Dari Gerak Kaki Penenun, Energi Bersih Hidupkan Tradisi Sukarara
Poin Penting
|
LOMBOK, investortrust.id - Mulutnya terdiam, tatap matanya tak bergeming, tetapi kaki Sairah terus bergerak mengikuti irama alat tenun. Benang demi benang disusun Sairah menjadi kain yang mewarisi keterampilan lintas generasi. Entakan kayu yang bergesekan dengan lusinan benang menghasilkan irama yang menghiasi bengkel Mina Tenun Lestari di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Di Desa Sukarara, gerakan kaki yang dihasilkan Sairah dan para perajin tenun lainnya menyimpan fungsi lain. Bukan hanya menjadi upaya dalam melestarikan budaya dan tradisi, tetapi juga terhubung dengan inovasi pemanfaatan energi bersih.
Baca Juga
Kebakaran Desa Sade Ganggu Usaha Penenun, Pertamina Salurkan 45 Alat Tenun
Bagi masyarakat Desa Sukarara, menenun bukan hanya perkara menyusun benang menjadi kain. Keterampilan itu telah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga dan kebudayaan setempat. Sairah yang kini telah menjalani hidup selama setengah abad, nyatanya sudah menggeluti kerajinan tenun sejak usia 10 tahun.
Sebagaimana perempuan lainnya di Desa Sukarara, Sairah juga memperoleh keterampilan menenun dari orang tuanya. Pada usia remaja, Sairah bahkan sudah mulai memproduksi kerajinan tenun buatannya sendiri. Hingga kini, dia masih menekuni tenun sekaligus mewariskan keterampilannya kepada generasi berikutnya.
“Tenun ini sudah jadi tradisi di sini. Turun-temurun diajarkan,” kata Sairah dengan tatapan yang terus melekat pada alat tenunnya saat dijumpai di Desa Sukarara, Jumat (9/10/2026).
Perlahan tapi pasti, benang-benang yang disusun Sairah di atas alat tenun mulai membentuk sebuah pola. Gerak tangannya yang lincah dan cekatan menjadi bukti bahwa kegiatan menenun bukan sekadar pekerjaan untuk mendapat penghasilan. Lebih dari itu, menenun telah mengalir ke dalam nadi kehidupan masyarakat Desa Sukarara.
Baca Juga
Kadin Perkuat Peran Sosial Dunia Usaha untuk Lindungi UMKM dari Dampak Bencana
Sudiman atau yang akrab disapa Ama Heru, Koordinator Kelompok Mina Tenun Lestari, mengungkapkan bahwa pada zaman dahulu para perempuan di Desa Sukarara diwajibkan untuk bisa menenun. Mereka bahkan tidak diperbolehkan menikah jika masih belum bisa menenun. Tak ayal, para ibu di zaman dahulu memliki tanggung jawab besar untuk mewarisi keterampilan menenun kepada anak perempuan mereka.
Bukan tanpa alasan perempuan Desa Sukarara diwajibkan bisa menenun. Selain untuk melestarikan budaya, hal tersebut juga dilakukan untuk menghindari pernikahan dini. Adapun alasan lainnya adalah agar nanti ketika sudah berumah tangga, maka para istri bisa membantu suami menambah penghasilan keluarga dengan menjual karya tenun buatan mereka sendiri.
“Pada zaman dahulu kan SDM (sumber daya manusia) kita masih kurang. Jadi tujuan daripada orang tua kita mengajarkan itu, ketika nanti berumah tangga, jadi dia bisa membantu ekonomi keluarga,” ujar Ama Heru.
Proses pembuatan kain tenun sendiri bukanlah hal yang mudah. Ama Heru mengatakan, kain sepanjang 1 meter membutuhkan waktu produksi sekitar satu minggu. Untuk pengerjaannya, sebelum kain mulai ditenun, maka terlebih dahulu dibuat desain atau motifnya. Adapun cara membuat desain ini bergantung dari seberapa banyak bambu yang digunakan.
“Jadi bambu di sana adalah untuk menyimpan memori. Jadi di sana desain-desain yang kita inginkan sudah termasuk di dalam bambu-bambu itu. Jadi fungsi bambu itu adalah untuk membentuk desain yang kita inginkan,” terang pria 55 tahun tersebut.
