Jangan Tunggu ‘Passion’
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – Minat, hasrat, atau gairah (passion) adalah kunci sukses dalam berkarier. Karier seseorang yang sesuai passion biasanya lebih moncer karena ia akan mencurahkan segenap potensi dan kemampuannya sepenuh hati, sesuai panggilan jiwa.
Tapi tak semua orang menemukan passion sejak awal perjalanan karier. Ada passion yang tumbuh bersama waktu, lahir dari rasa ingin tahu, lalu menguat setelah seseorang menekuni suatu bidang secara sungguh-sungguh, kemudian ia menyadari bahwa pekerjaannya mendatangkan kepuasan batin karena memberi makna bagi banyak orang.
Begitulah Lala Eka Nilam. Ia dulu bercita-cita berkarier di industri minyak dan gas (migas). Lala tak pernah membayangkan bakal berkarier di industri pembayaran digital (digital payment). Passion-nya untuk berkarier di industri fintech pembayaran perlahan tumbuh dan bersemi setelah ia menggelutinya secara sungguh-sungguh.
Itu sebabnya, Lala tak percaya pada anggapan bahwa seseorang harus punya modal passion terlebih dahulu sebelum memulai karier. “Pengalaman saya menunjukkan hal sebaliknya. Jadi, jangan tunggu passion. Melangkah aja dulu, passion akan muncul belakangan,” tutur Presiden Direktur ShopeePay Indonesia itu kepada jurnalis investortrust.id, Taufiq Al Hakim, Elsid Arendra, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini.
Lala Eka Nilam terjun ke industri pembayaran digital memang bukan karena ingin mewujudkan cita-citanya semasa kecil, melainkan karena keberanian untuk terus belajar dan melihat peluang di tengah perubahan. "Dari rasa ingin tahu lahir ketertarikan. Dari ketertarikan muncul passion. Passion tidak selalu datang lebih dulu. Kadang-kadang passion justru lahir dari proses panjang yang kita jalani dengan sungguh-sungguh," tutur dia.
Boleh jadi karena itu pula, Lala memiliki sudut pandang yang berbeda tentang kesuksesan. Bagi eksekutif ini, arti sukses bukan sekadar soal jabatan, pencapaian, atau simbol-simbol materi. Definisi sukses akan berubah-ubah seiring perjalanan hidup.
Saat ini, misalnya, Lala memaknai kesuksesan sebagai kesempatan untuk bangun pagi dengan penuh semangat, menikmati pekerjaan yang dijalani, memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, dan apa yang dikerjakannya membawa manfaat bagi orang lain. “Kesuksesan, pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang kehidupan yang bermakna dan dampak yang ditinggalkan,” kata dia.
Dalam memimpin, Lala memilih pendekatan yang lebih personal dan kolaboratif. Ia percaya setiap orang memiliki karakter, kebutuhan, dan cara berkembang yang berbeda. Karena itu, kepemimpinan tidak bisa hanya mengandalkan instruksi satu arah. “Seorang pemimpin harus hadir untuk membantu tim menemukan potensi terbaiknya,” tegas Lala yang pernah berkarier di Gojek dan Kartuku.
Dalam memimpin, Lala Eka Nilam memegang prinsip yang sederhana: help me to help you. “Ketika pemimpin memahami timnya dan tim memahami tujuan organisasi, hasil terbaik akan lebih mudah dicapai bersama,” tandas dia.
Di atas semua itu, ada dua nilai yang menjadi fondasi hidup dan karier Lala, yaitu kepercayaan dan integritas. Dalam industri yang mengelola data dan transaksi jutaan orang, kepercayaan bukan sekadar aset, melainkan fondasi utama. Teknologi boleh berubah, produk boleh berkembang, dan bisnis boleh tumbuh besar. Namun tanpa integritas, semua pencapaian itu bisa runtuh dalam sekejap.
Tak mengherankan jika menjaga amanah dan kepercayaan adalah prinsip Lala yang tidak bisa ditawar. "Trust dan integrity. Integritas dan kepercayaan harus terus dijaga karena keduanya tak bisa dipisahkan. Kepercayaan lahir dari integritas," papar dia.
Meski telah menempuh perjalanan panjang, Lala Eka Nilam mengaku belum merasa sampai di garis akhir. Ia masih melihat banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan digital di Indonesia.
Bagi Lala, tantangan terbesar bukanlah menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi memastikan teknologi itu benar-benar dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Di situlah letak dampak yang sesungguhnya.
Lala wanti-wanti berpesan kepada generasi muda agar terus membangun mentalitas yang kuat, terus belajar, dan jangan takut menghadapi kesulitan. Soalnya, dunia kerja akan selalu berubah dan tidak pernah sepenuhnya nyaman. Akan ada kegagalan, tekanan, dan ketidakpastian.
“Kompetisi terbesar dalam hidup bukanlah dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri. Jadi, jangan terlalu cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan. Tantangan sering kali menjadi guru terbaik," kata Lala.
