Rantai Panjang Mineral RI, Jalan MIND ID Menuju Kedaulatan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - “Saya cuma ingin punya tabungan yang nilainya tidak cepat tergerus. Sekarang, setiap kali ada uang lebih, saya sisihkan untuk membeli emas sedikit demi sedikit,” kata Firman, warga Cibubur, Jakarta Timur saat dihubungi Investortrust.id (Senin 24/8/2026)
Pengalaman Firman menggambarkan sisi paling dekat dari hilirisasi dengan kehidupan masyarakat. Emas yang tersimpan di tangan konsumen, bukan lagi sekadar hasil tambang, melainkan aset yang dapat dibeli dan dijual kembali ketika dibutuhkan.
“Emas bukan sebagai barang mewah, emas lebih seperti simpanan yang bisa dipegang. Kalau ada kebutuhan mendesak, saya tahu ada aset yang bisa dijual kembali,” ujar Firman.
Produk emas menjadi salah satu contoh mineral bergerak dari perut bumi menuju tangan konsumen. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam melalui bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia telah mengembangkan produk emas yang dipasarkan kepada masyarakat.
Cerita berbeda terlihat pada Ningken, pengguna kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) di Jakarta Selatan. Pengalaman mengendarai EV mungkin hanya berupa mobil atau motor yang lebih senyap, serta tidak perlu mengisi bahan bakar, seperti kendaraan konvensional. Namun, di balik baterainya terdapat rantai panjang yang dimulai dari mineral nikel. “Kendaraan listrik lebih praktis untuk dipakai sehari-hari,” ujar Ningken kepada Investortrust.id.
Dua pengalaman tersebut memperlihatkan satu hal sederhana, yakni hilirisasi tidak berhenti di kawasan tambang. Hasil akhirnya dapat hadir sebagai emas investasi, baterai, kendaraan listrik, maupun produk lain yang digunakan masyarakat.
Dalam rangkaian proses itu, peran PT Mineral Industri Indonesia atau MIND ID, holding industri pertambangan milik negara, menjadi strategis. MIND ID memperpanjang perjalanan mineral Indonesia dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah sekaligus membangun kemampuan industri di dalam negeri.
Baca Juga
Tata Kelola Timah Diperkuat, Laba PT Timah (TINS) Melonjak 805%
Arah tersebut semakin relevan dengan pandangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Hilirisasi bukan sekadar program ekonomi, tetapi instrumen untuk membangun kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam. “Bagaimana membangun kedaulatan dalam rangka pengelolaan sumber daya alam? Hilirisasi adalah instrumennya,” ujar Bahlil dalam acara peluncuran dan bedah buku di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Dari Tambang Menjadi Rantai Industri
Kekayaan mineral tidak cukup hanya ditambang. Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk mengolahnya dan menciptakan industri di dalam negeri. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan strategi hilirisasi perusahaan diarahkan untuk menciptakan nilai tambah yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional.
“MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi memberikan manfaat nyata dan terukur bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia,” kata Maroef dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR di Jakarta, dikutip Rabu (15/4/2026).
Tambang tidak lagi ditempatkan sebagai titik akhir. Tambang justru menjadi awal dari rantai industri yang lebih panjang. Pada bauksit, Antam mengelola tambang yang kemudian diolah menjadi alumina oleh PT Borneo Alumina Indonesia. Selanjutnya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengembangkan smelter aluminium dengan dukungan pasokan energi dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui pembangkit listrik di Mempawah.
Rantai tersebut menunjukkan MIND ID menghubungkan hulu dan hilir. Bauksit tidak berhenti sebagai bijih yang dijual, tetapi diarahkan menjadi alumina dan kemudian aluminium yang dapat menjadi bahan bagi berbagai industri.
Pada emas, Antam juga mengembangkan fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik, Jawa Timur dengan dukungan bahan baku dari PT Freeport Indonesia. Rantai tersebut mempertemukan kegiatan pertambangan dengan pengolahan, pemurnian, manufaktur, hingga produk investasi yang dapat dibeli masyarakat.
Proses panjang tersebut mungkin tidak terlihat penting pada masyarakat. Mereka hanya melihat emas batangan di etalase atau aplikasi pembelian. Namun, di belakang produk tersebut terdapat rantai industri yang melibatkan sumber daya alam, teknologi, energi, dan modal.
Sepanjang triwulan I 2026, investasi hilirisasi mineral mencapai Rp 98,3 triliun atau sekitar 67% dari total investasi hilirisasi nasional sebesar Rp 147,5 triliun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani mengatakan investasi hilirisasi secara keseluruhan pada triwulan I 2026 mencapai Rp 147,5 triliun atau 29,6% dari total investasi nasional Rp 498,8 triliun.
“Hal yang perlu kami soroti adalah sektor hilirisasi sumber daya alam yang kontribusinya meningkat menjadi 30% dari total realisasi investasi pada triwulan I 2026, yakni sebesar Rp 147,5 triliun,” kata Rosan dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR, dikutip Rabu (17/6/2026).