Meski para perempuan Desa Sukarara diwajibkan untuk bisa menenun, bukan berarti para laki-laki tidak ada yang menjadi penenun sama sekali. Dari 22 orang yang tergabung dalam Kelompok Mina Tenun Lestari, nyatanya juga terdapat beberapa laki-laki.
Ketika Kain Selesai, Pasar Belum Menanti
Kendati demikian, menjaga sebuah tradisi tetap hidup juga membutuhkan ruang bagi para perajinnya untuk memperoleh penghidupan yang layak. Baik Ama Heru maupun Sairah tidak memungkiri bahwa bukan perkara mudah mendapatkan penghasilan, meski mereka mampu memproduksi karya tenun yang memanjakan mata.
Bagi para penenun di Desa Sukarara, menyelesaikan selembar kain bukanlah akhir dari pekerjaan. Setelah benang demi benang dirangkai dengan telaten, masih ada satu pertanyaan yang harus dijawab, ke mana hasil tenun itu akan dijual?
Salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat Desa Sukarara untuk menjual hasil tenunnya adalah keterbatasan akses pasar. Mereka memiliki kekayaan budaya, namun akses yang terbatas membuat Sairah dan para perajin lainnya kesulitan mempertahankan usaha tenun di tengah himpitan kebutuhan ekonomi.
Baca Juga
Sebelum Kelompok Mina Tenun Lestari terbentuk, para perajin mengerjakan tenun secara mandiri di rumah masing-masing. Produksi pun berjalan terbatas. Bukan semata karena proses menenun membutuhkan waktu dan ketekunan, melainkan karena para perajin kerap kebingungan mencari pembeli setelah produk selesai dibuat.
Kondisi tersebut membuat keterampilan yang diwariskan turun-temurun belum sepenuhnya menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan. Menurut Ama Heru, penghasilan para perajin pada awalnya berkisar Rp 200.000–Rp 300.000 per bulan, dengan capaian tertinggi sekitar Rp 500.000.
Tantangan yang dihadapi bukan hanya soal penjualan. Tempat kegiatan kelompok yang kini menjadi galeri juga belum tertata dengan baik. Halaman dan interiornya masih sangat sederhana, sementara produk yang dibuat para perajin belum banyak dikenal oleh calon pembeli di luar desa.
“Dulu kita ini (lokasinya) kumuh sekali, masih kecil (tempatnya), masih belum dikenal sama orang,” kata Ama Heru, mengenang kondisi tempat yang kini menjadi lokasi Galeri Mina Tenun Lestari.
Membuka Jalan dari Galeri hingga Pasar yang Lebih Luas
Perubahan mulai berjalan pada 2022, ketika Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) memberikan pembinaan kepada Sairah dan para perajin tenun lainnya.
Vice President Community Involvement & Development (CID) Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati menyampaikan, Desa Sukarara sebetulnya telah memiliki modal penting untuk berkembang, yaitu tradisi menenun yang masih hidup serta kelompok perempuan yang produktif. Namun, potensi itu membutuhkan dukungan agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Jadi kan sebenarnya ini (perajin tenun Desa Sukarara) sudah ada potensi. Jadi potensinya budaya tenun lestari, kemudian yang kedua ada potensi kelompok perempuan ibu-ibu yang produktif. Kemudian juga tentunya ada potensi karena memang sudah awalnya pembuat tenun gitu kan. Nah, tetapi ternyata juga ada permasalahan, salah satunya tentang keterbatasan akses pasar,” terang Dian.
Maka dari itu, pendampingan pun dilakukan melalui penguatan kelompok, pelatihan, dan diversifikasi produk. Para perajin tidak lagi hanya membuat kain, tetapi juga mengembangkan produk turunan seperti tas, pakaian, hingga udeng atau sapuk yang merupakan penutup kepala khas Lombok.
Pendampingan juga menyentuh kebutuhan yang lebih mendasar. Ama Heru berkisah, mereka menerima bantuan alat tenun tradisional dan mesin jahit, pelatihan menyulam, serta dukungan untuk menata halaman dan memperbaiki interior galeri. Dengan tempat yang lebih tertata, produk-produk tenun memiliki ruang untuk diperlihatkan kepada pengunjung, sementara kelompok dapat menghimpun hasil karya para anggotanya.