Di luar jam kantor, terutama saat weekend atau liburan, Lala Eka Nilam kerap menghabiskan waktu untuk touring motor gede (moge) keliling Jawa. Ia juga beberapa kali touring ke Bali, mengendarai Harley-Davidson kesayangannya. Bahkan, bersama rekan-rekannya, Lala sedang menyiapkan touring ke Malaysia.
“Banyak orang mengatakan Harley itu berat, panas, dan tidak praktis. Semua itu benar. Tetapi justru di situlah letak tantangannya. Ada sensasi yang berbeda ketika mengendarainya. Mungkin seperti karier juga, sesuatu yang menantang sering kali memberikan kepuasan yang lebih besar,” ucap penunggang Harley-Davidson Low Rider ST berkapasitas 1.900 cc itu.
Saat berada di atas motor, Lala mengaku merasa menjadi pribadi yang berbeda. Di kantor, ia banyak berbicara tentang strategi bisnis dan berbagai hal lainnya yang bersifat profesional. Ketika melakukan touring, Lala fokus sepenuhnya pada perjalanan.
“Ada semacam reset effect. Banyak hal yang sebelumnya terasa rumit tiba-tiba menjadi lebih sederhana setelah beberapa jam berada di jalan. Secara keseluruhan, touring adalah cara saya mengisi ulang energi,” tutur dia. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut:
Perjalanan karier Anda sudah hampir dua dekade, bagaimana kisahnya hingga berada di industri pembayaran digital?
Saya memulai karier pada 2005. Kalau dibandingkan dengan banyak profesional muda sekarang, mungkin saya sudah termasuk generasi yang mengalami langsung perubahan besar dalam industri teknologi dan pembayaran di Indonesia.
Saya masuk ke industri pembayaran pada 2008. Saat itu kondisinya jauh berbeda dibanding sekarang. Orang mengenal pembayaran digital hampir semata-mata melalui kartu kredit. Belum ada dompet digital, QRIS, ataupun berbagai layanan yang sekarang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Titik masuk saya adalah di bidang infrastruktur kartu kredit. Dari sana saya banyak berinteraksi dengan perbankan, merchant, dan berbagai pihak yang membangun ekosistem pembayaran. Pada masa itu diskusinya masih sangat mendasar: bagaimana transaksi diproses, bagaimana infrastruktur bekerja, dan bagaimana sistem pembayaran dapat berjalan dengan aman.
Perubahan mulai terasa sekitar 2015–2016 ketika gelombang startup bermunculan dan platform berbasis aplikasi berkembang sangat cepat. Pembayaran mulai menjadi bagian penting dari pengalaman digital pengguna. Saat itulah saya melihat bahwa industri ini akan berkembang jauh lebih besar daripada yang dibayangkan banyak orang.
Sebelum bergabung dengan ShopeePay, saya sempat berkarier di Gojek sejak 2017. Fokus saya saat itu berada di bidang business development, strategic partnership, dan berbagai solusi korporasi. Pengalaman tersebut membuka perspektif baru bahwa teknologi bukan hanya soal produk, tetapi juga tentang bagaimana menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Pada 2019 saya bergabung dengan ShopeePay, bertepatan dengan momentum lahirnya QRIS. Saat itu saya termasuk tim awal yang membangun organisasi ShopeePay dari nol. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase paling menarik dalam perjalanan karier saya.
Apakah industri pembayaran digital memang passion Anda sejak awal?
Justru tidak. Kalau kembali ke era awal 2000-an, industri yang dianggap menarik adalah minyak dan gas (migas) atau telekomunikasi. Saat itu hampir tidak ada yang membayangkan bahwa industri pembayaran digital akan berkembang menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu saya selalu mengatakan bahwa tidak semua orang harus menemukan passion sejak awal. Saya sendiri masuk ke industri ini tanpa obsesi khusus. Awalnya hanya pekerjaan yang saya jalani. Namun semakin lama saya belajar, semakin besar rasa ingin tahu saya.Dari rasa ingin tahu lahir ketertarikan. Dari ketertarikan muncul passion. Jadi, passion tidak selalu datang lebih dulu. Kadang-kadang passion justru lahir dari proses panjang yang kita jalani dengan sungguh-sungguh.
Hari ini saya justru melihat industri pembayaran sebagai salah satu industri paling dinamis. Selalu ada perubahan, tantangan, dan peluang baru. Regulasi berkembang, perilaku konsumen berubah, teknologi terus berevolusi. Semua itu membuat industri ini sangat menarik untuk digeluti.
Ketika mendapat tawaran membangun ShopeePay, apa yang terlintas dalam benak Anda?
Yang pertama saya lihat adalah kekuatan ekosistemnya. Shopee memiliki basis pengguna yang besar, jaringan merchant yang luas, dan berbagai bisnis pendukung yang saling terhubung. Saya merasa potensi yang dimiliki jauh lebih besar daripada sekadar menghadirkan produk dompet digital.
