Sebesar 84,5% Kredit BRI Dikucurkan untuk UMKM
JAKARTA, Investortrust.id — Hingga Juni 2023, sebesar 84,5% kredit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (konsolidasi) dikucurkan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM. Dengan 36,1 juta nasabah mikro —termasuk ultramikro—, lebih dari 55% pelaku usaha mikro di Indonesia dilayani oleh BRI bersama dua anak usahanya, yakni PT Pegadaian dan PT Penanaman Modal Madani (PNM). Tak pelak, BRI adalah sokoguru UMKM Indonesia yang saat ini sekitar 65,5 juta sekaligus mengukuhkan diri sebagai bank “wong cilik”.
“Nasabah lama UMKM yang kami layani naik kelas secara sistematis,” kata CEO PT BRI Tbk Sunarso pada acara Gathering BRI-Media di BRILink Stadion, Selasa (12/09/2023). Dalam presentasi bertopik “Kolaborasi Memberi Makna Indonesia”, ia menjelaskan, 36,1 juta pelaku usaha mikro BRI dilayani oleh 666.000 agen BRILink dan lewat 15.000 layanan BRIMo yang menjangkau 27,8 juta pengguna. Strategi hybrid —layanan high-tech lewat piranti digital dan layanan high-touch lewat jasa para agen BRILink— merupakan kunci sukses BRI dalam mendorong UMKM BRI naik kelas.
Dalam paparannya, Sunarso menyampaikan bahwa pangsa kredit UMKM di BRI secara konsolidasi per Juni 2023 mencapai 84,5%, terdiri atas kredit mikro sebesar Rp 577,9 triliun dengan porsi yakni 48,10%, disusul Usaha Kecil dan Menengah senilai Rp 259,4 triliun dengan porsi 21,60%, dan kredit konsumer senilai Rp 178,2 triliun dengan porsi 14,80%.
Sementara itu kredit korporasi yang telah dikucurkan pada paruh pertama tahun ini tercatat sebesar Rp 186,6 triliun dengan porsi 15,50%. “Posisi kredit BRI secara konsolidasi per Juni 2023 sebesar Rp 1.202 triliun. Kredit mikro dan ultra mikro BRI, Pegadaian, dan PMN pada semester I 2023 naik 11,4% year on year, mencapai Rp 578 triliun. Sementara total debitur yang dilayani BRI, Pegadaian, dan PMN mencapai 36,1 juta,” ujar Sunarso
Rasio ‘Return’ Tertinggi
Besarnya porsi kredit pada pasar UMKM tak lantas bank ‘Wong Ndeso’’ ini tak mampu menciptakan value yang baik bagi para pemilik sahamnya. Emiten berkode bursa BBRI ini ternyata mampu memberikan economic value yang baik, sesuai yang diamanahkan oleh pemegang saham, bahkan berada di angka yang sejatinya sulit dilakukan oleh bank dengan tingkat permodalan dan aset yang besar seperti BRI.
“Tugas CEO adalah meng-crate value. Dan value yang utama adalah economic value yang diamanahkan pemegang saham. Pemegang saham kan taruh modal untuk mendapakan return. Kita lihat bahwa rasio Return on Equity (RoE) BRI di level 20,01%,” kata Sunarso.
Menurut Sunarso, tingkat rasio return on equity yang bisa dicetak oleh BBRI jarang bisa dilakukan oleh industri perbankan yang ada, pasalnya BBRI mampu menjaga tingkat permodalan yang besar namun di sisi lain mampu memberikan tingkat return bagi investornya di level yang juga tinggi.
“Saya katakan jarang, dalam waktu yang bersamaan punya total CAR di 26,7%. Artinya permodalannya sangat kuat. Dan biasanya kompensasinya ROE-nya rendah, karena terlalu besar modalnya. Tapi kita ROE 20,01%,” kata Sunarso.
Bagi sejumlah pengamat, tingkat kecukupan modal atau CAR yang tinggi biasanya akan menuai pujian. Namun bagi BRI, besarnya kecukupan modal justru melahirkan tantangan, bagaimana kecukupan modal yang besar ini bisa mendukung pertumbuhan return yang baik.
“Ngapain modal gede-gede kalau tak menghasilkan return yang memadai,” tegas Sunarso. “BRI modalnya sangat kuat, artinya sangat sehat dari sisi permodalan, dan ini bisa di-leverage menjadi revenue dan return. Buktinya ROE BRI sebesar 20,01%,”ujarnya
“Jadi ini bank yang sangat jarang di dunia, punya CAR yang kuat dan mampu menghasilkan return di atas 20%. Sangat produktif, karena menghasilkan ROE di atas 20%,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama Sunarso juga mengungkapkan besarnya tanpa tantangan berada segmen UMKM, karena biasanya perbankan harus menerima konsekuensi tingginya tingkat operational cost.