Baca Juga
Pertamina Buka Peluang Lanjutkan Naming Right MotoGP Mandalika
Kendati demikian, perubahan yang paling terasa bagi para perajin adalah ketika persoalan pemasaran mulai menemukan jalan keluar. Mina Tenun Lestari kini menampung hasil produksi anggota sehingga mereka tidak harus mencari pembeli sendiri setiap kali menyelesaikan tenunan. Ama Heru mengatakan, kelompok juga berupaya memastikan pembayaran kepada perajin tidak tertunda ketika produk mereka diserap.
“Setelah kita bentuk kelompok seperti ini, dibina sama Pertamina, ibu-ibu sudah tidak lagi bingung masalah pemasarannya karena Mina Tenun sanggup menampung hasil produksinya,” ungkap Ama Heru.
Menurut dia, penghasilan para perajin tenun Desa Sukarara kini dapat mencapai setidaknya Rp 1 juta per bulan. Meski besarnya pendapatan tetap bergantung pada hasil produksi dan penjualan, angka tersebut menunjukkan perubahan dibandingkan kondisi sebelum kelompok memperoleh pendampingan.
Jangkauan pasar pun mulai meluas. Produk Mina Tenun Lestari telah menjangkau pembeli di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Surabaya, Bali, hingga Lampung. Kelompok ini juga memasarkan produk melalui media sosial serta mengikuti bazar UMKM dan berbagai kegiatan yang membuka kesempatan bertemu calon konsumen.
Salah satu kesempatan itu hadir melalui ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia di Mandalika. Produk Mina Tenun Lestari memperoleh ruang untuk dipasarkan melalui stan di kawasan sirkuit. Ama Heru mengatakan, omzet bulanan kelompok Mina Tenun Lestari ini bervariasi, umumnya mulai sekitar Rp 2 juta ketika pengunjung sepi hingga Rp 10 juta saat kunjungan ramai. “Tapi omzet sepanjang MotoGP di sini (Mandalika) dari tanggal 8 sampai sekarang (12 Oktober 2026) sudah sampai Rp 80 juta,” ungkap Ama Heru.
Merawat Benang dari Hulu hingga Hilir
Perkembangan usaha tidak berhenti pada kain yang dipajang di galeri atau ambil bagian dalam event kelas dunia seperti MotoGP. Bagi Mina Tenun Lestari, pelestarian juga berarti merawat sumber bahan baku dan pengetahuan yang memungkinkan kain itu dibuat. Di balik setiap helai benang, ada pekerjaan panjang yang dimulai jauh sebelum proses menenun berlangsung, yaitu memastikan bahan baku tetap tersedia, mengolahnya menjadi benang, hingga merangkainya menjadi produk bernilai ekonomi. Sebuah proses dari hulu ke hilir.
Salah satu upaya yang dikembangkan Kelompok Mina Tenun Lestari adalah membudidayakan kapas lokal yang disebut semakin langka. Langkah ini menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan bahan baku sekaligus memperkenalkan kembali proses produksi tenun yang tidak semata bergantung pada benang siap pakai.
Kapas menjadi salah satu bahan yang digunakan dalam pengembangan produk kelompok. Selain itu, para perajin juga mengeksplorasi material lain, mulai dari serat nanas dan serat pisang hingga bahan-bahan lain untuk menghasilkan variasi produk. Diversifikasi tersebut membuka kemungkinan bagi tenun tradisional untuk berkembang tanpa harus meninggalkan identitas kerajinannya.
Proses produksi juga tidak berhenti ketika bahan baku tersedia. Pengolahan serat menjadi benang, pewarnaan, penyiapan pola, dan penenunan merupakan rangkaian pekerjaan yang menentukan hasil akhir. Pengembangan keterampilan dalam tahapan-tahapan tersebut memberi ruang bagi para perajin untuk memahami proses pembuatan kain secara lebih menyeluruh, bukan sekadar mengerjakan satu bagian produksi.
Baca Juga
Pertamina Bantu Bank Sampah Mandalika, Layanan Angkut Sampah Diperluas
Perbedaan bahan dan teknik pengerjaan turut memengaruhi karakter serta nilai jual setiap produk. “Yang harga Rp 250 ribu ada, yang Rp 200 ribu ada. Yang paling mahal itu Rp 3 jutaan, yaitu yang pakai mesres. Itu kain juga, tapi dia benangnya tipis, ringan, dan bahannya itu yang bikin lebih mahal,” sebut Ama Heru.
