Gubernur BI: Dating Apps akan Semakin Laku 6 Tahun Mendatang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pengembangan digital menjadi salah satu legacy yang dihasilkan bank sentral. Dengan adanya pengembangan sistem digital, BI mampu mengembangkan pembayaran berbasis digital semacam QRIS hingga BI Fast.
Melihat pengembangan digital ini, Perry melihat pengembangan aplikasi digital akan memiliki pasar sendiri dalam lima tahun mendatang. Ini karena talenta digital yang terus lahir dan berkembang.
“Kalian akan menjadi direktur. Setidaknya direktur startup Aku Bahagia [misalnya]. Bagaimana start up untuk dating, untuk jodoh, akan laku dalam 5-6 tahun ke depan,” kata Perry saat membuka Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) Digdaya x Hackathon 2026, di kantor BI, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Baca Juga
Kesepakatan Dagang Indonesia-AS Perkuat Kerja Sama Ekonomi Digital
Perry menjelaskan BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), beserta industri, dan kementerian/lembaga (K/L) menghadirkan PIDI sebagai policy enabler yang menjembatani kebijakan publik dengan kebutuhan industri dan pengembangan teknologi. Dengan PIDI, ide-ide inovatif dari talenta muda Tanah Air akan didukung melalui pelatihan kapabilitas teknis, pemahaman bisnis, serta pendampingan hingga mentoring gagasan sehingga menjadi produk atau layanan digital.
Perry mengatakan gagasan memunculkan PIDI Digdaya x Hackathon dilatarbelakangi keinginan memunculkan produk digital. BI dan sejumlah pemangkukepentingan telah menggagas blueprint sistem pembayaran Indonesia pada 17 Agustus 2019.
“Kita memproklamirkan satu bahasa pelayanan digital pembayaran. Namanya QR Indonesia Standard. Namanya QRIS,” kata dia.
Baca Juga
Indonesia Dorong Kolaborasi Semikonduktor dan AI, Perkuat Posisi Strategis Rantai Pasok Digital
Saat ini, QRIS telah digunakan sebanyak 60 juta pengguna. QRIS bahkan sudah digunakan di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. QRIS juga akan menjangkau pembayaran di China, Korea Selatan, dan Arab Saudi, serta India.
Dengan adanya QRIS ini, Perry mengatakan bahwa Indonesia membuka kemungkinan pembayaran dengan cepat.
“Sekarang berapa (transaksi)? 1,8 triliun transaksi,” ucap dia.
Perry mengatakan sebanyak 30-35 bank di Indonesia sudah bergerak daring. Industri perbankan memanfaatkan transaksi dengan QRIS, BI Fast, dan Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP).
“Sekarang, everywhere you go, you can do transaction. Pembayaran digital layanan services di Indonesia. Anywhere,” kata dia.
Dengan berbagai tantangan digital ke depan, BI ingin terus melahirkan talenta-talenta digital. Ada tiga area yang ingin dihasilkan.
“Satu, layanan keuangan dan pembayaran digital. Termasuk cybersecurity, anti money laundering, kredit rating dan segala macam akan kita teruskan,” ujar dia.
Kedua, bagaimana talenta digital mengembangkan inklusi finansial. Ketiga, adalah talenta digital diharapkan dapat membuka jasa ekspor digital.

