan INDF. Berdasarkan data, harga gandum telah turun 27,1% menjadi US$ 565,5 per bushel terhitung sejak awal tahun hingga saat ini.
“Dengan penurunan harga bahan baku tersebut, kami memperkirakan margin EBIT margin ICBP dapat mencapai 21,7% tahun 2023, dibandingkan 20,6% pada 2022. Peningkatan tersebut tentu berdampak ke INDF,” terangnya dalam riset yang diterbitkan pekan lalu.
Selain penurunan harga bahan baku, Ashalia dan Pebe mengungkapkan, penjualan segmen utama Indofood (INDF) akan didukung kampanye pemilu. Dampak pemilu sangat besar terhadap pertumbuhan penjualan seperti yang dibuktikan tahun 2019 dengan kenaikan penjualan sebanyak 11,8%, dibandingkan rata-rata pertumbuhan tiga tahun sebelumnya yang hanya 5,9%.
Samuel Sekuritas juga menyebut bahwa perseroan akan mendapatkan dukungan positif dari segmen agribisnis pada paruh kedua tahun ini dengan perkiraan pertumbuhan lebih pesat, dibandingkan paruh pertama.
“Cuaca El-nino yang sudah berlangsung sejak pertengahan 2023 dan diperkirakan bertahan hingga awal tahun 2024 bisa memicu penurunan suplai CPO, sehingga bisa berimbas terhadap kenaikan harga komoditas tersebut,” jelasnya.
Berdasarkan data, harga CPO telah naik sebanyak 12,6% menjadi MYR 3.666 per ton pada Oktober 2023, dibandingkan harga terendahnya pada Juni 2023 sekitar MYR 3.255 per ton. Bahkan diprediksi rata-rata harga jual CPO dapat mencapai MYR 4.000 per ton tahun ini.
Tetapi, bisnis penjualan tepung terigu melalui anak usahanya Bogasari Flour Mills diprediksi kembali melemah pada paruh kedua tahun ini. Menurut Samuel Sekuritas, hal ini dipengaruhi oleh peluang penurunan rata-rata harga jual setelah harga gandum sebagai bahan baku utamanya anjlok.
Bogasari telah menurunkan rata-rata harga jual pada semester I-2023 sebesar 6-8% dan penurunan harga kembali direalisasikan sekitar 2% pada paruh kedua 2023.
Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas merevisi naik target harga saham INDF dari RP 7.150 menjadi Rp 8.000 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target harga tersebut juga merefleksikan bahwa valuasi saham INDF sudah sangat menarik, mencerminkan perkiraan PE ratio (PER) tahun 2024 sekitar 5,8 kali. Perkiraan PE tersebut jauh di bawah rata-rata proyeksi PE sektornya mencapai 17,4 kali tahun 2024.
“PE Indofood merupakan yang paling rendah dibandingkan emiten sektor konsumer ditambah potensi pertumbuhan kinerja keuangan yang lebih baik. Karena itu, kami memilih merevisi naik target harga sahamnya menjadi Rp 8.000,” tulisnya.
Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa saham INDF tertolong sangat murah dibandingkan sektornya (peer). PE perseroan jauh di bawah perkiraan PE sektornya, seperti ICBP mencapai 14,3 kali pada 2023 dan sebanyak 12,3 kali pada 2024. Begitu juga dengan KLBF sekitar 24,5 kali pada 2023 dan sekitar 21,4 kali pada 2024. Termasuk SIDO dengan perkiraan PE tahun 2023 sekitar 16,4 kali dan tahun 2024 mencapai 15,2 kali.
Target harga tersebut telah memperkirakan kenaikan laba inti INDF menjadi Rp 9,47 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 9,05 tirliun. Pendapatan Indofood juga diprediksi melesat menjadi Rp 114,79 triliun pada 2023, dibandingkan perolehan tahun lalu sebesar Rp 110,83 triliun.
Penjualan Mie Instan
Pandangan positif terhadap saham Indofood Sukses Makmur (INDF) juga diberikan analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Natalia Sutanto. Menurut dia, Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) akan menjadi mesin pertumbuhan kinerja keuangan perseroan tahun ini. Hal ini menjadikan saham INDF dinilai sebagai yang terbaik di antara sektornya sepanjang tahun 2023.
Natalia menjelaskan, ekspektasi pertumbuhan pesat penjualan mie instan melalui Indofood CBP akan membuat lompatan kinerja induk usahanya tersebut. Apalagi Indofood CBP merupakan penyumbang terbesar pendapatan dan laba bersih, sehingga saat prospek ICBP cerah otomatis prospek INDF pun ikut terdongkrak.
“Kami memperkirakan ICBP akan menikmati peningkatan margin keuntungan didukung peningkatan daya beli masyarakat. Hal ini tentu akan berimbas positif terhadap Indofood,” terangnya.
Berdasarkan perkiraan BRIDS, pertumbuhan penjualan Indofood bisa mencapai 4,7% sepanjang tahun 2023. Angka tersebut dihitung berdasarkan proyeksi peningkatan penjualan Indofood CBP mencapai 7% tahun yang sama. Pertumbuhan juga diharapkan datang dari kenaikan pendapatan dari divisi disitribusi.