Pada awal bergabung, target terbesar kami tentu bagaimana membuat ShopeePay mampu tumbuh sejajar dengan pemain yang lebih dahulu hadir di pasar. Namun setelah masuk lebih dalam, saya melihat peluang yang jauh lebih besar.
Bagi saya, pembayaran digital bukan sekadar alat transaksi. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk membantu pelaku usaha berkembang. Banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sebenarnya membutuhkan lebih dari sekadar alat pembayaran. Mereka membutuhkan dukungan pemasaran, operasional, dan akses terhadap ekosistem digital yang lebih luas. Di situlah saya melihat peran ShopeePay sebagai enabler. Kami tidak hanya memfasilitasi transaksi, tetapi juga membantu UMKM beradaptasi dengan ekonomi digital.
Nilai-nilai yang Anda bawa untuk membangun ShopeePay?
Ada satu prinsip yang selalu saya pegang, yaitu serving the underserved. Indonesia memiliki lebih dari 270 juta penduduk dengan tingkat literasi digital yang sangat beragam. Banyak pelaku industri teknologi cenderung fokus pada masyarakat yang sudah sangat akrab dengan teknologi, terutama di kota-kota besar. Padahal, potensi terbesar justru berada di kelompok masyarakat yang belum banyak tersentuh layanan digital.
Karena itu, kami selalu bertanya bagaimana produk yang kami bangun benar-benar memberikan manfaat bagi mereka yang selama ini belum terlayani secara optimal? Pertanyaan tersebut memengaruhi banyak keputusan bisnis. Ketika mengembangkan fitur, menyusun kampanye, atau merancang layanan baru, kami selalu mencoba melihatnya dari sudut pandang masyarakat yang mungkin belum terlalu familiar dengan teknologi.
Bagi saya, keberhasilan tidak hanya diukur dari pendapatan atau jumlah transaksi. Keberhasilan juga berarti menghadirkan solusi yang benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.
Diferensiasi ShopeePay dibandingkan pemain lain?
Menurut saya, kedekatan dengan kebutuhan masyarakat menjadi salah satu pembeda utama. Banyak pemain memiliki segmen dan fokus masing-masing. Namun ShopeePay berupaya hadir untuk berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kota besar hingga daerah yang lebih kecil, dari pengguna yang sangat akrab dengan teknologi hingga yang baru mulai beradaptasi dengan layanan digital.
Karena itu kami ingin membangun ShopeePay sebagai dompet digital serbaguna. Bukan hanya alat pembayaran, tetapi solusi untuk berbagai kebutuhan harian. Mulai dari QRIS, transfer dana, pembayaran tagihan, pembelian produk digital, tiket, zakat, hingga tabungan emas.
Ketika aplikasi ShopeePay mendapatkan penghargaan sebagai Best Daily Apps dari Google Play, saya melihat penghargaan itu sebagai validasi terhadap arah yang kami bangun. Artinya, ShopeePay digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya pada momen-momen tertentu.
Tentang UMKM, apa yang membedakan pendekatan ShopeePay?
Kami berusaha memahami UMKM secara langsung. Ketika ingin mengembangkan produk atau kampanye baru, kami tidak hanya mengandalkan data. Kami melakukan immersion ke berbagai daerah. Saya pribadi bersama tim kepemimpinan sering turun ke lapangan hingga wilayah tier 3.
Kami ingin memahami bagaimana masyarakat menjalankan aktivitas ekonominya, bagaimana perilaku mereka terhadap teknologi, dan apa tantangan yang mereka hadapi setiap hari. Dari situ sering kali muncul wawasan yang tidak bisa ditemukan hanya melalui laporan atau presentasi.
Bagi saya, keberhasilan terbesar adalah ketika seseorang yang sebelumnya tidak terlalu memahami teknologi ternyata bisa menggunakan layanan kami dengan mudah dan merasakan manfaatnya secara langsung. Itu jauh lebih memuaskan dibanding sekadar meluncurkan fitur yang terlihat canggih tetapi sulit digunakan.
Bagaimana Anda melihat prospek pertumbuhan industri dompet digital di Indonesia?
Masih sangat prospektif. Kami terus mendorong agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan transaksi. Sering kali orang melihat persaingan antarpemain dan menganggap pasar sudah jenuh. Padahal kenyataannya belum. Ketika kami berbicara tentang Indonesia, kita berbicara tentang lebih dari 270 juta penduduk. Masih banyak masyarakat yang bahkan belum mengenal manfaat layanan pembayaran digital.
Karena itu, kami mengajak masyarakat yang belum masuk ke ekosistem digital agar mulai memanfaatkannya. Masyarakat perlu memiliki lebih banyak pilihan transaksi. Bagi saya, ukuran keberhasilan industri ini bukan hanya siapa yang paling besar, tetapi seberapa banyak masyarakat yang akhirnya mendapatkan manfaat dari digitalisasi keuangan.
