Indonesia–Thailand: Dari Perdagangan Komoditas Menuju Pusat Pertumbuhan Agribisnis Dunia
Oleh: Devi Erna Rachmawati, SE., MBA., Ph.D - Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pertanian
JAKARTA, investortrust.id – Hubungan Indonesia dan Thailand memasuki babak baru. Pertemuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra bukan sekadar mempererat hubungan diplomatik kedua negara, tetapi juga membuka peluang besar bagi lahirnya arsitektur baru kerja sama ekonomi, khususnya di sektor pertanian.
Di tengah meningkatnya tantangan global—mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok pangan, ketegangan geopolitik, hingga fluktuasi harga komoditas—ketahanan pangan telah berubah menjadi isu strategis yang menentukan masa depan sebuah bangsa. Negara yang mampu menjamin pasokan pangan bagi rakyatnya akan memiliki ketahanan ekonomi yang jauh lebih kuat.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dan Thailand memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi poros pertumbuhan pertanian ASEAN. Kedua negara bukan hanya memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi juga keunggulan yang saling melengkapi. Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas, kekayaan hayati tropis yang luar biasa, tenaga kerja produktif, dan pasar domestik terbesar di Asia Tenggara. Sebaliknya, Thailand dikenal sebagai salah satu eksportir produk pertanian terbesar di dunia dengan kekuatan pada teknologi budidaya, industri pengolahan pangan, standardisasi mutu, serta jaringan distribusi global yang sangat matang.
Karena itu, hubungan kedua negara sudah saatnya melampaui pola lama yang hanya berorientasi pada perdagangan komoditas primer. Masa depan pertanian ASEAN harus dibangun melalui penciptaan nilai tambah (value creation), hilirisasi industri, inovasi teknologi, investasi bersama, serta penguatan rantai pasok pangan regional.
Data menunjukkan fondasi kerja sama tersebut sudah terbentuk. Nilai perdagangan pertanian Indonesia–Thailand pada 2023 mencapai sekitar US$4,15 miliar, terdiri atas ekspor Indonesia sebesar US$2,32 miliar dan impor sekitar US$1,83 miliar. Dalam lima tahun terakhir, perdagangan pertanian kedua negara tumbuh rata-rata sekitar 6,3% per tahun. Angka ini memperlihatkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara berkembang secara sehat dan memiliki ruang ekspansi yang masih sangat besar.
Indonesia mengekspor berbagai komoditas unggulan seperti kelapa sawit beserta turunannya, karet, buah-buahan tropis, kopi, rempah-rempah, hingga produk perikanan. Sebaliknya, Thailand memasok jagung, gula, pakan ternak, produk hortikultura, serta mesin dan teknologi pertanian. Struktur perdagangan ini menunjukkan adanya hubungan yang bersifat saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Namun, peluang terbesar justru berada pada tahapan berikutnya, yakni membangun kemitraan investasi dan inovasi.
Indonesia membutuhkan percepatan transformasi menuju pertanian modern berbasis teknologi. Di sisi lain, Thailand memiliki pengalaman panjang dalam penerapan precision agriculture, smart farming, mekanisasi, hingga digitalisasi rantai pasok pangan. Kolaborasi kedua negara akan mempercepat transfer teknologi sekaligus meningkatkan produktivitas petani.
Kerja sama juga perlu diarahkan pada pengembangan industri hilir berbasis komoditas strategis seperti kelapa sawit, karet, kakao, kopi, singkong, tebu, buah tropis, serta hortikultura. Dengan hilirisasi, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.
Di bidang riset, Indonesia dan Thailand dapat membangun kemitraan antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan pemerintah untuk menghasilkan benih unggul, bioteknologi pertanian, mekanisasi modern, serta teknologi pertanian rendah emisi karbon. Inovasi inilah yang akan menjadi fondasi pertanian masa depan.
Peluang investasi juga sangat besar. Pengembangan kawasan industri pangan, cold chain logistics, pusat distribusi regional, serta industri pengolahan hasil pertanian akan memperkuat posisi kedua negara sebagai pusat logistik pangan ASEAN.
Ekspor Pupuk
Salah satu peluang konkret yang patut segera ditindaklanjuti adalah ekspor pupuk Indonesia ke Thailand. Nilai pasar pupuk Thailand pada 2023 mencapai sekitar US$1,04 miliar dengan volume impor sekitar 4,7 juta ton. Saat ini sebagian besar pasokan berasal dari Tiongkok, Malaysia, Arab Saudi, dan negara lainnya. Indonesia memiliki peluang meningkatkan pangsa pasar melalui pupuk kimia maupun pupuk organik yang berkualitas, berharga kompetitif, serta diproduksi secara berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional. Dunia usaha memiliki peran penting untuk memperkuat agenda tersebut melalui investasi, inovasi, dan penciptaan rantai nilai yang memberikan manfaat bagi petani maupun pelaku industri.
Kadin Indonesia Bidang Pertanian memandang bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk membentuk Indonesia–Thailand Agricultural Partnership, sebuah platform kolaborasi yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga riset, serta sektor swasta. Kemitraan tersebut dapat menjadi wadah pengembangan perdagangan, investasi, inovasi, pendidikan, teknologi, hingga penguatan sumber daya manusia pertanian.
Ke depan, target kerja sama tidak hanya meningkatkan nilai perdagangan pertanian menjadi US$6 miliar dalam lima tahun, tetapi juga mendorong investasi pertanian Thailand di Indonesia mencapai US$1 miliar, memperluas transfer teknologi, memperkuat ketahanan pangan kawasan, serta meningkatkan kesejahteraan petani di kedua negara.
Lebih jauh lagi, Indonesia dan Thailand dapat menjadi motor penggerak lahirnya ekosistem agribisnis ASEAN yang modern, tangguh, dan berkelanjutan. Ketika kedua negara mampu mengintegrasikan keunggulan masing-masing, ASEAN tidak hanya akan menjadi pasar pangan terbesar di kawasan, tetapi juga salah satu pusat produksi pangan paling kompetitif di dunia.
Pada akhirnya, kerja sama Indonesia–Thailand bukan sekadar tentang meningkatkan angka perdagangan. Kemitraan ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun masa depan pertanian yang lebih produktif, lebih inovatif, dan lebih menyejahterakan. Dari kemitraan inilah dapat lahir fondasi baru bagi ketahanan pangan regional dan pusat pertumbuhan agribisnis ASEAN yang mampu memberi manfaat bagi ratusan juta masyarakat di kawasan.
Pertanian tidak lagi sekadar menghasilkan pangan. Pertanian adalah strategi pembangunan, sumber pertumbuhan ekonomi, dan fondasi kedaulatan bangsa. Indonesia dan Thailand memiliki kesempatan bersejarah untuk memimpin transformasi tersebut bersama.
