Jadilah Air yang Tetap Mengalir
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Ada orang-orang yang hidupnya disusun seperti rencana perjalanan: berangkat dari titik A, singgah di B, tiba di C, tepat waktu. Tapi ada juga jenis manusia lain yang jalan hidupnya lebih mirip air mengalir.
Ia turun dari dataran tinggi ke dataran rendah, bergerak, menerobos apa pun di hadapannya.
Ia akan berbelok, menemukan celah, terus mencari jalan. Ia hanya akan berhenti jika benar-benar tak mampu menembus rintang.
Ia bahkan memilih sendiri jeramnya.
Setiap orang cenderung lebih menyukai kisah jenis pertama. Ada peta, ada tujuan, ada kepastian yang enak didengar sebagai motivasi.
Tapi cerita kehidupan ini, kalau mau jujur, justru lebih mirip jenis kedua.
Begitu pula kehidupan yang dijalani Anton S. Darnado.
Hari ini, ia adalah Chief Executive Officer (CEO) PT Alfabeta Solusi Nusantara, perusahaan teknologi yang telah merambah ratusan lokasi dengan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pengenalan pelat nomor kendaraan secara otomatis.
Tapi jika ditanya mengapa Anton memutuskan menjadi orang information technology (IT), jawabannya akan panjang.
Anton, awalnya, tak punya minat sama sekali untuk menggeluti dunia IT.
Anton lahir di era ketika arah hidup seorang anak sering kali sudah ditentukan oleh profesi orang tuanya. Ayahnya, anggota ABRI (sekarang TNI), menginginkan Anton mengikuti jejaknya: menjadi tantara, atau menjadi pengacara, hakim, jaksa.
Jika akhirnya ia kuliah di Politeknik Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan komputer, itu karena ia ingin cepat bekerja setelah drop-out (DO) dari jurusan hukum di sebuah universitas di Bandung gara-gara tak kuat membayar kuliah.
“Pertama kali masuk kuliah di Politeknik ITB, saya nggak paham komputer. Saya malah tanya ke teman, di mana tombol untuk menyalakan komputer? Saya waktu itu memang nggak tahu,” tutur Anton, dengan tersenyum geli, mengenang pengalamannya beberapa puluh tahun silam.
Meski tak mudah, Anton Darnado berhasil menamatkan kuliahnya di Politeknik ITB yang kemudian berganti nama menjadi Politeknik Negeri Bandung (Polban).
Menjelang lulus kuliah, Anton belum punya gambaran tentang profesi yang bakal ditekuninya.
Ia mendapatkan pekerjaan secara tak disengaja.
Saat rekrutmen di kampus berlangsung, Anton sedang bermain basket. Melepas lelah usai bermain basket, ia tergoda nasi kotak yang dibagikan panitia, yang ternyata diperuntukkan bagi mahasiswa akhir yang sedang melamar pekerjaan.
Karena sudah telanjur makan, Anton ikut tes. Hasilnya? Ia dinyatakan lulus rekrutmen PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) sebelum ia diwisuda sebagai sarjana ilmu komputer.
Ada satu momen dalam perjalanan Anton Darnado yang cukup menyesakkan dada. Perusahaan tempatnya bekerja tutup. Ia kehilangan sumber penghasilan. Di rumah, ada istri dan anak yang harus dinafkahi.
Tapi Anton tetap tenang.
"Kalau air ini memang rezeki saya, saya akan minum dan air itu masuk ke tubuh saya. Kalau bukan rezeki saya, mungkin air itu akan tumpah,” katanya.
Rezeki, bagi Anton, bukan alasan untuk berdiam diri menunggu keajaiban. Rezeki adalah alasan untuk tidak panik ketika satu pintu tertutup. Sebab, dalam keyakinannya, pintu itu bukan satu-satunya jalan masuk air.
Ada pula kisah menggetarkan. Suatu ketika, Anton dipanggil bosnya. Ternyata perusahaan tempatnya bekerja hanya sanggup mempertahankan dua dari tiga anggota tim yang tersisa. Anton diminta memilih siapa yang harus dilepas.
Tanpa ragu, Anton memilih dirinya sendiri untuk keluar. Ia tak tega jika anak buahnya kena PHK.
“Teman saya itu istrinya baru saja melahirkan. Kami sama-sama berada dalam posisi sulit. Tapi teman saya pasti lebih sulit.”
Perusahaan itu, tanpa disangka-sangka, akhirnya mempertahankan ketiganya.