Saya sangat optimistis. Kalau melihat jumlah penduduk Indonesia, ruang pertumbuhannya masih luar biasa besar. Bahkan saya sering mengatakan bahwa kompetitor terbesar industri ini bukan sesama dompet digital, melainkan uang tunai. Selama masih ada masyarakat yang lebih memilih uang tunai dibandingkan transaksi digital, berarti peluang pertumbuhannya masih sangat besar.
Saya percaya titik balik terbesar akan terjadi ketika penggunaan uang tunai semakin berkurang dan masyarakat semakin nyaman melakukan transaksi secara digital. Bukan karena mengikuti tren, tetapi karena mereka benar-benar merasakan manfaatnya. Dari sisi keamanan, kenyamanan, dan kemudahan, dompet digital memiliki banyak keunggulan. Karena itu, saya melihat masa depan industri ini masih sangat menjanjikan.
Seberapa ketat kompetisi di industri dompet digital?
Kompetisinya sangat ketat, baik dari pemain nonbank maupun perbankan. Namun saya sering mengatakan bahwa kompetitor terbesar kami sebenarnya bukan GoPay, Dana, atau pemain lainnya. Kompetitor terbesar kami adalah uang tunai.
Masih sangat banyak masyarakat yang lebih nyaman menggunakan uang tunai dibandingkan layanan digital. Padahal dari sisi keamanan, kemudahan, dan berbagai manfaat tambahan, dompet digital memiliki banyak keunggulan. Karena itu tantangan terbesar industri ini adalah mengubah kebiasaan.
Ketika masyarakat benar-benar melihat manfaatnya dan menjadikan pembayaran digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, saat itulah transformasi yang sesungguhnya terjadi.
Industri fintech sering dikaitkan dengan penyalahgunaan, termasuk judi online. Pandangan Anda?
Pertama-tama, kita harus memahami bahwa teknologi hanyalah alat. Sama seperti uang tunai, teknologi bisa digunakan untuk hal yang baik maupun buruk. Karena itu tanggung jawab kami adalah memastikan sistem pengawasan dan mitigasi risiko berjalan dengan baik. Kami menerapkan proses know your customer (KYC), melakukan pemantauan transaksi, mengembangkan sistem deteksi fraud, dan terus memperkuat fitur keamanan.
Namun teknologi saja tidak cukup. Edukasi juga sangat penting. Masyarakat perlu memahami bagaimana menggunakan layanan digital secara aman dan bertanggung jawab. Itu sebabnya, kolaborasi antara industri, regulator, dan masyarakat menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan seperti ini.
Perlukah berkolaborasi dengan kompetitor?
Kompetisi membuat kita berkembang, tetapi kolaborasi membuat industri tumbuh lebih cepat. Saya bekerja sama dengan bank. Saya juga bekerja sama dengan berbagai pemain lain di industri pembayaran. Pada akhirnya tidak mungkin membangun ekosistem sendirian.
Kompetitor bagi saya bukan musuh. Mereka adalah pembanding yang membantu kita melihat apakah yang kita lakukan sudah cukup baik atau belum. Kalau tidak ada kompetisi, kita bisa merasa sudah hebat padahal sebenarnya belum tentu.
Anda pernah terpuruk dan berada pada periode paling menantang?
Kalau berbicara soal masa sulit, saya rasa bukan hanya saya yang mengalaminya. Hampir seluruh industri teknologi menghadapinya, terutama pada periode setelah pandemi. Saat pandemi berlangsung, banyak perusahaan teknologi mengalami pertumbuhan yang sangat cepat. Hampir semua aktivitas berpindah ke ranah digital. Namun setelah pandemi mereda, situasinya berubah drastis. Industri memasuki fase baru yang menuntut efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis.
Pada masa itu banyak perusahaan harus mengubah cara berpikir. Jika sebelumnya fokus utama adalah pertumbuhan, maka setelah pandemi fokusnya bergeser menjadi keberlanjutan. Banyak strategi yang harus dievaluasi ulang. Banyak proses yang harus diperbaiki. Banyak keputusan sulit yang harus diambil. Sebagai pemimpin, tantangan terbesarnya bukan hanya menjaga bisnis tetap berjalan, melainkan memastikan tim tetap memiliki semangat dan arah yang jelas di tengah perubahan besar tersebut.
Cara Anda menghadapi situasi tersebut?
Saya belajar bahwa pada saat sulit, transparansi menjadi sangat penting. Orang bisa menerima keputusan yang berat apabila mereka memahami alasan di balik keputusan tersebut. Yang sulit adalah ketika orang tidak tahu arah yang dituju. Maka saya berusaha memastikan tim memahami konteks yang sedang dihadapi perusahaan, tantangan yang ada, dan alasan mengapa perubahan perlu dilakukan.
Selain itu, saya juga berusaha menjaga optimisme. Bukan optimisme kosong, tetapi optimisme yang didasarkan pada keyakinan bahwa perubahan yang dilakukan memang diperlukan agar perusahaan bisa bertahan dalam jangka panjang. Pada akhirnya, masa-masa sulit tersebut justru mengajarkan banyak hal tentang kepemimpinan, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi.