Operational cost tinggi biasanya akan menjelma menjadi tingkat credit risk yang tinggi pula, dan bisa berujung pada rendahnya kualiltas kredit. Rendahnya kualitas kredit tentunya tecermin dalam rasio non performing loans (NPL) atau kredit bermasalah yang tinggi.
Namun hal ini tidak terjadi pada BRI yang mampu menjaga tingkat kualitas kredit di bawah 3%, yakni di level 2,95% secara konsolidasi. “Bisnis kita di segmen mikro, lalu tingkat NPL nya bisa di bawah 3%, seperti BRI yang sebesar 2,95%. Ini berarti kualitas aset kita bisa terjaga dengan baik,” tuturnya.
Sunarso juga menyampaikan, dari kualitas aset yang terkelola dengan baik serta balance sheet yang sehat, maka bisa dipahami BRI pun mampu menghasilkan profitabilitas yang baik. “Selama selama enam bulan pertama 2023, net profit BRI mencapai Rp29.6 triliun. Atau tumbuh sebesar 18,8%,” ujarnya.
Sunarso juga memaparkan, emiten berkode bursa BBRI ini mampu meningkatkan asetnya sebesar 9,2% pada paruh pertama 2023 menjadi Rp1.805 triliun.
Mayoritas aset ini ditempatkan dalam bentuk kredit atau pembiayaan, dengan total kredit sebesar Rp1.202 triliun, atau bertumbuh 8,8%. “Lebih tinggi dari pertumbuhan market. Karena industri perbankan Tanah Air hanya tumbuh 7,6%. BRI Outperformed di market,” tandasnya.
‘Cost of Fund’ Naik, Begini Cara BRI Menyiasatinya
Pada paruh pertama tahun 2023, BRI berhasil mencatatkan laba bersih Rp29,6 triliun, atau bertumbuh sebesar 18,8%. Namun demikian manajemen BRI juga mendapat pertanyaan dari pemegang saham, mengenai kemampuan manajemen untuk menjaga tingkat profitabilitas yang sama seperti tahun 2022.
Sekedar informasi, pada tahun 2022 emiten berkode BBRI di bursa ini mampu membukukan laba bersih sebesar 51,4 triliun. “Itu adalah pertama kali dalam sejarah perbankan Indonesia, ada bank yang labanya di atas Rp50 triliun,” kata Sunarso.
“Pertanyaan berikutnya apakah kamu bisa mempertahakan pertumbuhan laba yang besar, saya jawab saya tetap optimis kita tetap bisa menghasilkan laba yang baik dan tetap tumbuh. Tapi jangan minta pertumbuhannya seperti tahun lalu. Dalam situasi seperti sekarang kita bisa membuat laba kita bertumbuh 18,8 % saya kira laba kita masih sangat atraktif,” ujarnya.
Berikutnya ia memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi BRI untuk mempertahankan tingkat laba yang tinggi. Pasalnya di tengah tekanan inflasi yang tinggi, sejumlah bank sentral negara-negara utama mengelola tingkat likuiditas di pasar agar inflasi terkendali. “Artinya pasti ada pengetatan likuiditas di sana sini melalui berbagai instrumen. Dalam sitauasi itu cost of fund bank pasti naik,” imbuhnya.
Ia mencontohkan tingkat cost of fund BRI pada tahun lalu yang berada di kisaran yang rendah, di level 1,8%-1,9%. Namun di tahun ini BRI mengalami kenaikan biaya dana di angka 2,7%. Namun besarnya biaya dana tak lantas BBRI berhenti bertumbuh, dan harus mengorbankan komponen lain agar tetap bisa menikmati pertumbuhan. Komponen apa saja?
“Yang kita korbankan adalah margin. Kita harus tekan efisiensi di sana-sini,” tutur Sunarso.
Efisiensi yang dilakukan BRI terbukti berhasil, salah satu indikatornya adalah rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik 0,2%, yang pada periode sebelumnya berada di level 41,94%, paruh pertama tahun ini membaik menjadi 41,79%.
Demikian juga dengan BOPO, yang pada periode tahun lalu berada di angka 69,6% pada periode semester I-2023 turun menjadi 66,2%. Cost of credit BRI pada Juni juga mengalami penurunan menjadi 2,24%. “Ini artinya efisiensi yang luar biasa,” tandas Sunarso.