Anton mendefinisikan posisi seorang pemimpin bukan sebagai orang yang paling dulu diselamatkan, melainkan orang yang paling akhir memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
Cara Anton memimpin timnya mencerminkan pola yang sama dengan cara ia menjalani kariernya sendiri:
Tidak kaku, tapi tahu persis kapan harus serius.
Dengan anggota tim yang sudah cukup dewasa secara pengalaman, ia tidak merasa perlu menaikkan nada suara untuk menegur.
Cukup dengan kalimat langsung: ini salah, perbaiki begini.
Maka pesan tersampaikan.
Urusan selesai.
Suasana kembali cair.
Ia bahkan menjadikannya bahan candaan dengan timnya sendiri: "Kalian mau saya tegur seperti anak SD, SMP, SMA, atau seperti orang dewasa?"
Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi sebenarnya menyimpan penghormatan bahwa timnya cukup matang untuk memahami teguran tanpa perlu dipermalukan.
Anton melihat energi, baik positif maupun negatif, sebagai sesuatu yang menular di ruang kerja. Satu orang yang memilih untuk mengeluh bisa menyeret semangat lima orang lain turun bersamanya. Namun, satu orang yang memilih untuk mengajak maju bisa melakukan hal sebaliknya.
Itu sebabnya, ia selalu menanamkan dua nilai kepada timnya: bekerja dengan hati dan berpikir positif.
Anton tidak mengidolakan satu tokoh besar sebagai panutan. Ia justru skeptis terhadap kisah-kisah sukses yang biasa dibagikan secara luas. Sebab, menurutnya, cerita semacam itu selalu diceritakan setelah semuanya berhasil. Bagian kegagalannya jarang mendapat porsi yang sama.
Anton malah lebih tertarik pada cerita orang yang gagal 200kali sebelum akhirnya berhasil pada percobaan ke-201. Sebab, di situlah letak kejujuran sebuah perjalanan.
Pengalamannya sendiri di bangku sekolah mencerminkan hal itu. Ia pernah merasa seperti mengejar orang yang sudah jauh berlari di depan, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) yang harus ia perjuangkan mati-matian hanya untuk memenuhi standar minimum.
Tujuannya bukan untuk berdiri di podium.
"Saya hanya ingin tetap berada dalam rombongan, meskipun posisinya di belakang."
Dalam mendefinisikan kesuksesan, Anton menolak dua ukuran paling umum yang biasa dipakai orang: uang dan jabatan.
Dari sisi harta, banyak orang yang jauh lebih kaya darinya.
Dari sisi jabatan, ia mungkin sudah sampai di titik yang dianggap berhasil, namun butuh puluhan tahun untuk sampai ke sana, sementara generasi sekarang bisa mencapai posisi serupa dalam lima sampai 10 tahun saja.
Ukuran kesuksesan, bagi Anton, sungguh sederhana, yaitu:
Tidak ada telepon yang datang membawa kabar buruk tentang anaknya.
Keluarga yang baik-baik saja.
Anak yang bisa mengaji lebih baik darinya.
Pendidikan anak lebih baik darinya.
Bisa menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah.
Berikut penuturan lengkap Anton Darnado kepada jurnalis investortrust.id, Rizki Putra Satria, Elsid Arendra, dan Abdul Aziz:
Bisa cerita perjalanan karier Anda hingga akhirnya bergabung dengan Alfabeta?
Kalau melihat perjalanan saya, mungkin bisa dibilang saya berbeda generasi dengan anak-anak muda sekarang. Saya lahir di era 1970-an. Saat itu, teknologi belum seperti sekarang. Cara orang tua memandang masa depan juga sangat berbeda.
Kehidupan saya mengalir begitu saja. Ayah saya anggota ABRI, jadi mindset-nya sederhana: saya harus menjadi ABRI. Tidak ada arahan seperti sekarang, misalnya harus sekolah di mana, mengambil jurusan apa, atau mempersiapkan karier seperti apa.
Menjelang kuliah, ayah saya meninggal. Akhirnya saya harus menentukan jalan sendiri. Awalnya saya kuliah hukum, bukan IT. Bahkan, saya sebenarnya tidak punya ketertarikan khusus terhadap komputer.
Jadi, berkarier di bidang IT bukan cita-cita Anda?
Sama sekali bukan. Bahkan ketika masuk kuliah komputer pun, saya tidak punya komputer. Saya masih ingat, pertama kali mau menyalakan komputer saja saya bertanya kepada teman, "Power-nya di mana? Cara menyalakannya bagaimana?"
