PFII: Jangan Bangun Masa Lalu
Poin Penting
|
Oleh: Hanafi Guciano *)
INVESTORTRUST.ID - Singapura membutuhkan lebih dari enam dekade untuk menjadi pusat keuangan Asia. London membangunnya selama lebih dari dua abad. Dubai memerlukan hampir tiga dekade sejak Dubai International Financial Centre (DIFC) dibentuk. Semua pusat keuangan dunia lahir melalui proses evolusi yang panjang. Indonesia tidak memiliki kemewahan waktu yang sama.
Tetapi Indonesia memiliki sesuatu yang bahkan tidak dimiliki Singapura, London, Hong Kong, maupun Dubai ketika mereka mulai membangun pusat keuangannya. Indonesia memiliki kesempatan membangun pusat keuangan internasional pertama yang lahir di era artificial intelligence (AI), digital identity, cloud computing, blockchain, carbon markets, real-time payment systems, sovereign wealth fund (SWF). Dan sebuah generasi digital native yang tumbuh bersama teknologi.
Adalah kesalahan terbesar apabila PFII (Pusat Finansial Internasional Indonesia) yang akan dibangun di Bali semata-mata untuk mengejar Singapura. Kesempatan terbesar Indonesia justru terletak pada keberanian membangun sesuatu yang belum pernah dimiliki Singapura ketika ia memulai. Bukan Financial Centre 1.0. Melainkan Digital Native Financial Centre.
Selama ini, diskusi dan RUU mengenai PFII lebih banyak berputar pada lokasi, insentif pajak, kawasan ekonomi khusus, atau gedung perkantoran. Semua memang penting, tetapi itu semuanya hanyalah prasyarat. Tidak ada satu pun pusat keuangan dunia yang berhasil karena memiliki gedung terbaik.
Investor global tidak menanamkan modal karena sebuah kota memiliki pencakar langit. Mereka datang karena hukum dapat dipercaya, kontrak dipatuhi, regulator profesional, data terlindungi. Sistem pembayaran bekerja tanpa henti, dan kebijakan tetap konsisten meskipun pemerintahan berganti.
Dengan kata lain, infrastruktur terpenting sebuah pusat keuangan bukanlah beton, melainkan kepercayaan. Kepercayaan itulah yang selama puluhan tahun dibangun oleh Singapura. Bukan hanya melalui kebijakan fiskal, tetapi melalui kualitas institusi.
Namun karena datang lebih belakangan, justru Indonesia memiliki keuntungan yang sering tidak disadari. Dalam dunia teknologi, dikenal istilah late mover advantage. Pendatang baru tidak selalu kalah. Justru sering kali melompat melewati teknologi lama karena tidak dibebani sistem warisan (legacy systems).
Afrika tidak pernah memiliki jaringan telepon kabel seluas Eropa. Tetapi Afrika langsung menjadi pelopor mobile money. Demikian pula Indonesia, kita tidak perlu mengulang perjalanan yang ditempuh Singapura selama 60 tahun. Kita harus langsung membangun generasi berikutnya.
Financial centre abad ke-20 dibangun dengan baja, kaca, dan beton. Financial centre abad ke-21 dibangun dengan data, algoritma, energi hijau, dan keamanan siber. Gedung masih diperlukan, tetapi bukan lagi pusat ekosistem, melainkan pusat digital infrastructure.
Sebuah pusat keuangan modern membutuhkan identitas digital nasional yang kuat, pusat data berstandar internasional, kecerdasan buatan untuk pengawasan risiko, keamanan siber kelas dunia, sistem pembayaran yang beroperasi 24 jam, serta energi yang andal dan rendah karbon.
Dalam beberapa tahun ke depan, daya saing pusat keuangan akan lebih banyak ditentukan oleh kualitas algoritma dibandingkan kemegahan arsitektur.
Indonesia juga memiliki peluang yang tidak dimiliki pesaingnya. Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, potensi energi terbarukan yang besar, cadangan mineral strategis, ekonomi syariah terbesar, serta pasar domestik yang sangat luas, Indonesia dapat membangun identitas yang berbeda.
PFII tidak perlu menjadi replika Singapura atau Labuan. Indonesia dapat menjadi pusat bagi climate finance, carbon markets, natural capital finance, Islamic sustainable finance, serta pembiayaan transisi energi. Dunia sedang mencari model baru dan Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu penciptanya.
Di banyak negara, sovereign wealth fund (SWF) berfungsi sebagai investor. Di Indonesia, Danantara memiliki peluang yang lebih besar dalam mempercepat lahirnya ekosistem investasi, inovasi, dan pembiayaan jangka panjang.
Keberhasilan PFII akan sangat ditentukan oleh bagaimana lembaga-lembaga nasional bekerja secara terpadu, bukan berjalan sendiri-sendiri. Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), lembaga kliring, universitas, pusat riset, industri teknologi. Seluruhnya harus menjadi bagian dari satu ekosistem. Dalam konteks ini, kehadiran Danantara menjadi sangat strategis.
Karena itu, ukuran keberhasilan PFII tidak boleh berhenti pada jumlah gedung yang dibangun, perusahaan yang pindah kantor, atau besarnya insentif fiskal yang diberikan, tetapi apakah Indonesia berhasil membangun sebuah ekosistem yang dipercaya dunia.
Ekosistem yang menghasilkan talenta kelas dunia, melahirkan inovasi. Ekosistem yang mampu menciptakan produk keuangan baru, bukan sekadar memperdagangkan produk yang sudah ada. Jangan hanya menyediakan tempat akan menjadi tuan rumah, tetapi negara yang menciptakan pasar akan menjadi pemimpin.
PFII pada akhirnya bukan proyek properti. Ia adalah proyek peradaban ekonomi. Kesempatan ini mungkin hanya datang sekali dalam satu generasi. Jika kita membangunnya dengan paradigma abad ke-20, maka ketika selesai dibangun, dunia sudah bergerak ke abad ke-21.
Tetapi jika Indonesia berani merancang PFII sebagai Digital Native Financial Centre sejak hari pertama, kita tidak sedang mengejar Singapura. Kita sedang membangun pusat keuangan untuk dunia yang bahkan belum sepenuhnya terbentuk. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, Indonesia bukan sekadar mengikuti sejarah pusat keuangan dunia, tetapi Indonesia menulis bab berikutnya.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu membangun PFII. Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup berani membangun pusat keuangan untuk masa depan, atau hanya membangun versi yang lebih terlambat dari masa lalu?
*) Ekonom Kelembagaan di UIII dan Arsitek Ekosistem Keuangan.