Apa yang membuat Anda berhasil melewati berbagai fase sulit?
Menariknya, tiga perusahaan tempat saya pernah bekerja mengalami dinamika yang kurang lebih serupa. Ada masa ketika industri tumbuh sangat cepat. Ada masa ketika kondisinya melambat. Ada periode yang sangat optimistis dan ada pula periode yang penuh ketidakpastian, sehingga saya belajar bahwa motivasi seseorang tidak bisa hanya bergantung pada kondisi eksternal.
Yang selalu saya tanyakan kepada diri sendiri adalah: apakah nilai yang saya yakini masih sejalan dengan nilai perusahaan tempat saya bekerja? Selama saya masih melihat adanya kesamaan nilai, kesamaan visi, dan budaya kerja yang sehat, saya merasa masih memiliki alasan untuk bertahan dan berkontribusi.
Bagi saya, pekerjaan bukan hanya soal jabatan atau kompensasi. Pekerjaan juga tentang orang-orang yang bekerja bersama kita. Kalau saya boleh mengibaratkan, ini seperti sebuah hubungan. Setiap hubungan pasti memiliki tantangan dan dinamika. Namun selama nilai-nilai yang mendasarinya masih sama, hubungan itu biasanya tetap bisa dipertahankan. Prinsip yang sama juga berlaku dalam karier.
Definisi sukses menurut Anda?
Definisi sukses berubah seiring waktu. Ketika masih lebih muda, saya melihat sukses sebagai pencapaian tertentu. Misalnya bekerja di perusahaan yang diinginkan, menduduki posisi tertentu, atau mencapai target karier tertentu. Namun seiring bertambahnya pengalaman, definisi itu berubah.
Saat ini saya melihat sukses dengan cara yang jauh lebih personal. Saya merasa sukses ketika bangun pagi dengan semangat, menikmati pekerjaan yang saya lakukan, dan merasa bahwa apa yang saya kerjakan memiliki makna. Saya juga merasa sukses ketika apa yang saya lakukan bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitar saya, baik keluarga, tim, rekan kerja, maupun mitra bisnis.
Jadi, ukuran sukses saya hari ini bukan lagi sekadar pencapaian jabatan atau materi, tetapi kualitas kehidupan yang saya jalani dan dampak yang bisa saya berikan. Kesuksesan, pada akhirnya, bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang kehidupan yang bermakna dan dampak yang ditinggalkan.
Anda sudah merasa sukses?
Kalau untuk pertanyaan itu, saya rasa saya masih terus mencari jawabannya. Saat ini saya justru sedang berada pada fase ketika saya mencoba menemukan keseimbangan antara pencapaian profesional dan kehidupan pribadi. Karier tentu penting. Namun semakin bertambah usia, saya juga semakin menyadari pentingnya makna, hubungan dengan keluarga, kesehatan, dan ketenangan hidup.
Karena itu, saya tidak pernah merasa sudah selesai atau sudah sampai di garis akhir. Yang penting bagi saya adalah terus bertumbuh dan memastikan bahwa apa yang saya lakukan memberikan manfaat bagi orang lain. Kalau setiap hari saya bisa bangun dengan tenang, memiliki semangat untuk bekerja, dan merasa hidup saya berarti bagi orang-orang di sekitar, itu sudah menjadi bentuk kesuksesan tersendiri.
Menurut Anda, karier harus mengikuti passion sejak awal atau passion akan datang kemudian?
Saya lebih percaya pada pilihan kedua karena pengalaman saya menunjukkan hal sebaliknya. Banyak orang muda merasa tertekan karena belum menemukan passion. Padahal, menurut saya, passion sering kali tidak ditemukan di awal perjalanan. Pengalaman saya sendiri menjadi contoh yang cukup jelas. Pengalaman saya menunjukkan hal sebaliknya.
Dulu saya menganggap industri minyak dan gas sebagai industri yang sangat menarik. Saya membayangkan suatu hari akan berkarier di sana. Namun sampai hari ini saya tidak pernah bekerja di industri tersebut. Sebaliknya, ketika masuk ke industri pembayaran, saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan khusus. Saya tidak memahami banyak aspek teknis yang berkaitan dengan sistem pembayaran, keamanan transaksi, ataupun operasional merchant.
Namun saya menjalaninya. Lalu saya belajar. Dari proses belajar muncul rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu muncul tantangan yang ingin dipecahkan. Ketika tantangan itu berhasil dipecahkan dan memberikan manfaat bagi orang lain, muncul kepuasan tersendiri. Dari situlah passion tumbuh.
Jadi, saya sering mengatakan bahwa passion tidak selalu datang lebih dulu. Kadang-kadang passion justru lahir dari proses panjang yang kita jalani dengan sungguh-sungguh. Dari rasa ingin tahu lahir ketertarikan. Dari ketertarikan muncul passion, dan seterusnya. Jadi, jangan tunggu passion. Melangkah aja dulu, passion akan muncul belakangan.