Jadi, masuk IT memang bukan karena passion sejak awal. Lebih karena keadaan.
Waktu itu kondisi keluarga juga tidak memungkinkan. Kakak saya ada yang sedang kuliah, adik saya juga. Saya berpikir, saya harus bekerja supaya bisa membantu keluarga. Saya kemudian meminjam uang kepada teman untuk mengambil pendidikan yang memungkinkan saya cepat bekerja.
Akhirnya saya mengambil D3 di Politeknik ITB, yang sekarang menjadi Politeknik Negeri Bandung. Saya memilih itu karena berpikir sederhana: kuliah sebentar, cepat bekerja, lalu bisa membantu orang tua.
Bagaimana Anda mendapatkan pekerjaan pertama?
Pekerjaan pertama saya di Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II. Itu juga sebenarnya bukan sesuatu yang saya rencanakan. Waktu itu menjelang wisuda, ada manajemen berbagai perusahaan datang ke kampus untuk mempresentasikan perusahaan mereka. Tujuannya tentu supaya mahasiswa tertarik melamar.
Saya malah tidak ikut karena sedang main basket.
Kemudian, di tengah acara, mereka membagikan nasi kotak. Saya melihat ada nasi kotak, lalu ikut makan. Setelah itu ternyata para pemain basket yang makan juga diminta mengikuti tes. Ya sudah, karena telanjur makan, saya ikut tes.
Disaring, disaring lagi, sampai akhirnya terpilih 13 orang. Kebetulan saya termasuk di dalamnya. Jadi, sebelum wisuda, saya sudah mendapatkan pekerjaan.
Kalau ditanya apakah sejak awal saya memang ingin bekerja di sana, jawabannya tidak. Saya mengalir saja. Yang penting saya mendapatkan penghasilan dan bisa membantu keluarga.
Berarti perjalanan karier Anda lebih banyak mengikuti keadaan?
Betul. Setelah bekerja, saya berpikir, "Saya sudah kerja, sekarang bagaimana?" Akhirnya saya melanjutkan S1, kemudian S2. Semua berjalan saja.
Kalau dibandingkan dengan anak muda sekarang, tentu sangat jauh. Sekarang informasi, teknologi, dan pilihan karier sudah begitu banyak. Dulu tidak seperti itu.
Waktu sekolah, saya sebetulnya lebih suka musik dan olahraga. Saya main musik, main basket. Setiap ada acara di sekolah, biasanya saya ikut bermain musik.
Tetapi ketika masuk dunia kerja, kita dituntut untuk perform. Mau tidak mau, kita harus total. Setelah masuk lebih dalam, akhirnya baru terasa, "Oh, ternyata saya bisa menikmati bidang ini."
Jadi, kadang-kadang passion itu bukan sesuatu yang sudah kita temukan sejak awal. Bisa juga muncul setelah kita benar-benar masuk dan menjalaninya.
Apa yang membuat Anda akhirnya benar-benar merasa bahwa dunia IT adalah passion Anda?
Salah satunya karena IT adalah dunia yang sangat luas dan sangat cepat berubah.
Orang hukum, misalnya, semakin lama biasanya semakin menguasai bidangnya karena pengalaman yang terus bertambah. Ada pembaruan, tetapi fondasinya relatif lebih stabil.
Di IT berbeda. Kalau saya merasa expert pada 1990, lalu masuk tahun 2000 tidak mengikuti perkembangan, saya sudah tidak expert lagi. Masuk dekade berikutnya, kalau tidak mengikuti lagi, saya semakin tertinggal.
Makanya saya sering bilang, orang IT tidak selalu berarti tahu semua hal tentang IT.
Pernah suatu ketika ada direktur saya membeli perangkat baru. Saya dipanggil ke ruangannya dan diminta memperbaiki. Padahal, saya sendiri baru melihat perangkat itu.
Jadi, ada anggapan bahwa orang IT pasti tahu semuanya. Ada IoT (internet of things), dia pasti tahu IoT. Ada AI (artificial intelligence), dia pasti tahu AI. Ada sistem baru, pasti dia bisa membuatnya.
Padahal, tidak begitu. Teknologi berkembang terlalu cepat. Kita tidak mungkin menguasai semuanya. Yang penting adalah kemampuan untuk memahami logika, belajar, dan beradaptasi dengan sesuatu yang baru.
Intinya ada pada kemampuan beradaptasi?