Dari investasi mineral tersebut, nikel menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 41,5 triliun. Tembaga menyusul Rp 20,7 triliun, besi dan baja Rp 17 triliun, bauksit Rp 13,7 triliun, serta timah Rp 2,5 triliun.
Data BPKM juga menyebut sekitar 75% investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa. Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi contoh wilayah yang berkembang menjadi pusat pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Dengan demikian, hilirisasi juga membawa cerita tentang pemerataan ekonomi. Kawasan penghasil mineral tidak hanya menjadi tempat pengambilan bahan mentah, tetapi berpeluang berkembang menjadi pusat industri, jasa, logistik, dan tenaga kerja.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya aspek tersebut. Menurut dia, daerah harus mendapatkan porsi keekonomian yang signifikan dari aktivitas pertambangan dan hilirisasi. “Pemerintah mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, investor, pengusaha, dan masyarakat agar manfaat ekonomi tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu,” kata Bahlil dalam sebuah kesempatan.
Namun, membangun industri dari sumber daya alam tidak cukup hanya dengan memiliki cadangan mineral. Indonesia juga perlu memastikan bahan pendukung industri tersedia.
Salah satu contoh terdapat pada sulfur yang dibutuhkan dalam pengolahan nikel menggunakan teknologi high pressure acid leach (HPAL). Teknologi tersebut digunakan untuk mengolah bijih nikel berkadar rendah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), salah satu bahan antara dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID Budi Santoso mengatakan lebih dari 70% kebutuhan sulfur industri nikel Indonesia masih dipenuhi melalui impor. Sekitar 75% hingga 80% pasokan impor tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah.
“Kondisi sekarang, ternyata di Indonesia 70% lebih kebutuhan sulfur nikel itu didapatkan melalui impor dan surprisingly itu ada di area di mana saat ini sedang berkecamuk di Timur Tengah,” ujar Budi dalam diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia di Jakarta, dikutip Selasa (23/6/2026).
Ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan mineral memiliki cakupan lebih luas. Indonesia tidak cukup hanya memiliki nikel. Bahan kimia, teknologi, mesin, energi, dan kemampuan riset juga perlu diperkuat.
MIND ID karena itu menginventarisasi potensi produk samping dari tambang tembaga dan emas untuk diolah menjadi sulfur maupun asam sulfat. Langkah tersebut membuka peluang untuk mengubah sesuatu yang sebelumnya dipandang sebagai produk samping menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomi.
Nikel, Baterai, dan Industri Masa Depan
MIND ID melalui anggota holding PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengembangkan pengolahan nikel berkadar rendah di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan serta fasilitas HPAL di Pomalaa dan Bahodopi, di Kabupaten Morowali Sulawesi Tenggara. Produk antara yang dihasilkan dapat digunakan dalam rantai produksi baterai.
MIND ID juga mengembangkan ekosistem baterai kendaraan listrik melalui integrasi rantai pasok dari tambang nikel hingga produksi sel dan paket baterai di Karawang.
Melalui PT Industri Baterai Indonesia (PT IBI), MIND ID bekerja sama dengan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co., Limited, Brunp, Lygend (CBL) untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture), yakni PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) guna menjadi ujung tombak pengembangan ekosistem baterai terintegrasi.
Dengan investasi sekitar Rp 7 triliun, pabrik baterai CATIB yang memiliki kapasitas produksi sebesar 6,9 GWh ini diproyeksikan mampu menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja.
Rantai tersebut mungkin tidak terlihat ketika kendaraan listrik melaju hampir tanpa suara. Namun, di balik pengalaman sederhana itu terdapat tambang, pemurnian, pengolahan material, manufaktur baterai, hingga perakitan. Semakin panjang rantai tersebut berada di Indonesia, semakin besar pula peluang nilai tambah, lapangan kerja, teknologi, dan devisa yang tercipta di dalam negeri.
Menteri ESDM Bahlil sebelumnya juga menegaskan bahwa industrialisasi dan hilirisasi merupakan bagian penting dari perjalanan negara berkembang menuju negara maju. Menurutnya, negara dengan kekayaan sumber daya alam tidak akan mampu melakukan transformasi ekonomi tanpa membangun industri dan mengolah sumber dayanya sendiri.
Riset Menentukan Masa Depan
Setelah tambang dan pabrik dibangun, tantangan berikutnya adalah kemampuan menguasai teknologi. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan MIND ID ingin memiliki kemampuan riset dan pengembangan sendiri untuk mendukung industri mineral dan batu bara.
“Kami sangat ingin memiliki R&D sendiri, khususnya terkait pertambangan mineral dan batu bara. Dan juga yang non-teknisnya terkait laboratorium untuk persaingan pasar,” ujar Maroef.
Penguatan riset menjadi penting karena teknologi menentukan apakah sebuah mineral dapat diolah secara ekonomis. Sejalan dengan itu, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mendorong pemerintah memperkuat kolaborasi antara industri tambang, perguruan tinggi, dan lembaga riset agar inovasi nasional lebih cepat diterapkan di industri.
Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis dan Mineral Kritis Pengurus Pusat Perhapi Muhammad Toha mengatakan sinergi antara dunia akademik dan industri masih menjadi tantangan besar. Banyak inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi belum mampu menembus tahap komersialisasi karena berhenti pada pengujian skala laboratorium.
"Yang paling menjadi tantangan adalah menyinkronkan hasil temuan universitas dengan dunia praksis. Selama ini banyak yang masih berhenti di skala laboratorium," kata Muhammad Toha saat dihubungi Investortrust, Selasa (14/7/2026).
Toha menilai pemerintah perlu mendorong kolaborasi tersebut melalui kebijakan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Salah satu caranya adalah memberikan insentif kepada perusahaan tambang yang mengembangkan penelitian bersama perguruan tinggi. "Pemerintah memang perlu memberikan insentif kepada perusahaan kalau misalnya perusahaan itu berkolaborasi sama universitas. Artinya, take and give-nya ada," ujarnya.
Menurutnya, skema tersebut telah diterapkan di sejumlah negara dan terbukti mampu mempercepat lahirnya inovasi yang siap digunakan oleh industri. Dengan dukungan insentif, perusahaan akan memiliki dorongan lebih besar untuk mengadopsi hasil riset dalam negeri sehingga manfaat penelitian tidak berhenti sebagai publikasi akademik semata.
Baca Juga
MIND ID Manfaatkan 1 Juta Ton Limbah, Timbulan Sampah Tambang Turun 11,3%
Selain mendorong kolaborasi riset, Toha mengingatkan agar kebijakan hilirisasi mineral nasional tidak hanya berpusat pada nikel. Ia menilai ketergantungan terhadap satu komoditas dapat meningkatkan risiko ketika pasar global mengalami perlambatan atau perubahan harga. "Indonesia itu hilirisasinya masih single commodity. Kita terlalu menonjol di nikel," katanya.
Menurut Toha, Indonesia memiliki banyak sumber daya mineral lain yang dapat memberikan nilai tambah melalui hilirisasi, seperti bauksit, mangan, tembaga, timah, hingga berbagai mineral kritis yang dibutuhkan dalam pengembangan industri teknologi dan transisi energi.
Diversifikasi hilirisasi akan memperkuat struktur industri nasional sekaligus memperbesar sumber devisa negara dari berbagai komoditas. "Hilirisasi terhadap timah, bauksit, mangan dan komoditas lainnya harus kita lakukan. Maka devisa akan semakin besar dan keamanan industri kita menjadi lebih kuat," ujarnya.
Toha mengatakan kontribusi hilirisasi nikel terhadap devisa nasional saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 13%. Untuk itu, Indonesia perlu mengembangkan hilirisasi mineral lainnya agar pertumbuhan industri tidak bergantung pada satu komoditas saja.
Sementara hilirisasi emas telah menunjukkan hasil yang cukup baik karena menghasilkan produk bernilai tambah, seperti logam mulia dan industri perhiasan yang mampu menyerap tenaga kerja.
Ke depan, Perhapi berharap pendekatan serupa diterapkan pada berbagai komoditas mineral lainnya. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan setengah jadi, tetapi juga mampu menghasilkan produk manufaktur bernilai tambah tinggi yang memperkuat daya saing industri nasional, meningkatkan devisa, dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Perjalanan MIND ID dari tambang menuju industri bukan hanya tentang mengubah batu menjadi logam atau bijih menjadi bahan baku. Ini adalah perjalanan mengubah kekayaan alam menjadi kemampuan ekonomi.
Sepanjang 2025, MIND ID menyetorkan dividen kepada negara sebesar Rp 12,6 triliun. PT Freeport Indonesia juga memperkirakan kontribusinya kepada negara mencapai sekitar US$ 2,6 miliar pada 2026 melalui dividen, pajak, dan royalti.
Namun, nilai terbesar dari hilirisasi tidak berhenti pada angka penerimaan negara. Nilai itu juga berada pada industri yang tumbuh, tenaga kerja yang terserap, kawasan ekonomi yang berkembang, teknologi yang dikuasai, serta produk yang akhirnya dapat digunakan masyarakat.
Baca Juga
Hilirisasi Bauksit RI Diperluas, MIND ID Bidik Logam Tanah Jarang
Dari emas yang disimpan investor, aluminium yang digunakan industri, hingga baterai yang menggerakkan kendaraan listrik, perjalanan mineral Indonesia semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Untuk itu, pesan Bahlil tentang hilirisasi sebagai instrumen kedaulatan menjadi penting bagi perjalanan MIND ID. Kedaulatan bukan hanya berarti memiliki sumber daya alam, tetapi memiliki kemampuan untuk menentukan bagaimana sumber daya tersebut diolah dan siapa yang memperoleh manfaat terbesar darinya.
Sebab, bumi yang kaya hanyalah modal, bangsa yang mampu mengolahnya menjadi industri adalah bangsa yang menentukan masa depannya sendiri. Dari perut bumi Indonesia, perjalanan itu sedang dibangun, dari mineral menjadi industri, dari industri menjadi nilai tambah, dan dari nilai tambah menuju kedaulatan negeri.
