Kopi Konnichiwa Menteng, Franchise Kedai Kopi ala Jepang
JAKARTA, investortrust.id - Siapa tidak kenal Kopi Konnichiwa? Salah satu kedai kopi yang mengusung konsep ala Jepang, kini sedang menjadi kegemaran di kalangan muda. Bagi sobat Investortrust yang ingin memulai bisnis franchise tetapi masih kebingungan, Kopi Konnichiwa bisa menjadi salah satu alternatif, loh!
Investortrust berkesempatan mewawancari pemilik salah satu outlet Kopi Konnichiwa yang terletak di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Adalah Lystia Dewi, pemilik outlet Kopi Konnichiwa Menteng yang membagikan cerita menjalankan bisnis franchise tersebut.
Kopi Konnichiwa Menteng pertama kali dibuka pada Februari 2022 lalu. Berlokasi di Menteng, outlet tersebut menyasar kalangan pekerja hingga mahasiswa. "(Dibuka) sekitar awal tahun 2022. Grand opening kita waktu itu tanggal 21 Februari 2022," ujar Lystia.
Lystia mengaku menggeluti dunia bisnis sejak duduk di bangku kuliah. Diawali dengan bisnis kerudung dan pakaian, ia kemudian mencoba peruntungan dengan membuka franchise Kopi Konnichiwa.
Selain karena memiliki passion dalam berbisnis, Lystia juga mengaku kegemarannya hangout menjadi alasan memilih Kopi Konnichiwa sebagai franchise yang ia jalankan. "Awalnya memang suka nongkrong, kemudian ya sekalian aja buka coffee shop ini," terang Lystia.
Baca Juga
Untuk menggarap bisnis ini, Lystia mengaku menghimpun dana bersama teman-teman. "Modal awal membuka outlet ini adalah hasil patungan. Per hari ini pun pemilik sahamnya masih bersama-sama dengan adik-adik dan teman. Aku 60%, adik pertama 10%, adik terakhir 5%, nah teman-temanku masing 10% dari total franchisee berikut sama kebutuhan lain," terang Lystia.
Dibandingkan dengan brand lain, menurut Lystia Dewi, Kopi Konnichiwa merupakan franchise yang cukup mudah untuk dijalankan. "Kopi Konnichiwa termasuk salah satu franchise yang auto pilot. Bahan baku wajib dari satu supplier, disuplai pusat," tutur Lystia.
Dalam menjalankan bisnis franchise Kopi Konnichiwa, Lystia menjelaskan terdapat beberapa kesepakatan kerjasama yang harus dipenuhi oleh pemilik outlet dan pengelola brand.
"Kalau kewajiban ya tentu membayarkan fee setiap bulan dan membeli bahan baku dari supplier. Sementara hak nya ya memakai brand itu sendiri. Diluar itu mungkin pengelolaan ya, itu kita sendiri yang kelola," jelas Lystia.
Ia menambahkan, pengelola brand dapat melihat grafik penjualan masing-masing outlet. Hal ini kemudian akan disesuaikan pengelola brand dengan data penjualan bahan baku.
Di luar modal awal dan pembelian bahan baku, Lystia menyebut pemilik outlet franchise diwajibkan membayarkan komitmen penggunaan brand di setiap bulan. Namun menurut Lystia, nominal tersebut berlaku flat tidak terpengaruh omzet yang dihasilkan.
"Nah, Konnichiwa sendiri sistemnya bukan bagi hasil. Tetapi sistemnya kita membayarkan fee setiap bulan. Dan itu nominalnya flat, katakanlah Rp 1juta. Mau penghasilan outlet kita sebesar atau serendah apapun, nominal tersebut yang kita bayarkan setiap bulannya," papar Lystia.
Dalam pengelolaan keuangan, Kopi Konnichiwa menggunakan pencatatan yang terintegrasi dengan salah satu aplikasi kasir.
"Untuk pencatatan keuangan menggunakan salah satu aplikasi kasir. Tetapi memang untuk akses aplikasi kasir tersebut terbagi-bagi. Misalkan kasir hanya bisa akses sampai level mana. Sementara kita (pemilik outlet) bisa akses semuanya," jelas Lystia.
Dengan kisaran harga produk di harga Rp18 ribu hingga Rp28 ribu, Kopi Konnichiwa menyasar segmentasi pasar kelas middle. "Range harga pokoknya under 30 ribu. Kopi Konnichiwa ini murah tetapi tidak murahan," ujar Lystia.
Baca Juga
Menurut Lystia, nilai penjualan setiap hari berkisar 100-150 cup. "Per hari rata-rata 100 cup. Kalau sepi banget mungkin terjual 70-80 cup," tutur Lystia.
Kopi Konnichiwa Menteng memiliki traffic pengunjung yang cukup ramai di hari kerja. Sebaliknya, justru sepi pengunjung ketika memasuki akhir pekan.
Alasan Membuka Franchise
Sebelum menjalankan outlet Kopi Konnichiwa Menteng, Lystia sempat berpikir untuk membuka kedai kopi dengan brand sendiri. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pilihan dialamatkan kepada Kopi Konnichiwa.
"Tidak ada tenaga kompeten untuk membangun brand dari awal. Perlu waktu untuk sekolah barista, jika ingin punya cita rasa yang khas," papar Lystia soal alasan memilih franchise ini.
Apalagi menuruut Lystia, membangun sebuah brand baru sejak awal akan membutuhkan biaya yang lebih besar. "Setelah dihitung cost-nya lebih besar bangun brand dari nol," ujar dia.
Selain membutuhkan barista dengan kompetensi tertentu, membangun brand sendiri membutuhkan waktu yang Panjang. Juga butuh biaya untuk memperluas awarness publik terhadap bisnis yang dijalankan.
Bagi sobat Investortrust yang tertarik untuk membuka outlet Kopi Konnichiwa, dapat mengisi formulir permohonan kemitraan pada Kopi Konichiwa. Pengelola brand akan menghubungi Anda sebagai tindak lanjut kemitraan. (CR-1)
Baca Juga
Toko Kopi Tuku Gelar ‘Runhood Running Connect’ dengan 100 Pelari