Kemampuan beradaptasi sangat penting.
Saya baru memahami belakangan bahwa pendidikan yang saya dapatkan sebenarnya bukan sekadar tentang program atau teori tertentu. Karena apa yang kita pelajari di kampus belum tentu digunakan persis di tempat kerja.
Yang paling penting justru tiga hal. Pertama, logika. Kedua, kepercayaan bahwa kita mampu menghadapi sesuatu yang belum kita ketahui. Ketiga, kemampuan beradaptasi dengan perubahan.
Misalnya saya kuliah A, kemudian masuk kerja ternyata bidangnya sama sekali tidak persis seperti yang saya pelajari. Kalau kita punya dasar berpikir yang baik, kita bisa bertanya, berdiskusi, memahami strukturnya, kemudian mencari solusinya.
Kita tidak harus menjadi ahli pajak untuk membuat sistem pajak. Kita cukup memahami bagaimana struktur dan prosesnya bekerja. Dari situ kita bisa membangun sistem.
Waktu di bangku kuliah, Anda pernah merasa tertinggal?
Pernah. Bahkan cukup berat.
Saya merasa seperti mengejar orang yang sudah berlari jauh di depan. Tujuan saya bukan untuk mendapatkan piala di depan. Saya hanya ingin tetap berada dalam rombongan, meskipun posisinya di belakang.
Waktu itu mendapatkan IPK tertentu saja sangat sulit. Kalau tidak mencapai standar, ada konsekuensinya. Jadi, saya merasa harus meningkatkan effort. Rasanya painful. Tetapi akhirnya saya berhasil lulus.
Setelah mengalami perjalanan seperti itu, apa yang Anda pelajari dari pendidikan?
Saya baru sadar setelah bekerja bahwa pendidikan memberi kita sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar ilmu teknis.
Pendidikan mengajarkan kita cara berpikir.
Kita belajar bagaimana melihat struktur sebuah persoalan. Ketika menghadapi sesuatu yang belum kita tahu, kita tidak langsung mengatakan, "Saya tidak bisa."
Kita berpikir, "Oke, kalau strukturnya seperti ini, berarti kemungkinan jalannya ke sini."
Itu yang menurut saya sangat penting. Karena dunia kerja selalu berubah. Teknologi berubah, kebutuhan berubah, perusahaan berubah. Kalau kita hanya mengandalkan pengetahuan teknis yang kita dapatkan dulu, kita akan tertinggal.
Dalam perjalanan karier, tentu ada masa naik dan turun. Pernahkah Anda mengalami titik yang sangat sulit?
Saya pernah dua kali mengalami masa-masa sulit dalam pekerjaan karena perusahaan tempat saya bekerja tutup.
Yang pertama, saat-saat terakhir hanya tinggal saya dan dua anggota tim.
Perusahaan mengatakan hanya bisa mempertahankan dua orang dan saya diminta memilih salah satu anggota tim yang harus dilepas. Saya berpikir, dua-duanya dalam kondisi sulit. Salah satunya, istrinya baru melahirkan. Akhirnya saya bilang, "Kalau memang harus ada yang keluar, saya saja."
Ternyata setelah melihat pendekatan itu, perusahaan justru memutuskan mempertahankan kami bertiga.
Dari situ saya belajar, sebagai pemimpin, kita tidak boleh hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita juga harus memikirkan orang-orang yang kita pimpin.
Masa sulit kedua, saat perusahaan tempat saya bekerja benar-benar tutup.
Respons Anda saat itu?
Saya berpikir sederhana: rezeki itu bukan berasal dari kantor.
Kalau memang rezeki kita, pasti tidak akan tertukar.
Saya mengibaratkan begini. Kalau air ini memang rezeki saya, saya akan minum dan air itu masuk ke tubuh saya. Kalau bukan rezeki saya, mungkin air itu akan tumpah.
Jadi, ketika kehilangan pekerjaan, saya tidak berpikir bahwa hidup saya selesai. Saya tetap harus berusaha. Saya harus mencari pekerjaan. Kalau perlu berjualan telur, ya jual telur.
Yang penting saya percaya rezeki itu ada. Saya hanya belum tahu datangnya dari mana.
Berarti Anda tidak pernah benar-benar merasa putus asa?
Bukan berarti tidak pernah merasa berat. Pasti berat. Apalagi kita punya anak dan istri yang harus dinafkahi. Tetapi saya tidak melihat kehilangan pekerjaan sebagai kehilangan rezeki. Saya hanya sedang berhenti dari satu sumber penghasilan dan harus mencari sumber yang lain.