Apa yang membuat Anda tetap bersemangat untuk tetap berkarier di industri ini?
Karena masalahnya tidak pernah habis, ha, ha, ha... Mungkin terdengar aneh, tetapi justru itu yang membuat industri ini menarik. Setiap kali kami turun ke daerah, terutama ke wilayah tier 2 dan tier 3, kami selalu menemukan tantangan baru.
Masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara Shopee dan ShopeePay. Masih banyak yang belum memahami manfaat dompet digital. Masih banyak yang belum mengetahui bagaimana teknologi bisa membantu aktivitas mereka sehari-hari.
Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap sebagai hambatan. Bagi saya, itu adalah peluang. Selama masih ada masalah yang perlu dipecahkan, berarti masih ada ruang untuk berinovasi dan memberikan dampak. Dan itulah yang membuat saya terus merasa tertantang sampai hari ini.
Pandangan Anda tentang work-life balance?
Saya mungkin memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Menurut saya, work-life balance dalam arti keseimbangan yang benar-benar sama besar antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sebenarnya tidak ada. Yang lebih realistis adalah work-life integration.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang senior yang saya hormati. Ia bekerja sangat keras, tetapi tetap mampu menjalani kehidupan pribadi dengan baik. Beliau mengatakan bahwa tidak ada formula yang berlaku untuk semua orang.
Ada masa ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. Ada masa ketika keluarga harus menjadi prioritas utama. Maka yang terpenting bukanlah membagi waktu secara kaku, melainkan kemampuan menentukan prioritas sesuai kebutuhan pada saat tertentu. Bagi saya, konsep itu jauh lebih masuk akal dibandingkan mencoba menciptakan keseimbangan yang benar-benar simetris.
Anda bukan tipe workaholic kan?
Saya rasa tidak. Saya masih meluangkan waktu untuk keluarga. Saya masih mengambil cuti tahunan. Saya juga masih memiliki berbagai aktivitas pribadi yang saya nikmati di luar pekerjaan. Tentu ada masa ketika pekerjaan menyita lebih banyak perhatian. Namun saya tetap percaya bahwa seseorang membutuhkan ruang untuk menjalani kehidupan di luar kantor. Pada akhirnya, energi dan perspektif baru sering kali justru datang dari aktivitas di luar pekerjaan.
Filosofi hidup Anda?
Dua kata: trust dan integrity. Integritas dan kepercayaan harus terus dijaga karena keduanya tak bisa dipisahkan. Kepercayaan lahir dari integritas. Bagi saya, keduanya tidak hanya penting dalam bisnis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam industri pembayaran digital, kepercayaan adalah fondasi utama. Kami mengelola data, transaksi, dan berbagai informasi yang sangat sensitif. Karena itu, integritas tidak bisa ditawar. Saya selalu melihat data sebagai amanah.
Perusahaan boleh berkembang sangat cepat. Teknologi boleh semakin canggih. Produk boleh semakin lengkap. Namun jika kepercayaan hilang, semuanya bisa runtuh dalam waktu singkat. Itu sebabnya, saya selalu berusaha menjadikan kepercayaan dan integritas sebagai dasar dalam mengambil keputusan, baik secara profesional maupun personal.
Jika dirangkum, apa benang merah dari perjalanan karier Anda?
Saya akan menyebut dua hal, yaitu kolaborasi dan kemampuan beradaptasi. Saya tidak pernah percaya bahwa kesuksesan adalah hasil kerja satu orang. Semua pencapaian yang saya raih selalu melibatkan banyak orang. Ada tim yang bekerja bersama saya, ada rekan sejawat yang memberikan masukan, ada atasan yang membimbing, dan ada mitra yang membantu mewujudkan berbagai inisiatif.
Hal yang sama juga terjadi di ShopeePay. Kami bisa tumbuh menjadi salah satu pemain terbesar bukan karena bekerja sendiri, melainkan karena mampu membangun kolaborasi dengan banyak pihak. Di sisi lain, saya juga belajar bahwa konsistensi tidak selalu berarti melakukan hal yang sama berulang-ulang.
Banyak orang menganggap konsistensi identik dengan mempertahankan cara lama. Padahal, menurut saya, konsistensi yang sesungguhnya adalah konsisten membaca perubahan dan konsisten beradaptasi terhadap perubahan tersebut.
Pasar berubah. Teknologi berubah. Perilaku konsumen berubah. Kalau kita tidak cukup terbuka untuk mendengarkan perubahan itu, kita akan tertinggal. Maka saya selalu berusaha menjaga keseimbangan antara keteguhan pada nilai-nilai yang diyakini dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya cenderung menggunakan pendekatan yang personal. Ketika masuk ke sebuah organisasi atau bekerja dengan tim baru, biasanya saya tidak langsung berbicara soal target atau key performance indicators (KPI). Saya justru ingin mengenal orang-orangnya terlebih dahulu. Saya ingin memahami peran mereka, tantangan yang mereka hadapi, dan apa yang mereka butuhkan untuk bisa bekerja secara optimal.
