Serangan Siber Melonjak, Server Cloud Tanpa Pengamanan Jadi 'Concern' Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketahanan siber menjadi salah satu tantangan terbesar bagi dunia usaha di Indonesia. Seiring percepatan transformasi digital, ancaman terhadap sistem, data, dan operasional perusahaan terus meningkat dengan skala yang semakin besar dan kompleks.
Dikutip dari Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Sabtu (13/6/2026), lebih dari 5,16 miliar anomali trafik terdeteksi sepanjang Januari hingga November 2025. Kalau dirata-ratakan, angka tersebut setara dengan sekitar 182 serangan setiap detik. Statistik ini menggambarkan bahwa serangan siber bukan lagi ancaman yang bersifat sporadis, tapi aktivitas yang berlangsung terus-menerus dan menyasar berbagai sektor.
Bagi korporasi, kondisi ini jelas mengubah cara pandang terhadap keamanan digital. Jika sebelumnya keamanan siber sering dianggap sebagai urusan teknis yang menjadi tanggung jawab tim IT, kini isu tersebut telah berkembang menjadi faktor penting yang menentukan keberlangsungan bisnis.
Berdasarkan temuan AwanPintar.id beberapa waktu lalu. Platform intelijen ancaman siber nasional yang terhubung dengan pusat internet Indonesia mencatat sebanyak 234,5 juta serangan selama semester II-2025. Jumlah itu pun melonjak 75,76% dibandingkan semester sebelumnya.
Lonjakan terbesar terjadi pada Desember 2025 ketika jumlah serangan mencapai lebih dari 90 juta dalam satu bulan. Tingginya aktivitas transaksi digital pada periode akhir tahun diduga menjadi salah satu faktor yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan intensitas serangan.
Baca Juga
Serangan Siber Capai 182 Kali per Detik, ITSEC Asia Dorong Penguatan Keamanan Digital
Jenis ancaman yang paling dominan adalah Attempted Administrator Privilege Gain, yaitu upaya memperoleh hak administrator untuk mengambil alih kendali sistem. Serangan jenis ini meningkat hampir 58% dalam enam bulan terakhir, menunjukkan bahwa pelaku tidak lagi sekadar mencari celah, tetapi berusaha menguasai sistem inti perusahaan.
Selain itu, kemunculan kembali botnet Mirai berbasis Linux dan meningkatnya kasus pencurian kredensial menjadi sinyal bahwa lanskap ancaman terus berkembang. Kredensial yang berhasil dicuri sering kali diperjualbelikan di forum ilegal atau digunakan sebagai pintu masuk untuk serangan ransomware dan pencurian data yang lebih besar.
Ancaman Siber Kian Meningkat Tajam
Di tengah pertumbuhan ekonomi digital, penggunaan layanan cloud menjadi pilihan utama banyak perusahaan karena menawarkan fleksibilitas, efisiensi biaya, dan kemudahan pengelolaan infrastruktur teknologi.
Namun, percepatan migrasi ke cloud juga menghadirkan risiko baru. Banyak organisasi fokus pada kecepatan implementasi, tetapi kurang memperhatikan aspek keamanan sejak tahap awal.
CTO PT Prosperita sekaligus perwakilan ESET Indonesia, Yudhi Kukuh, mengingatkan bahwa server cloud yang baru aktif dapat langsung menjadi sasaran serangan hanya dalam hitungan menit setelah terhubung ke internet.
"Cloud itu bisa aktif dalam lima menit, tapi sering kali yang terlupakan adalah keamanannya," ujar Yudhi kepada investortrust.id pada bulan Mei lalu.
Baca Juga
ESET Ungkap Celah Keamanan Cloud, Sektor Keuangan Jadi Target Empuk Serangan Siber
Menurutnya, pelaku kejahatan siber biasanya mencari sistem yang belum dikonfigurasi dengan baik atau belum memiliki perlindungan yang memadai. Celah kecil pada tahap awal implementasi dapat menjadi pintu masuk bagi serangan yang berdampak besar.
Pakar keamanan siber itu juga menyoroti bahwa divisi keuangan, akuntansi, dan perpajakan menjadi target utama para pelaku. Alasannya sederhana: di bagian tersebut terdapat akses terhadap transaksi dan aliran dana perusahaan.