Prinsipnya, saya harus tetap berusaha.
Filosofi hidup Anda?
Kalau usia sudah seperti saya sekarang, yang paling dekat adalah mempersiapkan kematian. Artinya, apa pun yang kita lakukan harus bermanfaat dan berpahala.
Saya bekerja bukan sekadar untuk mendapatkan uang. Saya bekerja untuk menafkahi anak dan istri. Kalau niatnya kita arahkan sebagai ibadah, pekerjaan yang sama bisa memiliki nilai yang berbeda.
Kita berangkat pagi, pulang sore, sama-sama capek. Tetapi kalau niatnya untuk menafkahi keluarga dan menjalankan kewajiban, ada nilai lain di dalamnya.
Saya juga ingin tetap produktif sampai tua. Karena itu, saya terus membekali diri dengan ilmu yang mungkin bisa saya gunakan ketika sudah tidak lagi bekerja secara formal.
Saya tidak ingin ketika pensiun hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Dengan basis IT yang saya punya, saya berharap masih bisa membuat inovasi atau produk, untuk diri sendiri maupun orang lain.
Apa definisi sukses menurut Anda?
Kalau ukuran sukses adalah uang, saya bisa dibilang tidak sukses. Banyak orang yang hartanya jauh lebih banyak daripada saya.
Kalau ukuran sukses adalah jabatan, mungkin sekarang saya bisa dibilang berhasil. Tetapi saya mencapai posisi ini setelah puluhan tahun. Anak-anak sekarang mungkin bisa mencapai posisi yang sama dalam lima atau 10 tahun. Jadi ukurannya relatif.
Bagi saya, sukses adalah ketika kehidupan kita berjalan sesuai dengan fitrah dan yang kita harapkan.
Keluarga baik-baik. Anak-anak tidak bermasalah. Istri baik-baik. Kita tidak mendapatkan telepon yang membuat kita khawatir, misalnya, "Pak, anak Bapak ditangkap polisi," atau "Pak, anak Bapak mengalami kecelakaan."
Hal-hal sederhana seperti itu justru bagi saya adalah kesuksesan.
Saya bersyukur anak-anak saya baik. Salah satu anak saya bahkan sudah bisa mengaji lebih baik daripada saya. Ada yang kuliahnya juga lebih baik daripada saya.
Secara keluarga, kami pun bisa menikmati waktu bersama di rumah. Mungkin bagi orang lain itu biasa saja. Tetapi bagi saya, itu kebahagiaan.
Bagaimana Anda menanamkan nilai-nilai tersebut kepada tim di perusahaan?
Saya selalu menyampaikan dua hal. Pertama, bekerja dengan hati. Kedua, berpikir positif.
Saya pernah mengatakan kepada tim, ketika mulai bekerja, bacalah Bismillahirrahmanirrahim. Sederhana, tetapi itu mengingatkan bahwa pekerjaan yang kita lakukan memiliki niat.
Kemudian berpikir positif. Energi positif itu harus disebarkan.
Kalau kita berpikir negatif, misalnya di tempat kerja bilang, "Aduh, malas. Ngopi saja, deh."
Biasanya teman-teman di sekitarnya ikut malas.
Tetapi kalau kita bilang, "Ayo, kita selesaikan ini.”
Orang lain bisa ikut semangat.
Gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?
Saya lebih memilih pendekatan yang manusiawi.
Saya memberikan arahan. Dan, kalau ada persoalan teknis yang saya kuasai, saya akan memberikan pelatihan atau berbagi pengalaman.
Tetapi saya juga tidak mengabaikan counseling. Karena ada orang yang kompetensinya bagus, tetapi motivasinya buruk. Ada juga yang secara teknis biasa saja, tetapi motivasi, goodwill, dan sikapnya bagus.
Penanganannya tentu berbeda.
Yang pertama harus ditingkatkan kompetensi teknisnya. Yang kedua mungkin lebih membutuhkan penguatan kemampuan dan kepercayaan dirinya.
Saya juga tidak merasa perlu memarahi orang.
Kalau orang yang saya tegur sudah cukup dewasa secara pendidikan dan pengalaman, saya cukup bilang, "Kamu tidak boleh begitu. Kerjanya seperti ini. Tolong diperbaiki."
Pesannya sampai, selesai.
Saya bahkan sering bercanda dengan tim, "Kalian mau saya tegur seperti anak SD, SMP, SMA, atau seperti orang dewasa?"