Sedangkan untuk sektor agribisnis, BRIDS menyebut bahwa lini bisnis tersebut diperkirakan belum bisa memberikan sumbangan besar bagi perseroan tahun ini. Harga CPO yang belum pulih ditambah dengan ekspektasi volume produksi yang lebih rendah membuat kontribusi segmen ini kecil. Sedangkan segmen tepung terigo melalui Bogasari diperkirakan mulai berkontribusi positif terhadap pertumbuhan pendapatan pada paruh kedua tahun ini.
Dengan perkiraan penjualan dan margin keuntungan mie instan melesat, BRI Danareksa Sekuritas meperkirakan laba bersih perseroan melonjak menjadi Rp 9,68 tirliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun 2022 senilai Rp 6,35 triliun.
Begitu juga dengan pendapatan Indofood diharapkan bertambah menjadi Rp 116,01 triliun pada 2023, dibandingkan perolehan tahun 2022 senilai Rp 110,83 triliun.
Atas dasar berbagai faktor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menempatkan saham INDF sebagai pilihan teratas untuk saham sektor konsumer. Target tersebut mempertimbangkan lompatan kinerja keuangan anak usahanya ICBP, sehingga saham INDF direkomendasikan beli dengan target harga Rp 8.000.
Prospek Saham INDF
Samuel Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 8.000
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 8.000
Seimbangkan Profitabilitas dan Pangsa Pasar
Sementara itu, pada semester I-2023, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) meraih kenaikan penjualan neto konsolidasi sebesar 6% menjadi Rp 56,09 triliun, dibandingkan Rp 52,79 triliun di periode yang sama 2022.
Laba usaha sedikit meningkat menjadi Rp 8,86 triliun dari Rp 8,83 triliun (year on year/yoy), dan marjin laba usaha masih tetap sehat di level 15,8%. Core profit, yang mencerminkan kinerja operasional INDF, naik 17% menjadi Rp 4,66 triliun, dari posisi Rp 4,00 triliun pada semester pertama tahun lalu.
Dalam penjelasannya akhir Juli lalu, Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, Anthoni Salim, mengatakan, Indofood telah menorehkan kinerja pertumbuhan yang positif di semester pertama tahun 2023, di tengah kondisi ekonomi global yang terus beradaptasi.
“Kami akan terus memantau kondisi global dengan waspada dan melanjutkan menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan profitabilitas serta mempertahankan neraca keuangan yang sehat,” kata Anthoni.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma pada 1990, dan memiliki berbagai kegiatan usaha yang telah beroperasi sejak awal tahun 1980-an. Perseroan menyandang nama PT Indofood Sukses Makmur Tbk saat melangsungkan penawaran umum perdana (IPO) saham pada 17 Mei 1994 di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI).
INDF dimiliki oleh First Pacific Company Limited dengan porsi 50,07% dan publik 49,93%. Sedangkan Anthoni Salim selaku CEO hanya memegang 0,02%.
Tahun 2007, Indofood mencatatkan saham salah satu afiliasinya di lini agribisnis, yakni Indofood Agri Resources Ltd di Singapore Stock Exchange (SGX). Tahun yang sama, grup agribisnis INDF memperluas perkebunannya dengan mengakuisisi PT PP London Sumatra Indonesia Tbk.
Pada 2010, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia yang disusul PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), anak perusahaan pada grup agribisnis pada 2011.
Grup CBP memperluas kegiatan usaha mi instan dengan mengakuisisi Pinehill Company Limited, produsen mi instan yang beroperasi di Afrika, Timur Tengah dan Eropa Tenggara pada 2020.
Indofood menyebut diri sebagai perusahaan ‘Total Food Solutions’ dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di pasar. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memperoleh manfaat dari skala ekonomis serta ketangguhan model bisnisnya.
Corporate Secretary INDF, Victor Suhendra menjelaskan, ada empat kelompok usaha strategis atau grup yang menjadi pilar Indofood. Pertama, Produk Konsumen Bermerek (CBP), yang memproduksi beragam produk konsumen bermerek antara lain mi instan, produk dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus, dan minuman.
Kedua, Grup Bogasari, yang memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta, didukung oleh unit usaha perkapalan dan kemasan.
Grup ketiga di lini agribisnis, dengan kegiatan utama meliputi penelitian dan pengembangan, pemuliaan benih bibit, pembudidayaan dan pengolahan kelapa sawit hingga produksi dan pemasaran produk minyak goreng, margarin dan shortening. Di samping itu, kegiatan usaha grup ini juga mencakup pembudidayaan dan pengolahan tebu dan karet serta tanaman lainnya.
Grup keempat adalah Distribusi. Dengan jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia, kelompok ini mendistribusikan sebagian besar produk konsumen Indofood dan anak-anak perusahaannya, serta berbagai produk pihak ketiga. (Hari Gunarto)

