Wamen Stella Christie Ajak Orang Tua Hidupkan Kembali Tradisi Berbincang saat Makan Malam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menekankan pentingnya kualitas interaksi dalam keluarga di tengah gempuran era digital. Ia mengajak para orang tua untuk memanfaatkan momen makan malam malam sebagai ruang berbincang dan bertanya jawab demi tumbuh kembang anak yang optimal.
Dalam paparannya di Seminar Natal Nasional 2025, Stella menyoroti fenomena banyaknya keluarga yang duduk di satu meja makan, namun masing-masing sibuk dengan gawai (gadget). Ia mengungkapkan, data menunjukkan orang Indonesia rata-rata menghabiskan 3 jam 8 menit sehari untuk media sosial.
"Jadi dari sini kita bisa lihat bahwa banyak waktu kita mungkin yang makan malamnya masing-masing sendiri," kata Stella di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Jakarta, Sabtu (3/1/2026).
Stella memaparkan bukti empiris bahwa interaksi langsung antara orang tua dan anak tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. Ia mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang hanya menonton video edukasi seperti baby Einstein tidak memiliki perkembangan kosa kata yang lebih baik dibandingkan mereka yang diajak berbincang langsung oleh orang tuanya.
"Jadi kalau ditanyakan apakah berbicara, berbincang-bincang itu penting? Bisa dilihat dari hasil eksperimennya. Kalau dikatakan anak saya akan belajar dari nonton, bisa, tetapi mungkin anak Anda akan belajar lebih banyak kalau berbicara dengan orang tuanya," ungkapnya.
Baca Juga
Stella juga menekankan bahwa momen makan malam adalah waktu terbaik untuk memupuk rasa ingin tahu (curiosity) anak melalui tanya jawab. Ia mengimbau orang tua untuk tidak memberikan jawaban tertutup saat anak bertanya hal-hal yang filosofis maupun kritis.
"Anak umur 4 itu banyak yang filosofis. Karena mereka bertanya-tanya tentang dunia. Ada juga yang bertanya seperti saintis," ucapnya.
Stella menyarankan agar orang tua memberikan jawaban yang memberikan perbandingan, seperti membandingkan tubuh dengan mesin mobil yang butuh bensin. Dengan demikian akan memicu sikap kritis anak.
"Saat ini, riset saya membuktikan orang tua masih memberikan jawaban yang lebih baik daripada ChatGPT, tapi kalau kita jarang latihan bicara dengan anak, lama-lama kemampuan itu bisa hilang," ungkapnya
Stella mengingatkan bahwa esensi keluarga adalah menanamkan nilai-nilai dan menciptakan kenangan. Jika orang tua membiarkan anak makan sambil menatap layar, maka nilai-nilai yang masuk ke pikiran anak adalah hasil kurasi algoritma media sosial, bukan nilai keluarga atau agama.
"Refleksi saya sederhana, ayolah makan bersama dan berbicara waktu makan," ajaknya.