Ada satu prinsip yang selalu saya pegang, yaitu help me to help you. Bagi saya, kepemimpinan bukan soal memberi perintah, melainkan membantu tim agar mampu mencapai hasil terbaiknya. Karena setiap orang berbeda, pendekatannya juga tidak bisa disamakan. Cara saya berkomunikasi dengan satu orang mungkin berbeda dengan cara saya berkomunikasi dengan orang lain.
Tujuannya sama, tetapi pendekatannya harus disesuaikan. Seorang pemimpin harus hadir untuk membantu tim menemukan potensi terbaiknya. Ketika pemimpin memahami timnya dan tim memahami tujuan organisasi, hasil terbaik akan lebih mudah dicapai Bersama.
Saya percaya pendekatan seperti itu jauh lebih efektif dibandingkan kepemimpinan yang sepenuhnya satu arah. Dunia kerja sudah berubah. Orang-orang ingin didengar. Mereka ingin memahami alasan di balik sebuah keputusan. Mereka ingin terlibat dalam proses, bukan hanya menerima instruksi. Oleh sebab itu, saya selalu berusaha menciptakan ruang dialog yang terbuka di dalam tim.
Pernah menghadapi hambatan karena faktor gender?
Sejujurnya tidak terlalu. Saya selalu melihat profesionalisme sebagai hal yang lebih penting dibandingkan gender. Bagi saya, laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang selama memiliki kompetensi, integritas, dan kemauan untuk belajar.
Yang paling penting adalah bagaimana seseorang menunjukkan kualitas kepemimpinannya, bukan identitas gendernya. Saya tidak pernah terlalu memikirkan apakah saya perempuan atau laki-laki ketika bekerja. Fokus saya selalu pada bagaimana memberikan kontribusi terbaik dan menghasilkan dampak yang nyata.
Obsesi yang masih Anda kejar?
Kalau berbicara secara profesional, obsesi terbesar saya masih sama dengan yang saya kerjakan hari ini, yaitu memperluas literasi dan adopsi keuangan digital di Indonesia. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar sederhana. Namun ketika saya turun langsung ke berbagai daerah, saya menyadari bahwa pekerjaan rumahnya masih sangat besar.
Saya masih sering menemukan masyarakat yang mengenal Shopee, tetapi belum memahami apa itu ShopeePay. Saya masih menemukan orang yang belum mengetahui bahwa dompet digital bisa digunakan untuk menerima uang, membayar tagihan, membeli pulsa, membeli tiket, atau melakukan berbagai transaksi lainnya. Banyak masyarakat yang sebenarnya bisa memperoleh manfaat besar dari layanan digital, tetapi belum mengetahui cara menggunakannya.
Bagi saya, tantangan terbesar bukan membuat fitur yang semakin canggih. Tantangan terbesar adalah menjembatani kesenjangan pemahaman tersebut. Saya ingin suatu hari ketika seseorang ditanya bagaimana cara membayar, menerima uang, atau melakukan transaksi sehari-hari, ShopeePay menjadi salah satu jawaban yang langsung muncul di benaknya. Kalau itu terjadi secara luas, saya akan menganggapnya sebagai pencapaian yang sangat besar.
Kegiatan Anda di luar jam kerja?
Saya suka touring menggunakan motor besar (moge). Banyak orang yang kaget ketika mengetahui hal itu karena mungkin tidak sesuai dengan gambaran mereka tentang seorang perempuan yang bekerja di industri teknologi dan keuangan. Padahal saat ini hampir setiap minggu saya menyempatkan diri untuk touring.
Saya touring ke Bali beberapa kali, menjelajahi berbagai daerah di Jawa, bahkan sedang merencanakan perjalanan ke Malaysia. Menariknya, hobi ini sebenarnya muncul secara tidak sengaja. Awalnya justru suami saya yang lebih dulu menyukai Harley-Davidson. Saya hanya ikut menemani dan sesekali dibonceng.
Namun suatu hari saya menghadiri kegiatan komunitas pasangan pengendara motor. Saya melihat banyak perempuan yang mengendarai motornya sendiri. Saat itu saya berpikir, mengapa saya hanya dibonceng? Dari situlah rasa penasaran muncul.
Padahal sebelumnya saya bahkan tidak pernah mengendarai motor kopling. Saya belajar dari nol. Motor pertama yang saya gunakan adalah CB150. Tidak lama kemudian naik ke kelas yang lebih besar. Sampai akhirnya saya mencoba Harley-Davidson dan langsung jatuh cinta.
Yang menarik dari Harley-Davidson?
Awalnya justru suara mesinnya. Ada karakter yang sangat khas. Lalu saya melihat bahwa perempuan yang mengendarai Harley masih relatif sedikit di Indonesia. Mungkin ada sisi anti-mainstream yang membuat saya tertarik. Sekarang saya menggunakan Harley-Davidson Low Rider ST dengan kapasitas mesin 1.900 cc.