Selain memproduksi kain tradisional, kelompok Mina Tenun Lestari juga menciptakan berbagai inovasi ramah lingkungan, seperti tenun berbahan limbah plastik hingga alat tenun penghasil energi listrik. Sairah mengungkapkan, sampah dari kantong kresek dan botol juga bisa diolah menjadi karya-karya yang bermanfaat. “Taplak meja, dompet, sarung bantal juga bisa dibuat dari sampah-sampah daur ulang plastik ini,” kata dia.
Dari Gerak Kaki, Lahir Energi Baru
Tidak berhenti sampai di situ, kelompok Mina Tenun Lestari dengan dukungan Pertamina Patra Niaga AFT BIL juga mengembangkan inovasi yang menghubungkan aktivitas menenun dengan kebutuhan dasar masyarakat Desa Sukarara, yaitu akses air bersih.
Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah NTB turut memengaruhi kehidupan masyarakat Desa Sukarara. Keterbatasan pasokan air membuat sebagian rumah tangga harus mencari sumber air alternatif atau membeli air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Mina Tenun Lestari mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang telah dimodifikasi agar gerakan mekanis selama proses menenun dapat menghasilkan energi listrik. Nantinya, energi yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem filtrasi.
Dian menerangkan, gerakan kaki penenun saat mengoperasikan alat akan memutar dinamo untuk menghasilkan listrik. Energi listrik tersebut kemudian disimpan ke dalam baterai yang juga terhubung dengan kincir angin (PLTB) dan solar panel (PLTS).
“Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat. Jadi alat tenun tadi itu dimodifikasi, kemudian itu jadi ceritanya ini kemudian bisa dengan gerakan kinestetik dari kaki perajin tadi, itu menghasilkan sumber energi. Kemudian sumber energinya dikombinasikan dengan energi angin, dengan tenaga surya, sehingga menghasilkan energi listrik,” tutur Dian.
Dengan inovasi baru ini, biaya listrik para perajin tenun di Desa Sukarara pun menjadi lebih efisien. Terlebih, energi yang tersimpan di mesin tenun juga membuat mereka memiliki cadangan listrik jika suatu waktu terjadi gangguan listrik atau listrik padam.
“Energi itu nanti akan tersimpan di dalam kotak ini (sambil menunjuk alat tenunnya). Seandainya suatu saat lampu mati, listrik padam, jadi kita bisa pakai yang energi tadi,” kata Sairah.
Dian menerangkan, listrik yang dihasilkan dari satu hari berkegiatan menenun dengan ATBM Modifikasi, dengan PLTB dan panel surya mampu menghasilkan total energi sebesar 12,6 kWh/hari dan yang dikeluarkan optimal sekitar 9,6 kWh/hari. Adapun estimasi penggunaan beban pompa air dan filter dalam sehari sekitar 4 jam/hari, sehingga total penghematannya mencapai Rp 246.228 per bulan atau Rp 2.954.736 per tahun
Dengan adanya inovasi ini, penerima manfaat langsung terdapat sekitar 132 jiwa, yang terdaftar dalam 23 Kartu Keluarga (KK) di wilayah tersebut. Sedangkan penerima manfaat tidak langsung terdiri dari ibu-ibu penenun yang bukan anggota Mina Tenun sebanyak 40 orang. Mereka mendapat manfaat dari menjual kain tenun ke Galeri Mina Tenun. Selain itu, sekitar 168 mahasiswa KKN yang tengah belajar modifikasi tenun sebagai sumber energi dari berbagai universitas di Lombok pun turut mendapat manfaat dari inovasi ini.
Baca Juga
Bagi Sairah dan Kelompok Mina Tenun Lestari, inovasi tersebut memiliki arti sejauh manfaatnya dapat dirasakan dalam kegiatan sehari-hari. Energi bersih menjadi bagian dari perjalanan yang lebih luas untuk memperkuat ruang produksi dan mendukung keberlanjutan kelompok. Pada akhirnya, masa depan tenun Desa Sukarara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga budaya dan keterampilan lama, tetapi juga oleh kesempatan bagi para perajinnya untuk terus berkarya.