Saya yakin mereka sudah cukup berpendidikan untuk memahami teguran tanpa harus diteriaki.
Saya tidak ingin ada jarak yang terlalu kaku. Kami bisa bercanda, ngobrol biasa, dan saya memberikan instruksi seperti biasa. Tetapi mereka sendiri tahu kapan harus serius.
Kalau saya sudah berbicara serius, berarti ada sesuatu yang harus diperhatikan. Setelah itu, saya bisa bercanda lagi.
Bagi saya, yang penting bukan gaya kepemimpinannya harus seperti apa, tetapi output yang diberikan sesuai dengan kepercayaan perusahaan.
Saya tidak membatasi kesuksesan orang lain hanya karena mereka bekerja dengan saya. Kalau ada anggota tim yang punya kesempatan untuk mendapatkan karier lebih baik di tempat lain, saya akan memberikan kesempatan. Saya tidak ingin menahan orang hanya karena dia sangat berguna bagi saya.
Karena loyalitas yang baik bukan berarti seseorang tidak boleh pergi. Justru hubungan yang baik bisa tetap bertahan setelah hubungan kerja selesai.
Siapa role model Anda dalam karier?
Tidak ada satu orang secara khusus. Saya membaca banyak cerita orang sukses. Tetapi saya juga sadar bahwa success story biasanya diceritakan setelah semuanya berhasil. Bagian kegagalannya sering tidak terlalu terlihat.
Saya justru tertarik dengan cerita orang yang sudah mencoba 200 kali dan baru berhasil pada percobaan ke-201.
Itu lebih memotivasi.
Kalau kita hanya membaca kisah sukses, kita bisa terinspirasi, tetapi ketika menghadapi kenyataan, kita bisa kaget. Padahal, kegagalan adalah bagian dari perjalanan.
Saya sendiri juga banyak gagal.
Kalau orang bertanya, "Bagaimana supaya sukses?" Saya bisa menceritakan pengalaman saya. Tetapi formula yang berhasil untuk saya belum tentu berhasil untuk orang lain.
Ada orang yang melakukan hal yang sama dengan saya dan tetap gagal. Ada juga orang yang tidak melakukan apa-apa seperti yang saya lakukan, tetapi berhasil.
Jadi, dinamika hidup memang tidak bisa disederhanakan menjadi satu formula.
Peran keluarga dalam karier Anda?
Besar sekali. Keluarga adalah motivasi saya bekerja. Keluarga saya bukan hanya anak dan istri. Ada ibu, kakak, saudara, dan keluarga besar.
Sebagai anak, ketika saya tidak membuat masalah bagi ibu saya, itu sudah menjadi kebahagiaan bagi beliau. Begitu juga dengan saudara.
Hal-hal sederhana seperti bisa berkumpul, makan bersama, atau mengajak keluarga melakukan kegiatan bersama, itu memberikan energi bagi saya.
Banyak orang mungkin melihatnya biasa saja. Tetapi bagi saya, justru di situlah kenyamanan dan motivasinya.
Cara Anda menjaga keseimbangan hidup?
Saya rutin berolahraga. Bukan untuk prestasi. Lebih untuk menjaga interaksi dengan teman. Saya suka olahraga yang bisa membuat kita bertemu teman, bercanda, saling meledek, dan tertawa. Olahraga apa pun. Setelah bekerja sepanjang minggu, itu seperti refresh.
Biasanya seminggu sekali.
Yang penting bukan sekadar olahraganya, tetapi interaksinya. Saya juga lebih memilih olahraga yang tidak terlalu berisiko cedera. Dan saya sengaja memilih teman di luar kantor. Kalau teman kantor, nanti olahraga pun yang dibicarakan pekerjaan lagi, ha, ha, ha…
Saya juga masih suka musik. Dulu saya punya cita-cita mengumpulkan alat musik dan membuat studio. Saya menabung, membeli alat sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya semua yang saya inginkan terkumpul.
Tetapi ketika sudah terkumpul, malah saya tidak main lagi. Istri saya juga meminta untuk tidak melanjutkan. Apalagi teman-teman saya juga sudah banyak yang tidak ada di lingkungan itu. Akhirnya alat-alatnya saya berikan kepada teman supaya digunakan.
Mungkin memang momennya sudah lewat.
Pandangan Anda tentang generasi muda sekarang, khususnya Gen Z?