Laporan ESET Indonesia mengungkapkan, lewat teknik seperti phishing, pencurian akun email, hingga manipulasi komunikasi bisnis atau Business Email Compromise (BEC), pelaku dapat mengelabui karyawan untuk mentransfer dana ke rekening yang mereka kendalikan.
Cloud dan AI juga Perlu Pengamanan Ekstra
Selain serangan terhadap infrastruktur cloud, ancaman malware masih mendominasi lanskap keamanan siber nasional. BSSN mencatat sekitar 93,78% anomali trafik yang terdeteksi sepanjang 2025 berasal dari aktivitas malware.
Malware hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari trojan yang memungkinkan pelaku memantau aktivitas sistem secara diam-diam, spyware yang mencuri informasi sensitif, hingga ransomware yang mengunci data perusahaan dan meminta tebusan untuk memulihkannya.
Salah satu tren yang berkembang pesat adalah penggunaan stealer malware. Jenis malware ini dirancang untuk mencuri kata sandi, cookies, token autentikasi, kredensial cloud, hingga data yang tersimpan di browser pengguna.
Informasi yang berhasil dicuri kemudian digunakan untuk mengambil alih akun, mengakses sistem internal perusahaan, atau menjadi tahap awal serangan yang lebih besar. Dalam banyak kasus, pencurian kredensial menjadi langkah pertama sebelum pelaku melancarkan ransomware.
Baca Juga
ESET Tambah Fitur Keamanan Cloud Gratis, Tekan Risiko dan Biaya IT
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga menghadirkan tantangan baru. Teknologi AI kini mulai dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk membuat pesan phishing yang lebih meyakinkan, menyusun rekayasa sosial yang lebih personal, hingga mengotomatisasi serangan dalam skala besar.
Akibatnya, email palsu, pesan penipuan, atau situs tiruan menjadi semakin sulit dibedakan dari komunikasi resmi. Kondisi ini meningkatkan risiko kesalahan manusia yang selama ini menjadi salah satu titik lemah terbesar dalam keamanan siber.
Keamanan Siber Kini Jadi Agenda Direksi
Melihat eskalasi ancaman yang terjadi, BSSN menegaskan bahwa keamanan siber tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis semata.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas mengatakan, ancaman siber saat ini telah berkembang menjadi tantangan strategis yang dapat memengaruhi operasional dan keberlangsungan berbagai sektor ekonomi.
"Ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor," katanya dalam keterangan tertulis, 3 Juni lalu.
Karena itu, keamanan siber harus menjadi perhatian di tingkat pimpinan perusahaan. Direksi dan manajemen perlu memastikan bahwa strategi bisnis berjalan seiring dengan strategi perlindungan data dan sistem digital.
Selain ancaman dari luar, faktor manusia masih menjadi titik lemah yang paling sering dimanfaatkan pelaku. Rendahnya kesadaran keamanan digital membuat phishing, pencurian kredensial, dan penyebaran malware tetap efektif meskipun teknologi keamanan terus berkembang.
Di balik fakta yang mengerikan, ada satu kesimpulan yang masih diulang-ulang oleh para pengamat teknologi: keamanan siber bukan soal teknologi, melainkan soal keberlangsungan bisnis.
"Yang paling mahal itu bukan servernya, tapi datanya karena nilainya tidak terukur," kata Yudhi Kukuh.
Hal ini seperti merangkum pergeseran paradigma yang terjadi saat ini, yakni korporasi tidak lagi bisa memisahkan strategi bisnis dari strategi keamanan siber. Pelatihan rutin, peningkatan kesadaran karyawan, serta penerapan kebijakan keamanan yang konsisten menjadi langkah penting untuk memperkuat pertahanan organisasi.
Di sisi lain, tekanan terhadap perusahaan juga semakin besar seiring penguatan implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber. Regulasi ini pun menuntut perusahaan untuk lebih serius dalam melindungi data dan memastikan sistem digital mereka aman.
Singkatnya, keamanan siber bukan lagi sekadar investasi teknologi. Yang dipertaruhkan adalah aset paling berharga perusahaan data, reputasi, kepercayaan pelanggan, dan keberlangsungan bisnis. Di tengah miliaran serangan yang terjadi setiap tahun di seluruh dunia, membangun ketahanan siber bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang wajib menjadi bagian dari strategi korporasi jangka panjang.