Banyak orang mengatakan Harley itu berat, panas, dan tidak praktis. Semua itu benar. Tetapi justru di situlah letak tantangannya. Ada sensasi yang berbeda ketika mengendarainya. Dan mungkin seperti karier juga, sesuatu yang menantang sering kali justru memberikan kepuasan yang lebih besar.
Apa sih asyiknya mengendarai motor?
Saat berada di atas motor, saya merasa menjadi pribadi yang berbeda. Di kantor saya berbicara tentang industri pembayaran, strategi bisnis, dan berbagai hal yang sifatnya profesional. Namun ketika sedang touring, fokus saya berubah sepenuhnya pada perjalanan.
Mengendarai motor besar membutuhkan konsentrasi tinggi. Kita harus memperhatikan kondisi jalan, kendaraan lain, cuaca, dan banyak hal lainnya. Akibatnya, pikiran menjadi sangat fokus pada momen saat itu. Ada semacam reset effect (kondisi kembali ke titik awal atau memulai lagi dari nol). Banyak hal yang sebelumnya terasa rumit tiba-tiba menjadi lebih sederhana setelah beberapa jam berada di jalan.
Tentu saja pekerjaan tidak selalu bisa benar-benar ditinggalkan. Saya pernah sedang touring dari Jawa menuju Bali lalu menerima telepon karena ada rapat yang sangat penting. Itu menunjukkan bahwa konsep work-life integration yang saya yakini memang terjadi dalam kehidupan nyata. Tetapi secara keseluruhan, touring adalah cara saya mengisi ulang energi.
Olahraga favorit Anda?
Saya tidak terlalu fanatik pada satu jenis olahraga tertentu. Belakangan saya cukup sering bermain padel karena menyenangkan dan bersifat sosial. Selain olahraga, ada unsur interaksi dan jaringan yang bisa terbangun. Saya juga sesekali pergi ke gym, meskipun tidak sesering dulu. Bagi saya yang penting adalah tetap aktif dan menjaga kesehatan.
Siapa sosok yang menjadi role model Anda?
Ada satu nama yang selalu saya sebut, yaitu Novita Rumngangun. Beliau pernah menjadi atasan saya dan hingga hari ini masih saya anggap sebagai mentor, baik secara profesional maupun personal. Saya belajar banyak dari beliau, terutama tentang ketenangan dalam menghadapi tekanan. Beliau memiliki keluarga, memiliki tanggung jawab besar di perusahaan, tetapi tetap mampu menjalankan semuanya dengan sangat baik.
Yang paling saya kagumi adalah kemampuannya menghadapi berbagai situasi dengan tenang. Dalam dunia bisnis, tekanan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Namun saya melihat beliau mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan kejernihan berpikir. Itu kualitas yang menurut saya sangat berharga.
Pesan Anda untuk generasi muda?
Saya memahami bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka hidup di era yang sangat cepat, sangat kompetitif, dan penuh tekanan. Satu hal yang menurut saya sangat penting adalah membangun mentalitas yang kuat.
Kita sering berbicara tentang mental health, work-life balance, atau berbagai isu lainnya. Semua itu penting. Namun pada saat yang sama, kita juga perlu membangun ketahanan diri, karena dunia kerja tidak akan selalu nyaman. Akan ada tekanan, kritik, kegagalan, dan situasi yang tidak sesuai harapan.
Kalau mentalitas kita tidak cukup kuat, tantangan-tantangan itu akan terasa jauh lebih berat. Pesan saya sederhana: teruslah belajar, terus berkembang, dan jangan takut menghadapi kesulitan. Pada akhirnya, kompetisi terbesar bukanlah dengan orang lain. Kompetisi terbesar adalah dengan diri kita sendiri.
Kalau kita mampu menjadi lebih baik dari diri kita kemarin, berarti kita sedang bergerak ke arah yang benar. Jadi, jangan terlalu cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan. Tantangan sering kali menjadi guru terbaik.***
BIODATA
Nama: Lala Eka Nilam.
Tempat/tanggal lahir: -
Pendidikan:
Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Interstudi, Jakarta.
Lain-lain:
* Executive Education, High Potential Women Leader - Stanford University Graduate School of Business.
* Executive Education, Fimod - Universitas Indonesia (UI).
Karier:
* President Director ShopeePay (April 2025 – sekarang).
* Director, Business & Operation ShopeePay (Februari 2022 – sekarang).
* Head of Acquisition - ShopeePay & ShopeeFood (Oktober 2019 - Februari 2022).
* Vice President Of Business Development Gojek (Januari 2017 - Oktober 2019).
* Head of Merchant Business Kartuku (Juni 2015 - Januari 2017).
* Senior Manager, Merchant Business Development Kartuku (Januari 2012 – Mei 2015).
* Manager, Business Development Kartuku (Jul 2008 - Januari 2012).