Kalau dibandingkan dengan generasi saya, ada kelebihan dan kekurangannya. Generasi saya mungkin lebih terbiasa dengan daya tahan terhadap tekanan. Diberi pekerjaan bertumpuk, ya dikerjakan. Tidak terlalu banyak mengeluh.
Sementara yang saya lihat dari sebagian Gen Z, mereka kadang lebih cepat menyerah menghadapi tekanan. Tetapi kalau bicara kemampuan teknis dan adaptasi terhadap teknologi baru, Gen Z luar biasa.
Kalau kami membutuhkan dua atau tiga kali effort untuk beradaptasi dengan teknologi baru, mereka kadang cukup melihat sebentar sudah mengerti.
Jadi, setiap generasi punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Saran Anda kepada generasi muda?
Jangan mencoba menguasai semuanya. Teknologi sekarang sudah terlalu luas. Kalau diikuti semuanya, tidak akan selesai. Tetapi kalau tidak diikuti sama sekali, kita juga bisa tertinggal.
Pilihlah satu bidang yang memang kita sukai dan fokus di situ.
Dulu mungkin orang yang tahu banyak hal dianggap hebat. Sekarang justru spesialisasi semakin penting.
Jadilah spesialis. Jadilah expert di bidang yang kita pilih.
Kalau orang bertanya tentang AI dan kita memang ahli di AI, kita bisa menjawab dengan yakin. Ketika ditanya IoT dan kita tidak tahu, tidak masalah untuk mengatakan, "Saya tidak tahu."
Itu lebih baik daripada tahu semuanya sedikit-sedikit tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar dikuasai.
Persaingan sekarang terlalu berat kalau kita ingin menguasai semuanya. Misalnya kita memilih AI. AI saja sudah sangat luas. Kita harus menentukan mau fokus ke mana, kemudian kuasai sampai benar-benar dalam.
Kalau kita bisa menjadi salah satu yang terbaik di bidang itu, kita akan lebih mudah dikenal.
Saya pernah melihat mahasiswa Indonesia yang mengikuti program pertukaran di China. Setelah diuji oleh profesor di sana, dia langsung ditawari untuk melanjutkan sampai S3. Kenapa? Karena dia dianggap punya kemampuan yang sangat baik.
Kalau ingin mencapai titik seperti itu, kita harus menjadi yang terbaik di bidang kita.
Kalau saya hidup di zaman sekarang, saya akan punya mimpi yang lebih jelas. Dulu saya mengalir karena memang zamannya berbeda. Tetapi sekarang, saya akan mengatakan kepada anak muda: harus punya target!
Misalnya, "Saya ingin bekerja di luar negeri. Saya ingin bekerja di perusahaan ini. Saya ingin menguasai bidang ini."
Kemudian fokus dan kejar.
Jadi, kalau saya boleh memberikan satu mindset, jadilah spesialis yang expert. Jangan tanggung-tanggung.
Kalau kita benar-benar menguasai sesuatu, kita akan selalu punya nilai.
Untuk menjawab tantangan, jadilah air mengalir. Ketika hidup tak sesuai rencana, jadilah air yang tetap mengalir. Terus mencari jalan, berinovasi dan beradaptasi, sampai titik akhir, sampai benar-benar tak bisa mengalir.
Bagaimana Anda melihat perkembangan teknologi saat ini dan ke depan?
Jauh sekali bedanya. Dulu, kalau mau membuat sesuatu, effort-nya luar biasa dan hasilnya belum tentu bagus.
Saya pernah membuat gitar listrik sendiri. Ada kayu di rumah karena ayah saya sedang membangun rumah. Saya ambil, kemudian saya gunakan untuk membuat gitar.
Sekarang mau membuat musik bisa menggunakan aplikasi. Mau membuat presentasi juga jauh lebih mudah.
Dulu, ketika saya bekerja di pelabuhan, saya termasuk orang yang sering diminta membuat presentasi untuk direksi. Saat itu banyak orang membuat presentasi dengan format standar. Saya suka membuat sesuatu yang berbeda, sehingga setiap ada rapat direksi saya sering diminta membantu.
Sekarang hal seperti itu bisa dilakukan jauh lebih cepat.
Itulah kenapa saya selalu mengatakan kepada anak muda: teknologi harus diikuti, tetapi jangan sampai kita justru dikejar-kejar teknologi. Pilih bidang yang ingin dikuasai, fokus, dan jadilah yang terbaik di sana.
Positioning Alfabeta saat ini?
Alfabeta adalah bagian dari PT Centrepark Citra Corpora (Centre Park), perusahaan pengelola perparkiran berbasis teknologi beserta ekosistemnya.
Saat ini kami lebih banyak mendukung kebutuhan teknologi di dalam grup. Karena itu, kami ada di banyak lokasi yang menggunakan teknologi AI, termasuk teknologi LPR (license plate recognition). Jumlahnya sudah ratusan lokasi.
Tetapi kami juga mulai mengembangkan pasar eksternal. Kami sekarang tidak hanya melayani klien di dalam grup, tetapi juga klien di luar.
Apa yang ingin dikembangkan Alfabeta ke depan?
Kalau kita bicara teknologi, Indonesia sebenarnya masih banyak berada di tahap pengguna. Bahkan, perusahaan AI di Indonesia pun sebagian besar masih menggunakan teknologi yang dibuat oleh perusahaan lain.
Kita tidak membuat Microsoft. Kita tidak membuat OpenAI. Kita menggunakan teknologi yang sudah ada.
Karena itu, kalau kita mau bersaing langsung membuat produk yang sama dengan perusahaan global, tentu sangat berat.
Saya melihat peluang Alfabeta justru ada pada gap kebutuhan pengguna Indonesia yang belum bisa dipenuhi produk teknologi yang sudah tersedia. Misalnya teknologinya ada, tetapi harganya terlalu mahal. Atau minimum pemesanannya terlalu besar.
Bisa juga spesifikasinya tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna Indonesia. Di situlah kami mencoba masuk.
Kami juga masuk ke hidden needs. Kebutuhan yang sebenarnya ada, tetapi penggunanya sendiri belum menyadarinya. Jadi, bukan hanya mencari masalah yang sudah bisa diidentifikasi oleh pengguna.
Kami mencoba melihat lebih jauh.
Misalnya, sebuah perusahaan mengalami persoalan tertentu, tetapi mereka sendiri belum tahu bahwa itu adalah masalah yang bisa diselesaikan dengan teknologi.
Kami mengamati, memahami kebutuhannya, lalu menawarkan solusi.
Karena itu, yang kami tawarkan bukan sekadar produk atau layanan, tetapi solusi.
Kalau kami datang dan bilang, "Pak, mau LPR?" mungkin orang akan bertanya, "LPR untuk apa?"
Atau kami datang menawarkan people counting, mereka juga belum tentu langsung melihat manfaatnya.
Tetapi kalau kita memahami kebutuhan mereka lebih dulu, lalu menawarkan solusi yang tepat, responsnya akan berbeda.
Apa sebetulnya nilai tambah yang ditawarkan Alfabeta?
Keunggulan Alfabeta bukan sekadar membuat produk, tetapi memahami kebutuhan pasar Indonesia. Kami tidak mungkin mengejar semua produk yang sudah dibuat perusahaan global.
Misalnya robot. Kalau mau membuat robot yang sama persis dengan produk yang sudah sangat maju, kami pasti ketinggalan. Tetapi kami bisa membuat robot yang kemampuannya mungkin tidak sama persis, tetapi memiliki nilai lain yang tidak dimiliki produk tersebut.
Kami mencari celah yang bisa kami isi. ***
BIODATA
Nama: Anton Darnado.
Pendidikan:
* S2 MMSM (Magister Management Strategic Management) - Universitas Prasetiya Mulya.
* S1 Informasi Manajemen - Universitas Persada Indonesia YAI.
* D3 IT - Politeknik Institut Teknologi Bandung (ITB).
Karier:
* CEO PT Alfabeta Solusi Nusantara (November 2024 – sekarang).
* VP Smartpay & Technology (IT) PT CentrePark Citra Corpora (Februari 2021 – sekarang).
* Head Smartpay & Technology (IT) PT CentrePark Citra Corpora (November 2018 - Februari 2021).
* Entrepreneur PT Cubinesia Digital Niaga (September 2017 - November 2018).
* GM Customer Engagement PT Digital Vision Nusantara (Juni 2014 - September 2017).
* Senior Manager IT Ops Nexmedia (Juni 2010 – Juni 2014).
* IT Business Support Manager PT Karya Megah Adijaya - AORA TV (Juni 2009 - Juni 2010).
* Business Operation Manager PT Buana Varia Komputama (Jun 2008 - Jun 2009).
* Assistant Manager PT MNC Sky Vision (November 1997 - Juni 2008).
* Network Engineer PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/Pelindo II (November 1995 - November 1997).

